Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu # 39


__ADS_3

Micky menemui Steven yang sedang meneropong. Dia bertanya apakah Tsania melihat istri Kevino yang sudah meninggal. Steven membenarkan, dan meminta Micky berterima kasih pada Tsania karena membuatnya keluar dari kekacauan.


"Aku melihat kalian datang bersama. Presdir Steven, apakah Kau percaya dengan dunianya dan memahaminya?"


"Tsania memiliki radar yang unik, dan Aku menggunakannya untuk itu. Jika itu sangat sulit untuk diterima, pura-puralah Kau tidak mengetahui apapun." Jawab Steven tanpa berpaling dari teleskopnya.


Saat Steven mengatakan "menggunakan" Tsania, apakah maksud Steven adalah membuat Tsania menemui Karina, tanya Micky. Steven membenarkan.


"Lalu, seperti pianis itu menggunakannya untuk melihat istrinya yang sudah meninggal, Kau menggunakan Tsania dengan baik. Dan itulah mengapa Kau tetap membuatnya berada disisimu. Ini bukan Tsania yang special untukmu, tapi Kau hanya menggunakannya untuk melihat seseorang yang special…apakah itu benar?"


Steven tampak terganggu dengan perkataan Micky tadi. Setelah menatap Micky, dia membenarkan. Lalu kembali pada teleskopnya. Mickypun kemudian permisi dengan sedikit tersenyum. (Micky nampaknya ingin memastikan perasaan Steven pada Tsania karena dia akan mengejar Tsania kembali).


Setelah Micky pergi, Steven menunjukan ketergangguannya dengan kata-kata Micky. "Radar 1 milyar…Aku sudah menghitung nilainya dengan benar, tapi mendengar apa yang dia katakan bahwa Aku sama saja dengan pianis itu…aKu merasa tidak baik. Tapi dia benar."


Tsania membantu memilihkan pakaian untuk Kevino menurut arahan istrinya. Kevino memilah pakaian yang dipilihkan Tsania adalah sesuai dengan selera istrinya. Kevino akan membuka pakaian di depan Tsania.


"Kau tahu…Aku bukan istrimu. Aku tidak berpikir bisa menolongmu menggantikan tempatnya."


"Kau benar. Tanpa melaluimu, akan sangat bagus bisa menemuinya secara langsung." Dia pun pergi ke ruang ganti pakaian.


Tsania berbisik pada hantu istrinya bahwa Kevino sangat pemilih. Lalu Hana datang menyerahkan teh kayu manis yang di minta Tsania. Tsania membukanya dan menyodorkan pada hantu istri yang tak bisa di lihat Hana. Teh itu ternyata untuk Kevino.


"Apa…apa ini? Apakah ada seseorang….lagi, disini?" Hana ingin tahu.


"Dia adalah istri dari pianis yang akan tampil disini hari ini. Aku membantunya di posisi istrinya." Jawab Tsania.


Tsania akan menuangkan teh itu di gelas. Hana menghentikannya dan menanyakan apa yang sedang dilakukan Tsania. Tsania mengatakan Kevino harus bersama dengan istrinya untuk menyelesaikan penampilannya dengan sukses.


"Dia sangat pemilih, lebih baik Aku membiarkan istrinya merasuki dan membantunya secara langsung." Ujar Tsania.


Hana memarahinya, "Hey, hey, hey! Apa yang baru saja Kau katakan, benar-benar! Kau mengatakan sekali mereka merasuki, akan ada kesempatan untuk mereka tidak akan keluar lagi."


Tsania mengatakan selama dia tetap menjaga kesadarannya hal semacam itu tidak akan terjadi. Tapi Tsania kemudian meminta maaf karena membuat Hana khawatir yang tidak diperlukan. Dia telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan.


Hana kemudian meminta Tsania untuk menyuruh Kevino minum teh itu lalu pergi, tapi masih ada yang harus dilakukan Tsania. Tsania lalu menemuka pulpen Steven di kantong celananya. Dia pun teringat Steven akan pergi hari ini. Tsania berlari keluar.


Dan sayangnya, Kevino mendengar semua percakapan kakak-adik itu, termsuk soal rasuk merasuki.


Steven memandangi kalung berlian. Sampai dia diingatkan Sekretaris Andrew untuk segera pergi. Steven dan Sekertaris Andrew berjalan di mall. Steven melihat bangku di dekat tempat sampah yang kata Tsania ada hantu paman, yang selalu berada disitu. Dia meminta Sekretaris Andrew untuk menunggu dan kemudian menghampiri bangku itu.


Steven mengetuk tempat sampah itu. "Paman, Kau disana. Apa Kau dekat dengan Tsania?" Steven seperti berbicara dengan angin.


Lalu Steven mengeluarkan kalung berliannya. "Aku akan melilitkannya disini. Katakan pada teman itu untuk mengambilnya, atau tidak." Steven menaruh kalung itu di senderan bangku.

__ADS_1


Ada dua orang perempuan yang akan beristirahat di bangku itu. Tapi tiba-tiba tempat sampahnya bergerak sendiri. Mereka ketakutan dan akhirnya pergi. Ternyata itu adalah perbuatan hantu Paman, dalam rangka menjaga kalung itu agar tidak ditemukan orang lain.


Tsania berlari ke ruangan Steven, dan mendapatinya telah kosong.


"Dia sudah pergi." Tsania kecewa.


Sementara itu, Kevino memasukan obat tidur ke dalam salah satu gelas tehnya. "Pil yang Aku gunakan untuk tidur tanpamu…akan memanggilmu."


kevino mengelus baju merah istrinya, "Kau dalam pakaian ini, Aku akan bisa melihatnya sebentar."


Tsania masuk ke ruangan Kevino dan mengatakan dia harus menemui seseoran jadi dia tadi pergi sebentar. Kevino memberikan segelas teh yang sudah diberi obat tidur tadi. Kevino mengatakan Tsania bisa meminumnya untuk menggantikan istrinya. Tsaniapun meminumnya.


Steven di bandara mendengarkan rekaman dokumen. Tapi dia tidak tenang dan melihat ponselnya, tidak ada panggilan ataupun sms masuk. Maka dia menelpon Tsania.


Tsaniapun untuk beberapa menit kemudian, terlihat menguap dan langsung tertidur, pengaruh dari obat tidur tersebut.


Ponselnya di meja berdering, panggilan dari Steven. Akan tetapi tidak ada jawaban yang membuat Steven menjadi kesal.


"Wanita ini sudah siap. Kapan Kau akan datang, sayang?"


Hantu istri itu pun mendekati Tsania dan merasukinya.


Sekretaris Andrew menghampiri Steven dan mengatakan mereka harus masuk karena Sekretaris Andrew baru saja cek-in.


Ternyata mereka menemui Kevino. Mereka datang untuk melihat bagaimana kondisinya.


"Aku dalam kondisi yang sangat bagus. Karena dia ada disini."


"Siapa orang ini?" Direktur Bima memandang wanita yang membelakangi mereka.


Wanita itu berbalik, dan tersenyum. Dia adalah Tsania.


Bibi Kinan dan Direktur Bima terkejut, "Tsaniah, Tsa...Tsa...niaah?"


"Dia adalah inspirasi abadiku yang memungkinkan Aku memainkan musik. Aku tidak akan bisa mengucapkan selamat tinggal setelah konser. Kami akan pergi ke Prancis setelahnya." Ujar Kevino. Dia kemudian pamit mengajak Tsania melihat latihan terakhirnya.


Bibi Kinan dan Direktur Bima masih terkejut, "Tsaniah yang memakai gaun…adalah inspirasi Kevino? Sejak kapan?"


"Di dunia apa dia?" Bibi Kinan tercengang.


Tsania yang sedang bersama Kevino melewati Micky tanpa menyapa bahkan menatap. Tentu saja, dia bukan Tsania yang sebenarnya.


Micky menoleh heran. Rayhan juga menoleh, "Bukankah itu Tsania? Dia terlihat seperti orang yang berbeda dengan berpakaian seperti itu."

__ADS_1


Steven sedang memeriksakan passport dan tiketnya. Dia kemudian menerima telpon dari Direktur Bima dan bertanya ada masalah apa.


"Apa Kau…putus dengan Tsania?" Tanya Direktur Bima .


"Apa Kau menelponku untuk membicarakan hal itu? Pada seseorang yang akan pergi dalam perjalanan bisnis?" Tanya Steven balik.


"Tsania bersama dengan Kevino!"


"Benarkah? Aku kira dia mengakhirinya tanpa menolak." timpal Steven.


"Kau tahu juga? Apakah Tsania benar-benar inspirasi Kevino?"


Steven masih bingung, "Apa?"


"Dia terlihat seperti orang yang berbeda. Oh, apa Kau juga tahu bahwa dia akan pergi ke Prancis bersamanya?"


"Dia pergi kemana?" Steven kembali memastikan.


"Dia akan pergi bersama Kevino. Mereka bilang mereka akan pergi tepat setelah selesai konser."


Steven terkejut.


"Aku sangat senang Kau kembali. Jika kita hidup seperti ini, kita bisa hidup seperti sebelumnya." Kevino berkata pada istrinya.


Istrinya tersenyum.


"Seseorang mungkin akan mengenalimu dan menghentikan kita. Aku akan menyelesaikan konsernya sendiri, jadi Aku ingin Kau pergi dan bersembunyi di rumah."


"Aku akan menyelesaikan konsernya sendiri, jadi cepatlah pergi."


Istrinya mendekap tangannya, "Kevino. Lihatlah, Kau bisa melakukannya sendirian, tanpa Aku."


Kevin beralasan itu karena situasinya yang mendesak. Istrinya membenarkan. Orang bisa berubah saat keadaan berubah. Dia tidak lagi disana, jadi Kevin bisa berubah dengan baik. Kevin mengelak dengan mengatakan bahwa istrinya disini.


"Aku hanya meminjamnya sementara. Untuk membuatmu kembali ke akal sehatmu untuk terakhir kalinya." Istrinya menampar Kevino. "Aku merasa sedikit senang melihat Kau menjadi bodoh tanpa Aku. Aku selalu hidup didekatmu seperti sebuah bayangan. Jika Aku melihatmu hidup normal tanpa Aku, Aku mungkin akan merasa terganggu."


Kevin bertanya apakah karena dia membuatnya sesak sehingga istrinya meninggalkannya. Kenyataan bahwa jantung istrinya berhenti berdetak, dia tidak bisa menerimanya karena dia tidak bisa membiarkannya pergi tanpa menemukan alasan yang berbeda.


"Karena Aku hidup untukmu saat jantungku masih berdetak. Aku yang jantungnya sudah tidak berdetak, tolong lepaskan. Kau membuatku menyiapkan segalanya untukmu dengan tanganku sendiri. Tapi di panggung terkahir, Kau pergi sendiri, benar kan? Sekarang, lakukan semuanya olehmu sendiri. Itu bukan karena Kau sangat sensitif, tapi Kau hanya sangat malas. Perbaiki itu."


Kevin berlutut dan menangis, menyadari kebenaran dari perkataan istrinya, "Sayang…sayang…"


...Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2