![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
Pria itu terus memperhatikan Cika dan mendekatkan wajahnya secara perlahan membuat Cika merasa ketakutan, ditambah lagi genggamannya semakin mengerat.
“Kurang ajar kau!” Bentak Ali sambil memukul wajah Fino dari samping, membuat pria itu tersungkur dan Cika melemas jatuh terduduk.
“Tadi itu ....” Gumam Cika merasa terkejut, ‘Benar-benar menakutkan.’ Lanjutnya dalam hati.
“Cika kau baik-baik saja?” Tanya Anya yang langsung memeluk sahabatnya itu, dan Cika hanya bisa menganggukan kepalanya perlahan.
“Cika ....” Gumam Dinda begitu khawatir.
“Kau! beraninya kau memukul wajahku!” Ucap Fino hendak memukul balik Ali, namun dengan cepat pria itu menghindar dan memukul perut pria dihadapannya.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Raka sambil menepuk bahu Yuda, membuat pria itu tersentak karena terkejut.
Perkelahian Ali dan Fino pun semakin memanas, dan suasananya semakin panas. Yuda hanya bisa berdiri melindungi Nanami, sedangkan Cika masih menangis dipelukan Anya karena merasa terkejut dan ketakutan.
“Oi... hentikan!” Ucap Raka berusaha memisahkan mereka namun tak berhasil.
“Ali!!” Lanjutnya saat melihat sahabatnya kena pukul dibagian hidungnya dan mengeluarkan darah, saat itu pun Cika langsung melepaskan pelukan Anya dan melihat kearah Ali berdiri.
‘Kenapa malah dia yang membelaku?’ Batin Cika merasa bingung melihat perlakuan temannya itu dan Yuda tak melakukan apapun untuk dirinya yang hampir dilecehkan oleh orang lain.
Saat Fino akan melawan Raka dari belakang, dengan cepat Anya mendorongnya dan Cika segera menjauhkan Ali dari Fino, dan berdiri menghalangi Ali dari pria itu.
“He? jadi kau mau bermain-main denganku lagi?” Tanya Fino masih berdiri beberapa langkah dihadapan Cika, dan gadis itu malah tersenyum mendekatinya.
“Cika!” Ucap Ali tak didengarkan, dan dengan cepat Cika menampar Fino. Membuat pria itu berhenti berkata-kata dan menatapnya dengan bingung.
“Jangan pikir kau bisa melukai teman-temanku!” Ucap Cika segera berbalik badan dan meraih heandphonenya yang tergeletak dilantai, lalu membawa tas nya juga sambil menggeret Ali keruang kesehatan. Melewati Yuda dan Nanami tanpa menatap wajah mereka.
“Cika!” Ucap Nanami tak didengarkan.
“Tunggu!” Lanjut Yuda meraih tangan Cika membuat langkahnya terhenti.
“Lepaskan tanganku!” Bisik Cika tak didengarkan.
“Aku ....” Ucap Yuda segera dihentikan oleh pergerakan Cika yang melepaskan tangan Yuda dengan paksa.
“Aku sudah cukup mendengar dan melihat hari ini. biarkan aku pergi!” Tutur gadis itu sambil membawa Ali keruang kesehatan.
“Cika.” Gumam Dinda dan Anya bersamaan saat melihat kepergian gadis itu, “sepertinya dia sangat terkejut dan ....” Lanjut Dinda tak bisa melanjutkan ucapannya.
***
“Terima kasih.” Ucap Ali yang melihat Cika sibuk membersihkan darah dihidung pria itu.
“Kenapa harus berterima kasih? seharusnya aku yang berterima kasih padamu, karena sudah menolongku. Jika tidak, aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku.” Tutur Cika sambil menghentikan kegiatannya, dan kembali membersihkan darah yang keluar dari hidung Ali.
“Aku tidak mengerti kenapa dia menolong Nanami sampai segitunya... dan malah membiarkan pria itu menyerangku, hampir ....” Gumam Cika, “maaf aku jadi mengoceh, Hhehehe....” Lanjutnya membuat Ali tersentuh dan segera meraih kepala Cika dengan lembut.
“Maaf karena aku, kau jadi terluka.” Bisik Cika.
“Bukan masalah .. hari ini hatimu juga terluka kan? menangislah Cika, tak akan ada yang menghentikanmu. Terkadang dengan menangis kau bisa mengurangi bebanmu.” Tutur Ali dengan suara lembutnya membuat gadis itu terisak.
“Aku membencinya ... kenapa dia tidak menolongku dari pria itu? kenapa dia selalu dekat dengan Nanami? kenapa? Hiks...” Tutur Cika dengan terisak.
__ADS_1
***
Ke esokan harinya...
“Apa yang sedang mereka lakukan?” Gumamku setelah mengganti sepatuku dan memasukan sepatu lainnya kedalam loker sepatuku, aku sempat mendengar suara Yuda dan Nanami diloker sebelah dan memastikanya dengan mengintip dan menguping pembicaraan mereka.
“Kau yakin akan pindah sekolah keluar kota?” Tanya Yuda.
“Um!” Angguk Nanami dengan wajah sedihnya, “Maaf sudah melibatkanmu dan karena aku kau jadi marahan dengan Cika ....” Lanjutnya menjelaskan.
‘Pi–pindah?’ Batinku saat menguping pembicaraan mereka.
“Tapi kita masih bisa bertemu kan? luar kota itu masih didalam negri ....” Tutur Yuda membuat mata Cika melotot terkejut saat melihat matanya yang berkaca-kaca dan berbinar menatap Nanami.
“Aku mengerti ....” Gumam Cika sambil pergi dari sana, ‘Dia tidak benar-benar mencintaiku, mungkin perasaannya hanya sebatas penasaran saja. Betapa bodohnya aku ini, padahal selama ini dia selalu curhat mengenai gadis yang dia sukai. Tapi aku malah menembaknya tiba-tiba, dan lagi kemarin Yuda tidak menolongku dari Fino yang berniat me-menciumku...’ Lanjutnya dalam hati.
‘Tapi tatapannya hari itu ... ucapannya dan kebahagiaannya, apa semua itu juga kebohongan?’ Batin Cika bertanya-tanya sambil menghentikan langkahku didepan ruang kesenian.
“Kau datang? ku kira Cika ....” Tanya Dinda terhenti setelah melihat senyuman Cika yang terlihat dipaksakan.
“Mari kita lanjutkan lukisan kita.” Ucap Dinda berusaha tersenyum sebaik mungkin untuk menutupi rasa khawatirnya terhasap Cika.
“Maaf ya kemarin aku tidak jadi menemanimu membeli cat.” Tutur Cika merasa bersalah.
“Bukan masalah besar, lagipula aku sudah membelinya.” Jelas Dinda.
“Aku lupa membawa minum, aku pergi kekantin dulu sebentar ya...” Tutur Cika sambil bergegas.
“Cika tolong belikan aku teh kotak juga!” Teriak Dinda sebelun Cika keluar dari ruang kesenian.
Disisi lain Yuda dan Nanami sedang berjalan menuju kearah kelasnya.
“Bagaimana dengan Fino? apa dia masih mengganggumu?” Tanya Yuda.
“Tidak, tapi sepertinya dia mulai tertarik dengan Cika,” jawab Nanami merasa bersalah, “tapi terima kasih karena selalu melindungiku.” Lanjutnya sambil tersenyum.
“Tapi kenapa dia terus mengganggumu meski kau sudah menolaknya? dan kenapa Cika ....” Tanya Yuda merasa penasaran.
“Entahlah... tapi setelah ujian nanti aku akan pindah keluar kota dan dia tidak akan bisa menggangguku lagi.” Jelas Nanami berusaha tetap ceria seperti biasanya.
Tiba-tiba langkah Yuda terhenti saat Anya meraih tangannya dari belakang membuatnya menengok kearah gadis itu berdiri dan Nanami pun ikut berhenti berjalan.
“Apa kau tidak bisa menyadari perubahan Cika?” Tanya Anya dengan wajah seriusnya.
“Cika?” Gumam Nanami, “ada apa dengannya?” Lanjutnya bertanya mewakili Yuda, belum sempat Anya menjawabnya Ali sudah berjalan kehadapan Yuda dan memukul wajah pria itu.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yuda merasa tak terima karena dipukul tiba-tiba.
“Kau pikir aku memukulmu karena apa? itu balasan untukmu karena tidak bisa menjaga kekasihmu dan membuatnya menangis kemarin!” Jelas Ali dengan tatapan tajamnya.
“Ha?” Gumam Yuda merasa bingung.
“Kau melindungi Nanami tapi tak ada niatan melindungi kekasihmu sendiri? Bodoh!” Jelas Ali membentak Yuda, beruntungnya saat itu sekolah masih sepi karena mereka datang sangat pagi.
“Karena ... jika aku menghajarnya. Dia akan tau kalau aku kekasihnya Cika, dan Nanami akan terus diganggu olehnya.” Tutur Yuda membela diri.
__ADS_1
“Kau sangat perduli pada Nanami ya daripada pada kekasihmu sendiri, benar-benar mengejutkan.” Tutur Ali sambil berkacak pinggang.
“Kalian tidak tau malu! terus berduaan seperti ini sejak masuk kelas berbeda dengan kami. Dan mengundang gosip gak jelas yang bisa membuat hubungan kau dan Cika hancur.” Tutur Anya masih menatap Yuda dengan serius.
“Kami hanya bersikap seperti biasanya. Seperti seorang teman.” Jelas Nanami.
“Kenapa kau yang bicara? tidak kah ini aneh?” Tanya Anya menatap Nanami, “jika kau sudah tidak mencintai Cika lagi, sebaiknya kalian putus saja. Dengan begitu rasa sakit yang diderita Cika tidak setengah-setengah.” Lanjutnya menjelaskan isi pikirannya sambil berjalan mendahului mereka untuk pergi ke kelasnya yang bersebelahan dengan kelas Yuda dan Nanami.
“Jadi maksudmu aku sudah tidak mencintainya lagi?” Tanya Yuda menghentikan langkah Anya.
“Kau bisa menanyakannya pada hatimu sendiri. Dan aku tau kalau Nanami masih mencintaimu dan berharap padamu ....” Jawab Anya membuat Yuda merasa kesal.
“Aku hanya membantunya menghindari Fino dengan terus berada disisinya sampai dia pindah sekolah!!” Jelas Yuda menaikan nada bicaranya.
“Dengan membuat Cika terluka? kau bahkan tidak bisa menyadari kecemburuannya.” Tutur Anya sambil pergi dari sana meninggalkan mereka.
“Ma–maafkan aku ... gara-gara aku kalian jadi bertengkar, dan Cika ....” Tutur Nanami meneteskan air matanya.
“Tidak usah dipikirkan, nanti juga Cika akan mengerti. Dia juga teman baikmu kan?” Jelas Yuda.
“Mana bisa dia mengerti setelah kau bersikap jahat padanya kemarin. Dasar bodoh!” Ucap Ali ikut pergi meninggalkan mereka.
Disisi lain Cika sedang bersembunyi dilantai atas, suara mereka benar-benar bergema dan sampai ketelinga Cika.
‘Tapi seharusnya kau menceritakan masalahnya padaku sebelum kejadian kemarin terjadi. Aku tidak mungkin bisa langsung mengerti dengan niat baikmu itu, lagipula kenapa harus Yuda yang membantu Nanami? apa karena kalian sudah lama berteman?’ Batin Cika sambil mengintip mereka dan pergi dari sana untuk menemui Yuda.
Gadis itu berjalan dengan sangat cepat saat menuruni anak tangga dan berpapasan dengan Anya yang akan berjalan kearah kelasnya. Anya langsung menghentikan langkahnya saat melihat wajah serius Cika yang menatap lurus kearah Yuda.
“Cika!” Gumam Anya.
“Bisakah kau menjauhi Yuda Nanami?!” Tanya Cika setelah sampai dihadapan mereka berdua.
“Apa maksudmu?” Tanya Yuda mewakili Nanami.
“Aku memintanya menjauhimu karena kau adalah kekasihku. Urusannya dengan Fino bukan urusanmu dan kau tak ada hubungan dengan urusannya.” Tutur Cika menjelaskannya dengan tatapan seriusnya.
“Cika ....” Gumam Nanami yang mengerti dengan raut wajah Cika.
“Tapi ....” Ucap Yuda segera dihentikan oleh Cika.
“Boleh aku bertanya padamu Yuda?” Tanya Cika membuat Yuda sedikit terkejut, “pacarmu itu aku atau Nanami? dan apa kau berpacaran denganku karena merasa kasihan padaku?” Lanjutnya membuat Yuda mematung.
“A–apa maksudmu? tentu saja karena aku mencintaimu.” Jawab Yuda dengan tatapan seriusnya.
“Bohong! jika kau mencintaiku kau tidak akan membiarkan pria manapun mencoba untuk menyentuhku seperti kemarin!!” Bentak Cika membuat Yuda terperajat, “Aku sudah mengerti dengan perasaanmu itu. Sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita.” Lanjut Cika sambil bergegas membuat Yuda tersentak dan segera meraih tangan gadis itu untuk menghentikan langkahnya.
“Apa maksudmu? bagaimana bisa kau berpikiran untuk mengakhiri hubungan kita?!” Tanya Yuda tak mendapat respon dari Cika, “Cika?” Lanjutnya membuat gadis itu menunduk menahan kesal.
“Aku kira kau itu laki-laki yang sangat peka terhadap lingkungan sekitarnya, tapi aku salah ... apa mungkin semenjak kita berpacaran kepekaanmu itu menurun?” Gumam Cika terdengar oleh Yuda.
“Cika?” Ucap Yuda.
“Tak ada lagi yang mau ku katakan padamu. Jadi lepaskan tanganku! kau sudah bebas sekarang.” Tutur Cika sambil melepaskan genggaman Yuda dan pergi kearah Kantin. Anya yang melihat kejadian saat itu langsung masuk kedalam kelasnya.
Bersambung...
__ADS_1