Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Tak Terduga


__ADS_3

Hari ini benar-benar menjadi hari yang cukup berat, semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam acara festival olahraga tahunan, dimana semua siswa/i disekolah saling berkompetisi menduduki peringkat pertama dalam bidang keahliannya.


Tahun ini akan menjadi tahun terakhir festival olahraga untuk semua anak kelas tiga. Tahun yang membuat kami begitu bersemangat, lebih bersemangat dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan aku tak pernah membayangkan akan ikut serta dalam festival olahraga kali ini.


Aku ditarik paksa untuk mewakili lari estafet diacara festival nanti, semua yang ku tutupi akhirnya terbuka hanya karena kehadiran Anya.


“Ayolah kau tidak pernah kalah jika soal berlari, jadi aku membutuhkanmu dalam perlombaan lari estafet nanti.” Tutur Anya dihadapan Hana dan ketua kelas saat aku kembali ke kelas.


“Jadi Cika ahli dalam olahraga?” Gumam Hana merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Tentu saja, sejak SMP dia tak pernah bolos mengikuti festival olahraga. Meski kemampuannya itu cukup menarik perhatian para guru olahraga, tapi dia ini tidak mau mengasah kemampuannya untuk pergi mewakili sekolah dalam turnamen-turnamen besar, sayang banget kan.” Jelas Anya sambil merangkulku.


“Heee....” Gumam Hana dengan mata berbinar-binarnya.


“Itu–” Ucapku langsung dihentikan lagi oleh ocehan Anya yang terus membangga-banggakan ku dihadapan Hana.


“Tapi yang aku tau nilai Cika saat melakukan olahraga itu ... berada di rata-rata kelas, tidak tinggi dan tidak rendah.” Tutur Hana mulai kebingungan.

__ADS_1


“Tidak perlu dipikirkan, Anya hanya mengada-ngada saja.” Jelasku sambil duduk ditempatku.


“Hee...” Teriak Hana sambil mengikutiku, disusul oleh Anya.


“Tentu saja dia menjaga nilainya untuk tetap stabil berada tepat dijajaran anak normal yang memiliki nilai rata-rata, Cika kan orangnya gak mau repot, gak mau berkeringat dan berjuang berlebihan. Tapi saat dia benar-benar serius ... dia bisa menghancurkan pandanganmu pada kemampuan olahraganya, begini-begini juga dia sangat atletis loh.” Jelas Anya tak mau kalah.


“Sudahlah Anya, kau membuat Hana bingung. Lagipula kemampuan seperti itu tidak mungkin aku memilikinya.” Tuturku sambil tersenyum.


“Ngomong-ngomong aku sudah memasukanmu kedalam tim estafetku, aku juga mengirimkanmu sebagai perwakilan kelas untuk mengikuti perlombaan lari maraton dan masuk kedalam tim voli Hana, Hhehe....” Jelas Anya sambil tertawa.


“Akan ku bantu semampuku ok.” Ucap Hana sambil menyeringai.


“Semangatlah!” Lanjut Anya ikut menyeringai.


“Oiii...” Teriak ku tak didengarkan, ‘Ya ampun, mereka ini benar-benar membuatku kewalahan. Festival olahraga itu bertepatan dengan kompetisi lukis yang aku ikuti, aku harus pergi menyerahkan karyaku dihari itu, dan jaraknya cukup jauh dari rumahku. Mungkin butuh waktu lama untuk kembali kesekolah. Jadi mana mungkin aku bisa ikut berpartisipasi dalam festival olahraga yang selalu aku hindari? sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan Anya?’ Lanjutku dalam hati.


***

__ADS_1


Waktupun berlalu dengan cepat, kegiatan sekolahpun berakhir, dan seperti biasanya, aku pergi keruang kesenian untuk menyelesaikan lukisanku yang belum selesai.


“Ada apa Cika?” Tanya Dinda yang baru masuk keruang kesenian.


“Sepertinya aku kesulitan menyelesaikan lukisan bertema festival olahraga ini.” Jawabku sambil memperhatikan lukisanku setelah melihat kedatangan Dinda. Dan saat ini, gadis itu sedang berdiri dibelakangku.


“Ku pikir sudah bagus. Memangnya apa yang membuatmu berpikiran begitu?” Tutur Dinda bertanya.


“Hanya saja, bagaimana aku menjelaskannya ya. Emh... aku pikir akan lebih baik jika aku melukisnya langsung pada saat festival berlangsung. Jadi aku bisa merasakan suasananya juga, menyenangkan memang jika melukis apa yang digambarkan oleh otak mu, tapi terkadang aku berpikir, imajinasiku saja belum cukup, dan aku ingin berkembang lebih baik lagi.” Jelasku dengan susah payah, namun gadis itu hanya tersenyum hangat kearahku.


“Ma–maaf, rasanya tidak masuk akal.” Ucapku sambil menatap cat diatas palet yang ku pegang.


“Kalau begitu kita bisa melakukan hal itu jika kau bisa masuk ke final. Jadi untuk sekarang berjuanglah untuk melukis apa yang kau pikirkan. Lukisan yang bisa membawamu ke final, dan menunjukan karya terbaikmu dihari itu. Waktunya sudah dekat, lusa kita harus mengirimkan karya kita, lalu menunggu pengumuman selama satu minggu. Jika kita bisa melaluinya, maka dihari ke delapan kita bisa mulai melukis dihari pertama festival olahraga, dan dipuncak acaranya kita bisa mengirimkan lagi karya kita. Satu hari penuh perjuangan untuk melukis didalam satu kanvas.” Jelas Dinda panjang lebar dan gadis itu masih saja tersenyum.


“Perjuangan ya ....” Gumamku sambil membalas senyumanya, mengingat dihari itu aku juga akan sibuk mengikuti acara festival olahraga. Jadi bagaimana aku bisa melukis? aku sendiri belum tau, dan seperti yang Dinda bilang. Yang harus ku lakukan saat ini hanya menyelesaikan lukisanku yang lainnya. Lukisan yang bisa membawaku ke final.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2