
Andrew membuka kunci mobil dengan remote dari jauh. Dia sangat kaget begitu akan menuju pintu mobil, ada Tsania yang bersembunyi disana.
Andrew : "Kau mengagetkanku nona."
Tsania dengan perlahan berdiri dan berkata : "Mungkinkah, Presidir akan bertemu dengan Alvino?"
Andrew : "Sejauh yang aku tahu, mereka ada jadwal bertemu hari ini. Tapi aku tidak bisa mengajakmu."
Tsania memberikan sebuah amplop: "Lalu, bisakah kau memberikan ini pada Alvino? Saat Alvino melihatnya, dia akan datang menemuiku. Kumohon berikan padannya."
Lalu terdengar langkah kaki Steven. Tsania segera bersembunyi dan lari dari sana.
Tsania menunggu Alvino di bawah pohon tempat Alvino dan Anabella mengubur barang.
Tsania: "Aku berharap ini akan segera berakhir, jadi aku bisa tidur."
Tsania melihat di kejauhan ada papan reklame besar yang memasang poster Alvino.
Tsania : "Disini pasti dimana dia terus melihat orang itu."
"Melihat apa?" Steven mengagetkan Tsania.
Tsania bergumam: "Aku pikir dia adalah pria yang baik."
Steven menunjukan kertas yang tadi Tsania titipkan pada Andrew, "Apa ini? Wajah siapa ini? Apakah gadis ini, mungkinkah, Anabella?"
Tsania : "Bagaimana kau tahu Anabella?"
Steven : "Dia adalah wanita yang telah mengancam Alvino."
Tsania : "Apa maksudmu mengancam? Tidak seperti itu."
Steven melihat ke sekeliling, "Dimana gadis itu?"
Tsania : "Dia tidak ada di sini sekarang."
Steven : "Kemana dia pergi?"
Tsania : "Dia…sudah meninggal."
Steven : "Dia sudah meninggal?"
Tsania mengangguk.
Steven : "Lalu apakah kau yang mengancam kami?"
Tsania : "Tidak! Aku hanya ingin menyampaikan perasaannya."
Di tempat lain, di sebuah bar, Alvino tengah minum sendirian. Lalu, wuusshh…ada hantu Anabella dibelakang mengawasinya dengan sedih.
Suara Tsania : "Sepanjang waktu, dia hanya ingin melindunginya dan memberinya semangat, itu yang dia katakan. Jadi dia akan mengetahui bagaimana perasaannya yang sesungguhnya."
Tsania menyerahkan kertas itu lagi pada Steven, "Tolong berikan ini pada Alvino."
Steven mengambil kertas itu, melihatnya sebentar, lalu merobeknya.
Tsania : "Jangan!"
Steven berkata: "Jika dia sudah meninggal, maka sudah berakhir. Jangan menyusahkan orang yang masih hidup."
Steven melemparkan sobekan kertas ke atas, kemudian Steven pergi.
Tsania berjalan di trotoar, dia melihat seorang pria membawa segepok uang dan menciumnya. Dia adalah putra nenek hantu.
Tsania menghampirinya, "Paman."
Paman : "Kau wanita yang waktu itu. Terima kasih."
Tsania : "Bukankah ini tempat perjudian? Nenek mengatakan untuk tidak menggunakan uangnya untuk berjudi."
Paman: "Urus saja kepentinganmu sendiri!"
Tsania menahan tangan pria itu yang akan masuk ke dalam:
"Paman!
Bagaimana bisa kau melakukannya? Nenek memintamu berkali-kali untuk tidak menggunakan uang itu untuk berjudi. Aku bahkan memberitahukanmu."
Paman : "Mengapa kau begitu peduli pada ibuku yang sudah meninggal? Lepaskan!"
__ADS_1
Tsania hanya bisa memandanginya pasrah.
Tsania berjalan di stasiun kereta. Dia mengeluh.
"Yah.. Aku pergi berkeliling melakukan hal yang tidak berguna. Apa pentingnya tentana apa yang ingin dikatakan orang yang sudah meninggal? Tidak ada seorang pun yang akan mendengar."
Tsania melihat hantu Anabella di sebrang, menatapnya dengan wajah sendu.
Tsania akan berjalan lagi, dia menoleh ke kiri, ada hantu Anabella yang membuatnya terkejut. Lalu dia berbalik ke kanan, ada lagi hantu Anabella yang membuatnya terkejut.
Tsania menumpahkan kekesalannya, "Pergi! Jangan ikuti aku! Berhenti menggangguku! Orang-orang memperlakukanku seperti orang gila karena orang sepertimu! Tinggalkan aku sendiri agar aku bisa hidup!"
Tsania berlari, di bawah tatapan aneh orang-orang di sekitarnya.
Steven bertemu dengan Alvino di sebuah restoran.
Steven : "Apakah kau yakin yang mengirim surat rahasia itu adalah Anabella? Aku pikir kau salah."
Manager : "Tidak, ini pasti wanita itu. Dia melihatnya berdiri di luar dekat kantor."
Steven : "Kau melihatnya sendiri?"
Manager tidak menjawab, hanya mendesah.
Lalu Steven teringat perkataannya Tsania yang mengatakan bahwa Anabella sudah meninggal, dan menyadari sesuatu.
Manager pada Alvino : "Aku akan menghentikannya, jadi jangan terlalu memikirkannya. Aku akan berada disisimu dan semuanya akan teratasi."
Alvino menerawang: "Aku mencintainya, jadi aku tidak tahu mengapa dia melakukan hal ini padaku."
Steven : "Mungkin karena uang. Apakah ada hal lain yang diinginkan orang hidup selain uang? Bukankah kau melakukannya karena kau takut kehilangan apa yang kau miliki sekarang?"
Alvino : "Aku takut dengan apa yang dia rasakan."
Steven tertawa, "Mengapa kau takut pada perasaan yang tidak bisa kau lihat? Kau seharusnya takut pada orang yang bisa kau lihat. Bagaimanapun, aku pikir kau
melakukannya dengan baik."
Steven menatap manager dengan curiga. Dan manager tampak sedikit gugup ditatap seperti itu oleh Steven.
Micky sedang bertelpon dengan seseorang.
Micky : "Aku sudah melamar di Kingstev dan aku lolos. Ya, aku akan terus mengawasi."
Tapi, raut wajah Tsania tidak menampakan kegembiraan.
Hari pernikahan tiba. Semua panitia sibuk melakukan persiapan terakhir. Para fans yang ingin melihat dari dekat pun sudah banyak berkumpul.
Steven datang bersama rombongan staffnya.
Steven : "Hari ini bukanlah hari pernikahan Agatha, tapi hari dimana kita mengadakan iklan Kingstev."
Sento : "Kami telah menempatkan logo Kingstev jadi saat pemotretan pengantin, tidak ada cara menghindarinya."
Steven : "Bahkan jika mereka bisa melihat hanya satu, gantung yang sangat besar sehingga semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Buat menjadi BESAR seperti uang yang kita gunakan."
Agtha memandangi dirinya yang menggunakan gaun pengantin di depan cermin. Sedangkan Alvino duduk melamun memegangi gelang di tangannya.
Tsania di pemakaman Anabella. Dia mengambil kotak kenangan yang disimpan di samping kuburan Anabella.
Tsania : "Kau harus datang juga. Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi kau akan sangat menyedihkan jika kita membiarkannya tetap salah paham."
Tsania tersenyum.
Tsania mendatangi mall Kingstev. Steven dan Andrew melihatnya.
Tsania : "Wanita itu bahkan datang kesini."
Andrew : "Mengapa dia sangat gigih untuk bertemu dengan Alvino?"
Steven : "Sesuatu tentang menyampaikan perasaan orang yang sudah meninggal. Beritahu security untuk mengurusnya jadi dia tidak bisa masuk."
Andrew : "Ya baiklah tuan."
Ruang Security.
Security : "Pimpinan Tim, tamu di kamera empat dari blok A, kita mendapat perintah untuk mengikutinya."
Micky kemudian memerintahkan anak buahnya di lapangan untuk mengikuti Tsania. Micky kemudian menatap layar, dan menyadari wanita itu adalah Tsania.
__ADS_1
Micky : "itukan wanita yang waktu itu?"
Agatha sedang ditemui oleh teman-teman sekolah menengahnya.
Agatha : "Kalian boleh mengambil gambar. Dan juga tidak apa-jika jika kalian membaginya dengan orang lain bahwa kita adalah kolega."
Shireen : "Terima kasih."
zaskia : “Kau terlihat cantik.”
Agatha : "Tsania belum datang?"
Shireen: "Tsania ? Dia datang?"
Zaskia : "Apakah dia beneran bakal
datang kok sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya?"
Agatha : "Itu benar!. Aku penasaran bagaimana dia sekarang?"
Shireen : "Aku dengar dia berubah menjadi sangat aneh."
Zaskia : "Mengapa?"
Agatha: "Tsania masa dia aneh sih."
Tsania di periksa oleh security, tapi Tsania memiliki kartu undangan pernikahan itu.
Tsania: "Aku berteman dengan pengantin wanita."
Security: "Kau ada di dalam daftar. Silahkan masuk."
Andrew menghadap Steven.
Andrew : "Wanita itu adalah tamu yang menghadiri pernikahan Agatha."
Steven tak percaya: "Wanita itu?"
Andrew mengangguk.
Tsania : "Apakah dia ada dalam daftar tamu? Kau sudah memeriksanya?"
Andrew : "Ya. Dia pergi ke sekolah yang sama dengan sekolah menengah atas Agatha. Mereka memanggilnya Tsania Anatasha."
Steven : "Tsania Anatasha? Jadi kau membiarkannya masuk?"
Tsania masuk ke sebuah ruangan. Ruang pengantin pria.
Tsania : "Permisi."
Alvino : "Siapa kau?"
Alvino kemudian melihat kotaknya, "Mengapa kau memilikinya? Orang yang mengancamku adalah kau?"
Tsania tidak berani menjawab.
Alvino : "Bagaimana dengan Anabella? Dimana Anabella berada? Dia pasti datang kesini bersamamu. Dimana dia?"
Alvino mengambil kotak kenangan yang sedang di pegang Tsania.
Alvino : "Jadi kau yang mengirimkan surat rahasia padaku dengan ini dan apa, apa kau menginginkan uang?"
Tsania diam saja tidak menjawab.
Alvino : "Baik. Aku akan memberikanmu uang. Dimana Anabella? Dimana dia?"
Alvino melemparkan kotaknya dengan penuh rasa marah.
Kotak itu terbuka, dan keluarlah isi di dalamnya, sepatu bola.
Tsania : "Anabella sudah meninggal."
Alvino : "Apa?"
Tsania berkata dengan suara rendah: "Dia sedang sakit saat kau berpisah dengannya. Hatinya sakit sekali sampai dia meninggal. Kau sangat salah paham. Jadi aku datang kemari untuk memberitahu perasaan Anabella yang sebenarnya."
Alvino terlihat gemetaran.
*** Bersambung.......
__ADS_1
Terima kasih! bagi yang sudah berkunjung ke ceritaku. ☺
Selamat membaca!!