Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Persiapan Festival Sekolah


__ADS_3

“Nanami!” Teriak Hana memanggilnya, “Bagaimana dengan kostumnya? apa sudah ada kemajuan?” Lanjutnya saat sudah mendekati gadis itu.


“Sudah ku duga, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan bagianku. Belakangan ini aku sibuk di klub, karena setelah festival nanti. Olimpiadenya akan dimulai, jadi kami berlatih setiap hari.” Tutur Nanami merasa menyesal.


“Baiklah, berikan sisanya padaku. Kami akan mengerjakannya dengan cepat,” tutur Hana, “jadi bagaimana denganmu Cika? apa kau juga sibuk di klub mu?” Lanjut Hana yang sudah berdiri dihadapanku.


“Tidak, sejauh ini aku menganggur di klub. Dan anggota lainnya juga sedang sibuk mengurus kelas mereka untuk persiapan festival nanti. Jadi aku menggunakan waktu luangku untuk menjahit diruang tata busana.” Jawabku sambil memegang daguku dan melepaskannya.


“Nice Cika!” Ucapnya sambil mengacungkan ibu jari padaku dengan senyumannya, “bisa kau beritau aku mengenai kostume yang sudah siap?” Lanjutnya kembali kemode serius.


“Pakaian suster, kain putih, dan dress putih polos yang kamu minta ....” Jawabku mengingat pekerjaanku, “untuk pakaian vampire masih belum selesai.” Lanjutku.


“Terselamatkan, beruntunglah kau bisa jahit. Tak heran melihatmu semahir itu, apa ibumu mengajarimu cara membuat pakaian dengan mesin jahit? ku dengar ibumu seorang designer.” Tuturnya membuatku ingat akan ibuku yang selalu sibuk diluar.


“Nanami,” ucap Yuda menyadarkanku, suaranya yang cukup keras membuatku sedikit terkejut, “ayo, ketua memanggil kita untuk berlatih.” Lanjutnya.


“Bahkan dijam istirahat juga?” Keluh Nanami sambil mengikuti Yuda dari belakang.


‘Mereka sibuk sekali ....’ Batinku terus memperhatikan mereka sampai menghilang dari pandanganku.


***


Sesampainya dirumah aku langsung pergi keruang kerja ibu dan meminjam mesin jahitnya, karena ada beberapa kostum hantu yang harus ku selesaikan. Ku kerjakan semampu dan sebisaku, sampai tak sadar hari sudah begitu larut. Dan ku dengar suara kunci yang beputar dan kini suara pintu yang tertutup dan kembali dikunci. Dengan cepat aku pergi dari ruang kerja ibu, dan menemuinya diruang makan.


 


“Cika?! kenapa belum tidur?” Tanya Ibu yang sedang memasukan camilan kedalam lemari es.


 


“Apa yang ibu lakukan?” Tanyaku di depan pintu sambil melihat jam dinding yang menunjukan pukul sebelas malam.


“Ibu sedang menyediakan camilan untukmu, mau makan malam bersama?” Jawab ibu balik bertanya.


“Apa ibu belum makan?” Tanyaku.


“Jika kamu mau ibu bisa makan lagi bersamamu ....” Jawabnya sambil tersenyum.


“Baiklah.” Ucapku menyerah dan makan malam bersama ibuku yang super sibuk itu.


“Maaf karena ibu selalu sibuk dan tak pernah ada waktu bersamamu ” Tutur ibu membuatku tak nafsu makan.


“Aku tak pernah memikirkannya.” Ucapku berbohong.


“Apa di festival nanti kelasmu menampilkan sesuatu?” Tanya ibuku terlihat lebih antusias.


“Rumah Hantu.” Jawabku sambil melanjutkan makanku.


“Baiklah ibu akan mencoba untuk mengurangi jadwal kerja ibu, semoga tahun ini ibu bisa datang ke sekolahmu dan berkeliling bersamamu saat festival nanti.” Jelasnya sambil berseri-seri, jarang sekali melihatnya terlihat bahagia seperti itu.


“Aku tidak terlalu mengharapkannya ....” Tuturku menyelesaikan makan malamku.


“Jahatnya ....” Ucapnya terlihat sedih.

__ADS_1


Setelah makan malam bersama, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku dan beristirahat sebentar. Agar bisa menghadapi hari esok, dengan jadwal sekolah yang sangat padat. Selain mulai mengurusi persiapan festival nanti, aku juga ada kegiatan klub. Meskipun kami tak melakukan persiapan apapun diruang klub.


Keesokan harinya...


Sesampainya disekolah aku mendapatkan informasi penting dari Hana, katanya hari ini ada rapat guru jadi kami akan diberikan waktu untuk menyelesaikan persiapannya hari ini. dan lagi Hana sudah meminta izin pada wali kelas kami. Dengan penuh semangat dia menggeretku ke kelas, ya hari ini aku datang kesiangan karena telat bangun. Dan didalam kelas sudah ramai dengan siswa/i yang sedang mengerjakan perlengkapan untuk festival nanti.


“Pagi Cika.” Sapa Yuda yang sedang mengerjakan bagian properti bersama teman-teman prianya.


“Pagi.” Balasku yang masih digeret oleh Hana menuju kerumunan para perempuan.


“Jadi bisa kami lihat hasilnya?” Tanya Hana yang menunjuk tas jinjing yang ku bawa.


“Ah ya.” Jawabku sambil memberikannya.


“Nice Cika.” Ucapnya sambil mengeluarkan beberapa kostume hantu yang ku buat.


“A–apa ini?” Tanya Nanami sambil memperlihatkan kostume ditangannya.


“Itu salah satu kostum hantu yang ku persiapkan, kemarin Hana memintaku untuk membuat lebih, dia bilang kostum hantunya bebas. Jadi aku membuat kostume zombi yang gampang dan lagi bisa disesuaikan dengan make up nya. Tapi masih sample dan tidak yakin dipakai juga,” jelasku sambil memegangi daguku dan memikirkan make up yang super ribet, ‘Siapa juga yang bisa mendandani ala zombi, dan lagi zombi itu ... apa bisa disebut sebagai hantu? aku tidak tau ....’ Lanjutku dalam hati.


“Karena ukurannya kecil, kita minta Bayu saja yang pakai.” Ucap Hana tak mendengarkan penjelasanku.


“Ha?” Teriak Bayu yang tak terima dengan keputusan Hana.


“Ayolah, kau satu-satunya pria cebol dikelas ini. jadi mau ya ... Cuma jadi zombi kok.” Jelas Hana langsung mendapat pukulan keras dikepalanya.


“Jangan seenaknya, aku sudah mendafarkan diri jadi penerima tamu ya.” Tutur bayu berapi-api sambil menunjukan kertas pendaftarannya kepada Hana.


***


“Mendadak Hana mengubah tema parade kostumenya dengan cerita yang lebih modern dan bukan kostume cosplay bebas, padahal aku sudah senang, karena pekerjaanku tak bertambah. Tapi ... seketsanya mengenai seragam pria dan wanita benar-benar detil. Aku tidak bisa mengerjakannya sendirian jika begini.” Keluhku sambil melihat kertas sketsa ditanganku.


“He? kenapa mendadak berubah?” Tanya Yuda mengejutkanku.


“Adam yang mengubahnya, katanya akan lebih seru jika semua orang bermain drama setelah parade kostume. Jadi dia meminta Hana mendesign-kan kostumenya.” Jelasku masih dengan nada lemas.


“kostum polisi dan tahanan ya.” Gumam Yuda.


“Kenapa berkeliaran disini? bukankah seharusnya kau latihan sore?” Tanyaku mengalihkan perhatian dan menikmati hembusan angin diatap sekolah.


“Aku sedang istirahat sekarang, Cika sendiri kenapa belum pulang?” Jawabnya balik bertanya.


“Sebentar lagi ... lagi mengumpulkan nyawa untuk pergi ketoko perlengkapan lukis. Dan kakiku malas berjalan sekarang, mengingat bahan yang harus dibeli cukup banyak.” Jelasku masih bermalas-malasan.


“Mau ku temani?” Tanyanya membuatku terkejut.


“Ti–tidak perlu repot-repot aku bisa sendiri. Sebaiknya Yuda fokus berlatih untuk olimpiade saja, dan pastikan jawabanmu terhadap perasaan Nanami. Selamat tinggal.” Tuturku segera pergi dari sana setelah merebut kertas design yang dipegang olehnya.


‘Kenapa aku keceplosan bilang mau mampir dulu ketoko sih? bisa gawat kalau Nanami salah paham.’ Ocehku dalam hati sambil mengganti sepatuku diloker.


“Sesekali kita pergi keluar bersama.” Tutur Yuda mengejutkanku saat tiba-tiba dia meraih tangan kiriku dan mengajak ku berlari menjauhi sekolah.


“He?” Teriak ku merasa terkejut dengannya, “kau bolos klub?” Lanjutku bertanya tapi dia hanya tertawa sambil berlari dengan menggandeng tangan kiriku.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian...


“Apa perlengkapannya sudah semua?” Tanya Yuda yang berjalan disampingku sambil membawa beberapa kantong kanvas.


“Ya.” Angguk ku sambil tersenyum kepadanya, “terima kasih sudah menemaniku berbelanja.” Lanjutku sambil mengeratkan peganganku pada tas belanjaan yang ku pegang.


“Sepertinya klub kesenian akan melakukan sesuatu yang menarik ya.” Gumamnya.


“Sepertinya begitu, datanglah ke stand kami saat festival nanti.” Tuturku sambil melihat luasnya langit.


“Ngomong-ngomong apa kau lapar?” Lanjutku bertanya.


“Mau mampir dulu? aku bisa menyiapkan makanan dalam waktu sekejap,” ajak ku pada Yuda saat sampai di depan rumahku, “tapi bohong.” Lanjutku sambil tertawa.


“Jadi seberapa jauh rumahmu dengan Nanami?” Tanyanya membuatku teringat dengan gadis itu.


“Hanya terhalang beberapa rumah. Dari sini tinggal lurus saja, rumahnya ada diujung kompleks dekat dengan taman.” Jawabku sambil meraih tas belanjaan yang dipegang oleh Yuda.


“Biar aku saja.” Ucap Yuda yang menyadari pergerakanku.


“Tapi ini sudah larut nanti bisa kemaleman dijalan.” Jelasku padanya.


“Bukankah barusan kau menawariku untuk mampir dan makan bersama?” Tuturnya membuatku tersadar.


“I–itu hanya bercanda.” Jelasku gelagapan.


“Aku juga bercanda. Kretanya akan datang setengah jam lagi. Jadi aku harus cepat.” Tuturnya sambil tertawa dan memberikan tas belanjaannya padaku, dan ini benar-benar sangat berat.


“Jadi bisakah aku membantumu besok pagi?” Tanyanya sebelum pergi membuatku mengernyitkan dahiku karena tak mengerti dengan ucapannya, “kau tidak akan bisa membawa semua itu sendirian kesekolah bukan?” Lanjutnya membuatku melihat semua belanjaan ditanganku.


“Kau benar.” Gumamku sambil tertawa.


“Tapi aku bisa meminta Anya untuk membantuku, kau bisa pergi kesekolah tanpaku ....” Jelasku terpotong, “Biarkan aku membantumu.” Ucap Yuda memasang wajah serius dan mata yang berbinar, membuatku refleks mengangguk.


“Baiklah aku pulang dulu, selamat malam.” Ucapnya sambil tersenyum dan pergi dari hadapanku.


Ku langkahkan kakiku memasuki halaman rumah, kemudian mataku melihat sosok ibu yang menyeringai didepan pintu masuk.


“Jadi bisa beritau ibu siapa dia?” Ucapnya saat aku mendekatinya dan masuk kedalam rumah dengan semua beban ditanganku.


“Cika... jawab ibu, siapa dia? temanmu? atau pacarmu?” Lanjutnya mengoceh.


“Temanku ibu.” Jawabku sambil pergi ke kamarku.


“Benarkah?” Tanyanya tak ku perdulikan, “sayang sekali jika Cuma menjadi teman, baiklah besok ibu antar kesekolah ya.” Lanjutnya membuatku terkejut dan melihat ibu dibawah tangga tersenyum lebar kearahku.


“Kenapa mendadak ingin mengantarku ke sekolah?” Tanyaku merasa heran, “aku bisa pergi sendiri.” Lanjutku sambil melanjutkan langkahku menaiki anak tangga menuju kamarku.


“Eh... ayolah... ibu sedang tidak sibuk ko. Jadi ibu antar kamu ke sekolah besok pagi ya.” Teriaknya begitu bersemangat.


‘Tak biasanya ibu bersemangat seperti itu ....’ Batinku merasa heran, dan lagi aku juga tidak menyangka kalau hari ini aku akan ditemani Yuda berbelanja perlengkapan klub, sampai larut pula.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2