![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
“I–itu ...” Ucapku merasa bimbang, memikirkan semua kemungkinan yang akan ku terima dari apa yang akan ku katakan ini. dengan cepat, aku menepis semua keraguanku dan berusaha mengikuti kata hatiku.
“Aku mencintaimu Yuda!” Lanjutku dengan suara cukup lantang menahan malu menatap matanya, dan kini ku lihat rona merah diwajah pria itu mulai mencuat bersama bola matanya yang melebar terkejut mendengar pengakuanku.
“Aku tau kau sedang bingung menentukan jawabanmu untuk pertanyaan Nanami. Tapi aku juga serius mengenai perasaanku. Aku mungkin tidak mengerti dengan musik dan tak bisa memahami melodi yang kalian mainkan, aku hanya seorang gadis biasa yang hobi melukis. Tak sebanding dengan Nanami yang memiliki wajah cantik dan mengerti banyak hal tentang musik ... tapi ....” Jelasku kembali tertunduk, lalu ku dengar suara langkah kaki yang mendekatiku dan mataku melihat sebuah kotak P3K yang digenggam oleh Yuda.
Aku belum berani melihat wajahnya, aku terlalu takut untuk mengetahui hal yang bertentangan dengan keinginanku. Kini ku rasakan sentuhan hangat diatas kepalaku, “Terima kasih.” Ucapnya dengan suara lembut.
“Maaf sudah membuatmu kesulitan ....” Bisik ku merasa menyesal, padahal sebelumnya aku sangat berani untuk mengatakannya dan tak memperdulikan resiko yang akan ku dapatkan. Bisa saja Yuda menjauhiku setelah ini.
***
“Cika ....” Gumam Nanami dibalik pintu kelas, rupanya gadis itu sedang menguping pembicaraan Yuda dan Cika.
“Tak apa tidak perlu dijawab. Aku merasa tak enak dengan Nanami yang sudah lama mencintaimu. Aku mungkin baru mengenalmu dan baru belajar mencintaimu saat upacara penerimaan siswa baru tahun lalu, waktuku untuk mencintaimu tak selama waktu yang dihabiskan Nanami untuk mencintaimu. Jadi tak apa ... jangan dipikirkan, anggap saja hari ini tidak pernah ada.” Tutur Cika membuat Nanami tersentak.
“Dan aku akan menganggap semua perlakuanmu padaku adalah hal biasa yang diberikan untuk temannya. Karena Yuda memang baik kepada siapapun ...” Lanjut Cika sambil menyeka air matanya dan tersenyum lebar kepada Yuda.
“Cika ....” Gumam Nanami dengan mata berkaca-kacanya melihat ketegaran Cika yang mengakui perasaannya pada Yuda.
__ADS_1
“Aku ....” Ucap Yuda segera dihentikan oleh Cika.
“Sudah ku bilang jangan dijawab, aku baik-baik saja ....” Tutur Cika sambil menutup mulut Yuda dengan tangannya, lalu mengambil tas sekolah dan sepatu sekolahnya, kemudian bergegas keluar dari dalam kelas untuk pergi ke ruang ganti.
Beberapa langkah menuju ambang pintu Yuda menarik tangan Cika dan memeluk gadis itu dengan erat, “Aku juga sudah lama mencintaimu Cika ....” Tutur Yuda membuat hati Cika meleleh, dan Nanami yang sedang mengintip pun mulai menitikan air matanya, berusaha menerima kenyataan pahit yang menimpanya.
“Jadilah pacarku.” Lanjut Yuda membuat Cika tersentak dalam pelukan pria itu.
“Tapi Nanami?” Gumam gadis itu mengingat sahabatnya.
Yuda melepaskan pelukannya, namun tangannya masih memegangi bahu Cika. Membuat mata mereka saling bertatapan, memperlihatkan perasaan mereka masing-masing.
***
Setelah mengganti pakaianku, aku tidak kembali ke kelas. Mengingat kejadian pagi tadi membuatku merasa sangat malu untuk bertemu dengan Yuda. Dan lagi aku masih belum memutuskan untuk menerimanya sebagai kekasihku atau tidak. Soalnya aku masih merasa tak enak terhadap Nanami, jadi aku akan memutuskannya setelah berbicara dengannya.
Tahun ini sekolah mengadakan festival selama tiga hari lamanya, dan hari kedua menjadi hari puncaknya. Dan dihari kedua juga menjadi hari paling berat untuk ku, karena klub kesenian mendapat masalah besar yang membuat kami harus menutup stand kami lebih cepat.
Dinda bilang, seorang pengunjung mengamuk karena lukisannya tidak sesuai dengan keinginannya dan lagi dia tidak terima dengan perlakuan Anya yang kurang sopan terhadap pengunjung itu. Jadi dia mengacak\-ngacak ruang kesenian, membuat pengunjung lainnya lari ketakutan. Beruntung pengurus osis bisa menangani pengunjung itu.
__ADS_1
“Jadi besok kita tidak bisa membuka stand lagi?” Tanyaku.
“Yah mau bagaimana lagi ....” Jawab Dinda terlihat sangat pasrah.
“Jika saja orang itu tidak dalam pengaruh minuman keras.” Gumam Anya.
“Darimana kau tau?” Tanya Dinda.
“Memangnya kau tidak mencium aroma menyengat dimulutnya? lagipula aku mengamuk karena dia terus mengoceh dan membuatku kesal karena bau mulutnya membuatku ingin memukulnya dan menyadarkannya.” Jawab Anya terlihat kesal.
“Seharusnya kau panggil petugas keamanan!” Ucap Dinda sambil menjitak kepala Anya.
“Aw.” Pekik Anya kesakitan.
“Untunglah kalian baik-baik saja, tak ada yang terluka. Semoga dengan kejadian ini sekolah bisa lebih berhati-hati dalam mengizinkan orang luar masuk saat melihat-lihat festival sekolah.” Tuturku merasa lega.
“Ya, sepertinya dia lolos dari petugas keamanan di depan gerbang. Dan lagi dia terus mengoceh soal dirinya yang tidak terima diputuskan kekasihnya.” Tutur Anya setelah menghela napas lelahnya.
“Baiklah dengan ini kita sudah selesai membersihkan ruang kesenian dan besok kita bisa berkeliling menikmati festival sekolah. Terima kasih atas kerja keras kalian, sampai bertemu lagi dikegiatan kita berikutnya.” Tutur Dinda menutup pertemuan kami hari ini, dan kamipun bergegas pulang karena hari hampir gelap.
Bersambung...
__ADS_1