![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
“Cika!” Teriak Hana mengikuti Cika menuju stand klub kesenian.
“Tak ku sangka kau bisa bernyanyi seperti itu.” Lanjut Nanami.
“Sejak SMP dia tergabung dalam klub musik ringan, meski Cuma setengah tahun.” Tutur Anya menjelaskan kejadiannya.
“He...? sayang sekali.” Ucap Tiara merasa kecewa.
“Kenapa berhenti?” Tanya Yuda yang tertarik dengan kisah SMP Cika.
“Dia memilih masuk klub kesenian dan mengembangkan bakat melukisnya.” Jawab Anya.
“KALIAN MINGGIRLAH! ADA PENGUNJUNG!” Teriak Dinda sang ketua klub, dan merekapun berbincang di luar ruangan klub kesenian, membiarkan Cika mengerjakan tugasnya untuk melukis wajah para pengunjung bersama dengan Ayumi.
“Kau juga balik bekerja!” Ucap Dinda menggeret Anya kedalam ruang kesenian.
“Ayolah aku harus bergabung juga di klub manga... biarkan aku pergi.” Rengek Anya meminta dilepaskan.
“Kau bisa bergabung dengan mereka sepuasmu besok oke. Sekarang bekerjalah dengan serius.” Jelas Dinda tampak menakutkan.
“Permisi ....” Ucap seorang wanita berpakaian formal seperti kebanyakan wanita yang bekerja dikantoran.
“Ya? ada yang bisa saya bantu?” Tanya Dinda menyambut wanita itu.
“Bisa saya bertemu dengan Cika sebentar?” Tanyanya membuat Dinda kebingungan.
“Dia ibunya Cika.” Bisik Anya kepada Dinda.
“Ah ya silahkan.” Ucap Dinda setelah mendengar bisikan Anya.
“Cika!” Teriak Dinda memanggil gadis itu, kemudian Cika menghampirinya.
“Ya?” Tanya gadis itu.
“Ibumu menunggu diluar.” Jawab Dinda sambil menepuk bahu gadis itu, lalu Cika pun pergi menemui ibunya.
“Hay sayang.” Sapa Ibunya sambil tersenyum.
“Ayah melihatmu menyanyi tadi. Jadi kau bergabung dengan klub musik ringan lagi?” Tutur ayahnya Cika.
“Tidak, Cika hanya membantu mereka. Cika masih suka melukis dan bergabung di klub kesenian.” Jawab gadis itu.
“Aku kira ayah berbohong lagi soal kepulangan ayah.” Gumam gadis itu merasa canggung.
“Maaf ya karena ayah selalu menunda-nunda kepulangan ayah. Setelah pekerjaan ayah selesai, ayah akan pulang setiap hari oke ... jadi jangan ngambek lagi ya.” Tutur pria itu sambil memeluk tubuh Cika.
“Kalau begitu, Ayah akan berkeliling bersama Ibu sambil menunggumu selesai. Nanti kita pulang bersama ya.” Tutur Ayahnya Cika melepaskan pelukannya dan pergi dari sana bersama istrinya.
***
Ku langkahkan kakiku menuruni anak tangga dengan perlahan merasakan lelah tubuhku hari ini. saat aku sampai dilantai tiga kelas 11-1 sampai 11-5, aku melihat Yuda yang berdiri didepan pintu kelas 11-2, tak lama kemudian Nanami keluar dari sana.
“Mereka pulang bersama?” Gumamku bertanya-tanya, kemudian Hana keluar bersama Adam. Dan dari kelas 11-3 Raka sedang menunggu Anya.
“Sepertinya mereka semua telihat serasi ....” Tuturku sambil berjalan mengikuti mereka menuju loker sepatu.
Setelah lama menuruni anak tangga, karena pergerakan mereka juga cukup lambat akhirnya aku sampai dilantai pertama dan saat akan berbelok menuju loker sepatu kelasku, tak sengaja aku bertabrakan dengan seorang pria yang pernah ku tabrak juga di depan gerbang sekolah.
“Maaf maaf aku tidak sengaja.” Tuturku meminta maaf padanya.
“Kau?” Ucapnya tak berkutik.
“Aku benar-benar tidak sengaja.” Lanjutku kembali mengoceh.
“Tidak, kali ini aku yang salah, berjalan sambil bermain handphone, maafkan aku.” Tuturnya sambil tersenyum.
“Kalau begitu aku permisi dulu” Ucapku sambil bergegas menuju loker.
“Tunggu.” Cegahnya membuatku berbalik badan, “Kita sudah bertabrakan dua kali, tapi aku belum tau siapa namamu. Boleh aku tau namamu? aku juga melihatmu bernyanyi bersama klub musik ringan siang tadi, kau benar-benar memukau.” Lanjutnya menjelaskan maksudnya.
“Cika, namaku Cika.” Ucapku sambil bergegas, mengingat ayahku sudah menunggu terlalu lama.
Ke esokan harinya...
“Mau ayah antarkan kesekolah?” Tanya ayah bersiap dengan setelan kerjanya.
“Tidak perlu. Ayah bersiap saja, jemputannya akan datang satu jam lagi bukan? aku bisa sendiri.” Jawabku berlari meninggalkan rumah.
“Tapi ....” Teriak Ayah tak ku dengarkan.
__ADS_1
Aku tau aku terlalu egois dan tak bisa mengerti pekerjaan kedua orang tuaku, jadi aku berusaha untuk menjadi lebih mandiri lagi. Biar bagaimanapun aku tidak mau melihat mereka mengkhawatirkan keadaanku karena sering ditinggal sendirian.
Dan ayah hanya izin satu hari untuk melihatku disekolah, jadi dia harus kembali bekerja hari ini. kali ini dia harus pergi keluar negri untuk mengurusi perusahaannya disana. Dan ibu akan pulang larut lagi, karena sudah menunda banyak pekerjaan untuk menemuiku disekolah.
Setelah berjalan cukup lama dari stasiun akhirnya aku sampai disekolah dan bertemu dengan pria yang kemarin.
“Selamat pagi Cika.” Sapanya.
“Pagi.” Jawabku bergegas menuju ruang kesenian.
“Ngomong-ngomong aku belum memberitaumu namaku,” tuturnya tak mendapatkan respon apapun dariku, “Ali ... namaku Ali dari kelas 11-3.” Lanjutnya.
“Ya salam kenal Ali, aku sedang buru-buru jadi menyingkirlah.” Tuturku mempercepat langkahku, tapi pria itu malah mengikutiku sampai ke ruang kesenian.
“Jadi kau anggota klub kesenian.” Gumamnya.
“Ali? ngapain loe disini?” Tanya Anya yang muncul didalam ruang kesenian.
“Anya,” ucap Ali terdengar terkejut, “loe gabung juga diklub kesenian?” Lanjutnya bertanya.
“Ya. Karena ada sahabat gue disini.” Jawab Anya sambil merangkulku.
“Jadi dia sahabat loe?” Tanya Ali terlihat heran, “ada juga ya yang mau bersahabat sama cewe crewet kaya loe. Hhaha ....” Lanjutnya.
“Orang luar sebaiknya pergi dari sini. Kami harus mulai bersiap-siap sebelum parade kostumenya berlangsung.” Tutur Dinda yang baru datang menyelamatkan kami dari situasi super canggung ini, canggung bagiku karena Anya terlihat kesal dan Ali terlihat menyesal mencari gara-gara dengan teman satu kelasnya itu.
“Baiklah baik Aku permisi dulu ... sampai nanti Cika.” Tutur Ali sambil berlalu dari ruang kesenian.
“Kau kenal dari mana sama cowo nyebelin itu?” Tanya Anya mulai mewawancaraiku.
“Aku nyaris bertabrakan dengannya dua kali berturut-turut, yah... bukan nyaris lagi sih ....” Jawabku merasa ragu dengan ucapanku sendiri.
“Ngomong-ngomong kenapa kamu datang keruang kesenian? bukankah hari ini kelasmu ikut berpartisipasi dalam acara parade kostum?” Tanya Anya sibuk menyapu ruang kesenian.
“Bukan hanya kelasku, tapi semua angkatan.” Jawabku membuat gadis itu merengek.
“Aku tau, tapi kelasku tak ikut berpartisipasi dalam parade kostum ini. karena mereka sibuk diklub mereka masing-masing.” Ocehnya terlihat sedih.
“Sepertinya orang-orang dikelasmu pemalas semua ya.” Tutur Dinda membuat rengekan Anya semakin kencang.
“Aku ingin pindah kelas ke kelas 11-2.” Begitulah tuturnya.
“Tapi ... tapi ....” Ucapku tak didengarkan olehnya.
“Pakai ini!” Ucap Hana memberikan sebuah kostum ke tanganku dan mendorongku masuk kedalam kamar mandi perempuan bersamanya.
“Tunggu dulu, aku tidak bisa ikut parade kostum. Pagi ini aku harus menyambut tamu yang ingin belajar melukis bersamaku.” Jelasku.
“Setelah selesai parade kamu boleh kembali ke ruang kesenian. Aku sudah izin sama Dinda.” Tutur Hana sambil memasukan ponselnya kedalam saku pakaian susternya.
“Tapi kenapa harus kostum polisi?” Tanyaku merasa tidak nyaman mengenakannya.
“Karena yang lainnya sudah mendapatkan kostum yang sesuai,” jelas Hana, “udah buruan ganti baju sana. Abis ini kita harus rapat sebelum berkeliling memamerkan kostum kita.” Lanjutnya mendorongku masuk kedalam toilet.
“Tapi Hana ....” Ucapku terpotong.
“Mau aku yang pakaikan?” Teriak Hana membuatku bergegas mengganti seragam sekolahku dengan kostum yang diberikan Hana.
“Ini benar-benar memalukan ....” Tuturku sambil keluar toilet.
“Wah benar-benar cocok ditubuhmu.” Gumam Hana sambil merapikan pakaianku, dan merapihkan poniku kemudian memasangkan topi polisi dikepalaku.
“Ayo pergi ke kelas, kita harus mengganti sepatumu dengan pantofel.” Tutur Hana kembali menggeret tanganku.
“Hana aku pengen nangis ....” Tuturku tak membuatnya ragu menggeretku masuk kedalam kelas.
“Aku sudah membawanya!” Teriak Hana membuat suasana di dalam kelas menjadi sunyi.
“Biar aku urus sisanya.” Tutur Nanami segera mendorongku ketempat duduk ku dan mulai merias wajahku.
“Hentikan Nanami ... aku ....” Tuturku tak diperdulikan.
“Selesai ....” Ucap Nanami setelah lama merias wajahku.
“Ini sepatumu.” Ucap Hana memberikan pantofelnya kepadaku.
Tak lama kemudian para pria masuk kedalam kelas, aku melihat Yuda yang mengenakan setelan dan trombon yang dipegangnya, sama seperti setelan yang dikenakan Nanami. Kemudian ada Raka disebelah Yuda yang mengenakan seragam tahanan dan Dimas yang mengenakan pakaian pasien. Dan ku lihat Hana yang mengenakan kostum suster lengkap dengan suntikan besar sebagai propertinya.
“Sudah semua bukan?” Teriak Hana memastikan semuanya sudah siap.
__ADS_1
“Jadi?” Gumamku merasa bingung.
“Jadi kita membuat sesuatu yang beda, sedikit melenceng tapi ya oke lah untuk pameran kostum. Nanti yang jalan pertama adalah kelompok musik yang akan memeriahkan penampilan kita, diikuti kelompok tahanan yang diikuti para polisi, masing-masing beranggotakan lima orang. Dan diikuti oleh kelompok pasien dan suster, setelah itu kita akan fokus pada penampilan drama kelas kita.” Jelas Hana begitu bersemangat.
“Karena Raka tidak ada pasangannya jadi kau harus mengikutinya dari belakang.” Bisik Hana membuatku sedikit terkejut.
Tak lama kemudian suara pengumuman berkumpul membuat kami semua berbondong-bondong pergi kelapangan sebagai garis start dan finish.
“Kau bisa melakukannya?” Tanya Raka yang melihat ketidak nyamananku dalam mengenakan pakaian polisi dengan rok pendek satu jengkal diatas lutut.
“Seharusnya Nanami kan yang mengenakan pakaian polisi itu?” Bisik beberapa gadis lainnya yang memakai seragam polisi sama sepertiku.
“Kalau begini tak masalah kan?” Tanya Yuda mengejutkanku sambil memberikan mantel hitam menjuntai hingga kelututku dengan memasangkannya dibahuku.
“Apa tidak masalah?” Tanyaku merasa sedikit khawatir.
“Tidak, lagipula ini hanya parade kostum.” Jelasnya sambil tersenyum kearahku.
“Baiklah bersiap semuanya!” Teriak Hana menyemangati yang lainnya.
‘Mereka benar-benar serius soal ini, properti yang dipegang oleh Raka juga sepertinya berat.’ Batinku saat melihat beberapa benda berbentuk Hati didalam karung kain yang dipegang Raka dan pria lainnya.
Parade kostum pun dimulai, dan kami berkeliling kompleks melalui rute yang ditentukan panitia penyelenggara. Setelah lama berjalan akhirnya kami sampai di sekolah. Dan aku langsung pergi ke kelas karena harus segera kembali ke ruang kesenian.
Sedangkan Hana bersama beberapa orang lainnya sedang bersiap untuk melakukan drama sebagai pertunjukan terakhir dari kelas 11-2.
Sesampainya dikelas, aku langsung membuka sepatu yang ku kenakan dan berdesis menahan sakit dan perih yang ku rasa, “Benar-benar lecet” Gumamku memperhatikan kakiku.
“Biar ku obati.” Ucap Yuda mengejutkanku, secara tiba-tiba dia sudah berdiri dihadapanku karena kebetulan aku duduk dikursinya sedangkan kursiku menjadi tempat penyimpanan mantel hitam yang ku kenakan.
“Biar aku saja.” Ucapku saat pria itu hendak meraih kaki kananku.
“Sudah diam saja, aku akan melakukannya dengan perlahan.” Jelasnya tak mau mendengarkanku dan mulai mengobati luka di kedua kakiku.
“Sepertinya rambutmu tumbuh dengan cepat ya.” Tuturnya membuatku tersipu dan memperhatikan rambutku yang lebih panjang dari terkahir kali aku memotongnya.
“Aku baru menyadarinya.” Gumamku menanggapi ucapannya.
“Kenapa kau memotong rambutmu saat itu?” Tanyanya sambil fokus mengobati luka dikaki ku.
“Hanya keinginan ku saja.” Jawabku.
“Benarkah? ku dengar saat seseorang mengubah gaya rambutnya, itu menandakan dia sedang patah hati. Apa saat itu kau merasa sedang patah hati?” Jelasnya kembali bertanya.
“Patah hati? ke–kenapa?” Tanyaku gelagapan sambil memegangi rok sekolahku yang ku gunakan untuk menutupi pahaku.
“Hanya dirimu yang mengetauhinya.” Jawabnya meniru gaya bicaraku.
“Yuda mengejek ku ya?” Ucapku membuatnya tertawa.
“Selesai ....” Ucapnya sambil membereskan kotak P3K yang dibawanya di UKS.
“Eh? sudah selesai? kenapa tidak terasa perih?” Tanyaku sambil memperhatikan luka dijari kakiku.
“Jika melakukannya sambil mengobrol, sakitnya tak akan terasa.” Tuturnya sambil tersenyum menjawab pertanyaanku barusan.
“Terima kasih banyak.” Tuturku sambil tersenyum padanya, dan keheningan di dalam kelas mengunci pandangan kami. Matanya benar-benar tajam menusuk hatiku yang sedang bimbang dan resah dengan langkah cepat Nanami yang sudah menyatakan perasaannya terhadap Yuda.
Sedangkan aku belum mengambil satu langkah kecilpun untuk mendapatkan perhatiannya, ‘Maafkan aku Nanami... bukan hanya dirimu saja yang harus berjuang kan? aku juga akan berjuang seperti yang selalu ku katakan padamu.’ Tuturku dalam hati masih menatap mata Yuda yang terlihat tajam dan menenangkan.
“Anu ....” Ucapku bersamaan dengannya.
“Aku harus menyimpan kotak P3K ini kembali ke UKS.” Lanjutnya sambil berdiri dari posisi jongkoknya dan mulai membalikan badannya.
‘Tunggu!’ Ucapku dalam hati saat melihatnya melangkah kearah pintu, dengan penuh paksaan ku bangkitkan tubuhku dari posisi terduduk ku.
“Tunggu Yuda!” Teriak ku menghentikannya dan ku lihat dirinya sudah berbalik badan menghadapku yang masih erat memegangi rok hitamku dengan kepalaku yang tertunduk memperhatikan sepatu hitam yang ku kenakan saat parade kostume pagi tadi, dan beberapa plester yang menempel dijari kakiku.
“Ada apa Cika?” Tanya Yuda dengan suara lembutnya membuatku tergugup.
“I–itu ...” Ucapku merasa bimbang.
Bersambung...
__ADS_1