Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu # 33


__ADS_3

Steven dan Tsania mengawasi hantu Tante tersebut. Tsania melihat hantu itu di tepi kolam.


"Sedang apa dia?" tanya Steven.


"Sedang memperbaiki dandanannya."


"Berdandan? Kepada siapa hantu hendak memperlihatkan wajahnya setelah berdandan?" tanya Steven.


Tsania merasa ada yang aneh. Apalagi hantu itu beranjak pergi. Bukankah hantu air seharusnya tetap di dalam air? Tsania berkata sepertinya tante ini bukan hantu air.


Tsania menghindar saat hantu itu melewati mereka. Kasian Steven cuma bisa celingak celinguk kebingungan.


Mereka terus mengikuti hantu itu. Steven mondar-mandir di depan kamar ganti wanita. Tsania keluar bersama hantu tante yang telah berganti pakaian. Ia melapor pada Steven kalau tante itu mandi, bahkan mengetuk pintu sebelum masuk toilet.


"Mungkinkah ada hantu sesopan itu?" ujar Steven.


"Kurasa ia tidak tahu kalau ia sudah mati."


Mereka mengikuti hantu tante ke restoran. Tsania melihat hantu itu makan makanan yang tak terlihat padahal hantu itu menganggap ia sedang makan steak, bahkan mengelap mulut setelah makan.


Hantu itu kembali berpindah. Ia duduk di lobi hotel sambil membaca majalah lalu masuk ke dalam sebuah kamar.


"Kamar itu adalah kamar termahal di hotel ini," kata Steven. Ia bertanya pada seorang pelayan apakah ada orang yang tinggal dalam kamar itu. Tidak ada, jawab si pelayan.


Tsania dan Steven masuk ke dalam kamar itu. Tsania melihat hantu tante duduk bersantai minum wine sambil menikmati pemandangan malam di luar jendela


"Ia bersikap seperti manusia," kata Tsania.


"Jika ia tidak bersikap seperti hantu melainkan seperti manusia, kenapa ia melakukan hal itu di kolam?"


"Ia tidak merasa dirinya sudah mati. Jadi ia pergi berenang dan tangannya menghalau orang-orang yang menghalanginya."


Steven menyuruh Tsania memberitahu tante itu kalau ia sudah mati dan harus check-out dari hotel ini. Tsania mendekati hantu tante itu dan memanggilnya dengan lembut. Ia sedikit ngeri saat melihat hantu itu menatapnya.


"Aku minta maaf mengatakan ini, tapi Kau tidak bisa tinggal di sini seperti ini," kata Tsania.


Dengan tenang tante mengeluarkan sehelai kertas dan menunjukkannya pada Tsania. Tsania mengangguk mengerti lalu berlari kembali pada Steven.


Rupanya kertas itu adalah voucher hotel, mirip seperti yang diberikan Steven padanya. Karena itu tante itu merasa berhak tinggal di hotel.


Mereka pergi menemui manager hotel dan menanyakan data tante itu. Ia adalah Nyonya Famella dan pernah menginap di hotel ini karena menerima hadiah menginap di kamar royal suite. Dan sang manager mengingatnya dibandingkan para pemenang lainnya karena Nyonya Famella sangat senang bisa menginap di sini.


"Jadi ia sangat menyukai tempat ini, hingga ia tidak bisa melupakannya meski sudah mati," kata Steven.


"Mati? Siapa yang mati?" tanya manager.


"Nyonya Famella. Ia sudah mati," jawab Tsania.


Manager itu tersenyum dan berkata mereka sudah salah paham. Nyonya Famella masih hidup tapi dirawat di rumah sakit.


"Apakah itu mungkin?" bisik Steven pada Tsania.


"Aku juga tidak tahu, ini pertama kalinya."

__ADS_1


Nyonya Famella terbaring koma di rumah sakit, meski ia baik-baik saja. Rupanya Nyonya Famella pingsan saat pesta ulang tahun Ibunya. Dan sekarang Ibunya bertengkar dengan suami Nyonya Famella. Mereka saling menyalahkan.


Puteri Nyonya Famella memarahi Ayahnya yang membuat keributan saat mabuk di pesta itu. Si Ayah balik memarahi puterinya yang selalu melawan Ibunya. Hmmm…sepertinya Nyonya Famella memang lelah dengan keluarganya, hingga tidak bersedia bangun, dan memilih tinggal dalam hotel Kingstev.


Tsania dan Steven pergi ke kamar itu. Tsania berusaha membujuk Nyonya Famella. Jika Nyonya Famella tidak segera kembali, ia bisa benar-benar mati. Tapi Nyonya Famella tidak memperdulikan perkataan Tsania.


"Sepertinya ia tidak mau pergi," kata Tsania pada Steven.


"Siapa nama puterinya tadi?" tanya Steven.


"Cintya."


Mendengar nama puterinya, Nyonya Famella terdiam. Tsania melihatnya dan menggunakan kesempatan itu untuk membujuk Nyonya Famella kembali ke tubuhnya.


"Keluargamu menunggu. Kau harus tetap hidup."


Nyonya Famella menoleh pada Tsania.


Melihat Tsania bercakap-cakap dengan hantu tak terlihat, membuat Steven menyadari ia sudah terbiasa dan tidak lagi menganggapnya aneh. Tsania memberi tanda Oke pada Steven. Nyonya Famella akan pergi setelah pertunjukkan kembang api malam ini. Tsania akan menemaninya.


"Ia bahkan sudah mengganti pakaiannya. Kami pergi dulu," kata Tsania. Ia berdiri bersama Nyonya Famella.


"Tsania, bahkan hantu berdandan dan menikmatinya. Kau…jangan kalah," kata Steven.


"Apakah sebaiknya Aku menikmatinya karena ini terakhir kali?" kata Tsania. Steven tersenyum dan memberinya isyarat untuk pergi.


Mereka berjalan cepat mengikuti Nyonya Famella. Tsania berkata Nyonya Famella sangat bersemangat, ia sendiri sudah lama tidak melihat kembang api.


Steven cepat-cepat menghentikannya. Tsania baru menyadari ada orang-orang yang memperhatikan mereka dan menganggapnya aneh.


"Berpura-puralah Kau sedang berbicara denganku, bukan dengan Tante ini." kata Steven.


Steven menggandeng tangan Tsania. Dan mereka berjalan bersama sambil tersenyum.


Ketiganya menikmati pertunjukkan kembang api di tepi kolam. Lengkap dengan wine dan lilin. Steven tersenyum melihat Tsania menikmati pertunjukkan itu.


Tsania menoleh, melihat ke arah Tante yang terpukau.


"Ini adalah mimpi yang sangat indah. Kurasa…Aku harus bangun sekarang." Dan Nyonya Famella pun menghilang disaksikan oleh Tsania.


Tsania kembali melihat ke langit dan tersenyum.


Nyonya Famella membuka matanya di rumah sakit. Keluarganya sangat lega. Puterinya berjanji untuk mendengarkan Ibunya mulai sekarang. Nyonya Famella menangis melihat puterinya.


Steven dan Tsania masih duduk di tepi kolam. Steven tidak tahu kalau Nyonya Famella sudah pergi. Ia bertanya apa Nyonya Famella menyukai pertunjukkannya.


"Ya, iya bilang ia menyukainya."


Steven tersenyum puas. Hehe….akhir-akhir ini bos kita ini sering tersenyum ya.


"Ia bilang ini seperti mimpi di malam tahun baru. Ia pikir ia bermimpi yang membuatnya terpesona dan membuatnya pusing. Mimpi itu membuat jantungnya berdebar, merasa bahagia, tapi juga membuatnya terluka. Karena ia sangat suka melihatnya dari sini."


Tsania menoleh menatap Steven. Steven terpaku. Apakah ia menyadari kalau kata-kata tadi adalah isi hati Tsania dan bukannya perkataan Nyonya Famella?

__ADS_1


"Ia pergi," kata Tsania.


"Sejak kapan?"


"Baru saja," Tsania berbohong.


"Aku harus percaya padamu, karena Aku tidak bisa melihatnya, kan?"


"Iya."


Pertunjukkan kembang api berakhir. Tsania berkata ia sudah membangunkan seseorang dari mimpi indahnya (mimpi siapa? Mimpi Nyonya Famella atau mimpinya? Sepertinya keduanya). Tanpa berkata apa-apa lagi, Tsania berjalan pergi.


Agatha melihat berita mengenai dirinya dan Micky di busway. Ia tersenyum senang.


Hana memarkir mobil di tepi jalan lalu menangis. Ia tidak tahu pria itu sudah menikah. Rayhan mencabut gantungan mobil Hana (yang sama dengan gantungan mobil pria itu). Tangis Hana makin keras. Rayhan menepuk-nepuk punggung Hana untuk menenangkannya.


Sementara itu Micky pulang dan melihat Kakak beradik Boy sedang bermain boneka Dino dan Tsania. Bahkan membuat kedua boneka itu kiss. Hmmm…sepertinya tidak akan mudah bagi Micky untuk melupakan Tsania.


Sekretaris Andrew dan Steven melihat Tsania sedang bekerja. Sekretaris Andrew berkata Steven dijadwalkan pergi ke Cina selama satu minggu.


"Seminggu waktu yang cukup lama. Apa Aku harus memberitahunya?" tanya Steven.


"Tsania sudah tahu."


"Ia terlihat baik-baik saja meski sudah tahu."


Sekretaris Andrew berkata Tsania mengatakan sesuatu saat ia memberitahunya.


"Bagiku Presdir seperti memenangkan voucher gratis hotel bintang lima. Itu keuntungan yang besar, tapi Aku tidak bisa berada di sana untuk waktu lama. Aku harus terbiasa dengan ketidak beradaannya jika Aku ingin menjalani hidup normal di kemudian hari."


"Apa perasaan Tuan tidak baik?" tanya Sekretaris Andrew.


"Aku baik-baik saja," tegas Steven. "Aku senang dan lega ia tidak memerlukan Aku."


"Ketika hati tidak mengatakan yang sesungguhnya, rasa sakit memberi jawaban," kata Sekretaris Andrew. "Itulah yang dikatakan Tsania. Jadi sepertinya ia telah menemukan jawaban."


Steven berkata kata-kata itu sering ia dengar dari seseorang.


"Dari siapa?"


"Karina."


Flashback


Saat di perpustakaan, Karin mengatakan hal yang sama pada Steven. Ketika itu Steven bertanya apakah kata-kata itu artinya seseorang harus dipukul dahulu baru mengerti.


"Benar. Karena Kau lebih menyukaiku daripada Aku menyukaimumu, wajar jika Kau lebih terluka."


"Jadi Aku harus terluka jika ingin menyukaimu?" tanya Steven.


"Ya, Aku ingin Kau sangat terluka," kata Karin sambil tersenyum. Karena itu artinya, Tsania sangat menyukainya.


...Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2