
Di sekolah, ketiga siswi itu masih membicarakan foto mereka. Yang satu berusaha menghibur diri bahwa itu adalah hantu kekasih CEO Kingstev, sementara yang lain menegaskan itu benar-benar Delia dan mereka tahu itu.
“Apakah kira sebaiknya pergi ke sana?” tanya si gadis berkacamata.
Steven mendatangi detektif yang memberikan wawancara di TV. Ia bertanya mengapa detektif itu berbicara di TV. Detektif itu berkata ia berharap dengan ia melakukannya, pelaku akan muncul sebelum kasus itu ditutup.
“Apa kau pikir pelakunya akan menyerahkan diri karena mereka takut pada hantu?” ujar Steven sinis.
“Jika mereka melihatnya, mungkin saja mereka merasa bersalah. Kematian Karina sebagian karena kesalahanmu. Apa kau tidak merasa bersalah padanya? Kau adalah CEO Kingstev, sepertinya kau hidup dengan baik. Tapi apakah seharusnya kau tidak melupakan gadis itu?”
“Sepertinya aku cukup mengganggu karena aku hidup dengan baik. Aku menjalani hidup baik karena mendengarkan kata-katamu 10 tahun lalu: lupakan semuanya, orang yang hidup harus tetap hidup.”
Detektif itu tidak ingat pernah mengatakannya. Bagaimanapun juga ia tidak akan menyerah atas kasus ini.
“Jika begitu, temukan juga uangku yang menghilang,” ujar Steven dingin. Ia berjalan pergi.
“Apa kau benar-benar baik-baik saja? Setelah peristiwa itu, kau kehilangan kemampuan untuk membaca, bukan?” Ia menantang Steven untuk membaca koran yang ia pegang.
Steven berkata ia sudah melupakan semua itu. Detektif itu tahu Steven belum lupa.
Tsania melihat foto hantu air mancur dan bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis itu. Ia makan malam bersama kakak beradik boy. Si kakak mengusulkanTsania mencari hantu itu, bukankah Tsania bisa melihat hantu?
“Benar juga. Jika aku bisa menemukan gadis itu, aku bisa membantunya (Steven). Jika aku membantunya, mungkin ia mengijinkan aku tinggal di sisinya.”
Ia menyuruh kakak beradik Boy makan dengan kenyang dan jika mengantuk bisa tidur di rumahnya. Setelah Tsania pergi, sang kakak berbisik pada adiknya.
“Walau Tante itu aneh, kita harus tetap percaya pada apa yang ia katakan. Dengan begitu kita akan terus mendapat makanan gratis darinya.”
Si adik mengangguk.
Tsania kembali ke mall yang sudah gelap dan kosong. Ia mencari hantu-hantu yang ia lihat saat ia berkeliaran membersihkan mall siang tadi.
Ia mencocokkan hantu WC dengan hantu di foto itu. Hantu WC lebih menakutkan. Tsania cepat-cepat lari. Lalu ia mengikuti hantu wanita berpakaian abad pertengahan. Ia meminta hantu itu berbalik dan memperlihatkan wajahnya.
Hantu itu menoleh. Tsania terkejut. Hantu itu berkumis.
Terakhir adalah hantu pria yang duduk di bangku. Ia tampaknya marah saat Tsania terus bertanya padanya mengenai hantu dalam foto. Tsania pun lari terbirit-birit.
Ia hampir jatuh tertidur di samping manekin ketika tiba-tiba ada tangan memegang bahunya.
Tsania terlonjak kaget.
__ADS_1
“Apa kau manusia?”
Tak ada yang menjawab. Tsania memegang tangan di bahunya. Sepertinya manusia. Ia menoleh dan berteriak kaget.
Micky tersenyum dengan senter menyinari wajahnya hingga tampak menyeramkan di mall yang gelap ini. Micky bertanya mengapa Tsania berkeliaran di mall malam-malam begini.
Tsania berkata ia sudah beberapa hari bekerja di mall ini sebagai petugas pembersih. Micky berkata seharusnya petugas pembersih sudah pulang. Tsania beralasan ia mencari sesuatu yang hilang saat ia membersihkan.
Saat itulah Micky melihat foto di tangan Tsania. Tsania buru-buru menyembunyikan foto di balik punggungnya dan berkata ia akan pulang sekarang.
Micky mengantar Tsania melewati mall yang gelap itu.
Sementara itu, ketiga siswi juga telah tiba di mall.
Ketiga siswi berdiri di pintu mall. Kok ngga takut ya ke mall malem-malem. Anehnya lagi, mallnya ngga dikunci
Siswi yang satu bertanya bagaimana jika mereka benar-benar bertemu Delia. Jika begitu kita tanyakan padanya kenapa ia begitu membenci kita, kata si kacamata. Maka merekapun masuk.
Micky dan Tsania menyusuri koridor mall. Micky bertanya apa yang sedang dicari Tsania. Tsania menjawab ia mencari sesuatu yang tidak bisa dilihat Micky.
“Aku memiliki penglihatan yang bagus,” kata Micky tersenyum. Hehe, apa yang ada di benak Micky? Sesuatu yang tidak bisa dilihatnya? Pakaian dalam?
Micky memperkenalkan namanya. Tsania juga memperkenalkan diri.
Tiba-tiba Tsania terpekik kaget. Ia melihat tutup tempat sampah bergoyang. Bak seorang gentleman, Micky mengulurkan tangannya agar Tsania bisa menggandengnya. Dengan malu-malu Tsania berpegangan pada Micky.
Ketiga siswi tiba di air mancur. Mereka berdiri di depannya dan berbicara dengan Delia.
“Del...lia.., kami datang menemuimu. Ada sesuatu yang hendak kami tanyakan. Apa kau di sini sekarang?”
Dari belakang mereka muncul sebuah bayangan yang semakin lama mendekati. Mereka menoleh.
Tepat saat itu, Tsania dan Micky hendak turun ke lantai dasar (tempat air mancur itu). Tsania melihat mereka.
“Lihat, mereka manusia,” Tsania
“Benar, sepertinya mereka murid SMA.”
“Kenapa mereka berempat ada di sana?” tanya Tsania.
“Mereka hanya bertiga,” kata Micky.
__ADS_1
Micky hanya melihat ketiga siswi itu sementara Tsania melihat ada sosok lain di belakang mereka.
Hei anak-anak, apa yang kalian lakukan?” seru Micky.
Ketiga siswi itu langsung lari. Sementara siswi ke-4 tetap diam di tempatnya dan pelan-pelan menoleh ke arah teman-temannya.
Tsania berjalan mendekati hantu itu.
“Apakah kau?” tanyanya.
Hantu itu menoleh. Tsania langsung memejamkan mata karena wajah hantu itu mengerikan. Namun pelan-pelan ia membuka matanya kembali. Hantu itu masih melihatnya.
Micky tidak berhasil mengejar ketiga siswi. Ia kembali ke air mancur. Ternyata tiga siswi itu belum pergi. Mereka masih bersembunyi di mall.
Saat mereka hendak pergi, tiba-tiba Tsania berdiri di depan mereka menyerahkan sesuatu. Ketiga siswi itu mengira diri mereka tertangkap basah menyelundup di mall.
Ternyata Tsania menyodorkan foto hantu yang tersebar itu.
“Ini kalian, bukan?” ujarnya. Ketiga siswi itu saling berpandangan.
Steven diantar Sekretaris Andrew pergi ke suatu tempat yang tampaknya merupakan sebuah gudang tua tak terawat. Steven berkata tempat itu masih sama seperti 5 tahun lalu.
“Kata-kata Tsania pasti perpengaruh hingga Steven kembali ke tempat ini,” kata Sekretaris Andrew.
Steven tidak menjawab, ia melangkah masuk. Sekretaris Andrew mengikutinya.
“Seperti yang Tuan katakan terakhir kali, apa Tuan benar-benar tidak melihat wajah penjahat itu?”
Kilas balik: Steven muda duduk terikat. Seseorang mendekatinya. Steven membuka matanya. Ia terkejut saat ia mengenali siapa yang sedang menghampirinya.
Steven berkata pada Sekretaris Andrew kalau ia tidak melihat pelakunya. Sekretaris Andrew berkata walau Steven melihat pelakunya, mereka pasti tidak bisa lolos atas kematian karin. Steven membenarkan, jika ia tahu pelakunya mereka pasti sudah mati. Hmmm…apa Steven sebenarnya tahu siapa pelakunya?
Bibi Kinan makan malam bersama Agatha. Agatha bertanya apakah rumor yang beredar mengenai Steven benar adanya. Orang-orang berkata kegagalan pernikahannya juga disebabkan kutukan Kingstev (kutukan kekasihi Steven). Bibi Kinan menenangkan kalau semua itu tidak benar.
Agatha masih kesal atas kegagalan pernikahannya. Bibi Kinan berjanji akan mencari tahu siapa wanita yang menemui Alvino (tunangan Agatha) sebelum pernikahan dengan membawa kenangan masa lalu. Ia berkata suaminya (Direktur Bima) sempat melihat wajah wanita itu.
Agatha meminta Bibi Kinan memberitahunya. Ia akan mengurus wanita itu.
** Bersambung......
Terima kasih banyak! bagi yang sudah setia membaca ceritaku ini.☺
__ADS_1