
Foto itu tersebar di internet. Dan ternyata air mancur yang terlihat di foto adalah air mancur di Mall Kingstev. Direktur Bima adalah suami dari bibi Kinan, dan Reyhan salah seorang pegawai Kingstev membandingkan foto itu dengan air mancur di hadapan mereka.
Direktur Bima merasa heran dan berkata foto itu hanya foto yang buruk karena diambil dengan kamera yang tidak stabil (hingga foto gadis ke-4 terlihat buram). Tapi Reyhan tidak sependapat. Ketiga gadis lainnya terfoto dengan baik, dan lagi bukankah posisi gadis keempat itu berdiri terlihat aneh? Ia menunjuk area air mancur tempat gadis itu berdiri dalam foto. Artinya gadis itu berpose di dalam air.
Direktur Bima berpikir pendapat Reyhan ada benarnya. Jadi apakah itu benar-benar hantu? Reyhan berkata jika foto itu asli (bukan rekayasa), maka itu foto penampakan.
Direktur Bima melaporkan hal ini pada Steven. Tentu saja Steven tidak percaya. Ia yakin ini hanya sebuah rencana. Image Mall Kingstev sudah rusak karena batalnya pernikahan. Ia bertanya apa Direktur Bima akan membiarkan hal seperti ini? Apa Direktur Bima tidak berhati-hati?
Direktur Bima berkata ia sudah meminta situs di web untuk menghapus foto itu dari internet. Tapi karena foto itu, Mall Kingstev dibicarakan di internet. Karena “hantu” ini, semua pekerja membicarakannya. Ia tertawa karena, berpikir Kingstev jadi terkenal berkat hantu.
“Apa ini lucu?” tanya Steven sambil tersenyum. “Kau senang dengan situasi ini?”
Direktur Bima menjelaskan ia hanya berpendapat hal ini menarik walau ia mengaku takut pada hantu. Steven dengan kesal menuju ke teropongnya. Ia membuka jendela kantornya lebar-lebar, memperlihatkan pembangunan mall di seberang yang akan selesai dalam waktu dua bulan lagi. Gian Mall, saingan Kingstev. Itu lebih menakutkan daripada hantu.
Steven menyuruh pamannya tetap berakal sehat jika tidak ingin gagal. Ia juga menyuruh Direktur Bima berhenti membicarakan hantu dan lebih memperhatikan pelanggan. Dengan begitu barulah mereka bisa menghasilkan uang banyak.
Reyhan menyimpan foto itu di ponselnya. Rekannya berkata jika foto itu menjadi berita besar di TV, bisa mendapat uang yang besar.
Tsania pergi ke Mall Kingstev menemui kakaknya yang bekerja di sana. Kakaknya bertanya mengapa Tsania tidak tidur di siang bolong begini. Tsania berkata ia mendapat pekerjaan di Kingstev.
Sang kakak, Hana, khawatir pekerjaannya akan terpengaruh jika Tsania bekerja di mall yang sama dengannya. Ia belum lama diangkat menjadi manager kafe. Jika Tsania ditangkap polisi atau diangkut ambulan, bisa-bisa ia tidak bisa bekerja lagi di sini.
“Kak, mungkin di sini tidak akan terjadi. Karena ada sesuatu yang spesial di sini,” Tsania tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
“Ketika kau di sini, kau tidak melihat hantu?” Hmm…rupanya sang kakak sangat tahu kondisi Tsania.
“Aku tahu tempat di mana aku tidak akan melihat mereka,” kata Tsania.
Hana menghela nafas panjang. Ia bertanya mengapa Tsania membeli 2 cangkir kopi. Apa agar terjaga seharian tanpa tidur?
Tsania menggeleng. Ia membuka tutup cangkir kopi satunya.
“Hantu ini mengikutiku seharian karena ia ingin minum kopi, jadi kubelikan ia satu cangkir.”
Ternyata itu hantu pemuda di kursi goyang. Hantu itu menghirup aroma kopi di hadapannya lalu menoleh tersenyum pada Tsania. Tsania balas tersenyum lalu pamit pada kakaknya. Dengan takut-takut Hana membereskan cangkir kopi si hantu.
Di sekolah, ketiga siswi membicarakan foto mereka. Itu adalah foto yang mereka ambil pada hari kematian Delia. Mereka bertanya-tanya mengapa Delia yang sudah mati ada di foto itu, apakah Delia yang mengirimkan foto itu untuk menunjukkan ia sangat membenci mereka. Gadis berkacamata berpikir itu hanya gurauan karena banyak orang yang berpikir mereka bertanggungjawab atas kematian Delia.
Temannya berkata itu kecelakaan mobil, tidak ada kaitannya dengan mereka. Sementara yang satu lagi berkata ia merasa kematian Delia memang karena mereka.
__ADS_1
“Pada hari itu jika kita tidak melakukan apa yang kita lakukan padanya, ia tidak akan mati. Kurasa Delia yang membenci kita, selalu berada di dekar kita."
Direktur Bima memperlihatkan foto itu pada istrinya. Bibi Kinan marah saat suaminya berkata rumor yang beredar adalah hantu itu hantu gadis yang mati karena Steven. Ia bertanya siapa yang mengatakan hal omong kosong semacam itu.
“Bukan aku, para pekerja yang mengatakannya,” Direktur Bima membela diri.
“Kasus itu sangat terkenal hingga semua orang mengetahuinya dan karena itu hantu itu menghantuinya. Kisah itu sudah tersebar.”
Bibi berkata gadis itu sudah lama mati. Ia kembali mengamati foto hantu. Ia ingat Karin berambut panjang dan juga mati pada usia yang sama (usia SMA). Tapi ia tidak ingat wajahnya.
Direktur Bima tertawa. Melihat usia Bibi sekarang, itu adalah usia di mana orang mulai kehilangan daya ingatnya. Bibi memelototi suaminya. Direktur Bima langsung menunduk.
Steven berkeliling di mall-nya bersama Sekretaris Andrew. Ia kesal saat tahu masih ada orang yang membicarakan hantu air mancur dan berpose di sana. Sekretaris Andrew berkata hal seperti ini sulit untuk diredam. Ditambah lagi dengan bertambahnya rumor. Rumor apa, tanya Steven. Sekretaris Andrew ragu untuk menjawabnya.
Tiba-tiba terdengar jeritan. Seorang wanita yang tadi berpose dengan kekasih di dekat air mancur, tercebur ke kolam. Ia menyalahkan hantu air mancur.
Steven sangat kesal. Air mancur itu adalah air mancur yang mahal berhiaskan pahatan 4 wanita cantik dan sekarang ada hantunya? Mereka berjalan mengitari kolam air mancur itu.
“Hantu wanita sedikit lebih meyakinkan daripada wanita cantik. Kecantikan membuat orang merasa nyaman, rasa takut membuat gugup,” kata Sekretaris Andrew.
“Rasa takut memiliki karisma hingga orang tak bisa mengabaikannya. Karena itu mereka tertarik (pada hantu).”
“Kau begitu ngotot hingga menakutkan,” gumam Steven. Tsania mengangguk pada Steven.
Steven bertanya apa yang dilakukan Tsania di sini. Tsania berkata ia tenaga pembersih di sini. Ia menunjukkan tanda pengenalnya. Steven menoleh pada Sekretaris Andrew yang diam-diam pergi.
Steven berkata mengapa Tsania bekerja di mall ini padahal begitu banyak tempat lain.
“Karena di sini ada kau,” Tsania mengulurkan jarinya hendak menyentuh Steven.
Steven menghindar agar tak tersentuh. Ia tersenyum sinis dan memuji Tsania benar-benar hebat. Ia masih mengira Tsania mengikutinya dengan bekerja di sini untuk mendapatkannya.
Tsania berkata ia tahu Steven tidak percaya padanya (bahwa ia bisa melihat hantu) tapi Steven harusnya tahu alasan ia menempel pada Steven.
“Ahh…karena kau bisa melihat hantu, bukan?”
Tsania menunjuk air mancur di sampingnya. Ia berkata air mancur itu berhantu. Apa Tsania melihatnya? Tsania melihat air mancur itu.
“Tidak ada.”
__ADS_1
Sekarang Tsania yang kaget. Ia kira Tsania akan menggunakan kesempatan ini untuk mengatakan memang ada hantu di air mancur itu, karena sudah ada bukti fotonya. Tapi Tsania dengan jujur berkata tidak ada hantu di air mancur itu.
“Jika ada, aku pasti sudah berpegangan padamu,” katanya malu.
“Benar-benar tidak ada? Apa kau yakin? Benar, air mancur ini sangat mahal. Beraninya hantu datang dan mendiaminya.” Ha. Steven ini percaya atau ngga sih.
Begitu juga yang dirasakan Tsania. Melihat Steven begitu lega karena Tsania mengatakan tidak ada hantu di air mancur itu, apa artinya Steven percaya padanya?
“Percaya? Tentu saja tidak ada hantu. Aku bukannya percaya padamu tapi aku percaya tidak ada hantu. Dan juga jangan bersihkan di sini.”
“Kenapa?”
“Karena aku juga akan mengusirmu. Pergilah dari sini,” Steven mengibaskan tangannya.
Tsania menahan kemarahannya dengan memegangi gagang pel kuat-kuat.
Masalah lain muncul, foto hantu itu muncul dalam sebuah program TV. Mereka membahas siapa gadis yang terlihat dalam foto itu dan menelusuri kaitannya dengan Mall Kingstev. Akibatnya media mengubek kasus 10 tahun lalu yang melibatkan Steven dan kekasihnya di mana sang kekasih akhirnya mati sementara Steven hidup. Mereka juga mewawancarai seorang pegawai Kingstev yang menceritakan rumor mengenai hantu kekasih Steven yang berkeliaran di mall.
Pegawai itu tak lain tak bukan adalah Karina yang sudah disamarkan suaranya dan hanya disyuting bagian belakangnya. Karina yang melihat berita itu buru-buru pergi karena khawatir temannya mengenalinya.
Tsania juga melihat berita mengenai foto itu. Ia berkata gadis di foto itu bukan gadis yang ia lihat (Karina).
Dalam acara itu, media juga mewawancarai detektif yang menyelidiki kasus itu 10 tahun lalu. Sang detektif mengaku kasus itu berakhir buruk dan mereka masih merasa tidak enak. Pelaku tidak tertangkap dan kasus itu ditutup begitu saja. Jadi mungkin saja korban (Karina) merasa ini tidak adil.
Micky ikut melihat berita itu dari kantor pengawasan. Pembawa acara di TV bertanya apakah hantu itu kekasih CEO Kingstev yang sudah mati atau foto rekayasa sebagai tipuan.
“Tapi satu hal yang pasti. Itu adalah tempat di mana ada roh seorang gadis yang sudah mati penasaran,” tutup di pembawa acara.
Steven keluar dari kantornya dengan kesal. Tsania menemuinya. Ia berkata hantu dalam foto itu bukanlah Karin. Pasti ada kesalahan dalam laporan TV itu.
“Tutup mulutmu dan pergi,” ujar Steven tajam.
Tsania melongo melihat Steven segalak itu. Dari jauh, Micky melihat keduanya.
** Bersambung........**
**Jangan lupa tinggakan jejak yaa!! siapa saja yang selalu setia berkunjung ke ceritaku, dan jangan lupa juga like,rite and vote ya terima kasih.☺
Selamat membaca**.....
__ADS_1