Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu # 12


__ADS_3

Tsania bersembunyi di tempat sepi. Ia merasa malu karena Agatha melihat sisi anehnya. Juga Micky.


“Ia mungkin tidak akan menyukaiku lagi,” gumamnya sedih.


“Siapa? Hantu yang tak akan menyukaimu lagi?” tanya Steven yang baru keluar dari kantornya. Rupanya Tsania bersembunyi di depan kantor Steven.


Tsania bercerita ia bertemu Agatha tapi ia melihat sesuatu yang menakutkan di samping Agatha hingga ia lari. Ia juga merasa malu karena itu ia berjongkok di sini.


“Malu? Kau? Orang yang bahkan tidak merasa malu ketika tiba-tiba muncul di pemakaman?” olok Steven. “Apa rasa malu itu ada kaitannya denganku?”


Tsania menggeleng.


“Kalau begitu kenapa kau di sini? Pergilah,” Steven kembali masuk ke kantornya.


Tsania mengikutinya. Ia berkata ia baru sadar ia sudah lama tidak merasa malu. Bahkan ketika ia takut melihat hantu, ia tidak merasa malu. Tapi sekarang setelah ia memiliki lubang bernafas, ia memiliki waktu untuk merasa malu.


“Aku benar-benar malu saat ini,” kata Tsania terharu.


Steven bertepuk tangan. “Selamat telah menemukan rasa malu. Tapi kenapa kau mengatakannya padaku?”


“Karena Presdir adalah lubang bernafasku,” Tsania mengulurkan jarinya hendak menyentuh Steven. Steven langsung menghindar.


Tsania melihat sekelilingnya dan melihat meja Sekretaris Andrew. Ia merasa tempat ini sangat nyaman. Steven mengingatkan kalau ia tidak akan menaruh Tsania di sini dan menegaskan kalau Tsania masih petugas pembersih. Ia menyuruh Tsania pergi.


Direktur Bima dan Sekretaris Andrew kebetulan melihat Tsania keluar dari kantor Steven. Direktur Bima berkata wanita itu Tsania pastilah petugas pembersih kantor Steven. Sekretaris Andrew bertanya mengapa Direktur Bima tertarik mengetahui siapa petugas pembersih kantor Presdir. Atau lebih tepatnya sangat tertarik pada yang berkaitan dengan kantor Presdir.


Direktur Bima berkilah kalau Steven adalah keponakannya, walau ia tidak pernah dipanggil Paman. Wajar saja jika ia memperhatikan. Sekretaris Andrew tersenyum dan masuk ke kantornya. Direktur Bima bergumam kalau Sekretaris Andrew seharusnya dipecat. Ia berpikir Steven akan lebih mudah ditangani jika wanita seperti Tsania masuk dalam kehidupan Steven.


Malamnya, diam-diam Micky mengikuti Tsania dalam perjalanan pulang. Ia melihat berbagai tingkah Tsania yang aneh.


Tsania selalu menunduk dan tampak menghindari sesuatu. Ketika menyeberang jalan, Tsania bisa berhenti di tengah-tengah seakan ada yang menghalanginya lalu berbalik tak jadi menyeberang. Micky mengikuti Tsania menyusuri jalan memutar untuk tiba ke apartemen mereka.

__ADS_1


Di tengah jalanTsania berhenti berjalan. Ia nampak ragu saat melihat minimarket di hadapannya. Micky melihat Tsania tiba-tiba berjalan mundur dan seketika kemudian berlari sekencang-kencangnya. Ia bertanya-tanya kenapa Tsania mengambil jalan memutar sejauh ini untuk pulang.


Tsania tiba di gedung apartemennya. Ia langsung bertanya pada Bibi pengelola gedung mengenai nenek di minimarket. Apakah nenek itu mati? Bibi membenarkan, nenek itu meninggal tadi pagi. Sepertinya hantu si nenek yang membuat Tsania berlari seperti tadi.


Bibi menyuruh Tsania membuang sampah. Tsania berkata ia akan segera turun untuk membersihkannya. Tapi ketika Tsania turun, sampah-sampah itu telah dibersihkan. Ia tidak bisa bertanya pada Bibi yang tertidur, mengenai siapa yang telah membersihkannya.


Micky yang telah membereskan semua itu karena ia sempat mendengar percakapan mereka saat ia masuk. Ia bertanya-tanya apa yang membuat hidup Tsania begitu sulit.  


SemalamanTsania tidak bisa tidur karena hantu Bibi terus menerus merongrongnya mengenai toko kelontong yang akan dibangun di sebelah minimarket milik si nenek.Tsania berkata ia tidak bisa melakukan apapun mengenai hal itu. Tampaknya lingkaran hitam di mata Tsania akan segera kembali.


Agatha mematut penampilannya di cermin. Tiba-tiba ia mendengar suara tangisan. Agatha tahu itu adalah suara tangisan Agatha semasa kecil. Ia mencari-cari di deretan pakaiannya.


“Kenapa kau menangis? Kau Agatha kecil, bukan? Di mana kau!!” teriaknya.


Ia berbalik. Cerminnya tiba-tiba maju mendekatinya. Di cermin itu muncul sosok lama Agatha.


“Kaulah Agatha kecil,” kata Agatha muda menyeringai aneh. Lah ini sih dihantui diri sendiri.


Agatha kembali bercermin. Suara hantu itu terngiang di batinnya. “Lebih…kau harus lebih cantik.”


“Kak, apakah aku sebaiknya pegi ke rumah sakit?” tanya Agatha pada managernya.


“Apa kau benar-benar terkena flu?”


“Bukan rumah sakit seperti itu.”


Managernya kaget. Apa Agatha ingin melakukan operasi plastik? Agatha berkata jika ia mengoperasinya sedikit, ia akan semakin cantik.


Tsania menemui steven di kantornya, dan memohon agar bisa tidur sambil memegang tangan Steven di sofa sebentar saja. Ia berusaha menyentuh Steven tapi Steven mundur sambil menyilangkan tangan di dada.


Tsania bercerita mengenai hantu nenek yang terus mengganggunya semalaman.

__ADS_1


“Apa kau pikir tempat persembunyian itu semacam hotel? Sentuhan yang kuijinkan hanya terjadi saat darurat, ketika kau hampir pingsan dan mati. AKu tidak berencana menjadi boneka teddy, yang bisa kau peluk, dan di ajak tidur."


“Malam itu sungguh enak,” rengek Tsania.


“Jika kau merindukan malam itu, temukan Karin dan cari tahu di mana uangku.”


Ia mengulurkan tangannya pada Tsania. Tsania melihat tangan itu penuh harap.


“Maka aku akan mengijinkannya sekali saja,” kata Steven sambil menarik tangannya.


Tsania berkata ia juga ingin melihat Karin tapi Karin tidak menampakkan diri. Ia berkata biasanya hantu menampakkan diri di tempat mereka mati.


“Apa kita sebaiknya mencoba ke sana?”


“Sekretaris Andrew tahu tempatnya, jadi tanyakan padanya dan pergilah ke sana!,” kata Steven.


Sekretarus Andrew memberitahu Tsania bahwa Steven juga berada di tempat kecelakaan saat Karin mati. Mungkin itu sebabnya Steven menderita jika pergi ke sana. Ia juga bercerita kalau saat kejadian itu Steven disekap oleh penculiknya tapi penculiknya mendapat uang tebusan melalui Karin.


Tebusan yang diminta penculik saat itu adalah perhiasan. Perhiasan itu milik ibu Steven yang sudah meninggal. Setiap 30 menit, penculik itu membiarkan ayah Steven mendengar suara Steven untuk membuktikan Steven masih hidup.


Steven dipaksa membacakan kalimat demi kalimat dari sebuah buku. Ia membaca dalam kondisi tertekan dan takut. Kejadian itu menjadi trauma bagi Steven hingga Steven mengalami disleksia.


Tsania bertanya mengapa Karin mati padahal tebusan sudah diberikan. Sekretaris Andrew berkata Steven berhasil diselamatkan oleh polisi setelah tebusan diberikan, tapi Karin tetap disandera oleh pelaku.


Pelaku melarikan diri sementara polisi terus mengejar. Mobil penculik tertabrak truk dan terjatuh ke sisi jalan. Tapi penculik tidak mati. Ia menyelamatkan diri meninggalkan Karin yang terluka.


Ketika mobil polisi tiba berikut Steven, mobil penculik telah dalam keadaan terbakar. Steven berteriak menyuruh Karin keluar dan hendak menyelamatkannya. Tapi para polisi menghalanginya karena terlalu berbahaya. Karin tersenyum lemah, lalu mobil itu meledak.


Tsania mengerti Steven pasti tidak ingin kembali ke tempat itu. Untuk mengingatnya saja pasti sulit.


** Bersambung.......

__ADS_1


Jangan lupa like, rite, and vote yaaa !!! makasih !!!


__ADS_2