![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
“Jadi belanja lagi untuk kebutuhan klub ya?” Gumam Yuda sambil memperhatikanku yang sibuk memilih kanvas.
“Karena persediaan di klub sudah habis. Dan lagi aku butuh banyak persediaan.” Jelasku.
“Ku dengar Cika ikut kompetisi, apa itu benar?” Tanya Yuda.
“Ya, Dinda yang menyarankanku untuk ikut.” Jawabku sambil melihat-lihat kuas setelah selesai memilih kanvas yang akan aku beli.
“Cika ...,” ucap Yuda terlihat ragu membuatku bertanya-tanya mengenai apa yang akan dia katakan padaku, “sepertinya tidak jadi.” Lanjutnya semakin membuatku penasaran.
“Ada apa? katakan saja.” Ucapku padanya.
“Tidak, jika sudah selesai sebaiknya kita pergi.” Jelasnya membuatku bergegas pergi ke kasir.
‘Apa yang ingin dia katakan?’ Batinku terus bertanya-tanya.
Setelah selesai membayar semuanya akupun keluar dari toko itu bersama dengan Yuda, dan dia membawakan semua belanjaanku dengan ekspresi cemasnya.
“Kalian pulang bersama?” Suara Nanami mengejutkanku.
“Nanami ....” Gumamku.
“Kau sendiri?” Lanjut Yuda bertanya.
“Ya, aku habis belanja.” Jawab gadis itu sambil menunjukan belanjaanya dan tersenyum hangat kepadaku dan Yuda, “kebetulan sekali kita bertemu disini, bagaimana kalau kita makan bersama. Ada tempat yang ingin aku kunjungi bersama kalian.” Lanjutnya begitu bersemangat sambil menarik tanganku dan berjalan kesebuah restoran.
“Tu–tunggu Nanami, aku ... aku–” Jelasku terhenti saat mendapati ibuku berdiri dihadapanku dan Nanami saat ini.
“I–ibu?” Gumamku.
“Wah senangnya melihat kalian begitu akur.” Tutur ibuku sambil tersenyum.
“Selamat sore tante.” Ucap Yuda bersamaan dengan Nanami.
“Kenapa ibu ada disini?” Tanyaku.
“Hari ini ibu pulang cepat dan ibu juga berniat menjemputmu. Tapi ibu melihatmu disebrang sana, jadi ibu bergegas menemuimu.” Jelasnya sambil melihat kearah mobil yang terparkir disebrang jalan.
__ADS_1
“Jangan parkir sembarangan!” Ucapku menaikan nada bicaraku membuatnya tertawa.
“Apa kau mau pulang bersama ibu? atau ....” Tanyanya ragu-ragu.
“Kebetulan sekali, bagaimana kalau tante juga ikut makan bersama kami sebelum pulang.” Tutur Nanami mengalihkan perhatian ibu yang terus menatapku dengan tajamnya, seolah menegaskan bahwa masalah diantara kita belum selesai.
Perdebatan kemarin sudah sangat membuatku kerepotan, sekarang aku langsung dihadapkan dengan ibuku lagi. Sejauh ini keputusan itu sangat mutlak, dan aku selalu mengalah pada keinginannya itu. Meski aku merajuk sekalipun, ibu tak akan mendengarkan permintaanku. Dan itu membuatku kesal.
“Hee... jadi kalian mau makan dulu? kebetulan tante juga lapar. Kalau begitu mari kita makan dulu.” Tutur Ibuku sambil tersenyum kepada Nanami.
“Parkirkan dulu mobilmu di tempat yang benar!” Ucapku sambil melengos.
“Hee...” Ucap ibu.
***
Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasanya, setelah kejadian makan bersama ibu kemarin, Yuda menjadi sangat pendiam, bahkan dia tidak membalas semua pesanku. Ibu juga tak membicarakan soal kepindahan kami ke London. Dan entah kenapa, itu malah membuatku lebih takut dari perdebatan kami sebelumnya.
“Cika!” Teriak Anya mengejutkanku. Dan kamipun berjalan bersama menuju loker sepatu, “Ada apa? kenapa wajahmu sangat serius begitu?” Lanjutnya bertanya.
“E–eh... tidak ada.” Jawabku sambil tersenyum.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanyaku merasa heran dengan ekspresi seriusnya itu, seolah-olah dia bisa menebak apa yang sedang aku pikirkan, atau mungkin dia berusaha untuk mendesak ku supaya aku mau curhat padanya.
“Sudah ku duga, sepertinya kau juga menyadari kedekatan Yuda dan Nanami akhir-akhir ini ya? Hem... mereka memang sangat aneh, seperti ada yang sedang disembunyikan ... tapi apa ya?” Gumamnya terus berpikir.
“Ha–haa... ke–kedekatan Yuda dan Nanami? ni anak ngomongin apaan sih?” Gumamku tak mengerti dengan pikirannya itu.
“Itu loh, kemarin aku sempet liat kalian makan bersama, Ibumu juga ikut makan kan. Dan saat kau pulang bersama ibumu, Yuda pergi bersama Nanami, aku sendiri merasa sangat penasaran saat itu. Jadi aku mengikuti mereka sampai melihat Yuda turun distasiun dan mengantarkan Nanami sampai ke rumahnya, aneh kan? sangat aneh,” jelasnya.
“Yang aneh itu kamu, bisa-bisanya mengikuti mereka sampai akhir.” Gumamku sambil tersenyum kecut.
“He–hentikan ekspresi menjijikan itu Cika!” Teriak Anya merasa kesal, “tapi ini beneran loh, belakangan ini mereka juga sering kemana-mana berdua.” Lanjutnya kembali pada penjelasannya.
‘Ni anak lama-lama nakutin ya ....’ Batinku sambil membayangkan Anya yang mengikutiku kemanapun aku pergi.
“Seperti itu, lihat-lihat mereka datang berdua!” Ucap Anya membuyarkan lamunanku saat dia menunjuk sosok Yuda dan Nanami yang baru memasuki gerbang sekolah.
__ADS_1
“Aku sudah tau.” Ucapku sambil melihat mereka sebelum pergi dari loker, entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa kesal pada kedekatan mereka. Dan lagi Yuda juga tidak membalas pesaku, padahal ada yang ingin aku katakan padanya.
“Tu–tunggu Cika!” Teriak Anya mengejar langkahku.
“Maaf Anya, sepertinya aku harus menyimpan semua peralatan ini ke ruang kesenian dulu.” Tuturku sambil tersenyum dan berbelok kearah berlawanan dari kelasku.
“Ya–ya ....” Jawab Anya terdengar ragu, tapi aku tak memperdulikannya. Yang ingin ku lakukan saat ini hanyalah melukis sebaik mungkin, dan menghasilkan karya yang pantas untuk kompetisi nanti.
***
“Aku bahkan tidak bisa berpikir saat ini, tanganku juga tidak mau digerakan. Padahal aku sudah berangkat sepagi ini supaya aku bisa melukis lebih lama hari ini, sayang sekali ....” Gumamku sambil merasakan hembusan angin yang menyusup melalui jendela ruang kesenian yang terbuka setengahnya.
‘Aku kira aku sudah memiliki Yuda sepenuhnya, tapi ku rasa tidak seperti itu. Mungkin kali ini Nanami lebih menarik perhatiannya daripada perasaan cintaku. Mungkin juga perasaan Yuda sudah berubah, sama seperti dia yang mencintai Nanami pada awalnya ... lalu tertarik padaku, dan sekarang kembali tertarik pada Nanami.’ Batinku terus memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi pada Yuda.
“Apa-apaan coba?” Ucapku merasa kesal.
“Pagi Cika!” Teriak Dinda memasuki ruang kesenian dengan penuh semangat.
“Pagi.” Balasku sambil tersenyum padanya.
“Hee... tumben sekali datang sepagi ini, dan lagi ...,” tutur Dinda sambil berjalan mendekatiku dan tatapannya terus tertuju pada kanvas dihadapanku, “kau belum melukis sedikitpun, kanvasmu masih bersih.” Lanjutnya.
“Hhaha, aku sedikit kesulitan memikirkan apa yang ingin aku lukiskan.” Jelasku sambil tertawa.
“Jarang sekali melihatmu kesulitan, yah pokoknya semangat!” Ucap Dinda sambil menepuk bahuku dan tersenyum lebar.
Disisi lain...
“Sudah ku duga, sepertinya ada yang aneh dengan Cika ....” Gumam Anya terus memikirkan sahabatnya.
“Apa yang salah dengannya?” Tanya Hana mengejutkan gadis itu.
“I–itu... bagaimana menjelaskanya ya, pagi tadi aku dan Cika melihat Yuda dan Nanami datang ke sekolah bersama-sama. Terus Cika terlihat kesal, padahal biasanya dia terlihat begitu tenang dan biasa-biasa saja, tapi hari ini, dia seperti tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.” Jelas Anya.
“Tentu saja dia cemburu, bukankah itu bagus untuk hubungan mereka? maksudku rasa cemburunya Cika, jika dia merasa cemburu, bukankah dia benar-benar sangat mencintai Yuda?” Tutur Hana sambil tersenyum.
“Tapi aneh juga melihat Yuda dan Nanami yang sering bersama-sama ....” Gumam Anya.
__ADS_1
“Sudahlah, kita tunggu kabar baiknya saja. Aku yakin Cika tidak akan tinggal diam.” Ucap Hana berusaha menenangkan Anya.
Bersambung...