
Steven keluar dari kantornya dan mengatakan pada Sekertaris Andrew, saat pulang nanti mereka akan membawa Tsania bersama dengan mereka. Sekertaris Andrew mengiyakan dan sedikit tersenyum.
(Tsania kan sebelumnya minta pulang bersama, tapi di tolak Steven, namun sepertinya Steven berubah pikiran.)
Micky memberikan permen itu pada Tsania, dan berkata : “Aku ingin mengenalmu lebih baik. Aku akan mengambil keberanian. Kau akan mendapatkan kekuatan.”
Micky tersenyum lalu meninggalkan Tsania tanpa menunggu jawabannya. Dan ternyata percakapan mereka dilihat oleh Steven.
Tsania berjalan sambil berpikir, dari dalam Steven berjalan beriringan dengannya. Saat Tsania akan masuk, Steven keluar, sehingga mereka bertemu pandang.
Presdir! Orang yang menyukaiku…mengatakan bahwa dia akan mengambil keberanian untukku! Dia juga mengatakan padaku untuk mendapatkan kekuatan!” Tsania tersenyum senang mengatakannya.
“Jadi, apakah kau akan pergi setelah mendapatkan kekuatan?”
Tanpa berpikir, Tsania langsung menjawab : “Ya! Aku ingin pergi! Aku akan pergi!”
Tsania berlari-lari dengan rambut berkibar menuju Micky.
“Mickyyyyy! Miiiickyyyyyyy!”
Dengan cool Micky berbalik. Tsania berkata ia sudah memiliki kekuatan untuk mengungkapkan rahasianya.
“Katakan, aku akan mendengarnya dengan keberanian,” kata Micky.
“Aku…aku melihat hantu. Di sana ada hantu, di situ ada hantu. Mereka muncul di mana-mana. Karena itu aku selalu melarikan diri seperti wanita gila. Apakah tidak apa-apa bagimu?” tanya Tsania khawatir.
Micky memegang pundak Tsania lalu menggeleng.
“Bahkan jika kau mengatakan kau diculik alien, aku tidak peduli.”
Lalu Micky memeluk Tsania dengan dramatis. Melihat ekspresi Micky seperti ini aku langsung merasa ada yang tidak beres
Para hantu bertepuk tangan, bahkan ada UFO menyinari mereka. Tambah ngga beres nih…
Benar saja, itu hanya khayalan Tsania yang diceritakannya pada Steven.
“Bukankah mungkin mimpi jadi kenyataan?”
“Karena kau membandingkannya dengan mimpi, kau pasti tahu tipis kemungkinannya untuk menjadi kenyataan.”kata Steven.
“Tapi bukan berarti tidak mungkin, bukan?” Tsania bercerita di rumah sakit ia sempat bertemu pria gila yang mengaku diculik alien. Bahkan pria seperti itu bertemu istri yang memahaminya. Mereka membangun benteng di gunung dan hidup bersama.
“Apa kau, seorang yang bisa melihat hantu, memandang rendah orang yang mengaku bisa melihat alien?”
“Dia yang menyebutku gila duluan. Awalnya, aku mendengar semua ceritanya tentang alien. Aku bahkan berjanji pergi bersamanya memotret UFO. Kukira kami sudah dekat, jadi kukatakan padanya aku bisa melihat hantu. Tapi ia malah menyebutku gila.”
Steven berkata sayang sekali Tsania tidak jadi ikut pria itu dan diculik alien. Dengan begitu tidak ada alasan baginya untuk bertemu dan terlibat dengan Tsania. Tsania berkata hantu memang ada, jadi mungkin saja alien juga ada.
“Tapi itu pasti berbahaya, bukan?” tanyanya. Hehe…hantu vs alien. Berbahaya mana?
Steven menggelengkan kepala. Segala hal yang seharusnya menjadi gurauan malah menjadi serius jika bersama Tsania. Ia merasa telah menjadi idiot.
“Mengapa aku mendengarkan cerita seperti ini?” gerutu Steven sambil menghentakkan kaki ke lantai.
__ADS_1
Tsania bertanya apa Steven pikir Micky juga akan mau mendengarnya seperti Steven.
“Aku tidak ingin kehilangan kesempatan yang sulit didapat ini. Tadinya kupikir tidak akan ada kesempatan seperti ini (menjalin hubungan), tapi rasanya senang memiliki kesempatan itu.
“Jangan mulai dari melihat, tapi mulailah dengan mempercayai. Jangan langsung mengatakan padanya kau bisa melihat hantu. Tanyakan padanya apakah ia percaya mengenai hantu. Buat dia penasaran. Maka akan ada kesempatan lebih besar mimpimu menjadi kenyataan. “
Tsania mengerti dan tersenyum penuh rasa terima kasih. “Pergil dan selesaikan dengan permen Micky yang manis,” kata Steven. “Pergilah.”
Iya, “ Tsania menurut dan pergi dari kantor Steven.
“Sepertinya ia bahagia. Tsania, yang biasanya baru pergi setelah aku tiga kali menyuruhnya pergi, pergi pada suruhan yang pertama kali ini,” gumam Steven.
Tsania berbalik memanggil Steven.
“Ada apa sekarang? Jika kubilang pergi, kau seharusnya pergi. Ada apa?”
“Terima kasih karena tidak menertawakan mimpiku dan mendengarkan aku.”
“Aku tidak melakukan usaha dalam mendengar. Aku mendengar hanya karena aku punya lubang telinga.” Pffft….
Tsania berkata ia juga akan membuka telinganya lebar-lebar jika Steven ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa dikatakan pada orang lain.
“Tidak ada yang ingin kukatakan padamu. Aku akan bekerja. Pergilah,” Steven memasang earphone di telinganya.
Tsania berbalik lagi.
“Presdir…”
“Apa? Apa? Apa?” ujar Steven kesal.
“Tidak.”
“Lalu itu apa?”
“Kubilang tidak ada lagi yang ingin kukatakan. Kumohon…pergilah!”
Kali ini Tsania benar-benar pergi.
“Ia selalu membuatku mengatakan “pergilah” sebanyak 3 kali,” ujar Steven. “Jika ia menempel pada permen Micky yang lengket, ia tidak akan menggangguku lagi.”
Kenapa ia terdengar sedikit kecewa saat mengatakan itu?
Tsania berjalan pulang sambil memikirkan apa yang harus ia katakan pada Micky sebagai awalnya. Tiba-tiba seseorang muncul di depannya.
Bukk!! Tsania memukul orang itu dengan tasnya lalu berlari sekencang-kencangnya.
Hana, Sarah, dan Micky menghampiri Rayhan yang terjatuh. Rayhan terbengong-bengong, ia kan Cuma main-main.
“Sudah kubilang jangan mengagetkan Tsania,” kata Hana.
Micky melihat ke arah Tsania yang terus berlari tanpa menoleh ke belakang.
Rupanya mereka semua datang untuk makan bersama di apartemen Micky. Tsania meminta maaf pada Rayhan. Karena begitu tiba-tiba, ia tidak mengira itu manusia.
__ADS_1
“Jika bukan manusia, memangnya aku hantu?” ujar Rayhan.
Tsania dan Hana berpandangan.
“Bukan itu, ia waspada karena ada stalker yang mengganggunya,” kata Micky.
Tsania mengangguk membenarkan.
“Karena itu kau ketakutan seperti melihat hantu,” kata Rayhan.
“Astaga…orang seperti apa yang bisa melihat hantu,” kata Hana.
Rayhan berkata ia pernah melihat hantu. Ia menawarkan diri untuk menceritakannya.
“Jangan,” ujar Micky. “Mengapa kau melakukan itu pada orang yang sudah ketakutan (Tsania)?”
“Tidak apa-apa, katakan saja. Hantu seperti apa yang pernah kaulihat?” tanya Tsania. Mungkin mengira ia mendapat teman senasib? Atau inikah kesempatannya untuk mengetahui reaksi Micky terhadap hantu?
Sepertinya yang kedua, karena Tsania terus menerus melirik Micky saat Rayhan berceloteh tentang hantu.
Diam-diam Sarah menelepon Direktur Bima untuk melaporkan pengamatannya. Ia mengkonfirmasi Micky dan Tsania tinggal dalam gedung yang sama. Dan gedung itu kumuh.
Direktur Bima menyuruh Sarah terus mengamati. Ia bertanya-tanya mengenai Tsania yang tinggal di tempat kumuh. Itu artinya Steven belum membuka dompetnya. Dan jika belum membuka dompet, artinya belum membuka hati. Apa mungkin Steven membuka hati pada Agatha?
Agatha sedang makan malam bersama Bibi Kinan dan Steven. Ia membanggakan kekayaan kakeknya yang memiliki gedung tertinggi di Ibu kota dan ia adalah cucu satu-satunya. Dengan kata lain, gedung itu suatu saat akan menjadi milik Agatha.
Mendengar itu, Steven memutuskan untuk memesan makanan lagi.
Sementara itu perbincangan mengenai hantu terus berkembang. Bukan hanya Rayhan, Sarah dan Hana juga bersemangat bercerita mengenai kisah hantu yang mereka dengar (seperti ketika kita camping atau retreat). Tapi Micky tetap berdiam diri dan sibuk makan, seakan tidak mendengar percakapan mereka.
Tsania khawatir melihat reaksi Micky seperti itu. Ia bertanya apakah Micky tidak suka mendengar cerita seperti ini.
“Ya, aku tidak menganggap cerita-cerita itu menyenangkan,” Micky mengakui.
Rayhan bertanya apa karena Micky takut. Ia mengomentari tangan Micky yang gemetar.
“Kudengar jika kau membicarakan hantu, mereka akan datang dan mendengarkan,” kata Rayhan.
Sarah bergidik takut.
“Mereka sudah ada di sini…itu di belakangmu,” kata Tsania. Benar saja, ada hantu mengerikan di belakang Rayhan.
Semua terdiam. Rayhan pelan-pelan menoleh.
Brakk! Micky menggebrak meja. Semua terkejut.
“Hentikan! Aku benar-benar benci cerita seperti itu. Begitu bodoh!”
Micky mencoba menenangkan, mereka hanya main-main. Ia berkata Rayhan takut karena percaya hantu itu ada. Hana melirik Tsania yang menggeleng sedih.
“Aku tidak percaya mereka ada! Aku benci orang-orang yang mencoba menakuti yang lain dengan meyakinkan mereka bahwa hantu itu ada. Aku benar-benar membencinya. Hantu…roh-roh…orang-orang mengatakan melihat mereka. Aku merasa mereka begitu menyedihkan dan aku tak tahan dengan mereka.”
Micky pergi dengan marah. Suasana berubah tidak enak setelah itu. Hana memegang tangan Tsania dan berbisik agar tidak memberitahu Micky (mengenai kemampuannya). Tsania hilang sudah mimpi indahnya
__ADS_1
Micky pergi ke kamar mandi. Rupanya ia ketakutan dengan cerita-cerita hantu itu.
Bersambung......