Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu # 22


__ADS_3

Mereka mengikuti Helly ke sebuah toko furniture. Tsania menerka pemilik Helly ada di sini. Steven mengingatkan agar Tsania hanya membicarakan anjing jika bertemu dengan orang itu. Jangan sampai membuatnya marah dengan menguliahinya.


Sekretaris Andrew menyelidiki tali pengikat Helly dan melaporkannya pada Steven melalui telepon. Ternyata Helly adalah salah satu anjing tentara, yang belum lama ini disuntik mati. Dan tentara yang bertanggung jawab atas Helly adalah tentara yang baru saja membelot dari militer dan bersenjata.


Steven dan Tsania terkejut. Sekretaris Andrew berkata sepertinya orang yang menyusup ke Kingstev adalah tentara itu.


Lalu apakah tentara itu memang ada di toko tersebut? Ada. Ia bersembunyi di dalam gudang. Tentara itu mengeluarkan senjatanya dan berkata ia akan menyusul Helly. Ia melihat fotonya bersama Helly sambil menangis.


Flashback On


Tentara itu sangat dekat dengan Helly. Ia berkata setiap tentara harus memiliki girls group favorite. Ia lalu menyanyi lagu kesukaannya sambil mengajak Helly menari.


Tapi hidup tentara itu dalam ketentaraan tidaklah mudah. Sepertinya ia lemah hingga sering menjadi cacian seniornya dan ia sering dihukum berat. Hanya Helly yang membelanya dan terus menemaninya. Saat bersama Helly, segala keletihan dan keputusasaannya lenyap. 


"Tanpa Helly, ia merasa tidak akan bisa bertahan sampai selesai. Hanya Helly yang ia miliki. Hanya kau satu-satunya yang kumiliki," katanya pada Helly.


Karena itu ketika Helly harus disuntik mati karena tidak bisa lagi berfungsi sebagai anjing militer, ia memohon agar dokter menyelamatkan Helly dan berjanji akan merawat Helly hingga ia selesai wajib militer. Namun dokter malah menyuruh tentara itu yang menyuntik mati Helly.


Tentara itu memegang alat suntik sambil menangis lalu menyuntik Helly. Dengan tidak adanya Helly, ia semakin diperlakukan tidak semena-mena oleh seniornya. Tak tahan lagi, tentara itu memukuli seniornya, mengambil senjata lalu melarikan diri


Flashback Off


"Helly, aku sangat takut," kata tentara itu sambil menangis.


Tsania menatap Helly. Ia berkata pada Steven kalau ia merasa anjing itu ingin menghentikan tuannya melakukan hal yang berbahaya. Steven berkata Sekretaris Andrew sudah menelepon polisi mengenai keberadaan tentara itu. Steven berkata pencarian mereka berhenti di sini (karena pria itu bersenjata). Ia mengajak Tsania keluar.


Tsania mengikuti Steven keluar tapi ia ingin menasihati tentara itu sebelum polisi tiba. Steven mengingatkan pria itu bersenjata, mereka bisa saja mati jika mencoba bicara dengannya.


Tsania menoleh pada Helly yang mendengking.


"Helly menangis. Ia menangis. Orang itu juga pasti sedang menangis,"kata Tsania tak tega.


Steven tidak peduli. Ia berjalan pergi. Tsania bingung. Ia melihat Helly dengan sedih. Namun akhirnya mengikuti Steven.


Steven tiba-tiba berhenti berjalan dan menghela nafas panjang.


"Tsania, kau bilang meski kau melihat mereka kau bisa memutuskan untuk mengabaikan mereka."


Tsania berkata ia ingin mengabaikan mereka tapi kenyataannya ia tidak bisa seperti itu. Steven berkata kalau begitu Tsania tidak boleh melihat hantu itu. Ia menyadari Tsania tidak bisa mengabaikan hantu itu jika melihat mereka.


"Peganglah," ia menyodorkan tangannya. Tsania mengangkat tangannya dengan ragu.


"Kau bilang kau ada kencan jam 8, bukan? Sekarang pulanglah, cuci rambutmu, berdandanlah yang rapi dan kenakan make-up juga. Datanglah ke sana tepat waktu seperti wanita normal. Kau selalu memintaku memegangmu, jadi kau bisa melakukannya. Aku akan memegangmu, jadi peganglah. Mari kita pergi."


Steven meraih tangan Tsania tapi Tsania menarik tangannya.


"Kurasa aku hanya gadis gila yang tak tertolong lagi. Aku akan segera kembali,"kata Tsania sedih. Ia tidak bisa mengabaikan Helly dan tentara itu.


Steven memanggil-manggil Tsania sementara Tsania berlari masuk mengikuti Helly ke toko furniture

__ADS_1


Helly berlari ke arah gudang dengan kencang karena ia bisa merasa tuannya dalam bahaya. Di gudang, tentara itu mengarahkan senjatanya ke lehernya sendiri dan siap menarik pelatuk. Tiba-tiba sebuah tiang roboh hampir menimpa si tentara.


Doorrr!! Terdengar suara tembakan. Steven menoleh. Tsania terpaku di tempatnya. Ia masih di lantai bawah. Steven melangkah ke toko furniture.


Tembakan si tentara meleset mengenai bantal di rak atas. Akibatnya tentara itu dihujani bulu angsa.


Polisi sudah tiba. Mendengar sirine polisi, tentara itu merasa ia sudah terpojok. Ia keluar dari gudang. Orang-orang yang melihatnya memegang senjata, langsung melarikan diri. Mereka juga menghalangi Tsania yang hendak naik ke atas (menemui tentara itu) karena berbahaya. Tepat saat Tsania digiring ke pintu darurat, Steven masuk dari pintu depan dan tidak melihat Tsania.


Ia menaik tangga mencari-cari Tsania, namun malah berhadapan dengan si tentara. Senjatanya teracung ke dada Steven.


"Jangan mendekat!"seru tentara itu.


"Aku tidak berniat mendekat," jawab Steven sambil mengangkat kedua tangannya.


Tentara itu dengan gemetar hendak meraih pelatuk.


"Aku yakin kau tidak bermaksud untuk menembakku,"kata Steven, berusaha tetap tenang.


"Jika kau bermaksud, ubahlah menjadi tidak bermaksud. Kau harus sadar bahwa kau tidak bermaksud menembak."


Tapi manjur, tentara itu pelan-pelan menurunkan senjatanya.


"Benar, turunkan senjata itu. Lebih bagus lagi jika kau melemparnya ke samping."


Tentara itu berkata ia tidak bermaksud menyakiti siapapun dan menyuruh Steven pergi. Steven pun berbalik pergi. Sementara si tentara duduk, sepertinya menunggu ditangkap atau ditembak?.


Polisi akhirnya menangkap tentara itu dan mengamankannya. Steven menoleh dan barulah ia melihat Tsania. Tsania tersenyum.


Steven geram melihat Tsania sementara Tsania tertawa kecil.


Micky dan Sekretaris Andrew melihat berita penangkapan itu di TV. Micky hendak memberitahu polisi mengenai penyusupan pria itu ke Kingstev, tapi Sekretaris Andrew berkata tentara itu hanyalah penjaga anjing militer dan tidak ada yang terluka.


"Jadi anjing itu memang bersamanya?" tanya Micky.


"Aku tidak tahu, tapi aku lega tidak ada yang terluka," kata Sekretaris Andrew.


Tentara itu digiring ke mobil tentara. Ia terlihat sangat ketakutan. Tiba-tiba ia mendengar lagu kesukaanya. Ia melihat ke langit dan tersenyum. "Terima kasih."


Steven dan Tsania masih di dalam toko untuk menghindari liputan media. Untunglah sang pemilik toko juga penyewa di KingStev. Steven beralasan ia datang untuk melihat-lihat furniture.


Steven dan Tsania duduk berdua. Tsania memuji Steven yang hebat, seperti benar-benar melihatnya (Helly)." Itu karena aku sudah melihatmu beberapa kali melakukannya." kata Steven.


"Tapi apa kau benar-benar akan memenuhi janjimu pada tentara itu?"tanya Tsania.


Janji apa? Rupanya sebelum tentara itu dibawa pergi, Steven berbicara dengannya. Ia memperkenalkan diri sebagai Presdir KingStev, dan berjanji akan memberikan pekerjaan jika tentara itu berhasil kembali tanpa membuat masalah. Ia juga meminta tentara itu tidak melupakan Helly.


"Anjing hantu itu sungguh pintar. Ia bukan hanya menyeretmu dalam masalah ini, tapi juga menyeretku untuk memberi tuannya jalan menuju masa depan."


"Aku sangat senang karena tidak mengabaikannya," kata Tsania.

__ADS_1


Steven melotot. Ia mendekati Tsania.


"Kau. Lain kali aku menyuruhmu pergi, kau harus langsung pergi. Dan saat kubilang jangan pergi, jangan pernah pergi."


Tsania mengangguk mengiyakan. Steven mendorong dahi Tsania. "Menjauhlah, terlalu sempit di sini."


Tsania menggeser duduknya ke sebelah Steven. Ia meminta Steven membaca berkas pernyataan bahwa Steven tidak terluka dan tidak akan menuntut toko furniture ini di kemudian hari. Tsania sendiri tidak merasa keberatan tapi ia tahu Steven memiliki standar yang berbeda.


Steven menyuruh Tsania membacanya.


"Aku sudah membacanya. Sekarang Presdir bisa membacanya dan menandatanganinya."


"Apa kau tahu berapa harga tanda tanganku? Aku tidak bisa memberikannya sembarangan. Bacalah setiap kalimatnya."


Tsania menyuruh Steven membacanya sendiri. Steven jadi kesal, ia akan menyuruh Sekretaris Andrew membacakannya.


"Presdir…jangan-jangan kau tidak bisa membaca."


"Bukannya aku tidak bisa…hanya saja aku tidak dapat."


Tsania menatap Steven dengan penuh tanda tanya. Steven akhirnya bercerita bahwa setelah peristiwa penculikan itu ia menjadi seperti ini.


"Ketika aku disekap, mereka memaksaku membaca buku. Buku yang harus kubaca adalah mengenai orang-orang yang terus dibunuh. Aku bertanya-tanya siapa yang akan terbunuh berikutnya setiap kali aku membaca setiap kalimat. Dan terus seperti itu. Lalu aku merasa semua orang akan mati setelah buku itu selesai. Aku yang akan dibunuh terakhir."


"Bagaimanapun, aku hidup. Tapi setelah itu, setiap kali melihat kata-kata aku merasa ingin muntah. Aku takut membaca."


"Bagaimana ini? Bagaimana cara mengatasinya?"tanya Tsania.


"Apanya yang bagaimana? Mengapa kau begitu khawatir padahal kau tidak bisa melakukan apapun?"


Tsania berkata itulah yang ia maksudkan. Jika ia bisa berkata "berpeganglah padaku, jika kau merasa takut, maka itu sudah membantu."


"Presdir, apa kau mau berpegangan padaku untuk mencobanya?” Tsania mengulurkan tangannya.


"Tidak perlu,"Steven mendorong tangan Tsania.


Tsania berkata kalau begitu ia akan membantu membacakan mulai sekarang. Steven berkata Sekretaris Andrew sudah melakukannya untuknya, jadi tidak perlu. Tsania baru menyadari, rekaman itulah yang didengar Steven setiap kali bekerja.


Tsania mengambil surat pernyataan tadi lalu mulai membacanya dengan suara keras.


"Aku tidak bisa membaca, bukan tidak bisa mendengar,"gerutu Steven.


Tsania mulai membaca dengan suara lebih lembut dan berirama.


"Apa kau sedang membacakan buku anak-anak pada anak TK?"


Dan begitu seterusnya, Steven terus protes. Terlalu cepat, terlalu rendah nadanya.


...Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2