Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Perubahan Kecil


__ADS_3

Setelah menemui Dinda saat istirahat, aku langsung pergi ke kelas dan memikirkan tawarannya minggu lalu. Dia menyarankanku untuk mengikuti kompetisi lukis tingkat kota dan mewakili klub kesenian dalam kompetisi itu. Jika bisa bertahan sampai final, maka klub seni akan mengharumkan nama sekolah. Dan aku memutuskan untuk ikut, untuk menebus hutangku pada Dinda.


Saat itu aku lupa menanyakan soal Event yang dibicarakan Anya saat menjelang festival sekolah waktu itu. Dia datang ke kelasku untuk menyerahkan brosur yang Dinda titipkan padanya. tapi aku malah melupakannya, dan event itupun sudah lama berlalu.


Jadi sore ini juga aku langsung memutuskan untuk pergi keruang kesenian untuk mulai melukis, temanya adalah festival olahraga, Sesampainya diruang kesenian, aku mulai melukis dan mencoba untuk langsung menyelesaikannya.


Dua jam sudah aku menggerakan tanganku, akhirnya lukisanku hari ini selesai setengahnya. Waktu sudah menunjukan pukul enam sore, dengan cepat aku merapikan semua peralatan lukis yang ku gunakan. Dan menutup kanvasku dengan kain putih, lalu melanjutkannya besok siang.


“Permisi.” Ucap seseorang saat aku memakai tas sekolahku.


“Ya?” Jawabku sambil berjalan kearah pintu dan keluar dari dalam ruang kesenian sambil menutup pintu ruangan itu.


“Na-nanami? ada apa?” Tanyaku tergugup.


“Aku hanya khawatir denganmu, ku lihat saat istirahat kau pergi dengan terburu-buru keruang kesenian.” Tuturnya khawatir.

__ADS_1


“Aku hanya pergi untuk menyelesaikan lukisanku agar bisa mengirimnya tepat waktu, kompetisinya sebentar lagi ....” Jelasku sambil mulai berjalan mendahuluinya, dan gadis itu mengikutiku, berjalan disampingku.


“Jadi kau ikut kompetisi lukis?” Tanyanya, “tapi kau bilang itu hanya hobi? bagaimana bisa?” Lanjutnya masih tak mempercayaiku.


“Apa aku salah jika aku mulai serius menggeluti bidangku? kau juga mahir dalam musik, dan aku mahir dalam bidangku. Jadi aku tidak akan kalah.” Jelasku terdengar bodoh, ‘kenapa sekarang aku malah menantangnya? sebenarnya aku bersaing dengannya kan?’ Lanjutku menggerutu didalam hati.


Kami berbincang sampai ke loker sepatu, dan disana aku melihat Yuda yang sedang menunggu seseorang tentunya, entah siapa yang dia tunggu.


“Kalian bersama?” Tanya Yuda sambil menatapku.


“Kami ada kerja kelompok. Yang lainnya sudah pergi dan memintaku untuk menunggu Nanami, karena dia tidak tau kita akan mengerjakan tugas kelompok dirumah siapa.” Jawabnya membuat Nanami bergegas mengganti sepatunya.


“Hoo...” Gumamku.


“Kau mau ikut?” Tanya Nanami sambil menepuk bahuku.

__ADS_1


“Ti-tidak perlu. Aku pasti akan mengganggu kalian semua,” jawabku sedikit terkejut dengan ajakannya, “lagipula aku harus segera pulang.” Lanjutku menambahkan alasan.


“Tapi ini baru pukul enam, biasanya kau pulang pukul tujuh kan?” Tutur Nanami sangat ingin melibatkanku.


“Ya karena belakangan ini kegiatan klub ku benar-benar padat. Kami harus melukis satu lukisan setiap harinya untuk diikut sertakan dalam kompetisi tahunan dibalai kota.” Jelasku membuatnya mengangguk paham.


“Jadi kalian berniat ikut kompetisi?” Tanyanya lagi, “kereeen...” Lanjutnya berseri-seri.


“Kita harus cepat Nanami. Yang lain sudah menunggu.” Ucap Yuda setelah membaca pesan diheandphone-nya.


“Ah ya ayo pergi.” Ucap Nanami segera mendekatinya.


“Kami pergi dulu Cika. Berhati-hatilah saat pulang.” Lanjut Yuda sebelum berjalan menjauhi sekolah.


“Kalian juga berhati-hatilah!” Teriak ku sambil melambaikan tangan kearah mereka, “kerja kelompok ya ....” Lanjutku bergumam sambil memperhatikan kepergian mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2