![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
Sudah tiga hari aku menghindari Yuda karena kesal padanya, dan dia juga tak berusaha untuk menemuiku. Jadi aku tak berniat menemuinya dan mengganggu kesehariannya dengan Nanami. Mungkin kali ini yang dia butuhkan adalah seseorang yang mengerti banyak soal musik bukan seorang seniman amatiran sepertiku.
“Kau disini rupanya ... kenapa kau tidak ikut membahas soal rencana perayaan hari ulang tahun Yuda? padahal kau yang sangat ingin merayakan hari ulang tahunnya.” Tutur Anya mengejutkanku.
“Aku sudah menyetujui ide kalian, jadi aku serahkan semuanya pada kalian saja.” Jelasku membuatnya memajukan bibirnya dan menghentikan langkahku.
“Apa kau bertengkar dengan pacarmu itu hah?” Tanya Anya membuatku memalingkan wajahku darinya, “sudah jelas kau kesal padanya. apa yang kalian ributkan?” Lanjutnya sambil berkacak pinggang dihadapanku.
“Aku sedang tidak ingin membahasnya, yang lebih penting hari ini aku harus mulai mempersiapkan diri untuk kembali melukis.” Jelasku mengalihkan perhatiannya.
“Benar juga, kemarin Dinda bilang kalian berhasil masuk kefinal ya ....” Gumamnya.
Tak lama kemudian kami mendengar teriakan suara yang tak asing, dan kini ku rasakan seseorang memeluk ku dari belakang.
“Hana?!” Ucapku bersamaan dengan Anya, “Selamat ya, ku dengar Kalian berhasil lolos ke babak selanjutnya.” Lanjut Hana sambil tertawa dan melepaskan pelukannya.
“Ya begitulah, terima kasih ....” Tuturku merasa malu.
“Ada apa? tumben-tumbenan wajahmu ditekuk begitu?” Tanya Hana kepada Anya yang terlihat serius memikirkan sesuatu.
“Anya?” Tanyaku ikut heran melihatnya yang begitu serius.
“Cika?” Ucapnya membuatku terkejut, “untuk festival olahraga nanti. Bukankah dihari pertama kalian harus menyerahkan karya lukis kalian? terus pertandingan maraton sama voli-nya gimana? pagi-pagi kita harus bertanding voli lawan kelasnya Ayumi loh.” Lanjutnya begitu panik.
“Ha! benar juga.” Lanjut Hana ikut panik.
‘Mereka ini ... aku kira dia mikirin apaan?’ Batinku merasa lega dengan sikap Anya yang masih sama seperti biasanya.
“Tenang saja, aku dan Dinda berencana menyerahkan lukisannya saat jam istirahat. Makanya sekarang aku harus mulai melukis lagi, soalnya kali ini kami harus berkolaborasi.” Jelasku membuat mereka bernafas lega dan membuatku tersenyum juga saat melihat ekspresi mereka.
***
Setelah berbincang didalam kelas bersama Anya dan Hana, kini aku berencana pergi keruang kesenian untuk menemui Dinda, sebelumnya aku mendapat pesan dari gadis itu. Jadi aku memutuskan untuk segera menemuinya.
“Kau mau kemana Cika?” Tanya Hana membuatku terkejut.
“Kalian mengikutiku?” Tanyaku kepada Hana dan Anya yang terkikik melihat ekspresi terkejutku.
“Jadi? Kau mau kemana?” Tanya Anya meminta jawaban.
“Ke ruang klub.” Jawabku masih berjalan lebih dulu dari mereka.
__ADS_1
“Hee... Jadi mulai sibuk nih ceritanya?” Goda Anya.
“Cika Cika, lihat itu, Yuda ada diruang musik. dia melihat kesini loh.” Tutur Hana begitu bersemangat saat kami melewati ruang musik.
“Ada apa Cika? kenapa wajahmu murung begitu? dan lagi bukankah tadi Yuda melihatmu? kenapa tidak menyapanya?” Tanya Anya mengejutkan ku.
“I–itu... aku ingin dia yang menemuiku sendiri. Aku tidak mau mengemis perhatian darinya lagi, aku juga mulai terbiasa dengan jarak ini.” Jelasku kembali merasa kesal.
“Ha?” Tanya Anya begitu terkejut membuatku terperajat, “bukankah itu tidak bagus? bagaimana jika jaraknya semakin melebar?” Lanjutnya bertanya.
“Mungkin itu jauh lebih baik daripada harus menjalani hubungan yang tidak jelas seperti ini.” Jawabku membuat langkah Anya terhenti.
“Ada apa dengannya?” Gumam Anya terdengar khawatir.
***
Anya yang merasa khawatir terhadap perubahan sikap sahabatnya itu, dia pun langsung meraih tangan Cika yang mulai berjalan menaiki anak tangga menuju ruang kesenian.
“Apa kau yakin tak masalah jika Yuda menjauhimu dan hubungan kalian berakhir?” Tanya Anya membuat Cika semakin murung.
“Aku tidak mengerti kenapa belakangan ini dia menghindariku dan tak pernah berusaha meluangkan waktunya untuk ku? awalnya aku bisa mengerti dengan kesibukannya yang akan mengikuti kompetisi terakhirnya setelah festival sekolah selesai. Tapi semakin hari aku merasa kesusahan menemuinya, dan lagi Nanami selalu bersamanya. Meski aku mengajaknya berkencan dan makan bersama. Dia selalu membuat alasan dan meminta Nanami untuk ikut bersama kami, benar-benar tidak peka!” Jelas Cika dengan nada pasrah bercampur kesal.
“Pe–pertanda baik?” Tanya Anya.
“Tanda kalau dia tidak serius mencintaiku ... dan lagi cepat atau lambat kami akan berpisah.” Jawab Cika sambil melepaskan tangan Anya dan meninggalkan gadis itu dibawah anak tangga.
Waktupun berlalu dengan cepat, sekolah sudah berakhir satu jam yang lalu dan Cika sudah menyelesaikan latihan melukisnya, dan kini gadis itu berjalan menuruni anak tangga bersama dengan Dinda. Mereka berniat pergi bersama untuk berbelanja beberapa cat untuk menyelesaikan lukisanya.
“Cika!!” Teriak Anya mengejutkan gadis itu.
“Anya? kau membuatku jantungan tau!” Tutur Dinda sambil memegangi dadanya.
“Ma–maaf.” Ucap Anya merasa bersalah, “kalian pulang bersama?” Lanjutnya bertanya.
“Ya. Kami mau membeli beberapa cat untuk menyelesaikan lukisan kami.” Jawab Dinda.
“Kenapa kau belum pulang? tumben gak bareng Raka ....” Tutur Cika membuat Anya menepuk punggung gadis itu.
“Dia sedang menunggu diloker.” Jelas Anya sambil menyeringai.
‘Dia bersemangat sekali.’ Batin Cika merasa menyesal sudah menanyakannya.
__ADS_1
Setelah turun dari lantai atas, langkah Cika tiba-tiba terhenti membuat Anya dan Dinda menabrak punggung gadis itu.
“A–ada apa Cika? kenapa tiba-tiba berhenti?” Tanya Dinda sambil mengusap hidungnya yang berbenturan dengan bahu Cika.
“Cika?” Tanya Anya yang melihat Cika hanya bisa mematung ditempat. Dan Anya pun melihat sosok Yuda yang sedang memegangi tangan Nanami menjauhkannya dari seorang pria berambut pirang dihadapan mereka.
“Yuda?” Gumam Anya dan Dinda bersamaan.
“Ya! dia kekasihku!” Ucap Yuda cukup lantang terdengar keras sampai membuat Cika, Dinda dan Anya tersentak.
“A–apa maksudnya?” Gumam Cika menjatuhkan heandphonenya membuat Yuda, Nanami dan pria berambut pirang itu melihat kearahnya secara bersamaan.
“Hee? bukankah gadis itu pacarmu? apa kalian sudah putus? atau kau sedang membodohiku?” Tanya pria itu menatap Yuda dengan sinis setelah memperhatikan Cika, dan Yuda hanya bisa menatap pria itu dengan tajam. Tangannya masih memegangi tangan Nanami yang mulai panik dengan kehadiran Cika.
“Nanami pacarku!” Ucap Yuda sekali lagi begitu tegas bersamaan dengan kedatangan Raka dan Ali yang hendak pergi ke kelasnya.
“Yu–yuda?” Gumam Raka.
“apa yang barusan dia katakan?” Lanjut Ali langsung memperhatikan Cika.
“Kalau begitu jangan salahkan aku.” Tutur pria berambut pirang itu berjalan mendekati Cika dan meraih tangan kanananya kemudian mendorongnya kesisi kiri membuat tubuh gadis itu bersentuhan dengan tembok.
“A–apa?” Ucap Ali dan Anya bersamaan.
“Dia lumayan juga ... yah mungkin kau sudah putus dengannya, dan ....” Tutur pria itu membuat Cika meneteskan air matanya karena ucapan Yuda yang masih terngiang ditelinganya.
“Apa kau sudah resmi memutuskan gadis ini Yuda? kelihatannya dia masih mencintaimu, atau jangan-jangan ....” Lanjutnya sambil melihat kearah Yuda dan membuatnya terlihat semakin kesal.
“Lepaskan!” Ucap Cika berusaha melepaskan diri.
“Lepaskan dia!” Teriak Anya berjalan mendekatinya.
“He... tapi sayangnya aku tidak mau tuh!” Gumam pria itu membuat Anya menghentikan langkahnya.
“Cukup Fino! lepaskan dia, aku ....” Teriak Nanami terhenti saat Yuda mempererat pegangannya.
“Aw!!” Pekik Cika merasakan sakit dipergelangan tangannya yang digenggam erat oleh pria berambut pirang bernama Fino itu.
“Cika ....” Ucap Ali tak bisa berpaling dari pemandangan dihadapannya, dan dia melirik Yuda yang tak bisa berbuat apa-apa untuk kekasihnya itu.
Bersambung...
__ADS_1