Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu # 15


__ADS_3

Diluar, Micky dan Tsania masih berbincang-bincang.


Micky : "Melihat bagaimana Presdir memberikanmu pekerjaan, Aku kira dia tidak akan memperlakukanmu seperti orang gila lagi."


Tsania : "Dia sekarang mempercayaiku dan memberikan sebuah pekerjaan penting."


Micky : "Apakah Kau membantu Presdir dengan persoalan pribadinya? Apa itu?"


Belum sempat menjawab, Tsania melihat mobil Steven melewatinya, Dia takut telambat, lalu berlari meninggalkan Micky. Micky memandang kepergian Tsania dengan masih meninggalkan tanda tanya. Sepertinya Micky berusaha mengorek informasi dari Tsania.


Steven dan Sekertaris Andrew menuju kantornya. Begitu sampai di depan kantor, Tsania tiba-tiba datang menghadang dan menyapanya.


Steven : "Apa ini? Tsania, apakah Kau secepat hantu?"


Tsania tersenyum: "Aku harus berada disini, sebelum Presdir karena Aku Sekertarismu."


Steven keheranan: "Sekertaris? Siapa? Kau? Siapa yang mengatakannya padamu? Sekertaris Andrew?"


Sekertaris Andrew menyangkal, Dia belum mengatakan apapun pada Tsania. Tsania bertanya apakah ini bukan tempatnya bekerja sebagai Sekretaris Steven. Steven mengatakan ini bukan tempat dimana Tsania seharusnya berada.


"Lalu dimana seharusnya Aku berada?" tanya Tsania lagi.


Sekertaris Andrew mengantar Tsania ke ruangannya. Tsania tersenyum. Lalu Sekertaris Andrew membuka pintu ruangan, Tsania kaget melihat banyak tumpukan barang di ruangannya. Tsania mengatakan ini seperti ruangan penyimpanan barang. Sekertaris Andrew bercerita, dulu ruangan itu dipakai untuk pelanggan VIP, karena tidak terpakai akhirnya digunakan sebagai ruangan penyimpanan barang untuk pusat pelanggan.


Tsania : "Lalu, apa posisiku?"


Sekertaris Andrew : "Namanya adalah Konsultan Pusat Pelanggan untuk Pelanggan Khusus. Tapi sebetulnya Kau mengatur ruang penyimpanan."


Tsania memaksakan senyumnya, lalu mendesah, dan cemberut. Sekretaris Andrew melihatnya dengan tidak enak.


Steven sedang meneropong. Sekretaris Andrew menghampirinya. Sekretaris Andrew mengatakan Tsania terlihat sangat kecewa karena posisi itu tidak seperti yang Dia bayangkan.


"Benarkah? Itu posisi yang sangat cocok untuknya. Sayang sekali." Steven tersenyum meledek.


Tsania membaca kartu namanya, kemudian melihat ke sekeliling ruangan, "Akankah ada pelanggan khusus yang datang kemari?" Tsania kembali melamun.


Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka lebar, dan menutup sendiri dengan keras hingga papan nama yang ada di pintu nama tengahnya terlepas. Dan terdengar suara Tsania berteriak frustasi, "Mengapa pelanggan pertamaku seorang hantu? Aku akan membelikanmu kopi. Aku akan mengurusnya, seperti biasa kan?"


Madam Sahara datang ke mall Kingstev. Orang-orang melihatnya dengan aneh dan saling berbisik. Dia kemudian berpapasan dengan Bibi Kinan dan Direktur Bima. Bibi Kinan dan Madam Sahara saling menatap dan sedikit menganggukan kepala. Madam Sahara kemudian berlalu. Direktur Bima bertanya pada istrinya, apakah istrinya itu mengenal wanita yang tadi lewat.


Kini mereka ada di kantor Direktur Bima.


Bibi Kinan : "Dia adalah wanita keturunan China yang dikenal sebagai mak comblang di antara orang-orang kaya. Dia adalah mak comblang untuk orang yang sudah meninggal."


Direktur Bima karena kaget hampir saja menyemburkan kopi yang sedang diminumnya, "Orang yang sudah meninggal?"


Bibi Kinan : "Dia menyocokan arwah dalam pernikahan."


Madam Sahara sedang mengadakan pernikahan arwah.


Suara Bibi Kinan : "Memikirkan sebuah keluarga akan mendapat masalah jika anaknya meninggal dalam keadaan masih sendiri, Aku mendengar Dia menyocokan mereka satu sama lain. Dia panggil Madam Sahara karena Dia adalah seorang perencana pernikahan hantu."


Direktur Bima : "Keluarga kaya akan melakukan apapun."


Bibi Kinan menghela nafas, dan menanyakan perihal pengusir hantu yang mendapatkan sebuah kamar. Direktur Bima mengatakan itu sebuah kantor, bukan kamar.

__ADS_1


"Dan itu Tsaniah, bukan Tsaniah!" Direktur Bima kesal istrinya terus saja salah menyebut nama Tsania.


Bibi Kinan terus menatap suaminya. Direktur Bima merasa bersalah telah keceplosan membentak istrinya. Di antara kebingungan harus berbuat apa, dia mengeluarkan kalimat pemungkas, "I love you."


Tsania menunjukan kartu namanya pada Kakaknya. Hana heran, apakah Kingstev mempunyai posisi itu. Tsania bilang ada, kantornya memang tidak terlalu kelihatan tapi itu seperti ruang penyimpanan di jalan menuju kantor Presdir. Tsania merasa tidak akan ada sesuatu yang aneh akan menempel pada Tsania lagi disana.


Tsania berbisik dan melirik ke sampingnya: "Mereka datang." Tsania kemudian menggeser satu gelas kopinya ke samping.


Hana berkata dengan muka takutnya: "Yang satu untukmu…dan yang satu lagi untuknya."


"Dia pasti keranjingan kopi disini. Dia terus saja menempel di sekitarku. Dia adalah pelanggan khusus pertamaku." Tsania menunjuk si hantu kopi lalu tertawa.


Hana menyuruh Tsania membawa hantu itu ke pusat pelanggannya jika Dia memang pelanggan Tsania. Tapi Tsania menolaknya dan mengatakan bahwa Dia menyukai tempat itu. Tsanai pun pamit pergi.


Ternyata, hantu kopi itu mengikuti Tsania. Tsania bertanya padanya mengapa hanya kopi saja yang terus Dia bicarakan. Dan saat Tsania berbicara dengan hantu kopi, Madam Sahara lewat. Madam Sahara merasa heran melihat Tsania berbicara sendiri, dan akhirnya sepertinya Dia tahu Tsania sedang berbicara dengan hantu yang bisa di lihatnya. Tsania sempat menoleh melihat Madam Sahara, lalu Dia melanjutkan perjalannya. Dan Madam Sahara mengikutinya.


Madam Sahara berdiri di depan kantor Tsania dan berkata : "Seseorang yang mencelupkan kakinya dalam kematian, sementara Dia masih hidup…Dia akan melakukannya."


Direktur Bima berbincang dengan Steven di kantor Steven.


Direktur Bima : "Kemarin, dengan Presdir Mall Gian, Aku menukar sambutan, karena Kau tidak ada disini."


Steven : "Kau tidak hanya, menukar sambutan, dengan pesaing kita, bukan begitu?"


Direktur Bima duduk di meja Steven, dan jelas terlihat Steven tidak menyukainya. Direktur Bima mengatakan mereka juga saling menukar informasi, dan kelihatannya Presdir Mall Gian memiliki sebuah kolam investasi yang besar. Perusahaan Distribusi Shanghai, Presdir Wang, seorang Indonesia-Cina. Dia mengatakan Dia sedang memikirkan untuk bekerjasama dengan Presdir Wang.


Steven: "Presdir Wang, Perusahaan Distribusi Shanghai? Aku dengar Dia baru-baru ini kehilanan cucunya yang berharga dan dengan sepenuhnya meninggalkan dunia bisnis. Presdir Mall Gian…Dia sedang mengejar angsa liar yang Dia percayai disebut ‘koneksi’. Apakah Dia sedang mencoba membangun perusahaannya menggunakan kesepakatan bisnis yang tidak dapat dicapai?"


Direktur Bima mengambil pulpen Steven dan memainkannya: "Tapi, jika kesepakatan terjadi, itu akan bernilai milyaran dolar. Mendapatkan informasi itu sebelumnya tidak akan buruk juga. Presdir Wang adalah seorang pelanggan khusus VIP di Kingstev."


Steven yang kesal pulpennya dibuat mainan oleh pamannya, mengambil pulpen itu dan meletakan kembali pada tempatnya. Lalu, Dia memberitahu bahwa istrinya baru saja pergi ke pusat pelanggar yang baru di buat Steven. Tidak buruk untukku memberikanmu info ini sebelumnya, kan? Tanya Direktur Bima. Steven sedikit tersenyum, lalu mendorong pantat Direktur Bima yang duduk dengan santai dimejanya menggunakan telpon kantor.


Steven mengatakan cucu keluarga Wang sudah meninggal dunia. Steven bertanya, tidak akankah Tsania melihatnya jika pergi kesana. Tsania ketakutan dan berkata tidak akan pergi kesana. Steven sejenak berpikir dan kemudian menemukan sebuah ide, Dia sedikit tersenyum.


“Tidak, pergilah. Jika Dia ada disana, temui Dia. Cari tahu apakah Perusahaan Distribusi Shanghai berencana berkerja sama dengan mall Gian. Tanyakan pada Nenek apa rencana bisnisnya."


"Aku takut….apakah Presdir Wang merupakan orang yang penting untukmu?"


Steven : "Sangat penting. Bahkan jika itu sesuatu yang kecil, tanyakan padanya."


Tsania cemberut: "Karena Presdir bilang ini penting, maka Aku akan pergi. Tapi, jika sesuatu yang menakutkan mengikutiku di sana, Aku tidak bisa untuk tidur dari kesusahan."


Steven merentangkan tangannya, "Kau punya tempat perlindungan. Lakukan dengan baik dan kembali. Jika Kau ketakutan, atau akan memelukmu. Gratis."


Mendengar kata ‘Gratis’, mata Tsania terbelalak, benar-benar terbelalak. Dia memperhatikan badan Steven yang terbuka lebar dan seakan-akan ingin langsung memeluknya. Tsania tertawa dan mendekatkan tangannya di dada Steven.


Tsania masuk ke dalam rumah Presdir Wang bersama dengan Madam Sahara yang telah mengenakan pakaian ritualnya. Madam Sahara memperkenalkan Tsania pada Presdir Wang. Lalu Madam Sahara meminta Tsania untuk mengganti pakaiannya. Presdir Wang juga memintanya.


Bibi Kinan menemui Steven. Bibi Kinan mengatakan alasannya tidak terlalu banyak berbicara tentang gadis itu (Tsania) karena Dia pikir lebih baik Steven bersamanya daripada Karin yang sudah meninggal. Walaupun Tsania terlihat seperti tidak memiliki banyak, tapi setidaknya Dia seorang wanita normal.


Steven : "Dia dengan pasti, tidak normal. Dan juga, wanita itu bekerja dalam penugasan yang Aku berikan padanya, jadi jangan membuatnya sulit dengan sengaja memberinya pekerjaan lebih."


Bibi Kinan : "Aku tidak memberikan pekerjaan padanya dengan sengaja. Aku mengirimnya karena Madam Sahara mengajukan permintaan khusus bahwa Aku harus mengirimnya ke sana."


Steven menanyakan siapa itu Madam Sahara. Bibi Kinan menjawab, ada seorang wanita yang dikenal sebagai Madam Sahara. Dia adalah mak comblang untuk arwah. Melihatnya keluar masuk rumah Presdir Wang, Bibi Kinan merasa rumor yang beredar itu benar. Rumor yang mengatakan bahwa, Dia mencoba memberikan cucu keluarga mereka yang sudah meninggal, sebuah pernikahan dan mencoba menemukan pengantin wanita yang baik.

__ADS_1


Steven mengatakan itu adalah cerita hantu yang menggelikan. Tapi Bibi Kinan penasaran mengapa wanita itu secara khusus memilih pengusir hantu. Steven tampak berpikir tak tenang.


Tsania sudah berganti pakaian. Ada hantu pria yang melewatinya, Tsania akan mengikutinya, tapi ponselnya berdering.


"Presdir..ini sedikit menakutkan, tapi telponmu membuatnya berkurang."


Steven bertanya apakah Tsania baik-baik saja dan apa yang Dia lihat disana. Tsania melihat cucunya yang sudah meninggal, Tsania merasa Dia ada di rumah itu. Tsania melihat fotonya, Dia terlihat muda dan tampan.


"Dia sakit sejak kecil, dan Dia meninggal di rumah tanpa pernah mempunyai pacar. Neneknya (Presdir Wang) sangat sedih karena itu."


Steven menelpon Tsania sambil berjalan mondar mandir di kantornya. Kemudian Steven menanyakan apa yang sedang dilakukan Tsania sekarang. Tsania mengatakan mereka memintanya memakai sesuatu, jadi Dia memakainya. Steven bertanya lagi memakai apa, dan mengapa mereka meminta Tsania memakainya.


"Aku tidak tahu, tapi ini adalah sebuah gaun cantik yang Kau lihat di film-film Cina. Aku kira mereka menyebutnya gaun pengantin Cina."


Steven menghentikan langkahnya: "Gaun apa? Mengapa Kau mengenakannya? Lepaskan dan segera keluar dari sana."


Tsania : "Mengapa?"


Steven : "Keluar sekarang!"


Tsania : "Kau mengatakan pekerjaan ini penting! Aku akan mencoba yang terbaik, dan menemukan apa yang bisa Aku temukan sebelum pergi.”


Tsania menutup telponnya, dan menyimpannya disana begitu saja. Dia kemudian berlari ke arah hantu Jetli (cucu Presdir Wang yang meninggal) tadi berjalan.


Steven memanggil-manggil Tsania di telpon, tapi telponnya sudah terputus. Steven berusaha tidak peduli, karena menurutnya Tsania pergi dengan kedua kakinya sendiri. Tapi kemudian Dia teringat Tsania yang berubah pikiran untuk mendatangi tempat itu karena Dia bilang itu penting.


"Jika Dia mempunyai kemampuan melihat hantu, Dia seharusnya bisa merasakan ada sesuatu yang salah dan pergi! Mengapa Dia mengikuti semua yang Aku katakan?" Steven kesal.


Tsania terus mengikuti hantu Jetli sampai Dia masuk ke sebuah ruangan yang ada seguci bunga mawar berwarna merah muda. Tsania menebak itu adalah kamar Jetli. Tiba-tiba pintu tertutup. Dari luar Madam Sahara mengunci pintu kamar itu. Tsania tentu saja panik dan menggedor pintu minta dibukakan.


Madam Sahara : "Tolong habiskan satu malam di kamar itu. Walaupun Kau bukan orang yang sudah meninggal, Kau bisa melakukannya. Untuk membiarkan sang cucu pergi dengan damai, tolong habiskan satu malam bersamanya."


Lalu Madam Sahara memberikan kunci kamar itu pada seorang pelayan wanita yang ditugaskan berjaga di depan kamar.


Tsania yang tahu percuma Dia terus menggedor pintu karena tidak akan di buka, berjalan masuk lebih dalam ke kamar. Dia terkejut melihat sosok Jetli yang berdiri membelakangi di dekat jendela. Tapi Tsania tetap mendekatinya. Hantu Jetli menoleh dan wajahnya berubah menjadi mengerikan. Tsania refleks menutup wajahnya.


Seorang pelayan memberitahu Presdir Wang bahwa ada seseorang yang mencarinya. Orang itu masuk, dan dia adalah Steven. Yeay. Presdir Wang menanyakan apa yang membuat Tsania datang kesana.


"Aku datang untuk mencari karyawanku yang dikirim kesini. Dimana Dia?"


Presdir Wang menanyakan, mengapa seorang Presdir secara pribadi, mencari karyawan wanitanya yang tidak spesial sama sekali.


"Jika Dia bukan seorang karyawan yang spesial, Kau tidak akan memanggilnya kesini."


Presdir Wang tersenyum, Dia mengundang Tsania karena memiliki permintaan khusus. "Aku memperlakukannya dengan baik sebagai tamuku, jadi berpura-puralah Kau tidak tahu dan silahkan pergi."


Steven : "Siapa yang memperlakukannya? Cucu keluarga ini yang sudah meninggal?"


Presdir Wang marah dan berkata dalam bahasa Cina bahwa ini masalah penting keluarganya, jadi Steven tidak perlu campur tangan.


"Dia adalah karyawanku yang sangat penting. Aku akan campur tangan." Steven membungkuk dan mencari Tsania.


Steven bertemu dengan seorang pelayan yang merapikan barang-barang milik Tsania. Steven menanyakan padanya dimana Tsania. Pelayan itu ragu, tapi sepertinya Dia mengatakannya juga karena sekarang Steven berada di depan kamar yang di masuki Tsania dan Jetli. Stevn meminta pelayan yang ada di situ untuk membukanya. Pelayan itu tidak mau.


"Bukalah." Presdir Wang datang bersama Madam Sahara. "Buka pintunya."

__ADS_1


Pelayan itu membuka kunci kamar. Saat Steven akan masuk, Presdir Wang berkata, "Kau akan menyesalinya jika Kau membuka pintu itu. Pesaingmu datang menemuiku. Aku bisa memutuskan untuk berkerja sama dengan mereka. Itu tergantung padamu. Apa yang akan kau lakukan?" (maksudnya jika Steven membuka pintu itu, maka Presdir Wang akan bekerja sama dengan mall Gian. Tapi jika tidak, mungkin Dia akan bekerja sama dengan Steven.


...***Bersambung.........


__ADS_2