Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
London?


__ADS_3

“Selamat datang.” Sapa ibu saat melihatku dari ruang makan.


“Ibu sudah pulang?” Tuturku sambil berjalan ke kamarku untuk meletakan lukisanku dan menyimpan tas sekolahku. Lalu kembali keruang makan untuk makan malam bersama.


“Bagaimana dengan sekolahmu?” Tanya ibu sebelum menyantap makanannya.


“Seperti biasa.” Jawabku.


“Duduklah kita makan bersama,” tutur ibu membuatku menurutinya, “ada yang ingin ibu bicarakan denganmu.” Lanjutnya setelah menyuguhkan makananku.


“Apa itu hal penting?” Tanyaku sambil meminum air dicangkirku, kemudian menyantap makananku.


“Sebenarnya ibu ada pekerjaan di London. Dan ibu akan tinggal disana cukup lama, banyak teman kerja ayahmu yang akan menikah dan ingin ibu menjadi designer gaun pengantin mereka, jadi ibu berpikir kau juga harus ikut bersama ibu.” Jelasnya membuatku terkejut dan memotong pembicaraanya.


“Bagaimana bisa? aku harus sekolah dan menyelesaikan pendidikanku.” Tuturku setelah menelan makanan didalam mulutku.


“Ibu tau, tapi ibu tidak bisa membiarkanmu tinggal sendirian disini. Ibu juga sudah lama merencanakan masa depan kita, setelah kau lulus ibu ingin kita menyusul ayah dan tinggal di London bersama-sama.” Jelasnya membuatku tak bisa berkutik untuk beberapa saat.


“Aku tidak pernah setuju dengan keputusan ibu, aku tidak mau tinggal di London!” Tuturku berusaha membuatnya mengerti.


“Tidak mau, meski aku sudah lulus sekolahpun aku tidak akan pernah mau tinggal di London. Semua kenanganku ada dikota ini, negri ini, bagaimana bisa aku melupakan kenanganku bersama keluargaku saat aku masih kecil. Di kota ini ayah dan ibu memanjakanku, dikota ini aku mendapatkan banyak teman. Lalu kenapa aku harus pergi ke London?” Lanjutku masih tak setuju dengan keputusan ibu.


“Tapi Cika, bukankah kau ingin kita berkumpul bersama ayahmu? sekaranglah waktu yang tepat.” Jelas ibu berusaha berbicara selembut mungkin meski wajahnya menekankan kalau dia merasa sedikit kesal membicarakan keputusannya denganku, keputusan yang ku tolak mentah-mentah.


“Di negri ini bukan di London. Kalau ibu mau pergi untuk mengurusi pekerjaan ibu maka pergilah. Aku akan belajar hidup mandiri, lagipula selama ini Cika selalu sendirian. Ibu tak pernah pulang, sekalinya pulang ibu pulang larut dan pergi pagi-pagi buta karena harus menangani klien dari luar kota yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk pulang pergi. Makanya ibu sering ninggalin Cika sendiri di rumah dan jarang pulang.” Tuturku merasa sedih saat mengingatnya.


“Cika!” Ucap Ibu membuatku segera bangkit dari posisi duduk ku.


“Cika mau istirahat dulu, jika beruntung besok aku akan bertemu dengan ibu lagi sebelum pergi sekolah. Jika tidak, berarti ibu sudah pergi bekerja.” Lanjutku sambil meninggalkannya di ruang makan.


***


Hari ini aku pergi sekolah seperti biasanya, bedanya ada masalah yang ku pikul. Biasanya aku meninggalkan semua masalahku dirumah, tapi kali ini aku lupa meninggalkannya. Itulah kenapa aku sangat tidak bersemangat dan ngantuk.


 


“Aku mengantuk ....” Gumamku sambil berjalan kearah sekolah, “aku bahkan tidak bisa duduk dikereta.” Lanjutku mengeluh.

__ADS_1


 


Cuaca hari ini sedikit mendung dan hembusan anginnya sangat dingin. Rasanya seperti masuk menembus tulang-tulang tubuhku melalui pori-pori kulitku.


 


“Pagi Cika.” Sapa Ali yang datang entah darimana.


“Hari ini datang pagi?” Tanyaku padanya.


“Ya aku ada latihan dance bersama klub ku.” Jawabnya sambil menggaruk kepalanya dan menyeringai.


“Dance? jadi kau dari klub dance?” Tanyaku begitu terkejut mendengarnya bergabung dengan klub dance, dan seketika kantuk ku menghilang, “sejak kapan kau bergabung dengan klub dance?” Lanjutku bertanya sambil berjalan menuju kelas disampingnya.


“Sejak kelas 11.” Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya.


“Hee...” Gumamku.


Kamipun berpisah didepan kelas 12-2, dan Ali berjalan menuju kelasnya, kelas 12-3.


“Cikaaa!!” Teriak Anya berlari kearahku bersama dengan Hana.


“Ya, sebenarnya aku lupa ngerjain PR kemarin. Jadi Cika–” Jelas Hana segera ku hentikan.


“Ya ya, kerjakan dengan cepat ya.” Tuturku sambil masuk kedalam kelas diikuti oleh mereka, lalu ku berikan buku catatanku setelah mengambilnya didalam tas sekolahku.


“Kau benar-benar penyelamatku, terima kasih Cika.” Teriak Hana kegirangan sambil memeluk ku, lalu pergi ketempat duduknya dan mulai mengerjakan tugasnya, dengan menyalin hasil pekerjaan rumahku.


“Mau kemana?” Tanya Anya yang melihatku hendak keluar kelas.


“Kantin.” Jawabku.


“Ikut!” Ucapnya segera menyusulku, “tumben banget ke kantin, dan lagi aku jadi jarang lihat kamu bawa bekal dari rumah. Kenapa?” Lanjutnya bertanya.


“Mungkin karena males buatnya, Hhehe...” Jawabku sambil tertawa.


Tak lama kemudian kami sampai di kantin, dan aku sempat melihat Nanami yang datang bersama Yuda. Mereka memasuki gerbang sekolah bersama-sama, aku melihatnya dari jendela koridor sekolah.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong Cika ...,” ucap Anya mengalihkan perhatianku, “bagaimana dengan lukisanmu?” Lanjutnya bertanya.


“Masih banyak revisi, Dinda juga sedang berusaha keras untuk melukis karya terbaiknya. Dan hari ini aku juga harus mampir untuk membeli cat dan beberapa kuas baru, aku juga butuh kanvas baru.” Jelasku sambil membayar makanan yang aku beli.


“Hee... jadi hari ini kau tidak akan pergi keruang klub dong?” Ucap Anya bertanya.


“Ya begitulah.” Jawabku sambil tersenyum kepadanya.


***


 


‘Kenapa mereka berangkat sekolah bareng ya? belakangan ini aku sering melihat mereka berdua, terlihat begitu dekat ....’ Batinku sambil menghentikan tanganku yang sempat sibuk mencatat materi yang tertera dipapan tulis, lalu mengalihkan perhatianku kearah lapangan olahraga yang bisa dilihat dari balik jendela kelas lantai dua.


“Yuda.” Gumamku sambil kembali mencatat.


Tak lama kemudian pelajaranpun berakhir, semua siswa/siswi sibuk membereskan barang-barang mereka dan bergegas meninggalkan kelas. Beberapa ada yang sibuk mengambil peralatan kebersihan untuk menjalankan piket harian.


“Cika!” Teriak Hana sambil mendekatiku, “ku dengar kau mau mampir dulu, mau aku temani?” Lanjutnya bertanya.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Adam sudah menunggumu.” Jawabku sambil melihat ke ambang pintu kelas.


“Kau benar.” Gumamnya dengan nada pasrahnya, “kalau begitu sampai nanti ya.” Lanjutnya sambil berlari meninggalkanku dengan lambayan tangannya.


“Cika.” Ucap Adam membuatku kembali menengok kearahnya, “Yuda menunggumu diloker.” Lanjutnya membuatku tersentak. Lalu dia pergi bersama dengan Hana.


Dengan cepat aku bergegas pergi keloker untuk menemui Yuda, dan benar saja. Dia sudah menungguku disana.


“Yuda.” Ucapku saat sampai diloker dan Yuda hanya menatapku, lalu tersenyum kearahku.


“Ada apa? tidak biasanya ....” Tanyaku merasa heran, karna tak biasanya dia menungguku. Dan lagi sejak kami berada dikelas yang berbeda, aku juga jarang pulang bersama Yuda. Dan hari ini, dia menungguku.


“Aku hanya ingin pulang bersamamu.” Jawabnya sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan kanannya, menyembunyikan rasa malunya.


Setelah mendengar alasannya, aku langsung bergegas mengganti sepatuku dan mendekatinya.


“Kau memasangnya?” Ucapnya sambil melihat gantungan boneka ditas sekolahku.

__ADS_1


"Karena aku menyukainya." Jelasku sambil tersenyum kearahnya.


Bersambung...


__ADS_2