![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
Hari ini aku datang ke sekolah untuk memenuhi janjiku pada Yuda dan Nanami, meski aku masih sedikit kesal pada mereka. Disisi lain, aku juga harus berusaha mencari waktu yang tepat untuk berbicara berdua dengan Yuda. Mengingat Ibu masih keras kepala soal kepindahan sekolah ku yang harus segera diselesaikan secepatnya.
Sejak aku bilang, aku harus mengikuti festival olahraga bersama Anya. Mendadak Ibu jadi tenang, tapi ada sesuatu yang membuatku takut dari sikap tenangnya. Mungkin saja dia mempersiapkan segalanya diam-diam, dan aku tidak ingin itu. Jadi setidaknya aku harus memberitau Yuda soal kepindahanku ke London.
‘Semoga saja ibu tidak melakukan sesuatu yang tidak aku sukai.’ Batinku sambil menatap langit biru, ‘sepertinya mereka belum mulai berlatih? masih melakukan pemanasan ya...’ Lanjutku masih dalam hati saat melihat klub musik berlarian keliling lapangan dengan menggunakan seragam olahraga dan setelah itu mereka langsung pergi ketenda dan memainkan alat musik mereka disana, dengan nafas yang tak beraturan mereka memainkannya, sebagian dari mereka berhasil memainkanya dengan baik.
Disisi lain aku juga mendengar suara musik yang begitu bersemangat berasal dari aula, “Apa itu musik dari klub dance? jadi mereka mempersiapkannya jauh-jauh hari juga?” Gumamku mendengarkan beberapa lagu yang mereka gunakan untuk dance.
“Hay Cika.” Sapa Nanami diikuti Yuda yang berjalan dibelakangnya.
“Selamat datang. Ini aku bawakan makanan untuk kalian sesuai janjiku.” Tuturku sambil memberikan kotak bekalku pada mereka.
“Asik... terima kasih.” Ucap Nanami begitu senang dan langsung membuka kotak bekalnya.
“Kalian belum mulai bermain?” Tanyaku.
“Ya. Setelah ini kami akan bermain diruang musik, sepertinya kau tidak bisa melihat kami berlatih disana... maafkan aku.” Jawab Yuda tampak menyesal.
“Tidak perlu dipikirkan, aku akan menunggu diluar dan mendengarkan permainan kalian dari sini, pasti suaranya sampai kesini,” jelasku sambil tersenyum padanya, “latihannya yang semangat ya” Lanjutku berusaha membuatnya kembali bersemangat.
“Ini benar-benar enak ” Ucap Nanami membuatku tersipu.
“Benar, rasanya semakin lama aku memakannya rasanya semakin membaik. Terakhir kali aku memakan bekalmu, rasanya berbeda dari bekal yang kau buat hari ini. rasanya berbeda-beda setiap aku memakannya ....” Lanjut Yuda sambil merasakan makanan didalam mulutnya.
“Apa kau mempunyai resep rahasia?” Tanya Nanami.
“Tidak tidak, itu tidak benar. Aku hanya mengikuti resepnya dan hasilnya seperti ini, ku pikir Yuda akan bosan memakan bekalku jika rasanya sama seperti sebelum-sebelumnya. Jika rasanya berbeda setiap harinya, dia akan menantikannya kan?” Jelasku sambil melihat rona merah diwajah kekasihku itu.
“Oiii kalian, kita akan latihan diruang musik cepat bergegas!” Teriak seseorang dipinggiran lapangan.
“Kami akan segera menyusul!” Balas Nanami sambil berteriak.
“Kami pergi dulu ya. Terima kasih makanannya.” Tutur gadis itu sambil memberikan kotak bekal itu ketanganku, begitupun dengan Yuda.
“Semangatlah kalian!” Ucapku pada mereka sebelum mereka bergegas, dan merekapun tersenyum padaku.
Ku masukan kotak bekalku kedalam tas sekolahku, dan menikmati tiupan angin siang ini. tak lama kemudian aku mendengar permainan musik diruang musik, permainan yang benar-benar bagus dan mampu menghipnotis para pendengarnya, dengan permainan mereka yang seperti ini. mereka pasti bisa membuat banyak siswa/i baru bergabung dengan klub musik.
“Mereka belum juga selesai?” Gumamku saat melihat jam digital dilayar handphoneku, sudah hampir satu jam mereka berlatih tapi belum juga selesai. Dan permainan musik mereka sudah ku dengarkan sebanyak tiga kali, dan sekarang aku merasa bosan.
__ADS_1
“CIKA!” Teriak seseorang dikoridor sekolah mendekatiku.
“Ali?” Gumamku saat melihatnya berdiri dihadapanku.
“Sedang apa disini? inikan hari libur ....” Tanyanya masih berdiri dihadapanku.
“Aku datang untuk melihat latihan klub musik, dan membawa makanan untuk Yuda dan Nanami. Kau sendiri sedang apa disini? bukannya tadi berlatih di aula.” Jawabku masih duduk di bangku taman sekolah.
“Kami baru saja beristirahat.” Jelasnya ikut duduk disebelahku sambil meminum air yang dibawanya.
“Ah ya bisa kau bantu aku?” Tanyaku membuatnya terkejut, “sebenarnya hari ulang tahun Yuda kali ini bertepatan dengan acara puncak festival olahraga dihari kedua, aku ingin memberikannya kejutan.” Lanjutku membuatnya tak bisa berkutik untuk beberapa saat.
“Ali?” Ucapku sambil menepuk lututnya.
“I–ide bagus! sekali-kali kita harus merayakan hari kelahirannya bersama.” Jawabnya setelah sadar dari lamunannya.
“Aku juga akan meminta bantuan pada yang lainnya, apa kau ada ide untuk perayaannya?” Lanjutku mengoceh sambil memegangi daguku, dan beralih pada handphone yang baru ku keluarkan dari dalam tas kecilku.
“Kita diskusikan bersama yang lainnya saja, pasti akan banyak menghasilkan ide,” jelasnya sambil tersenyum lebar dan mengeluarkan heandphone-nya lalu mengundangku kedalam grup baru tanpa Yuda disana, “dengan begini kita bisa bebas berbicara tanpa diketahui oleh Yuda.” Lanjutnya masih tersenyum membuatku ikut tersenyum bersamanya.
***
“Bukan masalah ... bagaimana dengan latihannya?” Tuturku sambil tersenyum.
“Benar-benar melelahkan.” Jawab Nanami sambil menghela napas mewakili Yuda.
“Heee...” Gumamku melihat ekspresi Nanami, entah kenapa dia lebih dekat dengan Yuda dan selalu nempel padanya, lebih nempel dari biasanya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi seperti ini. mungkin karena mereka berteman sejak SMP, jadi mereka terlihat sangat dekat dan akrab. Dan itu membuatku jengkel.
‘Tapi kenapa? padahal dia tau aku sudah jadian dengan Yuda ....’ Batinku sambil memperhatikan Nanami yang terus memperhatikan Yuda.
“Mau mampir kesuatu tempat?” Tanya Yuda sambil meraih kepalaku.
“Ide bagus, emh... apa kita bisa pergi makan? sudah lama kita tidak makan bersama semenjak pisah kelas.” Jawabku tak bisa menyembunyikan rasa senangku.
“Hooo... makan, kebetulan sekali aku juga sedang lapar,” tutur Yuda sambil tersenyum lebar, “Kau mau ikut juga?” Lanjutnya sambil melirik kearah Nanami.
“He? Boleh?” Tanyanya.
“Tentu saja.” Jawab Yuda membuatku sedikit kecewa karena dia mengajak gadis itu, padahal aku sangat ingin bersama Yuda selama makan sore ini. rasanya aku kesepian karena tak pernah diperhatikan olehnya, dan lagi aku harus membicarakan soal kepindahanku padanya, tapi lagi-lagi tidak bisa.
__ADS_1
Kamipun pergi makan bersama di kafe dekat stasiun dan banyak berbincang soal persiapan festival olahraga yang tinggal satu minggu lagi. Dan soal latihan mereka yang membuatku tak bisa terlibat dalam percakapan mereka karena mereka sibuk membicarakan soal musik yang akan mereka bawakan saat festival sekolah nanti. Entah kenapa aku merasa sebagai orang ketiga yang mengganggu mereka.
“A–anu... Yu–Yuda...” Lanjutku saat memikirkan soal kepindahanku ke London, “Bi–bisakah weekend berikutnya kita pergi bersama?” Lanjutku menjelaskan maksudku saat dia memperhatikanku.
“Hoo... Kencan, enaknya ....” Tutur Nanami sambil tersenyum.
“Weekend berikutnya ya ...,” gumamnya sambil memeriksa heandphonenya, “Ternyata benar, ma–maaf hari itu aku ada acara reuni bersama teman SMP ku. Reunian anak kelas lebih tepatnya.” Lanjutnya menjelaskan.
“Ha. Aku hampir lupa!” Ucap Nanami langsung memasang ekspresi terkejutnya.
“Kalau begitu ha–hari berikutnya sepulang sekolah.” Tuturku menahan malu.
“Tidak bisa, kami harus mulai latihan serius untuk festival sekolah dan kompetisi berikutnya, kompetisi terakhirku ....” Jelas Yuda membuatku sedikit kesal sampai aku harus meremas rok yang ku kenakan, entah kenapa dia tak pernah berusaha meluangkan waktu untuk ku.
“Ho... semoga berhasil. Aku yakin tahun ini klub musik bisa memenangkan mendali emas ... kalian semangatlah latihannya oke.” Jelasku berusaha untuk tetap tersenyum dan menyemangati mereka berdua. Dan kembali menyantap makananku, tak lama kemudian heandphoneku berdering dengan cepat aku membaca pesan masuk dari ibuku.
From : Mom
Ibu sudah mencarikan sekolahan yang bagus untukmu di London, ayahmu juga sangat bahagia mendengar kita akan pindah ke London dan menetap bersamanya.
‘Pembahasan soal kepindahan lagi. Tu–tunggu! aku tidak pernah menyetujui rencana kepindahan ini. ke–kenapa ... jadi benar ibu bertindak sendiri lagi?’ Batinku merasa was-was.
“Ada apa cika?” Tanya Nanami menyadarkanku, dengan cepat aku memasukan heandphoneku kembali kedalam tas kecilku.
“I–ibuku mengirimkan pesan untuk ku, aku sudah kenyang... sebaiknya aku pulang sekarang, kau mau pulang bersama Nanami?” Jelasku.
“Heee... sudah mau pulang lagi? sebenarnya ada barang yang harus aku beli. Sebaiknya kau pulang duluan saja, aku bisa pulang sendiri. Kau akan mengantarnya pulang kan Yuda?” Tutur Nanami sambil melirik kearah Yuda diakhir kalimatnya.
“Sebenarnya ibuku juga memintaku berbelanja sepulang latihan. Maafkan aku Cika ....” Lanjut Yuda terlihat menyesal.
“Hee... padahal kalian jarang sekali terlihat bersama semenjak pisah kelas. Apa kau tidak merindukan saat-saat berdua dengan Cika?” Tutur Nanami dengan ekspresi kecewanya.
“Tidak masalah, Yuda hanya sedang sibuk saja. Aku bisa mengerti dengan kegiatannya, lagipula aku juga bisa pulang sendiri... kalau begitu sampai nanti.” Tuturku sambil berusaha untuk tetap tersenyum didepan mereka, ‘Dasar tidak peka!’ Lanjutku dalam hati sambil meninggalkan mereka.
“Hati-hati ya dijalannya!” Teriak Nanami sebelum aku meraih pintu kafe.
“Kau akan belanja kemana?” Suara Yuda, “biar sekalian ku temani, kau juga bisa membantuku mencarikan bahan makanan yang bagus.” Lanjutnya tak terdengar lagi olehku.
‘Padahal kau bisa memintaku menemanimu, aku juga tidak akan menolak!’ Batinku semakin kesal.
__ADS_1
Bersambung...