![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
Pelajaran olahraga hari ini benar-benar membuatku kelelahan, dan lagi aku tak bisa berpaling dari permainan Yuda dan teman-temannya yang sedang bermain sepak bola.
“Mereka terlihat bersenang-senang.” Tutur Nanami mengejutkanku.
“Um” Angguk ku sambil tersenyum padanya.
“Ngomong-ngomong bagaimana dengan kegiatan klub kesenianmu?” Tanyanya sambil merangkulku dan mengajak ku menuju kelas kami.
“Biasa saja, kau mau bergabung?” Jawabku padanya.
“Ya jika aku memiliki bakat seni seperti dirimu," jelasnya sambil terkekeh, dan aku tau dia tidak ingin tertawa. Tapi seperti dipaksakan untuk tertawa agar bisa menyembunyikan perasaannya.
“Lalu bagaimana dengan Yuda? apa dia masih suka mengajakmu bicara?” Lanjutnya bertanya sambil melepaskan rangkulannya.
“Ya tapi tidak sesering biasanya.” Jawabku sambil melihat keluar jendela koridor.
“Ngomong-ngomong Cika ....” Tutur Nanami terhenti dan menatap kedua mataku dengan serius membuatku sedikit gugup, “aku ....” Lanjutnya terlihat ragu.
“Katakan.” Ucapku merasa penasaran membuatnya semakin enggan berbicara.
“Sepertinya tidak jadi.” Tolaknya sambil tersenyum dan sedikit memeletkan lidahnya lalu berlari kedalam kelas.
“Ada apa dengannya?” Gumamku sambil berjalan kedalam kelas mengikutinya, lalu Nanami pergi keluar kelas bersama Hana dengan membawa seragam sekolahnya, mungkin mereka berniat mengganti seragam olahraganya dengan seragam sekolah. Karena pelajaran berikutnya akan berlangsung diruang tata boga.
Aku mulai akrab denganya semenjak kejadian diruang kesenian dan Hana yang mengajak ku ngobrol didalam kelas dan meminta bekal yang ku bawa dari rumah. Semenjak itu kami sering mengobrol dan saling curhat satu sama lain. Nanami selalu menasehatiku agar lebih terbuka kepada yang lainnya.
Dan aku juga sempat bertanya mengenai rasa gugup ku saat berhadapan dengan Yuda. Tatapannya yang hangat dan perlakuannya yang kadang membuatku salah mengartikannya. Dan Nanami bilang, mungkin aku menyukainya. Dan sejak saat itu aku selalu berdebat dengan hatiku, benarkah aku menyukainya atau... tidak-tidak, dengan cepat ku tepis semua pikiranku itu. Lalu pergi mengganti seragamku.
Saat perjalanan menuju ruang ganti, Yuda berpapasan denganku dan menyapaku. Namun aku tak membalas sapaannya, akhir-akhir ini aku juga jarang bicara dengannya secara langsung. Tapi Yuda masih saja mengirimiku pesan saat malam hari, bercerita soal dirinya dan lelucon yang coba dia buat untuk membuatku tertawa. Tak jarang dia membicarakan soal Nanami, dan menanyaiku banyak hal soal gadis itu.
Dan saat itu, entah kenapa rasanya begitu menyakitkan, sampai rasa-rasanya aku tak bisa bernafas lega. Mungkin aku sudah menyadarinya, tapi hati kecilku menolak untuk mengakuinya, jadi aku selalu berpura-pura tidak tau, dan bersikap seperti biasanya.
Kemudian suratnya tiba-tiba berhenti, tak ada surat yang bisa membuatku tertawa lagi. Aku pun berusaha untuk melupakannya, padahal aku selalu menantikannya setiap hari, dan memikirkan lelucon apa yang akan dia tulis hari ini, bisakah aku membalasnya nanti? Aneh emang ... tapi sangat menyenangkan.
Lalu suatu hari, aku pernah melihatnya sekali saat pelajaran bahasa. Mata Yuda terus tertuju pada Nanami yang sedang membacakan puisi lama yang terdapat dalam buku paket yang dibagikan oleh bu.Dini. Dan aku juga pernah melihat mereka saling bertukar nomor ponsel di dalam kelas, saat itu Yuda juga memegangi kepala Nanami sambil tertawa denganya. Rasanya sakit dan sesak, saat itu aku hanya bisa memperhatikan mereka dari balik pintu kelas lalu memutuskan untuk pergi menemui Anya.
Kemudian aku tersadar dari lamunanku, “Jangan-jangan Nanami–" Gumamku setelah selesai mengganti seragam olahragaku, ‘Dia menyukai Yuda’ Lanjutku dalam hati. Dan ku dengar bel pergantian pelajaranpun berdering membuatku tergesa-gesa kembali ke kelas dan menyimpan seragam olahragaku kedalam tas sekolahku.
Lalu bergegas pergi ke ruang tataboga. Sesampainya disana, aku melihat setengah siswa/i sudah bersiap dengan celemek yang mereka kenakan. Dan aku harus mengikat seluruh rambutku yang tergerai agar tak ada sehelai rambutpun yang jatuh kedalam makanan yang akan ku buat.
“Cika!” Teriak Hana memeluk ku dari belakang.
“A-ada apa ?” Tanyaku tergugup.
“Aku mau satu kelompok denganmu saja, boleh ya.” Tuturnya merajuk.
“Bukankah Bu.Yani yang menentukannya ?” Tanyaku.
“Tidak, dia bilang kami harus menentukannya sebelum dia datang. Jika kita tidak bisa menentukannya sampai dia datang. Maka hari ini kita tidak akan belajar bersamanya ... intinya bu Yani tidak akan mengabsen kehadiran kita.” Jawabnya menjelaskan semuanya.
“Jadi begitu ....” Gumamku.
“Mau ya” Ucapnya membuatku mengangguk.
“Yeay dengan ini kita sudah berempat.” Tuturnya terlihat bahagia.
“Berempat ?” Tanyaku.
“Adam! Raka!” Teriak gadis itu memanggil Adam dan Raka yang dia sebutkan namanya itu.
“Yo.” Sapa mereka berdua, “Berempat.” Ucap Hana sambil menyeringai.
“Nanami?” Tanyaku membuat Hana segera memajukan bibirnya kedepan.
“Dia sudah masuk kelompok Rumi, padahal aku mengajaknya duluan ....” Jawab Hana terlihat kesal.
Ku alihkan pandanganku dari gadis itu kearah Nanami, dan ku lihat ada Yuda disana. Sudah dapat dipastikan dengan sekali lihat kalau Yuda tertarik dengan Nanami, dan Nanami juga sedikit berbeda. Seperti ada sesuatu yang disembunyikannya dariku.
__ADS_1
Tak lama kemudian bu.Yani masuk keladam ruang tataboga dan mulai menjelaskan apa yang akan kita pelajari hari ini. dan kami diminta membuat makanan dari bahan-bahan yang sudah disiapkan diatas meja dihadapan kami.
“Kali ini kalian bebas membuat makanan yang ingin kalian buat, tapi harus menggunakan semua bahan yang ada dihadapan kalian. lalu buat laporannya dan berikan padaku sore nanti, waktu kalian sampai jam istirahat. Silahkan dimulai, berhati-hatilah saat menggunakan pisau.” Tutur bu.Yani.
“Jadi apa yang akan kita buat?” Tanya Adam sambil memainkan buah Apel ditangannya.
“Hem... kira-kira apa ya?” Gumam Hana terlihat kebingungan.
“Yang benar saja, aku diajak bergabung dengan para cewe yang gak tau mau masak apa.” Tutur Raka membuat Hana kesal.
“Ya maaf saja kalau aku tidak tau mau masak apa.” Teriak gadis itu membuat Raka memalingkan wajahnya kearah Yuda dan Nanami.
“Jadi kami harus melakukan apa?” Tanya Adam menghentikan ocehan Hana, “Aku tidak tau, aku tidak pernah masak sebelumnya.” Jawab gadis itu.
“Yang benar saja... !!” Ucap Raka dan Adam bersamaan, lalu mereka melihat kearahku yang tersenyum kecut.
“Sepertinya kau juga tidak bisa masak ya.” Tutur Raka tampak kecewa.
“Ma-maafkan aku...” Tuturku membuat mereka kecewa, “Tapi bu.Yani tidak mengatakan kita harus membuat makanan apa kan?” Lanjutku sambil berpikir.
“Bagaimana kalau kita membuat cake atau puding. Kita bisa menggunakan bahan-bahan yang ada saja.” Lanjutku sambil meraih tepung yang ada diatas meja.
“Ha?” Ucap kedua pria itu.
“Kau bisa membuat makanan penutup?” Tanya Hana dengan mata berbinar.
“Aku tidak bisa masak, tapi aku sering membuat kue dan makanan manis lainnya. Jadi ....” Tuturku terpotong, “Kita buat saja, daripada tidak membuat apapun ....” Ucap Adam mulai mengambil beberapa peralatan dibawah meja.
“Yah lagipula kelompok lain sudah mulai bekerja, dan bu.Yani terus memperhatikan kita,” Lanjut Raka, “Jadi apa yang harus ku siapkan?” Lanjut Adam bertanya.
“Tolong keluarkan mikser dan loyangnya, jangan lupa untuk membersihkannya terlebih dulu. Dan Raka bisakah kau memotong buah-buahannya? jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil. Lalu Hana, kau bisa menyiapkan bahan-bahan yang ku butuhkan, tolong siapkan telurnya dan kocok bersama mentega, jangan lupa tuangkan sedikit gula pasir, setelah itu campurkan dengan susu dan tepung.” Tuturku pada mereka, dan kami mulai bekerja.
“Adam tolong panaskan ovennya.” Ucapku meminta tolong padanya.
“Baik!” Ucap Adam sambil menyalakan ovennya.
“Terima kasih.” Tuturku padanya.
“Hhaha... apa yang kalian berdua lakukan?” Tutur beberapa orang dikelompok Nanami menarik perhatianku, lalu aku melihat mereka sedang bermai-main dengan tepung yang dioleskan kewajah mereka.
“Kau juga mau ya?” Bisik Hana sambil mengoleskan tepung kehidungku.
“Ha–Hana” Ucapku membuatnya tertawa.
“Kau juga.” Ucap Hana sambil mengoleskan tepung ke wajah Adam, dan mereka saling membalas sampai hampir menyenggol loyang disampingku, beruntung aku langsung mengamankannya dan memasukannya kedalam oven setelah mengisinya dengan adonan cake yang sudah dikerjakan oleh Hana.
“Aku sudah menulis laporannya, kau bisa memeriksanya.” Tutur Raka sambil memberikan catatannya kepadaku.
“Sudah lengkap, terima kasih ... setelah ini kita tinggal menunggu hasilnya dan menghiasnya.” Jelasku membuat Hana berhenti bermain-main dengan Adam.
“Menghias? memangnya kita memiliki banyak waktu?” Tanya Hana.
“Dan sayur bayam ini mau diapakan?” Tanya Adam.
“Aku akan membuat puding bayam, lagipula sayur bayam bagus untuk kesehatan tubuh–” Jelasku terpotong, “Puding bayam? aku baru pertama kali mendengarnya.” Tutur Hana.
“Aku sering dibuatkan puding bayam oleh ibuku, jadi aku tau rasanya. Dan lagi aku tidak suka sayuran jadi ibuku banyak membuat makanan aneh yang bisa ku makan dari bahan sayuran. Tapi aku bisa pastikan rasanya sangat enak.” Jelasku sambil membuat puding bayam.
***
“Selesai ....” Ucap beberapa kelompok lain yang mulai bersorak gembira karena berhasil menyelesaikan tugasnya.
“Bagus.” Ucap bu.Yani yang menemui mereka.
Banyak yang membuat sayur sup dan gorengan yang berfariasi, lalu membuat jus dari buah-buahan yang ada diatas meja mereka.
“Tinggal dua kelompok lagi.” Gumam Hana yang berusaha fokus pada pekerjaannya yang membuat jus alpukat.
__ADS_1
“Hee ... Hana Cuma bisa membuat yang begituan ya.” Ejek Adam membuat gadis itu merasa kesal dan mengoceh lagi pada pria itu.
“Pudingnya sudah jadi.” Ucap Raka sambil menghidangkannya kedalam gelas kecil, lalu aku memberikan susu coklat diatasnya, dan Raka mulai menghiasnya dengan menyimpan satu strawberry manis diatasnya.
“Loe dapet strawberry dimana?” Tanya Adam merasa bingung.
“Gue bawa dari rumah buat dimakan pas istirahat.” Jawab Raka sambil cengengesan.
“Tapi pudingnya cepet kering ya, biasanya butuh berjam-jam ....” Gumam Hana merasa bingung.
“Ya memang belum kering.” Jawabku sambil tertawa.
“He–heee...” Teriak Hana merasa terkejut.
Dan sedikit lagi aku selesai dengan pekerjaanku, “He? apa yang kalian buat?” Tanya bu.Yani yang sudah berada dihadapan kami.
“Adam bisa kau bersihkan peralatan yang tersisa?” Tanyaku langsung mendapat respon cepat darinya, dan dia segera pergi kearah wastafel dan membersihkannya.
“Apa ini?” Tanya seorang gadis yang berdiri disamping bu.Yani lalu yang lainnya mulai merapat.
“Selesai ....” Ucapku sambil mengelap keringatku yang hampir jatuh melewati alisku.
“Woaah... Keren... benar-benar terlihat mahal.” Tutur Hana mendekatiku dan merangkulku dengan tangan kanannya.
“Cake, puding dan jus alpukat?” Tanya bu.Yani.
“Ya.” Jawabku sambil tersenyum, lalu bu.Yani melihat kemeja lainnya dan memperhatikan makanan yang dibuat oleh kelompok lain.
“Dalam waktu dua jam?” Tanyanya lagi.
“Dengan bantuan yang lainnya aku bisa menyelesaikanya lebih cepat. Jika dirumah, aku bisa membuatnya lebih lama dari ini ....” Jawabku.
“Darimana kau mendapatkan bahan-bahannya? dan dikemanakan sayurannya?” Tanya Nanami yang sudah berdiri disampingku.
“Kami membuat puding bayam.” Jawab Raka.
“Entah kenapa dimeja kami banyak bahan-bahan untuk membuat cake dan puding. Jadi kami membuatnya.” Lanjut Adam.
“Benarkah? apa aku salah membagikan bahan-bahannya ya? apa bahannya tidak merata ya?” Gumam bu.Yani sambil memegangi dagunya, berusaha mengingat kembali bahan-bahan yang tersedia disetiap meja.
“Ini laporannya ....” Ucap Raka memberikan laporannya kepada bu.Yani, “Sudah selesai?” Tanyanya sedikit terkejut.
“Ya.” Jawab Hana sambil menyeringai.
“Kalian mengerjakan laporannya sambil praktek?” Tanya bu.Yani merasa tak percaya.
“Jika tidak begitu, kami akan melupakan poin penting yang harus kami tulis kedalam laporannya.” Jelasku sambil melihat cake dihadapanku.
“Mejanya juga sudah bersih dan rapi.” Tutur Nanami sambil tersenyum.
“Cika mengarahkan kami dengan baik.” Tutur Hana dan Adam bersamaan.
“Maukah ibu mencobanya?” Tanyaku sambil memberikan cake yang ku buat bersama anggota kelompok ku, lalu bu.Yani pun mencobanya dan tersenyum pada kami berempat.
“Enak ....” Ucap bu.Yani membuat kami tertawa bersama.
“Sekarang kalian boleh pergi istirahat tapi sebelumnya bereskan dulu mejanya dan bersihkan kembali peralatannya, untuk makanannya bisa kalian habiskan, dan yang belum mengumpulkan laporannya. Saya tunggu sampai sore nanti.” Tutur bu.Yani sambil pergi dari ruang tata boga.
“Enak.” Ucap Hana setelah menyantap cake yang kami buat bersama, “Benar.” Lanjut Raka.
“Syukurlah ....” Gumamku merasa senang melihat mereka menyukainya, dan lagi ini cake pertama yang aku buat bersama teman-temanku, dan melihat mereka semua menyukainya membuatku sangat senang karena satu kelompok dengan mereka.
Bersambung...
__ADS_1