![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
Hari pertama masuk sekolah di semester ke dua, pak.Handoko sudah mengubah tempat duduk kami dengan mengambil undian yang tersimpan di dalam box yang tersimpan diatas meja guru.
“Ha ... sial sekali aku hari ini.” Gerutuku sambil berjalan menuju kebangku paling belakang dekat dengan jendela, “Hai Cika.” Sapa seorang pria yang duduk di bangku belakang bersebelahan dengan tempat duduk ku, membuatku refleks menghentikan langkah kakiku saat melihat senyuman diwajahnya.
“Baiklah kita mulai pelajaran hari ini ....” Tutur Pak.Handoko membuatku bergegas duduk di tempatku.
“Mohon bantuannya untuk semester ini.” Bisik pria di sampingku membuatku menengok ke arahnya, dan dia masih saja tersenyum hangat padaku.
“Keluarkan buku paket kalian, kita akan bahas halaman 23.” Tutur Pak.Handoko mencuri perhatianku dari pria itu dan segera mengeluarkan catatan dan buku paket didalam tas sekolahku.
“Sial aku lupa membawanya.” Umpatnya terdengar ke telingaku, lalu sambil membuang nafas panjang aku pun berbagi buku paket dengannya dan lagi-lagi dia tersenyum kepadaku.
“Terima kasih, aku benar-benar tertolong.” Tuturnya masih memasang senyumannya itu, “Hei hei Cika, aku sering berpikir kalau kau itu cukup pendiam dan ja–” Lanjutnya mulai mengoceh dan berhenti saat aku mendadak berdiri dan berjalan kearah papan tulis.
Aku tidak tau apa yang dia pikirkan, tapi baru saja pak.Handoko memintaku untuk menyelesaikan persoalan matematika dipapan tulis untuk membantu siswa lainnya.
Jujur saja aku tidak begitu mahir dalam pelajaran matematika, tapi semenjak berteman dengan Anya aku jadi sering diajari matematika olehnya. Dan sekarang aku jadi sedikit paham dengan soal yang aku hadapi sekarang.
“Tepat sekali, terima kasih Cika. Silahkan kembali ketempat dudukmu.” Tutur pak.Handoko membuatku berjalan kearah bangku ku dan ku lihat pria itu sudah tersenyum kearahku, membuatku bertanya-tanya kenapa dia terus-terusan bersikap manis seperti itu dengan terus tersenyum.
“Kalian bisa gunakan cara yang Cika kuasai, atau kalian bisa menggunakan cara ini ....” Lanjut pak.Handoko memberikan cara penyelesaian lainnya sambil menuliskan rumusnya dipapan tulis.
“Selamat datang kembali.” Ucapnya saat aku kembali duduk dikursiku dan mulai mencatat materi dipapan tulis yang tidak ada di dalam buku paket.
“Hei Cika...” Bisiknya membuat konsentrasiku sedikit terganggu.
'Ada apa dengannya kenapa dia terus mengajak ku bicara ? apa dia tidak bisa fokus pada pelajarannya?’ Gerutuku dalam hati sambil terus mencatat.
“Cika ....” Bisiknya lagi sambil menyimpan sebuah kertas kecil terlipat disamping tangan kananku yang masih sibuk mencatat, “Bacalah.” Lanjutnya menjauhkan tangannya dari mejaku.
Ku alihkan perhatianku dari catatanku dan meraih kertas itu lalu melihat kearahnya yang ternyata masih memperhatikanku sambil tersenyum dan menahan dagunya dengan telapak tangan kanannya.
“Apa yang dia lakukan? surat?” Gumamku sambil membolak-balikan kertas kecil ditanganku itu, dan saat aku akan membukanya bel pergantian pelajaran berbunyi dengan cepat aku membereskan buku catatanku dan memasukannya kedalam loker mejaku. Dan aku tidak sempat membuka surat itu karena pelajaran berikutnya ada diruang kesenian. Jadi kami harus pergi kesana untuk mengikuti pelajaran itu, dengan cepat aku berjalan kearah pintu dan sempat mendengar pria itu meneriaki namaku.
Tapi tak ku perdulikan, yang ku pikirkan saat itu hanya mendapatkan tempat duduk paling depan, tapi hasilnya aku kembali mendapatkan tempat duduk terakhir. Aku kalah cepat dari siswa lainnya.
“Kau jahat sekali meninggalkanku dikelas.” Tutur seseorang sambil duduk disebelahku membuatku sedikit terkejut dengan kehadirannya.
__ADS_1
“Si–siapa?” Tanyaku padanya, “Ja–jahatnya, kita baru saja pindah dari kelas dan kau sudah lupa padaku?” Tuturnya dengan wajah kecewanya.
‘Siapa sih? dari tadi terus mengajak ku bicara, sok akrab banget ... apa karna aku cuekin? jadi dia terus mengoceh padaku ya ? baiklah kalau begitu ....’ Batinku memutuskan untuk menanggapinya agar dia berhenti bicara padaku.
“Baiklah kita bisa mulai pelajaran berikutnya, hari ini kita belajar melukis wajah manusia. kalian bisa mencari pasangan untuk melukis wajahnya di kanvas. Waktu kalian sampai jam istirahat, silahkan ambil kanvas dan catnya diloker.” Tutur bu.Mita membuat kami bergegas mengambil kanvas dan cat airnya.
Dan saat aku membalikan tubuhku, aku sudah melihat pria itu dikerumuni oleh para gadis dikelasku, sepertinya dia diperebutkan oleh mereka. Lalu aku berjalan ke dekat jendela dan memasang kanvasku pada easel yang sudah disediakan disana, aku juga langsung duduk setelah mengenakan celemek berwarna biru muda yang sudah kotor dengan berbagai warna cat diatasnya.
“Ci–” Teriak seseorang tak ku dengarkan saat seorang gadis berdiri dihadapanku dan memintaku untuk menjadi pasangannya. Dengan senang hati aku menerimanya, selain ramah dan manis, wajahnya juga membuat tanganku ingin melukis dirinya.
Waktupun berlalu dengan cepat dan aku sudah menyelesaikan setengah lukisanku, “Huft ....” Gumamku sambil membuang nafas lelah dan menyusut keringat yang hampir menetes melewati alisku.
“Waw detil sekali.” Ucap seseorang dibelakangku membuatku terperajat dan refleks melihat kearahnya, kini mata kami saling bertatapan dan wajah kami begitu dekat. Lalu senyuman itu membuatku terpaku untuk beberapa saat. Lagi-lagi dia tersenyum kepadaku meski aku tak menanggapi semua ocehannya di dalam kelas lalu meninggalkannya tadi, dan lagi aku tidak tau namanya.
“Baiklah semuanya, hari ini cukup sampai disini saja kita bisa melanjutkannya minggu depan. Kalian bisa mulai membereskannya dan menyimpan lukisan kalian ditempat yang aman, jangan sampai tercampur dengan lukisan dari kelas lain ya.” Tutur bu.Mita membuat kami segera mengakhiri aktifitas melukis kami dan mulai membereskannya.
“Aku baru ingat, hari ini di kelas Anya juga ada pelajaran kesenian, Kira-kira dia melukis wajah siapa ya?” Gumamku sambil melepaskan celemek yang ku kenakan dan melipatnya lalu memasukannya kedalam loker khusus celemek.
***
“Hai Cika,” sapa seorang gadis yang baru ku lukis wajahnya diruang kesenian beberapa menit yang lalu, “lukisanmu benar-benar bagus, beruntungnya aku bisa dilukis olehmu.” Lanjutnya sambi tersenyum dan berjalan disampingku.
“Tapi tadi itu benar-benar bagus.” Tuturnya masih tersenyum.
‘Jika ku ingat lagi dia menuliskan namanya dikanvas itu kan ....’ Batinku sambil mengingat namanya, ‘Siapa ya?’ Lanjutku dalam hati.
“Hai Nanami, mau kekantin ?” Sapa seorang siswi dari kelas lain pada gadis disampingku, “Boleh, tapi aku harus ke kelas dulu.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Ah namanya Nanami.” Gumamku.
“Kau mau ikut Cika ?” Ajak Nanami sambil tersenyum.
“Tidak terima kasih, aku bawa bekal dari rumah.” Jawabku.
“Hebat. Kalau begitu aku duluan ya.” Tuturnya sambil tersenyum dan berjalan bersama temanya meninggalkanku.
Lalu aku berjalan kearah kelasnya Anya, berharap dia ada disana. Tapi tak ku temukan dia dimanapun, ‘Mungkin dia sedang berkeliaran diperpustakaan, atau sedang bersama teman satu kelasnya disuatu tempat.’ Begitulah pikirku sambil berjalan kearah kelasku.
__ADS_1
Saat ku langkahkan kaki ku kedalam kelas, aku tak menemukan anak laki-laki didalam kelas, mungkin mereka sedang berkeliaran diluar kelas bersama teman-teman mereka dari kelas lain. Atau sibuk mengurusi osis. Kebetulan di kelasku ada beberapa anak yang ikut bergabung dalam kepengurusan osis.
“Cika, hari ini kita piket di atap sekolah. Maaf ya, aku salah mengambil undian. Padahal cuacanya sedang tidak bagus ....” Tutur seorang gadis mendekati bangku ku dan membuang nafas lesu setelah mengoceh padaku.
“Tidak masalah.” Ucapku langsung mendapat pelukan darinya yang membuatku terperajat.
***
“Kau yang terbaik ... huhu ....” Tutur seorang gadis berambut hitam sebahu memeluk tubuh Cika dengan erat sambil merengek, “Hanya kau yang bersikap baik padaku, yang lainnya menyalahkan kebodohanku.” Lanjutnya masih merengek.
“I–itu... bisa kau menyingkir? aku tidak bisa memakan bekalku.” Tutur Cika langsung mendapat respon cepat dari gadis itu, “Ma–maafkan aku ....” Ucap gadis itu sambil terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“He... Bekalmu kelihatanya enak. Boleh aku mencobanya?” Lanjut gadis itu segera mendapat anggukan dari Cika, “asik!” Ucapnya sambil memegangi tangan Cika yang sedang memegang garpu berisi Sosis berbentuk gurita.
Cika tak bisa menyembunyikan rasa malunya saat tangannya dipegang oleh gadis berambut hitam sebahu itu, dan gadis itu memasukan sosis itu kedalam mulutnya, bersamaan dengan Yuda yang masuk kedalam kelas bersama teman-teman dekatnya.
Pria itu terus memperhatikan Cika dengan gadis berambut sebahu itu sambil berjalan kearah meja Adam dan Raka sahabatnya.
“Haha... kau lucu sekali, sudah setengah tahun berlalu tapi tidak ingat dengan nama teman-teman satu kelasmu.” Tutur gadis itu terbahak-bahak membuat rona merah diwajah Cika semakin mencuat.
“Hana... namaku Hana.” Lanjut gadis itu setelah puas mentertawakan Cika.
“Apa apa ? ada apa Hana ?” Tanya Nanami mendekati mereka berdua. Dan Hanapun menceritakan semuanya pada Nanami membuat gadis berambut coklat itu ikut tertawa, tak lama kemudian Cika pun tersenyum dan tertawa bersama mereka.
Yuda yang terus memperhatikan Cika dari kejauhan ikut tersenyum dan menutupi bibirnya dengan punggung tangan kanannya untuk menyembunyikan ekspresinya dari teman-temannya.
“Ternyata dia bisa tersenyum seperti itu juga ....” Batin Yuda, lalu Hana dan Nanami sudah tak bersama dengan Cika lagi, gadis itu sendirian dibangkunya dan melanjutkan makan siangnya. lalu berhenti pada suapan keduanya, dan tangannya meraih sebuah kertas kecil didalam laci mejanya, kemudian membuka surat itu.
Tak lama kemudian Cika tersenyum melihat sesuatu didalam kertas itu, dan Yuda yang sempat tersenyum saat melihatnya tertawa bersama Hana dan Nanami kini pria itu tak bisa berkutik dan hanya menatap gadis itu dengan tatapan terkejut tanpa senyuman diwajahnya, matanya membelalak dan berbinar.
“Yud? loe denger gak?” Tanya Adam yang tak juga mendapat respon dari temannya itu.
“Loe liat apaan sih?” Tanya Raka memperhatikan arah tatapan Yuda, “Cika?” Lanjutnya yang melihat gadis itu memakan bekalnya dengan wajah tenangnya, lalu kembali memperhatikan Yuda yang sudah tersenyum kembali menatap gadis itu, dan tak sadar jika Raka sedang memperhatikannya.
Bersambung...
__ADS_1