Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Cika


__ADS_3

“Cika ....” Gumam Hana dan Anya bersamaan.


“Dia menyembunyikan pesannya dengan pesan-pesan berikutnya.” Tutur Raka.


“Dia juga mengirimkan banyak pesan kepadaku, jadi pesan grup nya tenggelam. Karena bukan hanya dia yang mengirim pesan padaku.” Jelas Dinda.


“Kenapa aku tidak menyadarinya?!” Gumam Anya merasa kesal.


‘Cika ....’ Batin Nanami merasa bersalah dengan semua yang dia lakukan dibelakang Cika, ‘Ku pikir aku bisa pergi dan membiarkanmu bahagia bersama Yuda. Tapi kenapa malah kamu yang pergi mendahuluiku? London ... Yuda tidak akan bisa menemuimu lagi ....’ Lanjutnya merasa bersalah.


‘Cika ....’ Batin Yuda tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca, dan lagi wajahnya sangat murung.


“Dia pasti akan kembali kan? meski Cuma untuk berlibur saja, tapi masih ada kemungkinan dia akan kembali kan?” Tutur Ali berusaha mencairkan suasana.


“Kau benar, dia pasti akan kembali.” Ucap Adam sambil menepuk bahu Hana.


“Sampai saat itu tiba, kita harus berjuang meraih impian kita juga. Sekolah kita juga tidak akan berlangsung lama, setelah kelulusan nanti, aku akan pergi kuliah, lalu menjadi orang sukses. Jika sudah begitu, aku tinggal mengirim pesan pada Cika agar dia mau reunian dengan kita.” Jelas Ali membuat suasana didalam kelas berubah.


“Kau benar, dia juga pasti sedang berusaha mewujudkan impiannya kan.” Tutur Dinda.


“Kita harus mendukungnya! kita tidak boleh menangisi kepergiannya, dia pasti lebih sedih dari kita karena kepindahannya sudah direncanakan oleh orang tuanya, jadi kita harus memberikan dukungan padanya.” Jelas Nanami sambil menghapus air matanya.


“Kalau begitu aku akan memberikan dukunganku untuk Cika, dia bilang emailnya masih aktif kan? kalau begitu aku akan sering-sering mengiriminya pesan agar dia tidak merasa kesepian.” Tutur Hana mulai bersemangat kembali.


“Aku tidak akan kalah!” Ucap Anya ikut bersemangat.


“Syukurlah mereka kembali bersemangat.” Tutur Adam kepada Raka.


“Ya.” Jawab Raka sambil tersenyum melihat Anya yang sibuk mengetik sesuatu diheandphonenya.

__ADS_1


“Yah meski dia belum bersemangat. Pasti kepergiannya sangat mengejutkan, apalagi hari ini adalah hari ulang tahunnya, seperti mendapat kado terburuk sepanjang hidupnya.” Tutur Ali mendekati Adam dan Raka, membuat perhatian mereka tertuju pada sosok Yuda.


“Bukan hanya diputuskan, tapi juga ditinggalkan ....” Gumam Adam.


“Dia pasti tidak akan diam saja.” Tutur Raka sambil tersenyum memperhatikan Yuda yang mematung menatap layar heandphonenya.


“Kau benar, dia bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dia pasti akan melakukan sesuatu.” Ucap Adam menyetujui perkataan sahabatnya itu.


“He? melakukan sesuatu? melakukan apa? apa yang akan dia lakukan?” Tanya Ali merasa penasaran.


“Kita lihat saja nanti.” Ucap Raka sambil tersenyum kearah Ali.


“Tidak mau, beritau aku sekarang. Cepat beritau aku!” Oceh Ali mulai tidak sabaran, namun Raka dan Adam hanya bisa mentertawakan kelakuan pria itu.


***


Hai Yuda...


Mungkin ini kecepetan, tapi ‘Selamat ulang tahun’. Maaf karena tidak bisa merayakannya seperti tahun lalu. Dan lagi hari ini aku akan pergi ke negri yang tak ku kenali dan tinggal disana dalam waktu yang cukup lama. Mungkin tak akan pernah kembali lagi ....


Hari ini menjadi pertemuan terakhir kita, tapi kita tidak bertemu sih, dan aku sudah memutuskanmu juga. Berbaikanlah dengan Ali dan Anya. Aku tidak mau kalian bermusuhan setelah aku pindah ke London.


Aku juga tidak mau kau mencintaiku setengah-setengah, itulah kenapa aku memutuskanmu dan tak bisa meneruskan hubungan ini. Rasanya mustahil berhubungan jarak jauh denganmu... jaga Nanami ya. Aku tau kau juga mencintainya.


Terima kasih untuk waktu yang kau berikan padaku selama ini, aku akan mengingat kebersamaan kita sesekali... aku juga harus berterima kasih pada Fino, dengan tingkahnya saat itu, aku jadi bisa memiliki alasan untuk memutuskanmu.


Maaf sudah membodohimu... tapi tak ada cara lain untuk putus darimu, aku juga harus segera pergi ke London. Sekali lagi selamat Ulang Tahun mantan kekasihku, Selamat tinggal...


‘Paket?’ Batinku setelah membaca ulang email dari Cika, ‘apa jangan-jangan paket kemarin pagi ya?’ Lanjutku masih dalam hati dan segera bergegas meraih kotak berukuran sedang yang tersimpan diatas meja belajarku.

__ADS_1


Tanpa membuang-buang waktu, aku langsung membuka paket yang dimaksud oleh Cika. Dan ku dapati sebuah sketch book dan buku catatan dibawahnya. Lalu ada sebuah bungkusan kado dibawahnya, dengan cepat aku membuka bungkusan itu. Untuk beberapa saat aku tak bisa berkutik saat melihat sebuah syal rajut, “Jadi kau membuatnya untuk ku?” Gumamku saat mengingat Cika yang sedang fokus merajut syall dirumahnya saat aku berkunjung.


Lalu ku alihkan kembali pandanganku kearah sketch book dan buku catatan disampingnya, dengan penuh pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk melihat sketch book yang sudah ku pegang dengan tangan kananku.


Betapa terkejutnya aku saat melihat semua gambarannya, mataku sempat terkunci beberapa kali saat melihat halaman demi halaman yang menuntunku sampai pada gambar terakhir.


“Cika ....” Gumamku merasa tak percaya dengan semua gambarannya, “semua ini gambar diriku, jadi selama ini kau selalu memperhatikanku?” Lanjutku sambil mengingat semua kenanganku saat bersama dengannya.


‘Benar juga ... kau memang tidak bisa lepas dari sketch book dan pensilmu saat sedang bersamaku, kenapa aku tidak pernah menanyakannya padamu?’ Batinku kembali mengoceh sambil meraih buku catatan yang mulai mencuri perhatianku.


“Ini kan?” Ucapku kembali dikejutkan oleh isi dari buku yang sedang ku pegang, “kumpulan surat dari pertama kita bertemu, jadi kau menyimpannya dan mengoleksi semuanya?” Lanjutku tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi berusaha ku bendung.


‘Cika.’ Batinku kembali memanggil namanya, berharap dia bisa mendengarnya.


“Aku ingin menemuimu lagi Cika.” Ucapku sambil memeluk syal yang ku dapatkan darinya.


Saat aku terlarut dalam kesedihan dan meratapi kenyataan pahit yang saat ini sedang ku rasakan. Tiba-tiba saja aku mendapatkan panggilan masuk dari Raka, dengan cepat aku menjawab panggilannya.


“Bagaimana? apa kau menyukai hadiah dariku?” Tanyanya tepat saat aku baru menjawab telponnya.


“Ya, terima kasih untuk kejutannya.” Jawabku sambil melihat setumpuk kado yang belum aku buka dibawah meja belajarku.


“Telat, tapi ya sudahlah aku sudah memaafkanmu.” Tuturnya terdengar kesal namun juga suaranya terdengar hangat.


‘Ah... dia mencemaskanku lagi ya?’ Batinku saat mendengarkan suara Raka, sahabatku yang satu ini memang sangat sensitif dan paling bisa diandalkan.


“Raka,” Ucapku menghentikan ocehannya, “aku ingin menyusul Cika.” Lanjutku.


“Loe gila ya?” Teriaknya terdengar begitu terkejut membuatku refleks menjauhkan heandphoneku dari telingaku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2