Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Ternyata Benar


__ADS_3

“Sebenarnya aku ....” Ucapnya mengejutkanku, “Aku sudah lama menyukai Yuda.” Lanjutnya dengan suara lantang membuatku kembali dikejutkan oleh ucapannya.


‘Dugaanku benar ya ....’ Batinku sambil melemaskan otot bahuku yang sempat menegang menunggu perkataannya.


“Seperti yang kau tau. Kami dari SMP yang sama, dan aku sudah menyukainya sejak SMP. Jadi ... jadi ... Maafkan aku.” Tuturnya merasa bersalah.


Mungkin karena aku pernah curhat mengenai kebingunganku yang tidak tau harus bersikap seperti apa pada Yuda. Dan aku harus mengartikannya seperti apa jika dia terus tersenyum padaku seperti itu, tapi saat aku tau dia memang ramah kepada siapapun dan tersenyum kepada siapapun. Aku mengerti kalau aku terlalu memikirkannya, dan sedikit kecewa.


“Ke-kenapa harus minta maaf?” Tanyaku sambil tersenyum.


“Mungkin karena aku tidak bisa mempersatukan kalian, meski aku tau kau mencintainya juga ... dan kau tak menyadari perasaanmu sendiri." Jawabnya menjelaskan dengan matanya yang menatap kelantai dengan derai air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


“Tidak, mungkin selama ini aku hanya keliru dan ....” Tuturku terhenti, “sepertinya kau benar. Mungkin aku sudah jatuh cinta padanya.” Lanjutku sambil melihat lantai dan meremas rok sekolahku dengan kedua tanganku saat mengakuinya pada Nanami.


“Cika.” Ucap Nanami.


“Ma–maaf aku baik-baik saja, nah Nanami ... berjuanglah.” Ucapku sambil menepuk bahunya dan pergi dari sana berusaha untuk menahan derai air mataku.


Ku langkahkan kakiku lesu kearah kelas, namun ku hentikan saat melihat Yuda sedang bermain Trombon, dan ku urungkan niatku untuk masuk kedalam kelas dan malah berlari ke UKS.


***


“Cika,” gumam Yuda yang melihat gadis itu di depan pintu kelas dan memutar balik arahnya, “Kenapa dia balik lagi?” Lanjutnya bertanya.

__ADS_1


“Yo Yuda. Loe ngapain pagi-pagi gini main trombon?” Tanya Raka yang baru masuk ke dalam kelas bersama Adam.


“Cuma latihan pagi, gue balik keruang musik dulu ya. Mau balikin ni trombon.” Jawabnya sambil berjalan keluar kelas, dan pergi keruang musik.


Disisi lain...


Nanami berjalan menuju kelas dan bertemu dengan Yuda, pria itu pun berlari mendekati gadis itu.


“Pagi Nanami.” Sapanya sambil tersenyum.


“Pa–pagi Yuda” Balas Nanami tergugup.


“Kenapa datang pagi sekali? biasanya siang.” Tanya Yuda.


“Apa hanya perasaanku saja ya? atau kau memang habis menangis?” Tanya Yuda mengejutkan Nanami.


"Ti–tidak, mungkin karena kemasukan debu jadi aku menangis sedikit. Tapi sudah tidak apa-apa ko.” Jawab gadis itu sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.


“Ngomong-ngomong soal tugas melukis dari bu Mita ....” Tutur Yuda mengalihkan pembicaraan sepanjang perjalanan menuju kelasnya.


“Pagi Hana.” Sapa Nanami kepada Hana yang sudah berada di dalam kelas.


“Pagi Nanami Yuda. Ngomong-ngomong belakangan ini kalian selalu terlihat berdua ya, apa kalian berpacaran?” Balas Hana sambil tersenyum.

__ADS_1


“Aku juga penasaran.” Tutur Raka menatap Yuda dengan penuh selidik.


"Ma–mana mungkin.” Ucap Yuda tergugup.


“Kami Cuma berteman biasa, benarkan?” Tutur Nanami sambil tersenyum dan melihat wajah Yuda yang merona menahan malu.


“Pagi Cika!” Teriak Hana membuat Nanami dan Yuda melihat kearah Cika yang datang dari pintu belakang dan berjalan kearah tempat duduknya, dan tangannya meraba laci mejanya mencari sesuatu.


“Ada apa dengannya hari ini?” Gumam Hana membuat Nanami murung dan merasa tidak enak dengan gadis itu.


“Ciiiikaaa...” Teriak Anya berlari kearah Cika dan memeluknya dari belakang, membuat gadis itu berhenti memeriksa laci mejanya, “Tolong aku, aku lupa membawa cat air. Hari ini klub manga meminta para anggotanya untuk membuat komik yang akan dipajang dimading, dan kami harus membuatnya. Tapi aku lupa membawanya... tolong pinjamkan cat air di klub kesenianmu itu dong.” Tuturnya sambil merengek menjelaskan situasinya.


“Klub kesenian sedang libur beberapa minggu, karena para senior sedang sibuk. Peralatan di klub juga menipis, kami belum membeli stok bulan ini.” Jawab gadis itu sambil duduk dikursinya.


“Heee...” Teriak Anya terlihat kecewa.


“Tapi ....” Gumam Cika sambil mengingat sesuatu, “Sepertinya Kalau cuma cat air doang, masih ada di dalam lemari klub kesenian deh, aku sudah lama tidak menggunakannya, tapi sepertinya masih ada beberapa yang bisa digunakan.” Lanjutnya menjelaskan.


“Berikan padaku” Ucap Anya dengan mata berbinar-binarnya.


“Akan ku antarkan ke kelasmu saat jam istirahat ya." Ucap Cika langsung mendapat pelukan darinya dan diapun pergi dari kelas Cika dengan aura berbunga-bunganya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2