![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
“Kalian disini?” Tanya Dinda kepada Raka dan dua temannya.
“He? payung?” Tanya Ali merasa terkejut karena mereka menggunakan payung, “Darimana kalian mendapatkanya? bukankah tidak ada yang membawa payung?” Lanjutnya kembali mengoceh.
“Mereka yang memberikannya ....” Jawab Raka menunjuk kearah Mira dan rekan-rekannya.
“Siapa?” Tanya Ali memperhatikan seseorang yang ditunjuk Raka.
“Teman-teman SMP ku.” Jawab Anya sambil tersenyum.
“Ternyata kalian masih disini?” Tanya Hana yang baru bergabung dengan teman-temanya.
“Jadi bagaimana?” Tanya Anya dan Dinda mulai menggoda Hana.
“Ha? bagaimana apanya?” Jawab Hana balik bertanya.
“Ayolah jangan berpura-pura tidak tau seperti itu...” Goda Anya sambil menyeringi, sedangkan Raka dan Yuda sibuk menggoda Adam.
“Ku dengar Hana baru jadian dengan Adam. Jadi itu benar ya.” Tuturku sambil tersenyum kearah Hana.
“Heee ? dari mana kalian tau?” Teriak Hana merasa terkejut.
“Tidak penting darimana kita tau, yang penting ... ayo traktir kami makanan.” Tutur Dinda sambil meraih tangan Hana dan menggeretnya kesebuah kedai peremen kapas, dan Anya mengikutinya dari belakang sambil tertawa.
“Tu-tunggu kalian. payungnya ....” Teriak ku ikut mengejar mereka, dan Adam pun ikut bergerak untuk mengejar Hana yang digeret oleh kedua temannya.
***
Malam yang cukup menyenangkan karena aku bisa bersenang-senang dengan teman-temanku, meski Yuda masih sibuk memayungi Nanami. Aku berusaha untuk berpikir positif dan mencoba untuk tidak cemburu dengan kondisi saat ini.
‘Padahal baru saja kami berbaikan dan mengambil foto bersama.’ Batinku sambil melihat layar handphoneku dan memperhatikan fotoku bersama dengan Yuda.
“Cika kemarilah.” Teriak Anya di dekat stand aksesoris, dan ku lihat Hana sudah mengenakan sebuah topeng dan berfoto bersama Adam yang juga mengenakan topeng. Sedangkan Anya masih melambaikan tangan kearahku.
Dengan cepat aku mendekatinya dan diapun meraih tanganku, lalu mengikatkan sebuah gelang ditangan kiriku dan melihat jam digital di layar handphonenya, kemudian menatapku dengan serius, membuatku sedikit merinding karena tak biasanya dia bersikap seperti itu.
“Masih ada 2 jam 40 menit lagi, jadi ku pikir tak terlalu telat untuk mengucapkannya.” Jelasnya sambil tersenyum dan aura kebahagiaannya mendadak bertebaran.
“He... apa? apa yang akan kau ucapkan? janji persahabatankah?” Tanya Dinda yang merasa penasaran dengan ucapan Anya.
“Jangan-jangan ini sebuah pengakuan Cinta seorang Anya kepada Cika.” Tutur Hana segera mendapat pukulan dari Anya sekaligus cubitan yang ku berikan padanya dipipinya.
“Aku masih normal.” Ucapku bersamaan dengan Anya.
“Sakit tau!” Ucap Hana sambil merengek, “lalu kalau bukan itu apalagi coba?” Lanjutnya bertanya.
“Hehem... kalian pasti penasaran kan, karena kalian tidak tau ini hari apa.” Jelas Anya semakin membuatku bingung.
__ADS_1
“He?” Gumam mereka semua terlihat bingung begitupun denganku.
“Dengar Cika ...," ucap Anya membuatku takut, karena mendadak jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Dan entah kenapa aku merasa seperti berhadapan dengan seseorang yang hendak menyatakan perasaannya padaku, betapa bodohnya aku, “selamat ualang tahun!” Lanjutnya sambil tersenyum dan segera memeluk tubuhku.
“He?” Gumamku merasa terkejut.
“Jadi hari ini ulang tahunnya Cika?” Tanya Dinda,
“He... kenapa kau tidak memberitau ku?” Lanjut Hana.
“Aku sendiri tidak ingat, bagaimana kau bisa?” Tanyaku kepada Anya.
“Karena kita sudah lama berteman kan?” Jawab Anya membuatku terharu dan ingin menangis saat itu juga.
“Selamat ulang tahun Cika.” Ucap Dinda dan Hana sambil memeluk ku.
“Hadiahnya nanti menyusul ya, hehe.” Lanjut Hana sambil tertawa membuatku ikut tertawa.
“Kalian ini.” Ucap Nanami ikut tertawa.
“Hujannya berhenti loh.” Ucap Raka sambil menutup payungnya.
***
Setelah puas bersenang-senang akhirnya kami semua memutuskan untuk menyudahinya karena rasanya kami sudah sangat kelelahan.
“Kau benar.” Ucap Ali bersamaan dengan Adam.
“Sayang sekali, padahal aku masih ingin bermain difestival ....” Tutur Nanami.
“Sepertinya Nanami masih memiliki banyak tenaga ya.” Ucap Yuda sambil tersenyum kearah Nanami.
‘Cih!’ Bersinku membuat mereka melihat kearahku, “Hhehe...” Tawaku sambil menutup mulutku.
“Wah wah jangan bilang kau akan demam lagi seperti yang dikatakan Disty dan Mira.” Tutur Anya.
“Tidak akan.” Ucapku membela diri sambil melepaskan jaketku agar tidak menyerap kedalam pakaianku, ya meski sudah menyerap sedikit.
“Kenapa dilepas?” Tanya Dinda.
“Basah kuyup ... pantas bersin. Pasti kau kedinginan.” Jawab Ali setelah memegang lengan jaket yang ku pegang.
“Yuk pulang.” Ucap Raka meraih tangan Anya dan berjalan mendahului kami.
“Kau akan mengantarku pulang kan?” Lanjut Dinda kepada Ali yang berjalan disampingnya.
“Rumah kita kan sebelahan, kenapa harus mengantarmu pulang?” Jawab Ali membuat gadis itu kesal.
__ADS_1
“Bodoh!” Bentak Hana membuat Adam tertawa, entah apa yang mereka bicarakan. Ketiga pasangan itu tampak serasi dalam pandanganku, entah bagaimana aku mengatakannya. Tapi kedekatan mereka dan aura bahagia mereka. Aku senang bisa melihat mereka tertawa disaat bersamaan, meski mereka tidak berbicara bersama hanya berbicara dengan satu lawan bicaranya saja.
“Kau kedinginan?” Tanya Yuda mengejutkanku.
“Tidak, aku baik-baik saja.” Jawabku sambil melihat kearah tas kecilku, dan untuk sesaat aku tak bisa berpaling dari sana saat menyadari boneka yang diberikan Yuda menghilang dari sana.
‘Aku menjatuhkannya ....’ Batinku mulai panik.
“Ada apa Cika?” Tanya Nanami menyadarkanku.
“Ah ini, tidak ada.” Jawabku sambil memaksakan tersenyum untuk menutupi kepanikanku.
‘Bagaimana ini? aku tidak bisa pulang sekarang... dimana aku menjatuhkannya ya? saat pergi ke dekat danau, bonekanya masih ada. Lalu kapan aku menghilangkannya?’ Batinku bertanya-tanya.
Ku lihat Anya dan yang lainnya sadah berjalan cukup jauh di depanku, dan Yuda bersama Nanami juga berjalan dihadapanku saat ini.
‘Mungkin ini kesempatanku untuk kembali ketempat itu dan mencari boneka itu, ku harap mereka tidak menyadari kepergianku. Aku harus cepat mencarinya dan kembali tepat waktu, masih ada kereta terakhir yang akan datang satu jam lagi, baiklah aku akan mencarinya.’ batinku sambil bergegas kembali ketempat festival.
***
“Tidak mau, pokoknya besok harus!” Teriak Hana merasa kesal kepada Adam, namun ucapannya terhenti saat perhatiannya terarah kepada Yuda dan Nanami yang baru sampai distasiun.
“Dimana Cika?” Lanjut Hana membuat Anya ikut melihat kearah Yuda dan Nanami datang.
“Bukankah tadi Cika bersama kalian?” Tanya Anya menyadarkan Yuda.
“Dia? benar juga, bukankah tadi dia berjalan dibelakang kita?” Jawab Nanami sambil melihat kesekitarnya.
“Apa dia mampir kesuatu tempat? kenapa tidak bilang dulu? dasar Cika ...,” umpat Anya sambil mencoba menghubungi gadis itu, “tidak diangkat” Lanjutnya sambil mematikan sambungan telponnya.
“Biar aku coba!” Ucap Yuda sambil mencoba menghubungi Cika.
“Bagaimana?” Lanjut Hana merasa khawatir.
“Tidak ada jawaban.” Jawab Yuda.
“Apa aku cari saja ya.” Gumam Anya segera mendapat tepukan kecil dibahunya, dan saat dilihatnya Raka sudah tersenyum kearahnya.
“Sudah malam, sebaiknya kalian pulang saja, biar aku dan Yuda yang mencarinya. Kalian pulang saja bersama Ali dan Adam.” Tutur Raka menjelaskan situasinya. Dan Raka segera berlari keluar stasiun bersama Yuda.
“Tapi ....” Ucap Anya segera dihentikan oleh Ali.
“Sudah, kita percayakan saja pada mereka. Lagipula besok kita harus sekolah. Kita harus segera pulang dan beristirahat” Jelas Ali kepada Anya.
“Ali benar, kita percayakan saja pada Yuda dan Raka.” Tutur Nanami.
“Yah lagipula ini salah Yuda, kenapa perhatiannya sampai teralihkan. Jika saja dia fokus pada Cika. Cika tidak akan menghilang seperti ini.” Tutur Anya merasa kesal.
__ADS_1
Bersambung...