Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Dia Datang


__ADS_3

Seperti kata ibu kemarin malam, dia akan mengantarku kesekolah pagi ini. ketika aku berniat menunggu ibu didalam mobil yang sudah terparkir di luar rumah. Aku melihat Yuda yang baru sampai di depan rumahku, membuatku bergegas menemuinya.


“Pagi Cika.” Sapanya sambil tersenyum lebar.


“Kau benar-benar datang?” Gumamku tak bisa berkutik.


“Tentu saja.” Jawabnya dengan mantap.


“Ayo pergi Cika.” Ucap Ibu yang tiba-tiba keluar rumah membuatku refleks menepuk jidat.


“Aku lupa bilang, hari ini ibuku berniat mengantarku kesekolah.” Tuturku pada Yuda merasa bersalah.


“Tak masalah, aku bisa pergi kesekolah sendiri.” Ucapnya membuatku semakin bersalah.


“Siapa dia Cika? Temanmu?” Tanya Ibu yang sudah berdiri dibelakangku.


“Iya dia Yuda yang ku ceritakan kemarin malam.” Jawabku.


“Salam kenal tante.” Ucap Yuda sambil tersenyum.


“Mau berangkat sekolah ya? kalau gitu berangkat bareng aja, kebetulan hari ini tante bawa mobil.” Tutur Ibu sambil tersenyum dengan wajahnya yang berseri-seri.


“Ibu yakin mau antar Cika kesekolah? gak akan telat kekantor?” Tanyaku mencoba memastikan niatnya itu.


“Yakin ko sayang, ayo masuk kemobil nanti kalian kesiangan.” Tutur Ibu membuatku harus pergi kedalam mobil dan Yuda pun ikut masuk bersamaku.


Kamipun pergi kesekolah bersama, dan ibu terus mengoceh pada Yuda membuatku merasa malu melihat ibu yang mendadak antusias mengenai kehidupan SMA ku. Padahal dulu dia tidak mau tau soal kehidupanku disekolah.


“Ayolah ibu jangan membuat Yuda kebingungan.” Tuturku berusaha menghentikan ocehan ibu.


“Ibu hanya mengobrol biasa ko, kenapa kamu yang sewot?” Jelas ibu sambil menyetir, “Eh itu Nanami kan sayang?” Lanjut Ibu bertanya, belum sempat aku menjawab ibu sudah menghentikan mobilnya disamping Nanami membuat gadis itu kebingungan.


“Kita ajak berangkat bareng aja ya.” Tutur Ibu memutuskan seenaknya, lalu Kaca mobil disebelahku pun terbuka dan ibu mulai berteriak, “Nanami! ayo masuk.” Ucapnya.


“Tante.” Ucap gadis itu sambil tersenyum, kemudian masuk kedalam mobil. Duduk disebelah Yuda.


“Eh ada Yuda?” Ucapnya saat menyadari pria yang duduk disebelahnya.

__ADS_1


“Kalian saling kenal?” Tanya Ibu sambil menancap gas.


“Kami satu kelas kok tan.” Jawab Nanami.


“Bagaimana latihannya? sudah ada kemajuan?” Tanya Nanami kepada Yuda.


“Ya begitulah.” Jawab Yuda. Dan merekapun mulai membicarakan kegiatan klub-nya, ibu yang sibuk mengoceh mendadak jadi pendiam dan sesekali melihat kearahku.


“Ah ya sayang, ibu baru dapat telpon dari ayah kemarin malam. Katanya minggu ini dia akan pulang. Kamu seneng kan?” Tutur ibu berusaha mengajak ku bicara disela-sela pembicaraan Nanami dan Yuda.


“Ibu yakin ayah gak bohong?” Jawabku merasa malas membicarakanya.


“Ko kamu gitu sih ngomongnya?” Tanya Ibu sambil fokus menyetir.


“Ya kan selama ini ayah janjinya mau pulang minggu depan dari zamannya aku kelas 2 SMP. Sekarang bilang mau pulang minggu depan, beberapa bulan lalu juga bilangnya gitu. Cika capek dengernya.” Jelasku.


“Ayah kamu itu sibuk kerja Cika. Kamu gak boleh gitu, dia kerja juga demi kamu ....” Tutur Ibu terus membela ayah.


“Ia ayah dan ibu itu kerja demi Cika. Tapi gak pernah ada waktu buat Cika.” Jelasku sedikit emosi, dan entah sejak kapan Yuda dan Nanami berhenti mengobrol.


“CIKA!” Bentak ibu membuatku bungkam, dan saat itu kami sampai disekolah, ku turunkan semua perlengkapan klub ku dan bergegas meninggalkan ibu. Sedangkan Yuda dan Nanami sedang sibuk mengucapkan terima kasih pada Ibu.


“Perlengkapan klub. Kita bisa mulai menyiapkannya dan menghias ruang klub.” Jawabku.


“Aku bantu ya.” Tutur Anya meraih beberapa tas ditanganku. Dan kamipun pergi keruang klub untuk mempersiapkan semuanya.


***


Ujian tengah smester telah selesai dan semua orang mulai sibuk mempersipkan diri untuk festival sekolah yang tinggal dua hari lagi. Dan aku jarang masuk kedalam kelas karena sibuk mengurusi klub kesenian bersama Dinda dan yang lainnya.


Jam istirahatpun berbunyi, dan kami memutuskan untuk beristirahat dulu sebelum memasang beberapa dekorasi pelengkap. Akupun berniat pergi ke kantin, karena hari ini aku tidak membawa bekal dari rumah.


Dan saat diperjalanan menuju kantin, aku melihat Anya sedang makan bersama dengan Raka ditaman sekolah. Kemudian aku juga sempat melihat Yuda yang sedang berlatih bersama Nanami diatap sedangkan aku berdiri dikoridor sekolah lantai bawah.


“CIKA ....” Teriak Hana mengejutkanku, “Kenapa melamun?” Lanjutnya bertanya.


“Ngomong-ngomong bagaimana persiapan untuk parade kostumnya?” Tanya Adam yang datang bersama Hana.

__ADS_1


“Aku baru membuat setengah kostum.” Jawabku sambil menyembunyikan tanganku yang terlanjur diketahui oleh Hana, dan gadis itupun meraih tanganku untuk digenggamnya.


“Ada apa dengan semua jari tanganmu ini?” Tanyanya terlihat khawatir.


“Aku terlalu memaksakan diri akhir-akhir ini. jadi beginilah hasilnya ... tapi aku baik-baik saja ko.” Jawabku sambil tersenyum.


“Bodoh! padahal kau bisa meminta bantuan kami.” Tutur Adam sambil memukul kepalaku pelan.


“Kenapa hanya padaku kau menggunakan banyak tenaga?” Teriak Hana yang melihat Adam memukulku dengan pelan, padahal jika dengannya dia melakukannya tanpa ampun. Dan menyamakannya dengan pria.


“Aku harus segera kembali keruang klub, maaf tidak bisa banyak membantu di kelas.” Tuturku setelah membeli roti manis dikantin.


“Jangan memaksakan diri ya.” Teriak Hana sambil melambaikan tangannya kepadaku.


Sesampainya diruang klub, aku melihat Yuda yang sedang berbincang dengan ketua dan Ayumi.


“Syukurlah kau sudah kembali, dia mencarimu Cika.” Ucap Ayumi membuat Yuda menoleh kearahku.


“Kalau begitu aku pinjam Cika sebentar.” Tutur Yuda sambil berjalan kearahku dan membawaku pergi dari ruang kesenian.


“A–ada apa kau membawaku pergi?” Tanyaku memulai percakapan saat kami masih berjalan menuju atap, ‘bukankah diatap ada Nanami?’ Lanjutku dalam hati.


“Festivalnya dimulai besok lusa kan? dan kita sudah jarang berbincang, Cika juga tidak pernah datang ke kelas. Sesekali kita ngobrol bersama di atap. Nanami juga sudah menunggumu.” Jelasnya.


“Tapi pekerjaanku masih banyak ....” Ucapku berusaha melepaskan tangan Yuda namun dia tak membiarkanku dan mempererat genggamannya.


Tak lama kemudian kami sampai di atap dan Nanami masih berlatih flute saat aku sampai di atap.


‘Pasti ibu meminta mereka untuk menggangguku.’ Tuturku dalam hati.


“Kemarilah Cika.” Ucap Nanami sambil tersenyum padaku, “lihatlah dirimu yang berantakan, apa-apaan matamu itu? apa kau tidak pernah tidur belakangan ini? dan jarimu?” Lanjutnya membuatku tak ingin beranjak dari tempatku berdiri.


“Aku tidak tau kalian merencanakan apa, yang jelas pekerjaanku masih banyak. Dan aku tidak bisa mengecewakan teman-temanku, festivalnya besok lusa kan?” Tuturku berniat pergi dari sana namun Yuda segera mencekal tanganku.


“Istirahatlah sebentar Cika ....” Ucapnya dengan lembut.


“Aku akan istirahat diruang kesenian.” Tuturku melepaskan genggamannya dan pergi dari sana, menghindari mereka berdua adalah cara terbaik untuk menyembuhkan hatiku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2