Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Mendebarkan


__ADS_3

“He... jadi kau membuat cake?” Tanya Anya yang berjalan disampingku, kebetulan kami bertemu dikoridor dan aku memberitaunya kalau Raka sudah pergi sejak pelajaran tataboga selesai. Dan sekarang Anya akan menemuinya di atap, dan memberikan jawabannya kepada Raka.


Kami sempat berbincang-bincang sebelum berpisah dilantai berikutnya, karena aku harus segera pergi ke kelas dan memakan bekalku. Tapi Anya harus menaiki anak tangga hingga sampai diatap.


Saat aku melewati ruang klub musik, aku mendengar seseorang bernyanyi dengan sangat indah. Dan membuatku ingin mengintipnya, namun tak ku lakukan. Mengingat rasa laparku mulai menyerbu, karena cake dan puding yang ku buat dihabiskan oleh Hana dan Adam bersama beberapa siswa/i lainnya yang penasaran dengan rasanya. Padahal pudingnya masih basah.


Sesampainya didalam kelas aku langsung duduk dibangku ku, dan melihat Yuda yang sudah duduk dibangkunya. Jarang sekali melihatnya duduk sendirian, biasanya dia akan berkumpul bersama Raka dan Adam dibangku Raka atau Adam.


“Selamat datang,” ucapnya sambil melihatku yang sudah mengeluarkan kotak bekal makan siangku, “Apa kau membuat bekal sendiri?” Lanjutnya bertanya.


“Tidak setiap hari, biasanya ibuku yang membuatkannya. Tapi kalau dia tidak ada di rumah, aku membuatnya sendiri ....” Jawabku sambil menusuk telur gulung yang akan ku makan dengan garpu ditanganku, dan saat aku angkat ... Yuda meraih tanganku dan memakan telur gulung yang akan ku makan.


“He–heee....” Teriak ku sangat terkejut dan jantungku berdegup lebih cepat saat sadar tangannya masih memegangi tangan kananku, dan wajahnya yang berjarak beberapa jengkal dari wajahku, “Enak.” Ucapnya sambil tersenyum membuatku tersadar dan segera menjauhkan tanganku darinya saat dia melepaskan tanganku.


“Te–terima kasih ....” Ucapku sambil memasukan sosis berbentuk gurita kedalam mulutku.


Terdengar suara Hana dan Nanami memasuki kelas, “He... kau bawa bekal lagi. Apa itu buatanmu? minta dong.” Teriak Hana berlari kearahku dan merebut garpu yang ku pegang, “Enaknya ....” Gumamnya sambil terus menyantap bekalku.


“Sepertinya kau pandai memasak ya.” Tutur Nanami sambil tersenyum.


“Tidak juga, aku hanya bisa memasak makanan sederhana ....” Jawabku sambil memaksakan diri untuk tersenyum meski wajahku terasa kaku saat ini.

__ADS_1


“Tidak usah merendah seperti itu.” Lanjut Nanami sambil membalas senyumanku.


“Hei hei Cika, kapan-kapan buatkan aku bekal ya.” Tutur Hana sambil tersenyum penuh harap menunggu jawaban dariku.


“Mau ke kantin?” Tanya Nanami kepada Yuda.


“Boleh.” Jawabnya membuatku merasa tidak senang, dan merekapun pergi dari hadapanku. Meninggalkanku bersama dengan Hana.


“Hei hei Cika ....” Tutur Hana tak ku dengarkan, yang jelas sekarang dia sedang mengoceh dihadapanku. Menceritakan sesuatu yang tidak ku perhatikan.


***


“Cika bisa kau pergi keruang guru dan menyerahkan tugas kelas kalian padaku ?” Teriak pak Handoko.


“Tolong simpan dimejaku ya.” Lanjutnya sambil pergi dari kelas kami.


Dan semua siswa/i pun besiap-siap untuk pulang, beberapa ada yang sibuk membersihkan kelasnya untuk melaksanakan jadwal piketnya. Dan sekarang aku harus membawa semua buku catatan anak kelas keruang guru.


Kemudian mataku menangkap sosok Raka yang sedang menunggu Anya didepan kelasnya, tak lama kemudiah gadis itu keluar dari dalam kelas dan pergi dari sana.


“Apa mereka pulang bersama?” Gumamku yang tersenyum saat melihat sahabatku yang sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


***


Ku buka ponselku dan ku dapati pesan masuk disana, aku melihat nama si pengirim pesan itu, “Nanami?” Gumamku sambil bangkit dari posisi terbaringku.


“Ada apa dia mengirimkan pesan padaku? tumben ....” Lanjutku sambil membukanya dan mulai membacanya.


“Bisakah kita bertemu diatap sekolah? ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Tuturku saat membaca isi pesan itu.


“Tentu saja ....” Ucapku sambil mengetik balasan untuknya.


Malam pun berlalu dengan cepat, dan aku sedang menunggu Nanami diatap sambil menikmati hembusan angin pada pagi ini. angin yang sangat dingin.


“Cika.” Suara Nanami membuatku tersadar dari lamunanku, “Be–begini...” Lanjutnya mulai tergugup.


Ku lihat kedua tangannya sudah mengepal dan bibir bawahnya digigitnya dengan gemas berharap dia bisa mengatakan apa yang ingin dia sampaikan padaku. Setelah lama menunggu, akhirnya dia bicara juga padaku, “Sebenarnya aku ....” Tuturnya sambil sedikit menundukan kepalanya, dan matanya fokus menatap kearah sepatuku.


‘Apa yang ingin dia bicarakan?’ Batinku merasa penasaran, dan mataku sempat melihat kedua tangannya yang meremas rok sekolahnya dengan gemetaran, entah karena takut atau gugup. Aku tidak tau.


“Sebenarnya aku ....” Lanjutnya sambil menatap mataku membuatku sedikit terkejut.


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2