Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Memilih


__ADS_3

Ku lihat Adam dan Raka didekat api unggun, dengan cepat aku mendekati mereka untuk menanyakan keberadaan Yuda.


“Cika?” Ucap Raka yang sudah melihatku sebelum aku mengatakan sesuatu, “Kau dari mana saja? wajahmu terlihat lelah juga ....” Lanjut Adam bertanya.


“Apa hari ini Yuda masuk sekolah?” Tanyaku pada mereka sambil mencoba mengatur nafasku yang sudah tersendat-sendat.


“Sekolah kok.” Jawab Raka.


“Terus dia dimana sekarang?” Tanyaku pada mereka.


“Dia ....” Tutur Adam segera melihat kearah panggung yang tersedia disamping lapangan sekolah membuatku ikut melihat kearah panggung itu.


“Yuda.” Gumamku saat melihatnya diatas panggung, mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu Cinta luar biasa dari Andnesh. Membuatku refleks melepaskan sepasang sepatu yang ku genggam saat berlari mendekati Raka dan Adam.


Ini pertama kalinya aku melihatnya bermain gitar dan menyanyikan sebuah lagu yang bisa membuatku menitikan air mata. Hatiku rasanya meleleh dan tubuhku melemas tertiup angin memperhatikannya di dekat Adam dan Raka.


“Cika?!” Suara Anya tak membuatku mengalihkan perhatianku dari pria yang ku cintai, hembusan anginpun menerpa rambutku dengan perlahan, “Ada apa dengan kakimu?” Lanjutnya membuatku melihat kedua telapak kakiku yang mengenakan kaos kaki putih sudah mendapatkan bercak merah dikanan kirinya, lalu ku rasakan perih di kakiku.


‘Aku tidak sadar lecetnya separah ini. tadi aku tidak memperhatikan kakiku saat memijatnya.’ Tuturku dalam hati.


“Ayo kita ke UKS. Aku akan mengobatinya dulu ....” Tutur Anya meraih tanganku.


“Tunggu Anya. Tunggu sebentar ....” Tuturku dengan tatapan memohon saat melihat Yuda yang sudah menghilang dari atas panggung.


“Tapi lukamu harus segera diobati.” Tutur Anya segera mendapat tepukan kecil dibahunya dari Raka, membuat gadis itu melepaskan tanganku. Dan saat aku melihat ke belakangku, mataku benar-benar tak bisa menahan air mata yang sudah ku bendung sejak tadi. Meski sempat menitik saat mendengar suara Yuda yang bernyanyi untuk ku, karena sejak tadi matanya terus menatapku.


“Yuda!” Ucapku segera berjalan mendekatinya dan memeluknya seerat mungkin.


“Ada apa Cika?” Tanyanya membalas pelukanku.


“Jangan menghilang lagi.” Tuturku membuatnya melepaskan pelukanku dan menatap kedua mataku.

__ADS_1


“Apa kau mencariku?” Tanyanya dengan tatapan tajamnya yang selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat ketika menatapnya.


“Kakimu?!” Lanjutnya segera menggendongku dipunggungnya.


“Yu–yuda! turunkan aku, ini memalukan!” Tuturku tak tahan menahan rasa malu.


“Anya bisa berikan sepatunya padaku?” Tanya Yuda membuat Anya memberikan sepatuku ketangan Yuda, dan diapun membawaku pergi dari lapangan menuju ke UKS.


***


“Jadi dia sudah menentukan pilihannya ya?” Gumam Raka sambil tersenyum melihat sahabatnya pergi dengan gadis pilihannya.


“Sepertinya mereka bisa saling melengkapi ....” Tutur Adam.


“Syukurlah akhirnya dia mendapatkan seseorang yang mencintainya dan mampu menyayanginya seperti itu.” Tutur Anya yang mendapat rangkulan dari Raka.


“Sepertinya kau terlihat bahagia ya.” Gumamnya segera mendapat cubitan keras dipipinya.


“Disini kau rupanya pemalas!” Teriak Hana sambil memukul kepala Adam dengan tangan kanannya.


“Apa sih?” Tanya Adam sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan yang diterimanya.


“Mereka mulai lagi ....” Gumam Anya saat melihat perdebatan mereka berdua.


“Kenapa kalian gak jadian aja sih?” Lanjut Raka ikut bergumam heran melihat kedekatan mereka.


***


 


“Kenapa lecetnya sampai separah ini? kemarin kan sudah diobati?” Tanyaku pada gadis yang duduk diatas tempat tidur ruang UKS, dan aku mengobatinya sambil duduk dikursi samping tempat tidur, Membiarkan kaki gadis itu menginjak pahaku.

__ADS_1


 


“Aku berlarian mencarimu sepanjang hari ....” Jelasnya membuatku melihat wajahnya yang menahan perih karena lecet dikakinya.


“Jadi kau mencariku sejak pagi?” Tanyaku merasa tak enak padanya karena tak ada disaat dia membutuhkanku.


“Aku ingin memberikan jawaban mengenai pertanyaanmu kemarin. Tapi aku tak menemukanmu dimanapun.” Jawabnya.


“Jadi apa jawabanmu?” Tanyaku sambil membalut luka lecet di kedua kakinya, dan berusaha menyembunyikan rasa maluku. Wajahku terasa panas saat ini karena kejujuran yang tersirat dimatanya.


“Aku ....” Jawabnya terhenti membuatku mencuri-curi pandang darinya yang sedang menunduk menutupi rona merah diwajahnya, “Aku–mencintaimu. Kau tau itu, jadi ... aku mau menjadi pacarmu, aku akan berusaha menjadi pacar yang baik untukmu ... dan aku ....” Lanjutnya masih dengan malu-malu membuatku refleks meraih kepalanya dan mengusap rambutnya sehalus mungkin.


“Yu–yuda?” Ucapnya tergugup.


“Ma–maafkan aku. Aku benar-benar ....” Jelasku tergugup membuatnya tertawa kecil, lalu membuatku ikut tertawa bersamanya.


***


“Lalu bagaimana dengan Nanami?” Tanyaku yang berjalan disamping Yuda, kami memutuskan untuk pulang bersama menuju stasiun, meski arah kami berbeda.


“Aku sudah menolaknya siang tadi ....” Jawabnya.


“Lalu kemana kau pergi? kenapa aku tidak bisa menemukanmu dimanapun?” Lanjutku masih bertanya.


“Aku menemani Raka dan Adam berkeliling sekolah, lalu mampir ke parkiran untuk memeriksa sepeda Adam. Dia bilang rantainya lepas pagi tadi, jadi kami memperbaikinya bersama. Setelah itu kami sempat beristirahat di UKS dan pergi kedekat panggung.” Jelasnya sambil mengingat kejadian siang tadi.


“Aku lupa memeriksa UKS.” Gumamku segera mendapat gandengan tangan darinya dan diapun tersenyum hangat padaku.


“Terima kasih ....” Tuturnya, “Karena sudah mencariku dan menerimaku.” Lanjutnya membuat mataku tak bisa berpaling darinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2