Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Nasehat Rivalku


__ADS_3

“Pagi Cika ....” Sapa Ali.


“Pagi.” Ucapku menyapanya balik.


“Ku dengar kegiatan klub kalian dihentikan hari ini.” Tutur Ali.


“Ya begitulah, aku duluan ya.” Jelasku bergegas pergi ke kelas.


Sesampainya dikelas aku melihat Hana yang sedang bersenang-senang dengan teman-temannya sambil menunggu pengumuman pemenang dalam parade kostume kemarin.


“Pagi Cika ....” Sapa Nanami ditempat duduknya.


“Pagi” Sapaku sambil jongkok disamping mejanya.


“Ada apa?” Tanya Nanami.


“Apa Yuda sudah memberitaumu soal jawabannya?” Tanyaku sedikit ragu.


“Hari ini dia akan mengatakannya, kau ingat? setelah festival berakhir.” Jawabnya sambil tersenyum.


“Apa kau akan menyerah jika dia menolakmu?” Tanyaku spontan dan merasa tidak enak kemudian.


“Entahlah ....” Jawabnya terlihat murung.


“Ngomong-ngomong Nanami. Maafkan aku ....” Gumamku terdengar ke telinganya.


“Kenapa?” Tanyanya mulai terlihat lesu.

__ADS_1


“Sebenarnya kemarin aku sudah memberitau Yuda mengenai perasaanku. Aku mengambil langkah kecil agar dia mau memikirkanku, mengingat kau sudah lebih dulu menyatakan perasaanmu padanya. aku jadi gugup sekarang ... aku tidak tau hal apa yang akan dia lakukan, aku merasa tidak enak denganmu karena memberitaukan perasaanku padanya saat kau sedang menunggu jawaban darinya.” Jelasku sambil membenamkan kepalaku disamping meja Nanami.


“Jadi kita sama-sama sedang menunggu jawaban darinya ya?” Gumam Nanami membuatku menengadah menatapnya yang sedang tersenyum kearahku.


“Sebenarnya ....” Tuturku terhenti saat beberapa siswa/i lainnya berdatangan. Dan akupun memutuskan untuk berbicara diluar, mengingat rumah hantunya harus segera dibuka.


“Yuda menunggu jawaban darimu ya?” Tanya Nanami membuatku tak berkutik, “jika kau mencintainya maka terimalah dia dan buat dia bahagia.” Lanjutnya sambil tersenyum.


“Tapi ....” Ucapku segera dihentikan oleh Nanami.


“Berapapun lamanya waktu yang kau habiskan untuk mencintai seseorang. Jika orang itu tidak melihatmu dan balik mencintaimu, maka kita harus belajar merelakannya bersama orang yang lebih membuatnya bahagia. Cinta itu tak memandang waktu, jika kau bisa mencintainya sebentar dan dia mencintaimu juga. Maka itulah yang dinamakan dengan takdir ....” Jelas Nanami segera mendapat pelukan dariku.


“Dengar Cika. Terkadang kita harus memikirkan kebahagiaan kita sebelum memikirkan kebahagiaan orang lain. Dan aku sudah melakukannya, jadi sekarang saatnya aku memikirkan kebahagiaan sahabatku ....” Jelasnya membuatku semakin mengeratkan pelukanku.


“Awalnya aku merasa takut kalau aku keliru dengan sikapnya yang selalu baik kepada siapapun ... mungkin perlakuannya padaku adalah hal biasa baginya dan aku salah paham akan hal itu,” tuturku terdengar serius, “tapi ... sekarang aku merasa telah melukai hatimu.” Lanjutku membuatnya melepaskan pelukanku.


“Aku juga sudah sering mendengar curhatanmu sebelum aku jujur padamu mengenai perasaanku terhadap Yuda bukan? dan gerak geriknya saat didekatmu juga aku sudah paham. Kalau dia juga mencintaimu.” Lanjutnya sambil tersenyum dan berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.


“Nanami ....” Gumamku merasa tersentuh dengan kebaikannya.


***


Setelah berbicara dengan Nanami, rasanya aku jadi ingin menemui Yuda. Sejak keluar dari kelas tadi, aku belum melihatnya dan pagi tadi juga aku tidak melihatnya didalam kelas. Jadi aku berusaha mencarinya sambil berkeliling festival. Kebetulan kegiatan klub ku hari ini diliburkan karena kejadian kemarin.


Waktupun berlalu dengan cepat, kegiatanku berkeliling festival dan menikmati berbagai macam makananpun berakhir, dan semua siswa/i diminta untuk berkumpul diaula untuk menghadiri upacara penutupan festival sekolah sekaligus mengumumkan pemenang kelas tefavorit sampai kelas tebaik, dan pengumuman pemenang lomba parade kostum.


Namun hatiku masih resah mencari keberadaan Yuda yang belum juga ku temukan. Bahkan diaula ini, dia tak terlihat dimanapun. Yang aku ingat adalah saat festivalnya berakhir, dia akan memberikan jawaban untuk Nanami. ‘Mungkinkah dia sedang menunggu Nanami diatap sekolah ?’ Batinku saat sadar belum mencarinya kesana.

__ADS_1


“Untuk kelas terbaik dengan jumlah pengunjung terbanyak dimenangkan oleh kelas 11-3 yang mambuka stand maid cafe ....” Tutur ketua osis mengumumkan pemenangnya membuat sorakan bahagia dari kelas 11-3 pecah, sekaligus menyadarkanku dari lamunanku.


“Dan untuk kelas terfavorit dengan jumlah pengunjung yang sama banyaknya jatuh pada kelas 11-2.” Lanjut ketua osis membuat Hana dan yang lainnya berteriak kegirangan.


“Selanjutnya untuk penampilan parade kostum dengan cerita yang unik jatuh pada kelas 11... 2 dengan drama musikal-nya yang membuat beberpa penonton terbawa suasana.” Lanjutnya kembali mengundang teriakan bahagia Hana dan yang lainnya, mengingatkanku pada hari dimana Yuda mengobati luka lecet dikakiku dan aku yang jujur padanya mengenai perasaanku terhadapnya. benar-benar memalukan.


“Baiklah dengan ini festival sekolah resmi ditutup. Kalian bisa pergi kelapangan untuk mengikuti kegiatan terakhir kami. Yaitu api unggun ....” Tutur kepala sekolah mengambil alih, membuat semua orang berbondong-bondong menuju lapangan sekolah untuk menikmati api unggunnya.


“Bagi yang ingin unjuk kemampuan, kalian boleh memperlihatkan bakat kalian dipanggung yang sudah kami siapkan disebelah barat lapangan.” Lanjut ketua osis dengan pengeras suara yang dipegangnya, dia mengumumkannya saat kami berdesak-desakan untuk keluar dari aula.


Sesampainya dilapangan, aku melihat banyak siswa/i dari kelas lain yang sedang menikmati api unggun, dan sebagian lagi berkumpul disebelah barat untuk ambil antrian dalam unjuk kemampuan yang mereka miliki. Dan aku memutuskan untuk kembali mencari Yuda keseluruh sekolah.


“Dimana sebenarnya kau bersembunyi?” Tuturku merasa lelah terus mencari keberadaannya dan berlari kesana kesini sampai ke ruang musik. tapi tak ku dapati keberadaannya, bahkan di atap sekolahpun tak ku lihat kehadirannya. Hanya hembusan angin yang menyapa kedatanganku saat itu.


Kemudian ku langkahkan kakiku mendekati pagar atap yang dipasang mengelilingi atap untuk menjaga keamanan para siswa/i yang suka nongkrong diatas atap sekolah.


Ku lihat pemandangan api unggun dan siswa/i lainnya yang sedang menikmati acara sore ini. pemandangan yang membuatku sedikit kesepian tanpa kehadiran pria yang ku cintai. Dia menghilang bak ditelan bumi, ‘Mungkinkah dia tidak masuk sekolah hari ini?’ Batinku bertanya-tanya.


Lalu ku putuskan untuk mencari Adam dan Raka untuk menanyakan tentang Yuda sahabat mereka yang sudah membuatku kesulitan hari ini.


“Ssstt...” Desisku merasakan perih dikakiku, “sepertinya lecetnya terbuka lagi, karena terlalu banyak berlari menggunakan sepatu sekolah. Padahal luka yang kemarin baru kering ....” Lanjutku bergumam sambil mengambil sikap duduk ditangga untuk beristirahat sejenak dan memijat jari kaki kananku.


“Handphone,” ucapku saat menyadari sesuatu, “kenapa gak kepikiran dari tadi?” Lanjutku sambil meraih handphone disaku rok sekolahku, dan langsung mencoba menelpon Yuda.


“Gak aktif?” Gumamku sambil mematikan panggilannya dan mencoba mengirimkan pesan singkat padanya. kemudian memasukan handphone ku kembali kedalam rok sekolahku dan kembali melanjutkan pencarianku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2