![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
“Ruangan apa ini?” Tanya Yuda sambil membuka pintu, dan aku terlambat menghentikannya.
“I–itu ....” Ucapku mulai tergugup.
“Ruang lukismu ya.” Tutur Yuda sambil tersenyum dan menaruh tangannya diatas kepalaku.
“A–aku akan menyiapkan kue nya, tadi kita tinggal begitu saja. Mungkin sekarang sudah matang. Aku segera kembali.” Tuturku sambil meninggalkannya karena merasa gugup.
“Boleh aku melihat-lihat lukisanmu Cika?” Tanya Yuda menghentikan langkahku.
“Te–tentu saja.” Jawabku sambil bergegas pergi kedapur.
***
“Dia melukis semua ini?” Gumam Yuda sambil memperhatikan semua lukisan itu satu persatu, “Inikan ....” Lanjut Yuda memperhatikan sebuah lukisan disudut ruangan dekat dengan jendela.
“Maaf membuatmu menunggu ... makanannya aku simpan disini ya.” Ucap Cika mengejutkan Yuda, dan berjalan kearah sebuah meja di dekat pintu.
“Cika? lukisan ini ....” Ucap Yuda sambil menunjuk sebuah lukisan dihadapannya, membuat gadis itu terkejut.
“Ah lukisan itu ....” Jelas Cika terpotong.
“Itu?” Ucap Yuda membuat detak jantung gadis itu berdebar dua kali lipat lebih cepat sekarang.
“A–aku melukisnya saat melihatmu bermain trombon di ruang musik, ma–maafkan aku karena tidak meminta izin darimu. Seharusnya aku meminta izin dulu darimu sebelum melukisnya.” Tutur gadis itu sambil menutup matanya.
“Indah sekali.” Ucapnya membuat Cika menatap wajah Yuda.
‘Dia tersenyum?’ Batin Cika saat melihat ekspresi Yuda.
“Sudah lama aku ingin dilukis olehmu, tapi diam-diam kau melukis wajahku. Aku senang ....” Tutur Yuda membuat Cika semakin malu dan salah tingkah.
kemudian Yuda mulai melangkah kearah lukisan yang tertutup oleh kain putih, “Apa semua lukisan ini belum selesai?” Tanyanya melihat kearah Cika berdiri, setidaknya ada empat lukisan yang sengaja ditutup dengan kain putih oleh gadis itu.
“E–eh?! itu ... itu su–sudah selesai ko. Mau melihatnya?” Jawab Cika sambil menawarinya dengan tergagap karena masih merasa gugup.
“Bo–boleh?” Tanyanya membuat gadis itu refleks menganggukan kepalanya, dan Yuda pun membuka semua kain putih itu. Cika yang melihat mata Yuda berbinar tak bisa berpaling darinya. Dan Yuda masih anteng memperhatikan ke empat lukisan dihadapannya itu.
“I–ini?” Gumamnya.
“Yuda, aku melukis Yuda saat pertama kali bertemu diaula saat penerimaan siswa baru waktu kelas 10, kemudian Yuda yang sedang berolahraga, Kau yang menjadi teman satu bangku ku di kelas 11 dan bertukar surat denganku, dan yang terakhir ekspresimu saat aku menyatakan perasaanku didalam kelas ....” Jelas gadis itu sambil mengingat semua kenangan indah saat itu, dan sekarang pria itu sudah menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Dan Yuda pun segera meraih tangan Cika, membuat gadis itu melihat kedalam matanya dan kembali tergugup karenanya.
“Terima kasih karena sudah mencintaiku ....” Tutur Yuda sambil tersenyum hangat dan memeluk kekasihnya dengan erat.
“Aku mencintaimu ....” Bisik gadis itu membuat Yuda mengeratkan pelukannya.
***
“Sepertinya sudah larut.” Gumam Yuda setelah meminum teh hangatnya dan meletakan cangkir teh nya diatas meja.
“Ya kau benar. Sebaiknya kau bergegas jangan sampai ketinggalan kreta ....” Tuturku sambil meraih tas lukisanku untuk memasukan lukisan yang diinginkan oleh Yuda.
“Kau yakin mau memberikannya padaku?” Tanyanya.
“Ya. Anggap saja sebagai hadiah kemenanganmu.” Jawabku sambil memberikan tas itu pada Yuda.
“Kalau begitu aku terima. Terima kasih ya Cika.” Tuturnya sambil tersenyum.
“Tidak perlu berterima kasih.” Jelasku membalas senyumannya.
Kami pun pergi keluar rumah bersama, dan pria itu melambaikan tangan kanannya padaku sambil berlalu dari hadapanku. Kemudian aku kembali kedalam rumah dan mengunci pintu rumah.
“Syukurlah dia menyukainya ... tapi aku benar-benar terkejut dia bisa menemukan ruangan itu. Padahal aku tidak ingin dia masuk, tapi malah ku biarkan masuk.” Gumamku merasa bodoh sekaligus senang saat melihat ekspresinya hari ini.
‘Dan dia mengatakannya dengan ekspresi yang tak bisa ku tolak. Senyumannya, tatapan matanya dan gesturenya ....’ Tuturku dalam hati.
“Tu–tunggu! apa yang aku pikirkan?! sadarlah Cika!” Ocehku saat sadar dengan pikiranku.
***
Liburanpun berakhir, dan aku kembali pada kegiatanku disekolah. Menjadi kakak kelas tertua, dan bersiap untuk menghadapi berbagai ujian dikelas 12.
“Pagi Cika!” Sapa Ali sedikit mengejutkanku.
“Pagi.” Jawabku sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kelasku.
“Ku dengar kau pacaran dengan Yuda ya.” Tuturnya sambil memasang ekspresi tersenyumnya, ceria seperti biasanya.
“Um.” Angguk ku menahan malu.
“He ... tak ku sangka, ku kira gadis sepertimu lebih tertarik dengan pria yang ceria atau berandal. Karena sifatmu itu begitu pendiam. Dan biasanya gadis ceria akan jatuh cinta pada pria dingin. Tapi ternyata ada juga yang sepertimu ....” Tuturnya tak bisa ku pahami.
__ADS_1
“Aku duluan.” Ucapku saat sampai didepan kelasku dan langsung masuk tanpa banyak basa-basi dengannya lagi.
‘Hee... kelasnya masih kosong. Apa ini artinya aku berangkat terlalu pagi?’ Batinku.
“Pagiiii Cika!” Teriak Hana mengejutkanku, gadis itu begitu bersemangat dan sangat ceria dari biasanya. Mungkin liburan musim panasnya sudah memberinya energi lebih untuk menghadapi sekolah.
“Pagi Hana.” Sapaku sambil menyimpan tas sekolahku digantungan samping mejaku.
“Ngomong-ngomong Cika! minggu depan ada festival tahunan dibalai kota. Apa kau mau ikut? aku sudah menantikannya selama satu tahun dan sekarang hampir tiba saatnya... kyaaa... aku sangat bersemangat untuk itu.” Tuturnya berapi-api.
“Kau sangat berisik!” Ucap Adam yang tiba-tiba berdiri disampingnya dan memukul kepala gadis itu dengan ekspresi datarnya.
“Hhaha...” Tawaku pecah saat melihat pertengkaran mereka.
“Kenapa kalian gak jadian aja?” Tutur Raka yang baru memasuki kelas bersama dengan Yuda.
“Pagi Cika.” Sapa Yuda membuatku refleks tersenyum padanya.
“Jadi kita sekelas lagi?” Tanyaku tak menyadarinya.
“Apa kau tidak melihat nama kami dipapan pengumuman?” Jawab Hana balik bertanya.
“Ma–maafkan aku, sepertinya aku terlalu serius memikirkan sesuatu.” Jelasku merasa tidak enak,
“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Hana mengejutkanku.
“Paling mikirin Yuda.” Jawab Anya yang sudah berada ditengah-tengah kami.
“Ngapain ni orang disini? kelas loe kan disebelah.” Tutur Adam.
“Mata loe rabun ya? jelas-jelas nama gue tertera di kelas 12-2, yang di kelas 12-3 itu si Raka sama si Yuda.” Jelas Anya sambil memeluk ku.
“He–heeee?! jadi Yuda sama raka dikelas sebelah? 12-3?” Tanyaku merasa terkejut karena tidak menyadari ketidak adaan nama mereka di daftar kelas 12-2. Tapi Yuda hanya tersenyum mendengar pertengkaran Adam dan Anya.
“Huhu... aku kira bisa sekelas sama Raka juga, padahal aku berdo’a supaya aku bisa sekelas dengan Cika dan Raka. Ternyata Cuma sama Cika doang yang dikabulkan.” Oceh Anya merengek dipelukanku.
“He? Nanami juga ada dikelas sebelah kan ? wah wah benar-benar tidak terduga ....” Gumam Hana.
“Tak apa cup cup ada aku disini. Lagipula sejak SMP kita tidak disatukan dalam satu kelas lagi. Dan sekarang kita sudah dipersatukan lagi didalam kelas yang sama.” Hiburku sambil mengelus-ngelus kepalanya dengan lembut.
Tak lama kemudian bel masukpun berbunyi membuat semua orang bergegas pergi keaula untuk melakukan upacara pembukaan.
__ADS_1
“Aku pergi dulu ya.” Ucap Yuda sambil menepuk kepalaku perlahan dan segera mendapat anggukan dariku.
Bersambung...