Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu #3


__ADS_3

Paman dan Bibinya Steven sedang membicarakan masalah percintaan Steven. Bibinya curiga jangan-jangan hantu wanita itu cinta pertamanya bagi Steven karena menempel terus padanya, yang membuat Steven jadi tidak mempunyai kekasih. Dan mungkin dia perlu melakukan pengusiran hantu dan juga harus lebih giat mencari wanita untuk keponakan kesayangannya itu.


"Mah.., apa mungkin Steven bakal cepat menikah? kekasih saja dia tidak punya !" Kata si Paman.


"Mungkin saja Steven belum bisa melupakan cinta pertamanya, dan belum bisa membuka hati untuk wanita lainnya, kali Pah."kata Bibi Steven.


"Apa mungkin ya mah, dengan adanya rumor tersebut kalau Steven akan sulit untuk mendapatkan jodohnya. Karena katanya si kekasih pertamanya telah mengutuk Steven untuk tidak memiliki jodoh ?"


"Masih saja percaya sama mitos kaya begitu, ini jamannya milenial, bukan zamannya Nenek Moyang !" menyangkal ucapan sang Suami.


"Iya siapa tahu ada benarnya kan?" Meyakinkan kembali sang Istri.


"Ah tidak mungkin Pah, dulu sama sekarang sudah beda, memangnya Papah selalu percaya hal yang begituan."


"Iya..iya deh, papah percaya mungkin belum saatnya kali ya mahh... " Kata sang Paman.


"Iya.. Pah, semoga aja secepatnya Steven bakal punya kekasih lebih bagusnya sih calon istri." kata sang Istri Pamannya Steven.


Ibu pemilik gedung mengantar seorang pria ke kamar 123, dia adalah Micky.


Ibu : "Ini kamar terbaik yang kami miliki. Tapi, apa kau benar-benar hanya tinggal untuk satu bulan?"


Micky : "Ya bu."


Ibu berkata dengan semangat: "Jika kau pergi ke atap, kau bisa mencuci baju dan berolahraga. Pemandangannya juga bagus!"


Micky hanya tersenyum.


Lalu Micky pergi ke atap. Dia melihat Tsania yang tertidur di kursi goyangnya. Micky mendekatinya, dan melihat wajah Tsania yang terkena matahari. Micky menggeser letak kain jemuran di depan Tsania untuk menghalangi matahari


Tsania terbangun, dan terkejut melihat bayangan Micky di balik kain putih di jemuran.


Tsania mendorongnya, "Pergi!"


Micky terjatuh dan terbelit kain jemuran, Dia tampak kesal.


Tsania menyembunyikan wajahnya.


"Pergi! Apa kau manusia?"


Micky berdiri, "Ya!"


Tsania tampak lega, "Kau manusia?"


kemudian Tsania di bantu Micky merapikan kembali kain jemurannya.

__ADS_1


Tsania : "Oh, kau tinggal di kamar 123. Karena nenek sudah pergi, kau bisa tidur dengan nyenyak."


Micky : "Apakah yang tinggal sebelumnya adalah seorang Nenek?"


Tsania : "Dia tidak tinggal disana, dia hanya berada disana. Aku sudah tinggal disini untuk waktu yang lama, jadi jika kau mempunyai masalah, beritahu aku."


Tsania tersenyum malu-malu.


Tsania : "Dan juga, aku minta maaf jika sebelumnya aku membuatmu takut. Aku kira kau bukan manusia."


Micky : "Aku juga tidak berpikir kau manusia. Aku kira kau seekor kucing. Tertidur dengan tenang dan terlihat bahagia seperti seekor kucing."


Tsania tersipu malu, "Jadi seperti itu. Mengapa kau mengganggu seekor kucing yang tertidur?"


"Iyaaa.. kucing cantikk !" katanya mungkin gombal kali ya 😆


Micky pun pamit pergi. Tsania tersenyum memandangi punggung Micky yang menjauh, dan berkata : "Dia begitu sangat tampan."


Senyumnya menghilang ketika dilihatnya hantu wanita itu di balik kain putih.dan mendekati Tsania dan berkata.


"Temui orang itu untukku!" Suara hantu wanita.


Orang yang di maksud di hantu wanita, sedang melakukan pemotretan dengan calon pengantinnya.


Ada banyak awak media yang mewawancarai dirinya.


"Tidak, aku akan membuat kontrak dengan agensi yang baru." jawab Alvino dengan tersenyum lebar yang membuat dirinya semakin memancarkan kebintangannya itu.


Sedangkan tunangannya Agatha tampak begitu terkejut. Mereka kemudian berbicara berdua.


"Kamu mengatakan tidak akan kembali ke Eropa. kamu mengalami cidera dan usiamu juga perlu di pertanyakan . Jika kamu pergi lagi, kamu hanya turun dari kebintanganmu itu ."katanya Agtha.


"Sebelum menjadi seorang bintang. Aku adalah seorang atlit sepak bola. Dan itu membuatku ingin pergi ke pertandingan yang lebih besar."kata Alvino.


"Lagi pula kamu tidak mempunyai kepercayaan diri seperti pemain bola yang lainnya." Ucapnya si Agatha.


Tiba-tiba cermin yang digunakan Agatha bergerak karena engselnya agak terlepas. Ketika cermin kembali tegak, tampak sesosok hantu wanita di cermin itu. Tapi mereka tidak melihatnya.


Alvino beranjak pergi, "Kita bicarakan lagi nanti."


Agatha : "Aku mendengar tidak ada seorang pun yang mencarimu lagi. Apakah managermu tidak memberitahumu?"


Alvino bergegas pergi entah kemana


cuma untuk menemui managernya atau karena melihat sosok hantu wanita yang ada di cermin itu.

__ADS_1


Alvino berada di lapangan sepak bola.


"Brams tidakkah kita melanjutkan untuk mencarinya?"menanyai managernya.


Managerpun menjawab : "Menyerahlah. Daripada dengan tidak bijaksana pergi ke Eropa, lebih aman untuk tinggal disini bersama Agatha sebagai pasangan bintangmu."


Alvinopun menjawab : "Lupakan. Jika kamu tidak akan pergi untuk mencari, aku akan mencarinya sendiri."


"Kamu tidak bisa mengkhawatirkan hal semacam itu sekarang. Ini datang lagi."


Manager menyerahkan sebuah amplop. Alvino membukanya dan melihat fotonya bersama seorang wanita. Dia tampak mengenang sesuatu...


Seorang gadis mengubur kotak di tanah bersama seorang pria. Pria itu adalah Alvino Adrian dan gadis itu adalah kekasihnya Anabella Anatasha.


"Mengapa kita melakukan ini?" tanya Alvino kepada Anabel.


"Nanti, jika kamu menyingkirkanku, ini adalah sesuatu yang akan aku kirimkan padamu sebagai surat rahasia" jawabnya.


"Apa yang sedang kamu katakan?"


"Mengapa aku akan meninggalkanmu?"


Bertanya kembali karena memang belun mengerti maksud kata dari Anabel.


Anabella tidak menjawab, malah memberikan kunci pada Alvino yang digantungkan pada sebuah gelang.


"Kau simpan kuncinya ya dengan baik-baik jangan sampai hilang! ". katanya Anabela kepada Alvino.


"Saat Aku bersama Anabella itu adalah saat masa sulitku berlangsung. Aku sudah melakukan banyak hal, jika mereka menemukannya, orang akan mengacungkan jarinya padaku. Semua keburukan masa laluku mungkin ada disana." Ujar Alvino sambil duduk menyandar ke tiang gawang.


Managerpun menjawab : "Ah, apa kamu mencarinya? Ada dimana barang itu sekarang?"


Alvino : "Tidak ada di sana. Dia pasti sudah mengambilnya. Apakah kamu pikir dia akan mengirimkan surat rahasia dengan itu?"


Brams : "Jangan khawatir! Percaya saja padaku. Selama Aku bersamamu, Aku akan mengurus semuanya."


Alvino : "Terima kasih! memang kamu paling bisa Aku andalkan. Memang Aku memperkerjakanmu, sebagai managerku tidaklah sia-sia. Aku bangga padamu." sambil menepuk-nepuk pundaknya, tanda kekagumannya, pada sang Manager yang selalu mendukungnya.


"Iya sama - sama, memang sudah sewajarnya Aku sebagai teman serta sekaligus managermu, Kita sesama manusia harus saling menolong benar bukan?" kata sang Manager.


" Iya barulah itu manager andalanku."Kata Alvino memuji sang Managernya.


"Itu terlalu di lebih-lebihkan, Aku hanyalah manusia biasa tak usah memuji kaya begitu!"


Alvino hanya membalas dengan anggukan, dan juga senyuman, tanpa berkata apapun lagi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2