![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
“Loe gila ya?” Teriak Raka membuat Yuda refleks menjauhkan heandphone dari telinganya.
“Hhaha... gue bercanda. Abis loe ngomongnya bikin gue merinding.” Jelas Yuda kembali mendekatkan heandphonenya kedekat telinga.
“Ha?” Ucap Raka menghentikan ucapannya barang sesaat, “Po–pokonya gue Cuma mastiin kondisi loe aja. Kalau loe suka sama hadiahnya ya udah. Gue mau mandi dulu, besok loe sekolah kan? harus ya! awas aja kalau sampe gak masuk sekolah!” Lanjutnya tak memberikan kesempatan untuk Yuda menjawab semua pertanyaanya itu. Dan panggilannya pun berakhir.
“Dasar Raka.” Gumam Yuda sambil menyimpan heandphonenya kembali keatas meja belajarnya.
***
Waktupun berlalu dengan cepat, keseharianku berubah seratus delapan puluh derajat tanpa kehadiran Cika disisiku. Aku menjadi sangat fokus untuk menghadapi ujian sekolah dan ujian nasional. Keseharianku disibukan dengan belajar, dan terkadang aku juga belajar kelompok bersama Raka dan yang lainnya.
Sepertinya bukan hanya aku yang berpikiran harus berubah, dampak kepergian Cika benar-benar berpengaruh pada Anya dan juga yang lainnya.
Dan saat ini aku benar-benar menjadi orang yang tak sabaran, rasanya ingin cepat-cepat lulus dan melanjutkan pendidikanku lalu mencari pekerjaan dan menabung untuk menjemput Cika. Tapi dengan cepat aku menepis semua pikiranku itu dan kembali fokus pada kehidupanku saat ini, karena terlalu sering berkhayal bisa membuatmu sakit, jika khayalan itu tidak bisa kita penuhi.
Lalu tepat pada hari terakhir ujian nasional, aku mendengar rumor dari teman-teman dekatnya Nanami kalau gadis itu sudah menjalin hubungan dengan Ali. Dan entah kenapa aku merasa lega sekaligus senang, seolah-olah aku bisa memberitau Cika kalau sahabatnya itu sudah membuka hati untuk orang lain dan tak terpaku padaku lagi. Meski aku sedikit terkejut dengan rumor itu, hanya tak menyangka saja kalau Ali diam-diam menyukai Nanami.
Berkali-kali aku tak bisa mengendalikan rasa rinduku dan aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku juga belum berani mengirimkan email padanya, email terakhirku adalah ucapan terima kasih atas ucapan selamat ulang tahun darinya dan hadiah yang sudah dia berikan padaku. Dan email itupun tak pernah mendapat balasan darinya.
Kemudian aku merasa bingung karena tak memiliki topik pembicaraan lagi, dan aku juga terlalu takut untuk berbasa-basi dengannya. Karena aku tidak tau seberapa sibuk aktifitas dia di London, jadi aku tidak pernah menghubunginya lagi, hanya bisa menatap fotonya dilayar heandphoneku.
Enam tahun kemudian, aku berhasil menjadi seorang guru di sekolah lamaku dan menjadi pembimbing klub musik orkes. Lalu selama satu tahun penuh, aku berusaha membiasakan diri untuk berbaur dengan para guru lainnya, mendapat bimbingan dan arahan dari mereka. Bahkan Bu.Mita dan Pak.Handoko masih menjadi guru disana, dan kehadiranku disambut baik oleh mereka.
Jadi waktuku sudah berlalu selama tujuh tahun, “Bagaimana dengan kondisimu saat ini Cika? apa kau baik-baik saja? apa kau berhasil meraih impianmu?” Gumamku tiba-tiba mengingatnya saat pandanganku menatap lurus kearah langit luas yang biru, ‘Sangat menyilaukan ....’ Lanjutku dalam hati.
Tak lama kemudian, bel sekolahpun berdering. Dengan cepat aku bergegas pergi keruang kelas berikutnya untuk kembali mengajar, karena waktu istirahat telah usai.
‘Menjadi seorang guru disekolah lamaku, benar-benar membuatku tak henti-hentinya bernostalgia, rasanya seperti melihat bayangan Cika disekolah setiap hari ....' Batinku sambil bergegas.
***
"Aku duluan ya." Ucap seorang guru piket padaku, jika dilihat dari usianya dia sama sepertiku dan Cika. Seangkatan.
"Ya." Balasku sambil memasukan beberapa berkas penting kedalam tasku dan memeriksa pesan masuk dilayar heandphoneku.
'Grup Line?' Batinku sambil membaca isinya.
Adam : Oii Yuda loe dimana? masih disekolah kah?
Raka : Jam segini mah udah waktunya bubaran, pasti sulit ya menjadi seorang guru. bagaimana kalau hari ini kita makan-makan. udah lama juga kita gak kumpul, kebetulan gue baru selesai meeting diluar.
Ali : Wah 🤤 makan...
Nanami : Ya ampun 🤦♀️
__ADS_1
Anya : Wah kebetulan sekali, aku juga baru pulang kerja, mau janjian dimana nih?
Hana : Disekolah aja 😆
Adam : Loe mau sekolah lagi ya? gak ada tempat janjian lain lagi apa?
Hana : Hee... 😗 padahal aku bawa banyak makanan. udah lama juga gak main kesekolah ....
Anya : Kalian berisik! 😤 aku dalam perjalanan kesekolah
Raka : Anya kau bersemangat sekali! 😅
Anya : Habisnya ini hari spesial kan? 😊
Nanami : Spesial 😊
Hana : Spesial 😊
Ali : Sayang aku udah didepan kantormu, kau dimana?
Hana : Woii 🙄
Adam : Nambah satu lagi ni bucin :v
Ali : Berisik kalian !!! 😤
Anya : Bahkan Nanami juga? 😐
Ali : Aku menunggumu .... 😗
Hana : Sepertinya best couple kali ini dimenangkan oleh mereka ya Anya? 😂
Anya : Berisik! 😑
"Hhaha mereka benar-benar ribut ya ...." Gumamku sambil tertawa dan melanjutkan kembali membaca pesan dari mereka.
Anya : Kalian dimana? bentar lagi aku nyampe loh... 😗
Adam : Loe gak bareng sama Raka?
Anya : Dia mampir dulu, lama nungguin dia mah 😩
Raka : 🥺
Hana : Woii makannya diatap ya, sekalian menikmati senja 🥰
__ADS_1
Adam : Banyak angin dong 🙄
Hana : Berisik! pokoknya kita kumpul diatap ya, yang telat bayar semua makanan yang gue beli ya! 😏
Ali : Itungan banget sih loe jadi orang! 😒
Hana : Berisik loe, bayar utang loe tempo hari sini! 😤
Ali : Woii jangan buka aib napa ☹
Anya : Eh gue mampir dulu beli minumnya, si Hana barusan chett gue katanya lupa beli minum 🤦♀️
Hana : Anyaaa !! loe jangan bilang lagi sama mereka napa. sia-sia dong gue chett pribadi sama loe 😩
Anya : 🤭
Adam : 😅😅😅😅😅
Raka : 😂😂😂
"Mereka bilang diatap ya?" Gumamku sambil berjalan menaiki anak tangga menuju atap, dan memasukan heandphoneku kedalam saku celanaku.
"Tapi kenapa mereka semua sangat bersemangat ya? padahal kita bisa cari tempat yang lebih nyaman kenapa diatap? dan lagi ... apa maksudnya dengan hari spesial? apanya yang spesial dihari ini?" Lanjutku mengoceh sambil terus berjalan menaiki anak tangga dan melihat kearah pintu atap.
Tanpa berpikir panjang, ku raih knop pintu atap itu. dan saat ku buka, hembusan anginnya benar-benar kencang sampai aku harus menutup mataku dengan salah satu tanganku, untuk menghindari debu yang bisa masuk kedalam mataku.
***
Terlihat Anya sedang berdiri diloker sepatu menunggu kedatangan teman-temannya. tak lama kemudian Hana dan yang lainnya datang menghampiri Anya.
"Bagaimana?" Tanya Hana dengan mata berbinar-binarnya.
"Semuanya Oke! Sesuai dengan rencana." Jawab Anya sambil menunjukan ibu jarinya dan tersenyum lebar kepada gadis itu.
"Berarti kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk muncul diantara mereka ya?" Gumam Adam.
"Setelah sangat lama ... akhirnya hari ini tiba juga." Ucap Ali sambil menyeringai dan Nanami hanya bisa tersenyum melihat kekasihnya yang terlihat bahagia.
"Beruntunglah cuacanya mendukung, padahal aku sangat takut jika cuacanya tiba-tiba berubah." Tutur Raka terlihat khawatir.
"Tenang saja, aku sudah menghubungi pawang hujan. jadi hari ini tidak akan hujan." Oceh Anya berusaha menenangkan kekasihnya.
"Pa–pawang hujan?" Ucap Nanami dan Hana bersamaan, sedangkan Raka, Adam dan Ali hanya saling melemparkan pandangan saat mendengar ocehan Anya.
"Bercanda! kalian benar-benar tidak memiliki selera humor ya?" Jelas Anya sambil menghela napas pasrah.
__ADS_1
Bersambung...