Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Cika atau Nanami?


__ADS_3

“Sudah ku duga ... sepertinya aku memang lebih menyukai Cika daripada Nanami.” Gumamku yang terus memperhatikan punggung Cika yang sibuk mencari sesuatu dilokernya.


 


“Oiii!” Gebrak Raka mengejutkanku, “Ada apa sih? pake gebrak-gebrak meja segala?” Tanyaku merasa kesal dengan kelakuannya.


 


“Loe yang kenapa? kita tunggui di kantin dari tadi juga. Tapi loe gak dateng-dateng.” Tutur Raka bersungut-sungut.


“Gue lupa, sorry sorry.” Jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.


“Loe keterlaluan ya Yud.” Ucap Adam dengan wajah datarnya sambil merangkulku dari samping dan mengacak-ngacak rambutku.


“Ampun Dam ampun ... gue lupa, sorry napa.” Tuturku memohon ampun dan terus meronta meminta dilepaskan darinya.


“Yuda ketua klub memanggil kita.” Tutur Nanami menghentikan Adam, dan aku sangat tertolong dengan hal itu.


“Baiklah, Gue pergi ke klub dulu ya.” Tuturku pada Adam dan Raka.


Sesampainya diruang klub, kami langsung ikut berkumpul dengan anggota lainnya yang sedang mendapat arahan dari pelatih sekaligus pembibing klub musik, Pak.Arman.


‘Sepertinya jadwal latihan akan tetap padat meskipun festival sebentar lagi.’ Batinku sambil berkeringat dingin.


Waktupun berlalu dengan cepat, sekolah sudah berakhir namun aku harus kembali ke ruang klub untuk mengikuti latihan sore hari ini. dan anak-anak dikelas masih sibuk menentukan kostum apa yang akan mereka pakai dan mendatanya agar anak perempuan bisa membuatkannya, dan aku lupa memberitau Adam soal kostum yang akan aku kenakan nanti.


Sesampainya diruang klub, Pak.Arman meminta kami untuk melakukan latihan masing-masing. Dan aku memutuskan untuk berlatih di atap, namun saat sampai disana aku mendengar permainan flute Nanami.


“Inikan bukan musik yang akan kami bawakan di acara kompetisi nanti, kenapa Nanami memainkan musik lain?” Gumamku saat mendengarkan permainannya secara diam-diam, “perasaannya kepada musik ... dan musik yang dibawakannya kali ini ....” Lanjutku saat menyadari perasaan Nanami yang dicurahkan pada permainannya itu.

__ADS_1


“Apa dia sedang mencoba memberitauku mengenai perasaannya melalui musik? perasaan terdalamnya akan diriku,” gumamku sambil mengeratkan pegangan pada trombon yang ku pegang, “sangat indah dan hangat.” Lanjutku merasa tersentuh.


Kemudian aku memutuskan pergi dari sana dan pergi ketempat lain agar aku bisa mulai berlatih dengan serius.


‘Aku benar-benar bodoh, padahal dia sudah memberikanku surat mengenai perasaannya selama tiga tahun terakhir ini. tapi aku masih meragukan perasaannya dan menggantung perasaannya, apa ini berarti aku harus menerimanya?’ Batinku terus memikirkan Nanami, perasaannya yang tulus dan bersabar dalam mencintaiku secara diam-diam selama hampir empat tahun lamanya.


***


“Buka stand sketsa wajah?” Teriak Anya dengan ekspresi terkejutnya.


“Ya. Kau bisa mengurusnya dengan Cika dan Ayumi, kalian kan ahlinya dalam membuat sketsa dan lukisan wajah. Sisanya kami yang urus, selain membuka stand itu. Kami juga menyiapkan beberapa hal yang bisa dipamerkan saat festival sekolah nanti, seperti barang-barang yang memiliki nilai seni yang bagus. Pokoknya sesuatu yang membuat orang tidak bosan jika berlama-lama didalam ruang kesenian.” Jelas ketua klub.


“Haaa... merepotkan, tunggu! sejak kapan aku menjadi anggota klub kalian?” Teriak Anya merasa terkejut.


“Sejak kau sering datang kesini dan membuat keributan” Jawab ketua klub dengan mantapnya.


“Heeee....?! tidak mau ah. Aku mau bergabung dengan klub manga saja.” Jelas Anya sambil bermalas-malasan dipangkuan Cika.


“Lupakan para pemalas itu, kita berlanjut pada kostum apa yang akan kita kenakan saat festival nanti?” Tutur ketua klub yang super ceria itu.


"Sudah jelas kan, pasti kostum yang berhubungan dengan Seni. Tapi seragam sekolah saja sudah cukup, kita bisa buktikan pada pengurus osis kalau anak kesenian juga bisa menjadi contoh yang baik dalam berpakaian." Lanjut Ayumi sambil membereskan kanvas yang baru dibelinya.


“Tidak seru dong ....” Rengek Dinda sang ketua klub, “bagaimana menurutmu Cika?” Lanjutnya sambil menunjuk kearahku.


“Dari tadi kau hanya diam dan mengangguk saja.” Lanjut Anya.


“Yang manapun boleh. Tapi kalau kostume, apa ketua yakin kita harus menggunakannya? maksudku kita hanya memandu para tamu untuk berkeliling dan aku yang bertugas menjaga stand dan melakukan sketsa wajah harus menggunakan celemek untuk melindungi pakaianku agar tidak kotor terkena cat air. Dan pakaian apapun yang kami gunakan, pasti tak akan diperhatikan oleh para pengunjung.” Jelas Cika selembut mungkin.


“Kau benar,” ucapnya menyetujui penjelasan gadis itu, “baiklah kita pakai seragam sekolah saja, dan kita siapkan beberapa celemek baru untuk para pengunjung. Siapa tau ada yang ingin mencoba belajar melukis, dan kita bisa mengajarinya juga.” Lanjutnya dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


“Sepertinya menarik, aku tak sabar untuk itu.” Tutur Anya ikut bersemangat setelah mengeluh dengan keputusan Dinda.


Ting...tong...


Bel sekolah sudah berbunyi, waktu juga sudah menunjukan pukul enam sore, dan semua siswa/i yang mengikuti kegiatan klub harus segera pulang kerumah dan disekolah tak boleh ada aktivitas lain setelah jam enam. Jadi kami memutuskan untuk pulang, dan melanjutkan diskusinya pada pertemuan berikutnya.


“Hai Cika.” Sapa Nanami mengejutkan gadis itu


“Hai.” Balasnya menyapa Nanami.


“Jadi arah kalian pulang sama ya.” Tutur Yuda mengejutkan Cika, karena sejak tadi fokus gadis itu hanya tertuju pada Nanami dan langkahnya.


“Yu–yuda?” Ucap Cika tergugup.


‘Jadi mereka pulang bersama, mungkinkah Yuda sudah memutuskan jawabannya ... tapi dia bilang perasaannya terhadap Nanami sudah berubah, mungkinkah dia berniat menolaknya?’ Batin Cika bertanya-tanya sambil melihat mereka yang berjalan disamping kanannya sambil mengobrol.


‘Tapi ekspresinya tidak menunjukan tanda-tanda dia akan menolaknya, mungkinkah perasaannya berubah lagi? Arrgh... aku jadi bingung, kenapa dia sulit sekali ditebak.’ Lanjutnya mengoceh dalam hati.


‘Tapi ... bukankah seharunya aku mengkhawatirkan perasaanku terhadap Yuda? jika Nanami jadian dengannya, maka ....’ Batin Cika mengakhiri ocehannya.


***


Satu bulan berlalu dengan cepat, dan Nanami terlihat akrab kembali dengan Yuda. Entah apa yang sudah terjadi pada mereka berdua, tapi rasanya aku mengerti dengan situasi seperti ini. mereka dalam klub yang sama sejak SMP, dan bukan hal asing jika tiba-tiba mereka jadian karena cinlok.


Mungkin ini sebuah tanda jika aku harus menyerah sekarang, karena akan sangat menyakitkan jika diteruskan. Dan lagi belakangan ini aku selalu mendengar permainan musik Nanami disekitar sekolah saat jam istirahat kegiatan klubnya, mungkin dia meluapkan semua perasaanya pada permainanya itu. Dan Yuda mendengarnya secara tak sengaja, lalu dia tersadar akan perasaannya.


Aku tidak terlalu mengerti dengan musik dan perasaan yang ada didalamnya, tapi kebanyakan musisi berbicara melalui musik dan permainannya untuk membuat orang lain mengerti dengan perasaannya saat itu. Mereka mengekspresikan dirinya melalui musik, dan aku? entahlah... lukisan bukan caraku mengekspresikan diri, mungkin hanya sekedar hobi yang sia-sia.


Bersambung...

__ADS_1




__ADS_2