Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Hujan dan Pertemuan


__ADS_3

Ku rasakan tetesan hujan yang mulai turun diacara festival, semua orang sibuk mencari tempat berteduh dan baru saja aku mengalihkan perhatianku dari Raka, Yuda dan Anya. Mereka sudah menghilang, dan aku berlari kedekat stand makanan. Berteduh dengan beberapa orang disana.


Kemudian telingaku menangkap alunan musik yang menggema didekat danau, dan saat itu beberapa orang berbicara soal festival tahunan yang berbeda. Karena tahun ini ada beberapa orang yang ikut memeriahkannya. Ada beberapa sukarelawan yang tampil dari SMA berbeda. Semacam ajang pertunjukan bakat.


“He... jadi ada yang seperti itu juga?” Gumamku yang mendengarkan pembicaraan mereka.


“Meskipun dibawah hujan. Mereka tetap melakukan pertunjukan ya.”


“Aku jadi penasaran. Ayo kita pergi kesana!”


“Ayo kita lihat pertunjukannya.”


“Ayo pergi!”


Begitulah yang ku dengar, ‘Hujannya tidak terlalu besar, tapi tidak gerimis juga ....’ Batinku sambil melentangkan tangan kananku untuk menangkap tetesan hujan yang jatuh.


“Kau disini?” Tanya Dinda mengejutkanku, dia datang bersama Ali.


“Ya. Hujannya turun tiba-tiba.” Jawabku sambil tersenyum.


“Ayo pergi kedekat danau. Kita lihat pertunjukan disana.” Ajak Dinda yang dipayungi Ali oleh jaket hitamnya, dan aku segera mengenakan tudung jaket yang ku kenakan.


Kamipun pergi kesana dan melihat pertunjukan disana, “Itukan klub dance sekolah. Jadi mereka ikut acara ini?” Oceh Ali saat melihat sekelompok orang yang sedang melakukan dance diatas panggung yang disediakan, tidak terlalu tinggi. Hanya dua anak tangga tingginya, itupun tanpa tenda.


“Sepertinya mereka belum datang.” Ucap Dinda melihat ke kanan dan ke kiri, lalu tak lama kemudian Raka dan Anya datang. Dan pertunjukan dance pun berakhir, kini aku melihat Nanami diatas panggung. Dia mulai menyanyikan sebuah lagu yang mampu membuatku terpaku ditempat, melihatnya dan mendengarkan nyanyiannya.


“Jadi dia juga ingin menunjukan bakatnya ya.” Tutur Hana yang baru tiba.


“Sepertinya para perempuan sudah membuat kalian kerepotan ya.” Tuturku yang melihat Raka, Adam dan Ali yang memayungi Anya, Hana dan Dinda dengan jaketnya.


“Ya karna hujannya turun mendadak.” Jawab Ali terkekeh.


“Tapi kalian kompak mengenakan jaket ya.” Tuturku membuat mereka saling melirik satu sama lain.


“Ya sebenarnya, Raka baru membeli jaketnya distand disana.” Jelas Anya sambil menunjuk stand pakaian dibelakangnya.


“Benar. Aku baru sadar kalau tadi Raka datang tanpa jaket, tapi kenapa tidak membeli payung saja ?!” Tuturku merasa dibodohi karena baru saja kami melewati tempat penjualan payung, meskupun payung bergambar karakter manga.


“He itu ... aku tidak ingat butuh payung, dan lagi aku mengincar jaket ini sejak lama. Jadi aku membelinya.” Jelas Raka bergitu bersemangat membuat kami tertawa melihat ekspresinya itu.


“Tapi kau beruntung karena memakai jaketmu.” Tutur Adam.


“Jika bisa aku juga ingin membawa payung, bukan sekedar mengenakan jaket.” Jelasku membuatnya menghela nafas pasrah, karena diapun tidak membawanya. Bukan hanya dia, tapi semua orang yang datang bersamanya.


Ku lihat Ali memperhatikan Nanami dengan serius sambil memegangi jaket lengan pendeknya, ‘Apa dia menyukai Nanami?’ Batinku bertanya-tanya saat melihat matanya yang begitu fokus memperhatikan gadis itu.

__ADS_1


“Ayo kita kedepan dan melihat lebih deka.t” Saran Hana sambil bergegas bersama Adam, di ikuti oleh Dinda dan Ali, tapi aku masih berdiri ditempatku. Tak bergerak sedikitpun.


“Apa kau tidak akan pergi?” Tanya Anya mengejutkanku.


“Aku akan menunggu disini saja, kalian pergilah.” Jawabku saat melihat Yuda membantu Nanami menuruni panggung dan memayunginya dengan jaketnya, kemudian berjalan kearah Ali dan Dinda.


“Apa yang kau lihat?” Tanya Raka membuatku mengalihkan perhatianku, dengan cepat aku meraih heandphone ditas kecilku dan membuka lookscreen nya.


“Yuda ... apa yang dia lakukan?” Tanya Anya yang mengerti dengan perubahan sifatku.


“Sudah pukul sembilan. Aku harus segera pulang.” Tuturku mengalihkan perhatian mereka.


“Kau benar. Hujannya juga semakin deras...” Tutur Nanami yang sudah berdiri disampingku masih dipayungi oleh Yuda.


“Kenapa kau dipayungi Yuda?” Tanya Anya mewakili rasa penasaranku.


“Dia tidak membawa jaket ataupun payung. Jadi ku pikir aku akan berbagi jaket dengannya, karena Cika kan sudah memakai Jaket.” Jelas Yuda sambil menyeringai.


“Tapi dia sudah basah kuyup karena naik keatas panggung itu.” Jelas Anya sambil melihat kearah panggung terbuka tanpa tenda didekat danau.


“Ini pakailah ini.” Ucap seseorang dibelakangku, membuat mereka semua mematung. Dan aku juga tak merasakan tetesan hujan yang membasahi rambutku, dengan cepat aku membalikan tubuhku dan melihat seseorang yang memayungiku.


“Mira ....” Ucapku bersamaan dengan teriakan Anya yang sumringah.


“Lama tak bertemu.” Tuturnya sambil tersenyum.


“Band ku.” Jawabnya membuatku nostalgia.


“Wah... apa kalian juga akan unjuk kemampuan?” Tanya Anya dengan mata berbinar-binar.


“Kalau itu sih...” Jawabnya terpotong saat seseorang melompat kearahku dan memeluk ku dengan erat, “A-apa ?” Gumamku merasa sesak.


“Cika cika cika cika...” Ocehnya begitu bersemangat.


“Ayolah Sindy lepaskan dia. Dia tidak bisa bernafas!” Tutur Mira sambil menjauhkanya dariku.


“Heee... aku kan masih rindu padanya. biarkan aku memeluknya lagi.” Rengek Sindy.


“Sindy!” Ucap Anya langsung mendapat pelukan dari gadis itu dan mereka mulai mengoceh bersama.


“Pertemuan di malam festival ya?” Ucap seorang gadis dengan payung merah dan tersenyum padaku.


“Disty?” Tanyaku.


“Jadi?” Tanya Mira membuatku bingung, “Kenapa kita tidak melakukannya lagi?” Lanjutnya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


“A-apa maksudnya?” Tanya Nanami membuat perhatian Mira dan yang lainnya teralihkan.


“Siapa mereka? apa mereka teman-temanmu?” Tanya Disty.


“Ya. Mereka teman-temanku, Nanami, Yuda, Raka.” Jawabku sambil memperkenalkan mereka.


“Dan?” Tanya Sindy kepada Anya.


“Di-dia kekasihku.” Jawab Anya sambil melihat Raka.


“Salam kenal.” Sapa Raka dengan senyumannya itu.


“Hee... kau sudah punya pacar?” Tanya Sindy, “Curang! kenapa tidak pernah memberitauku...” Lanjutnya mengoceh.


“Maaf maaf.” Sesal Anya.


“Ini kami bawa dua payung. Kau bisa mengenakannya, jangan sampai demam, terakhir kali kita berkumpul hujannya juga seperti ini. dan kita semua lupa membawa payung, besoknya kau demam tinggi.” Tutur Disty sambil memberikan satu payung ketanganku dan ketangan Anya.


“Ah ya, saat itu aku berpikir kau seperti nenek-nenek mudah demam dengan hujan.” Lanjut Mira meledek ku.


“Ayolah itukan sudah lama ....” Ucapku mulai kesal karena mereka terus saja membahas soal diriku, “Ini, kau bisa menggunakannya.” Lanjutku memberikan payung itu pada Nanami.


“Bagaimana denganmu?” Tanyanya saat menerima payung dariku.


“Mau bagaimana lagi, pakai ini! aku akan nebeng dengan Disty.” Jelas Mira sambil berjalan kedekat Disty.


“Kalian! sebentar lagi bagian kita.” Tutur seorang gadis berambut blonde datang dari arah danau bersama seorang gadis berambut hitam berkucir dua.


“Ya kami akan segera menyusul.” Teriak Sindy.


“Hee... jadi kalian sudah menemukan penggantinya ya.” Tutur Anya sambil tersenyum.


“Begitulah.” Jawab Disty.


“Meski kami berharap pada kalian, keputusan kalian tidak akan pernah bisa berubah kan? jadi kami memutuskan untuk melanjutkannya meski tanpa kalian.” Jelas Mira sambil tersenyum sedih.


“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kalian masih bisa melakukan apa yang kalian sukai.” Tuturku sambil tersenyum pada mereka.


“Oiii ketua! cepatlah.” Teriak kedua gadis itu membuat mereka bergegas.


“Kalau begitu kami duluan ya.” Tutur Mira mengikuti yang lainnya.


“Yah, tak ku sangka mereka masih bersinar seperti dulu ....” Tutur Anya sambil memperhatikan mereka.


‘Mira, Sindy, Disty’ Batinku tak bisa mengalihkan perhatianku dari mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2