
"Batu, kertas, gunting!"Riki sedang bermain sendirian disamping boneka using itu. Dan Raka sedang menelpon Ibunya yang akan pulang terlambat lagi. Raka mengatakan pada Ibunya bahwa Riki sakit.
Raka bertanya pada adiknya, "Riki, dimana kau merasakan sakit? Apakah kau benar-benar tidak mau makan nasi?"
Riki menggeleng. Raka lalu permisi keluar untuk membelikan roti yang Riki sukai.
"Batu, kertas, gunting! Batu, kertas, gunting! Batu, kertas, gunting! "
Setelah Raka pergi, terlihat ternyata Riki tidak main sendirian, tapi bersama tiga arwah anak kecil yang merasuki boneka usang itu.
"Kakak! Kakak!"Tsania terbangun dari tidurnya mendengar panggilan Raka.
Tsania dan Raka berjalan dengan cepat di lorong menuju kamar Riki. Tsania bertanya mengapa Riki terlihat aneh. Tsania membuka pintu kamar dan terlihat Riki sedang duduk sambil memeluk boneka usang itu.
Tsania menghampiri Riki, "Apa kau sakit? Mengapa kau sangat dingin? Apa kau salah makan? Aku akan mengambil obat."
Tsania keluar kamar lagi untuk mengambil obat. Sebelumnya Raka ijin pergi untuk menjemput ibunya.
Setelah Tsania keluar, ketiga hantu anak kecil itu dan berkata pada Riki, "Ibumu tidak datang bahkan di saat kau sakit, kan? Kau mungkin benar-benar akan menjadi teman kami."
Tsania mencari obat di ruangan pemilik kost-an. Kemudian datang Raka bersama Ibunya yang menuju kamarnya.
Begitu sampai, Ibu langsung memeluk Riki dan meminta maaf, kemudian mengajak Riki ke rumah sakit. Raka menangis dalam pelukan Ibunya. Ibu memeluk anak-anaknya.
Ibu menggendong Raka menuruni tangga bersama Riki hendak ke rumah sakit. Di tangga, ketiga hantu anak kecil itu memandanginya. Mereka berkata Riki tidak akan menjadi teman mereka, Ibunya memeluknya dengan erat.
Kemudian datang Tsania, "Pasti kalian! Kalian yang mengganggu Riki, kan?"
"Sembunyi!" ketiga hantu anak kecil itu pun segera berlarian.
Tsania mengejarnya sampai ke kamar Riki dan Raka. Tapi Tsania tidak menemukan mereka. Tsania memanggil mereka keluar. Lalu Tsania melihat boneka usang itu di kasur. Tsania menghampirinya dan menggoyangkan boneka dengan kakinya, "Apa kalian bersembunyi disana?" Mata boneka itu menjadi berwarna biru dan merah membuat Tsania terkejut.
Esok paginya di kantor. Tsania menunjukan tas berisi boneka usang itu pada Steven.
"Apa itu?" Tanya Steven.
__ADS_1
"Ada anak kecil aneh didalamnya. Tapi…."
Steven memberikan isyarat pada Tsania untuk diam dan menunjukan zona Tsania.
"Tidak, ini bukan karena aku takut." Elak Tsania.
"Kalau begitu, pergilah."
"Tapi, Presdir."
"Dalam zona Tsania, tidak ada percakapan lanjutan setelah ‘tapi’. Pergilah menjauh. Menghilanglah!"
Steven masuk ke dalam kantornya. Diam-diam Tsania masuk dan meletakan tas berisi boneka itu di balik pintu, namun sayang hal itu di ketahui Steven dan bertanya mengapa itu disimpan disana. Tsania menjelaskan bahwa itu sedikit berbahaya jadi Tsania hendak meninggalkannya disana sebentar.
Steven dengan marah bertanya lagi, mengapa Tsania malah menaruh hal yang berbahaya di tempatnya, apakah untuk membuat Steven masuk ke dalam bahaya. Tsania mengatakan bahwa Steven tidak takut akan hal seperti ini, ada tiga hantu anak kecil disana.
"Tsania, aku hampir tertembak kemarin. Dalam waktu seperti itu, kau seharusnya membawa vitamin dan mengatakan ‘Presdir, aku tidur dengan baik kemarin. Sebelum kau tidur, kau harus meminum pil obat penenang’ atau jika tidak seharusnya membawa tiga hantu kesini."
"Aku bisa melakukannya? Apakah aku diijinkan untuk mengkhawatirkanmu? Aku pikir kau benci jika aku mengkhawatirkanmu, jadi aku tidak mengatakan hal semacam itu. Apakah aku diijinkan?" Tsania tersenyum.
"Presdir… apakah kau tidur nyenyak? Kau sangat terkejut kan kemarin? Steven tersenyum dan mengangguk. Aku membawa ini karena ini manjur setelah aku melihat hantu yang menakutkan. Tolong ambil ini Presdir." Tsania dengan tersenyum menyodorkan satu botol pil.
Steven mengambilnya dan bertanya dari mana Tsania mempunyai obat tersebut. Tsania membelinya dari apotik, dan akan membaginya denganmu mulai sekarang. Steven bertanya lagi apakah Tsania mengatakan padanya untuk terkejut bersama dengan Tsania selamanya.
Tsania mengatakan sebelumnya dia menggunakan itu saat ketakutan sendirian, sekarang Dia punya Steven disampingnya. Jadi Tsania tidak berpikir memerlukan obat lebih banyak. Lalu Tsania meminta Steven mengawasi boneka itu, karena Steven adalah orang paling aman di Kingstev.
Kau bilang itu berbahaya. Hal yang menakutkan dan berbahaya seharusnya dijaga oleh tim keamanan. Bukankah seharusnya kau memberikannya pada Permen Micky?"
Tsania menggeleng, "Aku tidak bisa melakukan itu padanya. Dia sangat membenci hal semacam itu. Bagaimana jika itu membuatnya sangat ketakutan?"
Steven tersenyum mencurigakan dan meletakan kembali botol pil itu di tangan Steven, "Jika dia merasa ketakutan, beri dia makan ini, dengan itu (boneka)…menghilanglah." Steven pergi dengan cemberut.
Tsania kemudian keluar dengan membawa boneka itu, tapi dia meletakan botol pil di lantai.
Dia membuat zona Tsania padamu? Tanya Sekertaris Andrew tak percaya.
__ADS_1
"Ya, tapi itu terlalu kecil."
"Itu akan menjadi lebih besar." Sekertaris Andrew tersenyum. (Aku masih bingung, sebenarnya Sekertaris Andrew tahu atau tidak tentang Tsania yang bisa melihat hantu?)
Sekertaris Andrew memberikan apa yang diminta Tsania sebelumnya dalam sebuah amplop. Tsania mengeluarkan isinya. Ada foto kalung berlian Ibunya Steven. Tsania mengatakan kalung yang dicari Presdir ini tidak terlihat bernilai 10 Milyar, Sekertaris Andrew mengangguk. Lalu ada foto Karina. Tsania tersenyum dan mengatakan Karin lebih cantik saat masih hidup.
"Apa ini? Dia meninggalkannya disini."Steven berjongkok memandangi botol pil yang ditinggalkan Tsania.
Steven kemudian mengambilnya, "Saat sesuatu yang manis untuk Tsania, mengapa Aku merasa pahit?" Steven memakan satu pilnya dan merasa kepahitan, sangat pahit.
"Aku harus mencari seseorang selain kalian. Jangan membuang waktuku dan cepatlah keluar. Kalian adalah anak nakal yang mengganggu anak baik, kan? Katakan padaku mengapa kalian melakukan perbuatan nakal. Kau tidak akan berbicara?" Tsania meletakan amplop yang diberikan Sekertaris Andrew di laci dan berkata pada boneka usang itu.
Tsania kesal karena mereka tidak juga keluar, Tsania kemudian mengguncang-guncang bonekanya.
"Keluar, keluar! Keluar, keluar. Aku bilang padamu untuk keluar! Keluar sekarang!"
Tepat saat itu Micky masuk ke dalam ruangan Tsania.
"Tsania. Apa yang kau lakukan dengan boneka itu? Kau tidak benar-benar bicara dengan boneka itu, kan? Aku tahu semuanya. Aku sudah melihatmu melakukannya beberapa kali."
Tsania terpaku, "Kau melihat semuanya?"
"Kau, Tsania, pernah berbicara dengan tong sampah, dan berbincang dengan gambar di dinding."
Micky mengatakan ada seseorang yang seperti Tsania di sekolahnya dulu. Dia bahkan menamai pensilnya dan berbicara dengannya. "Apa kau tahu…dimana dia sekarang?"
"Rumah sakit….jiwa?" tebak Tsania.
Micky tersenyum, "Dia bekerja di NASA. Dia dulu berkata dia akan membuat pesawat luar angkasa untuk pergi ke Andromeda. Dia benar-benar melakukannya. Aku kira kau sungguh imaginatif seperti dia."
Tsania tersenyum, "Itu benar, imaginatif…"
Micky memberikan Tsania kopi yang dibawanya. Tsania pun pura-pura berbicara dengan kopi hitam itu. Micky tersenyum dan mengatakan selamat mengobrol dan jika kopi hitam itu tidak cocok maka Tsania bisa menambahkan sedikit krim. Tsania tersenyum manis. Namun saat Micky sudah pergi, Tsania menghela nafas.
...Bersambung.........
__ADS_1