
Steven melepaskan Tsania dari pelukannya…eh pelukan Tsania? Ia berusaha menyadarkan Tsania.
“Mari kita tidur bersama…” kata Tsania dengan mata terpejam dan wajah memelas.
“Apa? Kau ingin tidur denganku?”
Tsania mengangguk.
Steven memegangi kepala Tsania agar Tsania melihat ke arahnya. Dengan nada tak percaya, ia bertanya apa Tsania hendak tidur dengannya dalam keadaan seperti ini.
“Mari kita tidur…aku ingin tidur denganmu…” Tsania berusaha memeluk Steven lagi.
Tidak mungkin kau tidur denganku….hanya dalam mimpimu,” ujar Steven ketus sambil mendorong Tsania. Ia bertanya apa Steven pikir ia akan jatuh hati pada Tsania karena Tsania menyentuhnya dan memeluknya.
Steven berhenti berbicara dan membaui tangannya. Ia mengernyit dan bertanya dengan kesal sudah berapa lama sejak Tsania terakhir kali mencuci rambut. Jika hendak menggoda seorang pria, paling tidak Tsania harus mencuci rambutnya lebih dulu. Tsania bergumam, Tsania tetap saja tak akan tidur dengannya walau ia mencuci rambut sekalipun.
Tsania nampaknya sudah terjaga dari kantuknya. Ia bertanya mengapa Steven datang.
“Kudengar kau berbicara mengenai masa laluku. Di mana dan apa yang kaudengar? Atau kau benar-benar tahu sesuatu mengenai gadis itu? Apa kau mengenal Karin?”
“Ah..nama gadis itu Karin?” ujar Tsania tanpa berani menatap Steven.
Steven tambah penasaran. Bagaimana Tsania bisa mengenal Karin?
“Aku melihatnya. Aku melihat gadis itu.”
“Apa? Apa kau belum sepenuhnya bangun? Gadis itu…”
“Dia sudah mati, kan?” potong Tsania.
Tsania terdiam. Ia lalu membenarkan kalau Karin telah lama mati. Jadi kapan dan bagaimana Tsania bisa melihat Karin?
“Beberapa waktu lalu aku melihat gadis itu di sebelahmu. Aku….melihat orang yang sudah mati.”
Sebagai pegawai baru, Micky pergi minum bersama rekan-rekan barunya sesama petugas di Mall Kingstev. Rekanny, Bagas, memberitahu rumor yang beredar mengenai Steven. Steven tidak menikah karena dihantui kekasihnya yang sudah meninggal. Rekan yang lain berseloroh jika Steven hendak menikah, ia harus mengusir hantu wanita itu.
Micky bertanya apakah wanita yang mati itu adalah kasus pembakaran di mana seorang gadis SMA tewas. Bagas membenarkan. Ketika itu ia masih muda dan melihat beritanya di TV. Kasus itu mengenai seorang pemuda kaya dan kekasihnya yang diculik.
Namun karena suatu kesalahan, penculik mereka tidak tertangkap. Dan uang tebusan yang dulu bernilai 1 miliar, sekarang telah menjadi 10 miliar . Penculik yang mendapat uang tebusan itu pasti sekarang hidup dengan sangat enak.
“Tapi mengapa kasus pembakaran kau sebut dengan kasus mati ?” tanya Micky.
“Steven adalah raja di Kingstev, kan? CEO Steven hidup dengan baik, sementara gadis yang diculik karena dirinya, mati. Sangat tidak adil baginya hingga ia menjadi hantu,” kata Bagas, lalu ia meniru gaya hantu.
Micky hanya tersenyum mendengarnya. Tapi tampaknya ia sudah mengetahui kasus itu dengan baik. Misterius.
Tsania bercerita pada Steven bahwa ia pernah hampir mati namun ia hidup. Sejak saat itu ia bisa melihat hantu.
“Jadi kemarin kau melihat Karin yang telah mati 10 tahun lalu?”
__ADS_1
Tsania mengangguk. Ia melihat Karin saat Steven marah dan pergi kemarin di padang rumput saat Steven merobek gambar Anabella hantu wanita istri pesepak bola yaitu Alvino.
Tsania melihat Steven berdiri melihat sarang laba-laba di pohon. Steven tidak tahu hantu Karin menatapnya kala itu. Tapi Tsania melihatnya. Ketika Steven menghancurkan sarang laba-laba, Karin ikut menghilang.
Tsania berkata ia hanya sesaat melihat Karin, tapi ia ada di sana. Steven masih tak percaya Tsania bisa melihat hantu. Ia bertanya apakah ada hantu di sekitar sini sekarang, berapa banyak?
Tsania melihat sekelilingnya. Ia menunjuk kursi goyang yang terletak tak jauh dari mereka. Kursi goyang itu bergoyang tanpa ada angin yang meniupnya. Tsania berkata ada hantu duduk di sana. Memang benar, ada hantu pemuda yang sedang bermain-main di sana.
“Jadi di kursi itu ada hantu?”
Dia datang mencariku atau kadang-kadang aku melihatnya di jalan. Aku berusaha mengacuhkannya tapi ia terus mengikutiku.”
Hantu itu menoleh melihat Tsania. Tsania jadi takut.
“Terkadang ia berbicara padaku.”
Hantu itu turun dari kursi goyang sambil tersenyum pada Tsania.
“Tapi terkadang ia juga meminta banyak hal. Ia selalu di sana, tidak membiarkan aku tidur. Sangat menakutkan dan aku tidak menyukainya. Tapi aku tidak melakukan apapun.”
Hantu itu berjalan mendekati Tsania. Tsania ketakutan dan berpegangan pada Steven. Wuuush…hantu itu lenyap.
Tapi ketika aku menyentuhmu seperti ini, mereka menghilang. Baru pertama kali ini ada orang sepertimu. Karena itu kau spesial bagiku. Jika aku bersamamu, aku mungkin bisa tidur dengan baik dan aku bisa hidup dengan normal,” Tsania terus memegangi Steven. “Aku ingin berada di sisimu.” Tsania bersandar pada Steven.
“Kau sangat ingin berada di sisiku?”
Tsania mengangguk. Steven melepaskan dirinya dari Tsania. Hal itu baru akan terjadi jika Tsania pemilik gedung apartemen ini dan menjualnya pada Steven jika Tsania orang kaya.
“Aku tidak takut pada hal-hal yang tidak kulihat dan kudengar. Tapi hal yang kulihat, sepertimu, membuatku takut.”
Steven menghampiri kursi goyang yang sekarang diam karena hantunya sudah pergi. Ia menggoyangkan kursi itu dengan kakinya, dan memutar kipas di atas lampu seperti yang terlihat saat hantu itu bermain di sana. Apakah hal seperti itu yang membuat Tsania takut? Ia mengancam jika Tsania menganggunya lagi, ia akan membuat hal yang lebih menakutkan bagi Tsania.
Steven berjalan pergi. Tiba-tiba kursi goyang dan kipas berhenti bergerak. Tsania terkesiap kaget. Steven menoleh.
Tsania melihat hantu pemuda itu telah kembali. Hantu itu memegangi kipas dan menghentikan kursi goyang sambil menggelengkan kepala seakan Tsania telah melakukan sesuatu yang salah.
“Walau kau akan membuatnya lebih menakutkan, kupikir tidak akan sebanding dengan apa yang kulihat sekarang. Aku hanya ingin melarikan diri bersamamu,” Tsania beringsut mendekati Steven kembali.
“Bukan karena aku sangat kaya atau aku sangat tampan, tapi karena kau takut hantu? Ini benar-benar tak masuk akal.”
Tsania memohon dan kembali bersandar pada Steven. Ia berkata ia sangat kesepian dan sedih.
“Tsania, aku tidak tahu apakah Candy tahu Candy Candy kan? Yang ada di anime dan komik Jepang? benar-benar ada. Tapi walau ia kesepian dan sedih, ia mengikat rambutnya dan meneruskan hidupnya. Cucilah rambut yang bau itu dan sadarlah.”
Tsania menghela nafas panjang. Apakah ia terlihat seperti wanita matre yang ingin melucuti uang dari pria kaya?
“Kalau begitu aku akan mencobanya. Aku akan menjadi Candy,” kata Tsania tersenyum.
“Apa kau pikir dengan menjadi Candy kau bisa menggodaku? Baiklah, bicarakan dengan hantu temanmu, ikat rambutmu dan jadilah Candy.”
__ADS_1
“Aku adalah Tsania…Anatasha. Aku adalah gadis cantik dan sederhana. “
“Gadis, cantik? Jika kau cantik, aku tidak akan pernah suruh kamu untuk cuci rambut! mana lagi kamu kaya gini bau lagi ,” ujar Steven ketus.
“Gadis cantik akan menjadi bukti. Aku akan menemukanmu dan berada di sisimu!” seru Tsania sambil tersenyum. “Dan lain kali aku akan mencuci rambutku!”
haha... ternyata Tsania seorang yang ceria.
Steven berjalan menuji mobilnya. Sekretaris Andrew bertanya apakah Steven sudah menemui Tsania Anatasha (nona Tsania).
“Maaf, apa Tuan sudah bertemu Tsania?”
Steven mengacungkan jarinya. Ia tidak ingin membahas tentang Tsania. Sambil melihat ke atas ia berkata seharusnya ia tidak datang ke sini. Tsania memperhatikan kepergian Steven dari atas.
Ada seorang lagi yang melihat. Micky. Ia bertanya-tanya kenapa Steven datang ke tempat ini. Ia melihat ke atas dan melihat Tsania.
Tsania kembali duduk di bangku.
“Ia pikir aku orang gila, kan? Aku benar-benar melihat hantu,” gerutunya. Ia teringat kembali pada hantu Karin yang menatap Steven.
Steven pulang ke apartemennya. Tampaknya pertemuannya dengan Tsania sedikit banyak mempengaruhinya. Ketika tirai jendela apartemennya ada yang terlepas tiba-tiba dari ikatannya, ia menghampiri jendela dan menyingkap tirai itu. Seakan-akan ia menemukan sesuatu di sana. Tapi yang ia lihat hanyalah pantulan dirinya di jendela.
“Jika hantu benar-benar ada, aku ingin mencoba memanggilnya. Karina.
Malam itu, sekelompok siswi di sebuah sekolah melakukan permainan pemanggilan arwah semacam jaelangkung. Mereka memanggil hantu air mancur. Tiga orang siswi memperhatikan dengan was-was.
Dua orang siswi yang memanggil arwah mengatakan kalau hantu itu sudah datang. Lilin di meja mulai bergoyang dan pinsil yang mereka pegang tampak terhenti di tanda O, yang artinya ya (satunya lagi tanda X, artinya tidak). Ada foto seorang siswi terpasang di meja. Sepertinya ada seorang siswi yang baru meninggal.
Sesosok tak jelas berjalan menyusuri koridor.
Apa kau Delia?” tanya seorang siswi pemanggil arwah.
Pensil di tangannya bergerak ke arah O. Seorang siswi berkata itu adalah Delia. Satu dari ketiga siswi yang nampak was-was berkata ini hanya gurauan, tidak perlu dikhawatirkan. Tapi jelas ia ketakutan.
“Mengapa kau mati? Siapa yang membunuhmu? Apa mereka di ruangan ini?” Siswi yang bertanya melirik pada ketiga siswi itu.
Sosok tak terlihat memasuki ruangan kelas. Pinsil yang dipegang mulai bergetar keras.
“Kutanya apa pembunuhmu ada di ruangan ini?” tanya siswi itu lagi.
Ketiga siswi itu semakin gelisah. Pinsil itu tiba-tiba bergerak ke arah ketiganya. Ketiganya ketakutan.
Blamm! Tiba-tiba pintu kelas terbanting. Mereka menjerit.
Tapi ternyata ibu guru yang masuk. Para siswi buru-buru mempersiapkan pelajaran. Salah satu dari ketiga siswi itu bertanya pada temannya apakah Delia benar-benar datang. Temannya berkata permainan tadi hanya gurauan. Siswi itu menoleh ke jendela. Tidak menyadari sama sekali ada hantu melayang-layang di luar jendela.
Namun tiba-tiba mereka bertiga mendapat kiriman foto dari Delia. Ketiganya sedang berpose di depan air mancur dan ada sosok hantu terlihat di air mancur. Salah seorang dari mereka menjerit.
*** Bersambung.........
__ADS_1
Selamat membaca !!!