Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Rambut Pendek


__ADS_3

“Cika?! bagaimana kondisimu? ku dengar kau demam.” Tutur Nanami bertanya saat bertemu denganku ditengah perjalanan menuju sekolah.


“Lebih baik.” Jawabku.


“Ada yang ingin aku katakan.” Tuturnya membuatku refleks mempererat peganganku pada tali tas sekolahku.


“Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi agar Yuda tertarik padaku, kau juga berusaha lebih keras ya Nanami.” Ucapku memotong pembicarannya, ku alihkan pembicaraan kami berharap dia tidak menyadari perubahan sikapku. Aku juga tidak mau dia merasa kasihan padaku karena sudah jadian dengan Yuda. Aku tidak mau dia mengasihaniku dan memutuskan Yuda untuk ku.


“Eh?” Ucapnya sedikit terkejut.


“Aku akan serius kali ini.” Tuturku sambil tersenyum padanya, meski dalam hati aku sudah merelakannya untuk Nanami, gadis yang mencintai Yuda lebih dulu dariku.


“Tunggu Cika!” Teriak Nanami berlari mengejarku, dan kamipun tertawa bersama. Saling menutupi perasaan kami yang sebenarnya, saling menjaga perasaan satu sama lain secara diam-diam.


Sesampainya disekolah...


“Pagi Hana.” Sapaku melewati mejanya.


“Pagi Cika.” Ucapnya menyapaku balik sambil tersenyum.


“Pagi ini aku membuat bekal lebih, jadi aku buatkan untuk Hana juga.” Jelasku sambil memberikan kotak bekalku padanya.


“Asik... ini benar-benar hebat. Aku kira kau melupakannya dan tak mau membuatkannya untuk ku.” Tuturnya begitu bersemangat.


“Syukurlah kalau kamu menyukainya.” Ucapku sambil tersenyum padanya.


Waktupun berlalu dengan cepat, mungkin karena aku sedang dalam kondisi tak menikmati hariku hari ini. dan lagi aku ingin segera pulang sampai lupa dengan kotak bekalku yang masih berada ditangan Hana.


Tapi aku sudah terlanjur sampai digerbang sekolah. Jadi aku malas untuk balik lagi dan mengambil kotak bekalku, ku langkahkan kakiku menyusuri trotoar dan berhenti didepan sebuah salon. Lalu melihat bayanganku yang terpantul dari kaca jendela salon.


“Apa sebaiknya aku ubah gaya rambutku ya?” Gumamku sambil memegangi rambut panjangku, dan ku langkahkan kakiku menuju kedalam salon setelah memantapkan keputusanku. Ku biarkan penata rambut itu memotong pendek rambutku hingga sebahu.


‘Dengan begini aku bisa mengawali lembaran baruku.’ Batinku setelah selesai memotong rambutku.


***


“Aku pulang.” Ucapku.


“Kau sudah pulang?” Tanya ibuku yang sibuk didalam dapur.

__ADS_1


“Ya.” Jawabku sambil berjalan kedalam dapur.


“Apa yang kau lakukan pada rambutmu itu? bukankah kau tidak menyukai gaya rambut pendek? karena ....” Tanya ibu terpotong.


“Aku ingin mencobanya ... jadi kapan Ayah pulang? festival sekolah tinggal beberapa minggu lagi.” Jelasku balik bertanya.


“Entahlah, dia bilang ada pekerjaan mendadak jadi ayahmu menunda kepulangannya.” Jawab ibu sambil menyiapkan makanan untuk ku.


“Lagi?” Gumamku sambil menyantap makanan itu, dan ibu ikut makan bersamaku.


“Aku selesai.” Ucapku sambil membawa piring kotor itu kedalam wastafel dan mencucinya.


“Bagaimana kabar Anya? sudah lama ibu tidak mendengar tentangnya.” Tanya ibu tiba-tiba.


“Baik ... dan selalu ceria seperti biasanya.” Jawabku sambil mengeringkan tanganku.


“Eh ... anak ibu semakin dingin saja ....” Tutur ibu sambil membereskan meja makan.


“Aku akan pergi belajar, jadi ibu bisa pergi beristirahat.” Lanjutku sambil memeluknya sebentar, dan pergi dari sana.


Sesampainya di dalam kamar, aku langsung mengganti seragam sekolahku dengan baju tidur. Kemudian ku raih ponselku yang tersimpan didalam rok sekolahku.


“Ada pesan masuk,” gumamku sambil membuka pesan itu, “Yuda.” Lanjutku saat melihat nama si pengirim pesan itu.


Hai Cika, besok pelajaran bu.Mita . ku dengar bu.Mita meminta siswa/i dari kelas lain untuk melukis wajah lagi. Tapi hanya sketsa kasarnya saja, tidak berwarna. Jadi maukah kau menjadi pasanganku besok?


“Ha–haaaa...?!” Teriak ku merasa terkejut dengan pesan yang ku dapatkan, “Apa maksudnya? kenapa malah memintaku menjadi pasangannya? Nanami? bagaimana dengan Nanami?” Lanjutku mengoceh.


***


“Selamat pagi Yuda.” Sapa Nanami terdengar keluar kelas.


“Pa–pagi...” Jawab Yuda tergagap.


Lalu ku langkahkan kakiku memasuki kelas, mengikuti Yuda yang sudah lebih dulu masuk kelas. Lalu disusul dengan suara Hana yang berjalan dibelakangku, membuat semua perhatian orang didalam kelas mengarah padanya.


“He... ada apa dengan Cika?”


“Kenapa dia memotong rambutnya?”

__ADS_1


“Apa sesuatu sudah terjadi padanya?”


“Apa jangan-jangan ....”


Oceh beberapa orang malah membahas soal rambut baruku, “Selamat pagi Cika.” Sapa Yuda saat aku duduk disebelahnya.


“Pagi.” Balasku.


“Jadi bisa beritau aku mengenai rambutmu?” Tanya Hana yang sudah duduk dibangku kosong didepan mejaku karena kebetulan orangnya belum datang.


“Apa terlihat aneh?” Jawabku mengalihkan pembicaraannya.


“Tidak juga, malah terlihat lebih segar ... tapi kenapa mendadak potong rambut?” Ucapnya menjawab pertanyaanku.


“Tak ada yang spesial ko.” Tuturku sambil tersenyum padanya.


“CIKA!” Teriak Anya tak tau malu, membuatku segera menghentikannya dengan berjalan kearah pintu kelas untuk menemuinya.


“Jangan teriak-teriak dikelas orang.” Tuturku padanya.


“He?” Gumamnya, “Ci–cika ada apa dengan rambutmu? kenapa menjadi sebahu?” Lanjutnya bertanya sambil memegang bahuku dengan kedua tangannya.


“Apa jangan-jangan kau baru saja patah hati?” Lanjutnya berbisik dan langsung mendapat pukulan dikepalanya.


“Jangan asal bicara.” Ucapku sambil melepaskan tanganku dari atas kepalanya.


“Wow ternyata kau bisa bersikap seperti itu juga.” Tutur Hana yang sudah berdiri disampingku.


“Dia melakukannya untuk menyembunyikan perasaan malunya.” Jelas Anya membuatku ingin memukulnya lagi, namun dengan gerak cepat Anya memberikan selembaran padaku untuk mengalihkan perhatianku.


“Apa ini?” Tanyaku.


“Aku disuruh memberikan selembaran itu saat berpapasan dengan anggota klub kesenian. Katanya mereka ingin membuat event, baca aja dulu. Aku balik ke kelas dulu ya bye-bye.” Jawabnya sambil meninggalkan kelasku.


 


“Event?” Gumamku sambil memperhatikan kertas ditanganku.


 

__ADS_1


Bersambung...



__ADS_2