
Kevino memainkan pianonya di atas panggung.
Steven berjalan menuju Tsania. Micky dan Rayhan melihatnya. Rayhan berpikir Steven sudah pergi ke Cina.
Kevino memainkan pianonya sambil menangis.
Steven masuk ke ruangan dan memanggil Tsania. Dia mendapati Tsania yang sedang duduk mendengarkan suara piano.
"Kau disini, Tuan Steven?" Tsania tersenyum.
"Apakah kau istri yang datang ke rumahku dan membuatku memecah kacang?"
"Apa kau kesini untuk menyelamatkan Tsania?" Istri Kevino bersandar di sofa dan mengangkat kakinya.
"Aku disini, jadi sekarang waktunya untukmu pergi!" Steven menghampirinya.
"Jika Aku pergi begitu saja, Aku tidak bisa mengatakan padamu sebuah rahasia. Apakah kau tidak penasaran? Apa yang dia pikirkan tentang mu?" Kata sang istrinya Kevino.
Kilas balik :
Tsania memperhatikan Steven yang sedang memecah kacang dengan tersenyum.
Tsania bertanya pada istrinya Kevino "Apakah kau bertanya apakah Aku menyukai orang itu? Apakah itu terlihat jelas? Tapi dia telah memiliki seseorang yang sangat dia sukai."
Lalu Tsania menatap Steven lagi, "Jadi perasaanku adalah rahasia, Sebuah rahasia."
Kilas balik berakhir.
"Sekarang Aku bisa memberitahumu rahasia yang Aku ketahui."
"Au tidak mau tahu."
"Mengapa? Karena kau takut kau tidak akan bisa lagi menghitungnya setelah kau mengetahuinya?" istrinya Kevino berdiri dan berjalan mendekat, "Kau sudah tidak bisa menghitungnya, jadi mengapa kau masih menjaganya tetap disampingmu? Aku penasaran dengan rahasiamu, jadi Aku tidak mau pergi dari tubuhnya."
"Lihatlah baik-baik, dan pergilah!" Perintah Steven kepada istri Kevino yang merasuki tubuh Tsania.
Steven mencium Tsania. Hantu istri pun pergi dari tubuh Tsania. Lalu Steven memeluk tubuh Tsania yang tidak sadarkan diri. Steven tampak meyakinkan dirinya sendiri tentang perasaannya.
Micky berada di luar aula. Dia berpikir sesuatu dan berjalan pergi.
Tsania kini tertidur di sofa. Steven menemani disampingnya dengan menggenggam tangannya. Saat Tsania akan terbangun, Steven buru-buru berdiri dan pergi. Tsania yang baru sadar, samar-samar melihat punggung Steven yang menjauh.
Micky kemudian masuk dan menanyakan apakah Tsania baik-baik saja. Tsania mengatakan bahwa dia pikir dia ketiduran disana. Micky bertanya lagi, bukankah Presdir tadi ada disini. Tsania terkejut, apakah dia disini, karena menurutnya Steven sedang dalam perjalanan.
Micky sedikit heran.
Tsania kemudian merasa aneh dengan pakaiannya, "OMG, apa ini? Mengapa Aku memakai ini?"
"Kau tidak ingat pergi bersama dengan Kevino?"
"Pasti terjadi sesuatu yang salah. Apa yang sudah Aku lakukan?" Tsania masih belum paham.
Micky bertanya sekali lagi apakah Tsania baik-baik saja dan akan mengantarnya pulang.
Sekertaris Andrew bertanya pada Steven yang sedang melamun, "Apakah Tsania baik-baik saja?"
__ADS_1
"Aku tidak baik-baik saja. Kau mencoba sangat keras untuk menjaga wanita itu berada disisiku, benar kan?"
Sekertaris Andrew tidak menduga Steven mengetahuinya. Steven bertanya mengapa Sekertaris Andrew melakukannya.
"Sangat bagus melihatmu berubah."
"Selama wanita itu berada disisiku, Aku akan terus berubah, benar kan? Aku…tidak ingin berubah."
Seminggu kemudian.
Tsania terlihat senang karena Steven akan pulang hari ini. Satu minggu menurutnya sangat panjang, karena Steven tidak menjawab telponnya. Tsania melewati bangku hantu si Paman, dia memberitahu Tsania ada sesuatu disana. Tsania merasa heran hantu Paman itu mau bicara dengannya, biasanya tidak. Tsania menemukan kalung disana.
"Presdir melakukannya? benarkah?" Tsania tersenyum senang memandang kalung itu, "Ini berlian yang sangat cantik."
Lalu Rayhan menghampirinya, "Nona Tsania! Apa kau sudah mendengarnya?"
'Mendengar apa?" Tanya Tsania.
"Kau belum mengetahuinya…itu terjadi begitu cepat. Steven…baru saja tiba dari Cina."
"Benarkah?" Tsania sangat senang dan langsung berlari.
Rayhan berteriak, "Dengarkan apa yang akan Aku katakan sebelum kau pergi!" Tapi Tsania sudah jauh dan tidak mau mendengarkan Rayhan.
Rayhan mendesah, "Dia akan terguncang jika dia pergi seperti itu. Masalah yang mendalam."
Tsania menuruni tangga dengan sangat senang dan bertanya pada Sekertaris Andrew apakah Steven sudah datang. Sekertaris Andrew tersenyum membenarkan. Sekertaris Andrew akan mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi karena kedatangan Bibi Kinan dan Direktur Bima
Sekertaris Kim. Apakah kau mengatakannya juga pada wanita ini?" Tanya Bibi Kinan. Dan di jawab belum oleh Sekertaris Andrew.
Tsania terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Dia terguncang, seperti perkiraan tadi.
Steven kemudian datang bersama seorang wanita yang akan menikah dengannya. Dan melewati Tsania yang menatapnya sejak tadi begitu saja tanpa menoleh.
Bibi Kinan dan Direktur Bima menyambut tunangan Steven dengan ramah. Namanya Yuna. Yuna menoleh dan melihat Tsania dengan heran. Bibi Kinan mengajak mereka semua naik ke atas. Kecuali Tsania tentunya.
Steven berjalan pergi bersama Yuna. Yuna bertanya apakah Tsania salah satu pegawai Steven. Ia melihat Tsania terus menatap mereka.
"Berhentilah melihatnya dan cepat pergi!" kata Steven dingin. "Aku tidak tahan."
Tapi baru satu langkah, ia menyuruh Yuna naik duluan ke kantornya. Ia sendiri berbalik menghampiri Tsania.
"Apa kau baik-baik seminggu ini? Kelihatannya begitu. Bagiku, rasanya seperti di neraka," kata Steven.
"Presdir, apa kau benar-benar akan menikah?" tanya Tsania kecewa.
Presdir teringat ucapan istri pianis saat merasuki Tsania. Hantu itu bertanya apakah Steven tidak ingin tahu rahasia Tsania, bagaimana perasaan Tsania pada Steven?
"Rahasia apanya? Aku bisa melihatnya dengan jelas," gumam Steven.
"Kau bisa melihat apa?"
"Sesuatu yang lebih menakutkan daripada hantu yang kaulihat."
Tsania bertanya apa Steven sedang berusaha menghindarinya. Apa Steven menikah agar tak perlu melihatnya lagi?
__ADS_1
"Tsania, apa kau pikir kau cukup berarti bagiku hingga bisa mempengaruhi pernikahanku?"
Tsania menggeleng, tidak. Steven berkata kalau begitu Tsania tidak berhak menanyakan kenapa. Dan ia juga tidak wajib memberikan jawabannya. Tsania mengangguk mengerti.
Saat Steven tiba di lift, Yuna masih menunggunya. Ia hendak menggandeng Steven tapi Steven menghindar dan mengangkat tangannya.
"Sudah kubilang, Aku tidak suka orang menyentuh tubuhku," kata Steven. "Walau kau terpeleset dan jatuh, berusahalah untuk tidak menyentuhku."
Kebetulan Micky dan Rayhan melihat mereka. Rayhan berkata Steven sangat dingin dan kasar bahkan pada tunangannya sendiri.
"Jika bahkan tidak membiarkannya menyentuhnya, mengapa ia menikah?" katanya pada Micky.
Tsania duduk menyendiri di tangga sambil memandangi kalung berliannya. Ia bergumam seharusnya Steven memberitahunya lebih dahulu, tapi Steven tidak pernah mengangkat teleponnya. Micky melihat Tsania menyendiri seperti itu lalu berjalan menghampirinya.
Tsania buru-buru menyembunyikan kalungnya di balik punggung. Micky bertanya apakah Tsania sudah tahu Steven akan menikah. Steven berkata ia sedikit kaget karena beritanya terlalu mendadak.
"Saat konser Kevino, Presdir Steven datang ke sini dan bukannya pergi melakukan perjalanan bisnisnya, kan? Saat kalian berdua bertemu, apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Micky.
"Malam itu dia datang? Kalau begitu orang yang kulihat malam itu….Presdir?" Tsania teringat pada bayangan seseorang yang berjalan pergi saat ia mulai sadarkan diri.
Micky berkata sepertinya benar yang ia lihat, Presdir menemui Tsania malam itu. Tsania berkata malam itu ia bukan dirinya. Sepertinya hantu istrinya Kevino menemui Steven saat masih merasuki tubuhnya.
Ia bertanya-tanya apa yang keduanya bicarakan malam itu. Ia lalu teringat kata-kata Steven tadi mengenai rahasia.
"Ia pasti telah mengatakan padanya mengenai rahasiaku," katanya kaget.
"Rahasia?"
"Ia pasti mengatakan pada Presdir kalau Aku menyukainya. Oh tidak."
Micky tertegun mendengar pengakuan Tsania. Kenapa Tsania bisa sebebas itu mengatakan pada Micky? Karena ia pikir Micky tidak menyukainya dan sebelumnya mendekatinya hanya untuk menyelidikinya.
Sekretaris Andrew mencoba berbicara dengan Steven mengenai pernikahan ini. Walau Steven membutuhkan Yuna untuk bisnis, apakah tidak-apa menggunakan "pernikahan" sebagai gantinya?
"Tidak apa-apa. Aku sudah menggunakan otakku untuk menghitung resikonya dan Aku menemukan jawaban terbaik."
Sekretaris Andrew berkata Tsania terlihat sangat kaget dan kecewa dengan kabar itu. Ia bertanya apa yang akan Steven lakukan.
"Alasan mengapa Aku tidak menemukan jawaban yang berkaitan dengannya adalah karena bukannya berada di kepalaku, ia berada di tempat lain di dalam sini. Aku sangat terkejut saat menyadarinya tapi Aku mulai menerimanya."
"Kalau begitu Tuan seharusnya mengatakan pada orang itu bagaimana perasaan Tuan dan memberitahunya kalau Tuan bukan benar-benar menikah."
"Aku tidak mau. Sekretaris Andrew, alasan mengapa Aku masih tidak bisa membaca bukanlah di sini," Steven menunjuk kepalanya. Tapi di hatinya. Karena itu ia ingin menjalani hidup dengan kepalanya, yang sejauh ini baik-baik saja.
"Karena Tsania seorang yang bisa melihat roh dan hantu, tidakkah Tuan pikir ia akan bisa melihat masalah Tuan dan menyelesaikannya?"
Steven menjawab ia akan melakukan itu setelah ia menjadi hantu.
Tsania curhat pada Micky. Ia merasa Steven sedang berusaha untuk menyingkirkannya. Tapi ia tidak bisa hidup tanpa Steven.
"Tsania, apakah tempat persembunyianmu….hanya dia seorang? Harus dia?"
"Dia satu-satunya tempat persembunyianku di dunia ini. Aku baru saja menerima ijin berada di sisinya setelah memohon gila-gilaan," keluh Tsania.
Micky berkata Steven memutuskan menikah, dan menerima kehadiran seorang wanita. Di sisinya sama saja dengan mengatakan pada Tsania untuk tidak, tinggal di sisinya sebagai seorang wanita.
__ADS_1
...Thanks for All...