![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
“Bahkan dihari senin seperti ini Ibu berangkat kerja pagi-pagi sekali. Ayah juga belum ada kabar, rasanya seperti hidup sendiri ....” Gumamku saat memperhatikan ruang makan yang kosong, kemudian aku bergegas saat melihat waktu menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
“Selamat ....” Ucapku saat membuka pintu belakang kelas dengan nafas yang tak beraturan dan rambutku yang sedikit berantakan karena berlari sepanjang perjalanan menuju sekolah.
“Cika.” Ucap Hana membuat semua orang melihat kearahku.
“Ada apa denganmu?” Tanya Nanami yang duduk didekat pintu, barisan ke empat.
“Aku kesiangan.” Jawabku sambil tersenyum dan membereskan rambutku dengan jari tanganku, lalu berjalan kearah mejaku.
“Hhaha... jarang-jarang lihat kejadian langka seperti ini.” Oceh beberapa anak perempuan yang mentertawakanku.
"Ku kira tadi itu pak.Handoko yang datang dari pintu belakang" Tutur seorang gadis yang duduk didepanku.
“Rambutmu masih berantakan ....” Ucap Yuda sambil meraih rambutku dan merapikannya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih bersentuhan dengan meja dihadapannya.
Dan lagi-lagi jantungku berdegup kencang saat dia melakukan hal-hal yang tak biasa bagiku, dan lagi wajahnya sangat dekat dengan wajahku sampai mata kami saling bertemu dan kembali bertatapan.
“Te–terima kasih...” Ucapku sambil mengeluarkan buku catatanku, dan Yuda menyadari ketidak nyamananku.
Tak lama kemudian pak.Handoko datang, dan kamipun melakukan kuis dadakan seperti sebelum-sebelumnya, kali ini kami belajar bersama pak.Handoko selama empat jam sampai bel istirahat berbunyi, karena kebetulan jam belajar bu.Yani kosong dan beliau tidak masuk hari ini karena sakit. Dan tak ada tugas darinya untuk mengisi jam kosong itu, jadi pak.Handoko memanfaatkannya dengan mengajarkan kami matematika.
Lagi-lagi Yuda membuat surat untuk ku, sebuah gambar yang mengekspresikan pak.Handoko yang sedang menjelaskan pelajaran dengan serius.
‘Disaat-saat seperti inipun dia masih saja bercanda ... bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan dari pak.Handoko kalau dia tidak serius belajar ....’ Batinku sambil tertawa kecil melihat kelakuan Yuda yang seperti anak kecil.
Setelah lama belajar matematika akhirnya bel istirahatpun berbunyi, semua siswa/i didalam kelas bisa bernafas lega dan pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang menahan lapar sejak pagi. Yang mungkin mereka tidak sempat sarapan sama sepertiku hari ini, aku juga tidak sempat membuat bekal. Jadi ku pikir, sesekali aku harus pergi ke kantin.
“Cika? mau kemana?” Tanya Hana yang berpapasan denganku dikoridor.
“Mau ke kantin.” Jawabku.
“He... jadi hari ini tidak bawa bekal ya? tumben.” Tuturnya.
“Ya–karena aku kesiangan,” tuturku, “aku duluan ya.” Lanjutku sambil berjalan kearah kantin, tapi saat sampai dianak tangga menuju kantin. Aku mengurungkannya karena teringat dengan pesan yang Yuda kirimkan padaku kemarin.
“Dia bilang di atap kan?” Gumamku langsung berlari menaiki anak tangga menuju atap sekolah, dan saat aku akan membuka pintu menuju atap. Mataku menangkap sosok Nanami yang berjalan dengan cepat menghampiri Yuda yang tak berkutik sedikitpun ditempatnya. Dan gadis itu langsung menarik dasi Yuda dan mendekatkan wajahnya, lalu dia mencium pria itu.
__ADS_1
Hatiku rasanya hancur, dan tubuhku terasa lemas berdiri dibalik pintu melihat punggung Nanami dari balik pintu. Lalu ku putuskan untuk kembali ke kelas sebelum mereka melihatku, dengan lemasnya aku berjalan menuruni anak tangga dan bertemu dengan Anya yang baru kembali dari arah kantin.
“Cika.” Ucapnya sambil tersenyum dan menghentikan langkahnya membuatku ikut berhenti, “Ada apa Cika? kau menangis.” Tuturnya menyadarkanku akan air mata yang sudah menetes diwajahku.
“Eh?” Ucapku sambil menghapus air mata yang tak mau berhenti keluar.
“Ada apa Cika?” Tanya Anya mendekatiku dan menaiki beberapa anak tangga untuk menyamai ketinggianku.
“Aku tidak pernah tau rasanya akan sesakit ini.” Tuturku sambil tersenyum pada Anya membuat sorot matanya berubah menjadi penuh tanya dari yang tadinya khawatir.
“Ada apa? apa yang terjadi?” Tanyanya lagi terus mendesak ku.
“Ada apa Anya?” Tanya Raka yang tiba-tiba datang menemui Anya, “Cika.” Lanjutnya ikut melihatku menangis.
“Aku akan pergi ke UKS.” Tuturku pada mereka.
“Tapi ... Cika.” Teriak Anya tak ku perdulikan.
Sesampainya di UKS, petugas disana mengizinkanku untuk beristirahat. Dan aku tiduran diatas tempat tidur sambil memejamkan mataku untuk menenangkan diriku. Alhasil aku ketiduran, dan tersadar saat sekolah sudah berakhir. Ku buka mataku dengan cepat sambil membangkitkan tubuhku, dan terhenti saat mendapati Nanami sudah duduk disamping tempat tidur UKS sambil membawakan tas sekolahku.
“Tidak, tapi kepalaku sedikit pusing jadi aku memutuskan untuk pergi ke UKS,” jawabku sambil memasukan kaki ku kedalam sepatu, lalu meraih tas sekolahku, “terima kasih karena sudah membawakan tas sekolahku. Aku duluan ya.” Lanjutku sambil bergegas meninggalkannya didalam UKS.
Saat aku keluar dari sana, Yuda sedang berdiri didepan pintu UKS, “Bagaimana kondisimu?” Tanyanya.
“Lebih baik, aku duluan ya. Selamat tinggal ....” Jawabku sambil berjalan meninggalkannya.
“Tunggu Cika!” Teriak Anya tak ku perdulikan, yang ku inginkan saat ini hanya ingin cepat sampai dirumah.
***
“Cika, ibu berangkat kerja dulu ya. Kamu baik-baik dirumah! ibu sudah menelpon sekolah kalau kau tidak bisa hadir kesekolah hari ini.” Teriak ibu disusul suara pintu yang tertutup dan dikunci dari luar.
“Selalu saja sibuk. Tak pernah ada waktu untuk anaknya.” Gumamku sambil selimutan.
Lalu bayangan masa kecilku mulai menghantuiku, saat aku sedang sakit dan saat acara festival olahraga disekolah. Tak ada satupun dari orang tuaku yang hadir menemaniku. Mereka sibuk kerja dan tak perduli dengan perasaanku.
Saat semua orang terlihat bahagia karena kehadiran kedua orang tuanya yang menyempatkan waktu untuk menonton pertandingan anaknya, aku hanya bisa merasakan aura kebahagiaan mereka tanpa kehadiran kedua orang tuaku.
__ADS_1
Dan bahkan setelah aku tumbuh menjadi dewasa seperti saat ini, mereka belum pernah meluangkan waktu untuk ku. Hanya salah satu dari mereka yang hadir, jika tidak ayah pasti ibu begitupun sebaliknya. Tapi saat aku sakit, mereka tak pernah ada disampingku.
“Sebenarnya seberapa berharganya diriku ini ?” Bisik ku terhanyut dalam kantuk ku.
***
Ku buka mataku perlahan saat mendengar dering ponsel yang terus berdering memenuhi ruanganku, dengan lemas ku raih handphoneku dan mengangkat panggilan masuk itu tanpa mememperhatikan nama si pemanggil dilayar handphoneku.
“Hallo ....” Ucapku mengawali pembicaraan dengan suara parau.
“Kau baik-baik saja Cika? ku dengar hari ini kau absen, apa kau sakit?” Tuturnya membuatku segera melihat layar handphoneku dan disana tertulis nama ‘Yuda’
“Hallo...” Ucapnya membuatku segera mendekatkan kembali handphoneku kedekat telingaku.
“Yah hanya demam sedikit.” Jawabku.
“Lalu bagaimana kondisimu saat ini?” Tanyanya,
“Lebih baik ....” Jawabku.
“Kemarin juga bilangnya gitu.” Tuturnya terdengar kesal.
“Aku serius, besok juga sudah bisa masuk sekolah.” Jelasku berusaha menenangkannya.
“Ngomong-ngomong ....” Tuturnya segera ku hentikan.
“Apa kau membolos? ini masih pelajaran bu.Dini kan?” Tanyaku mengalihkan pembicaraanya.
“I–itu... aku izin ke kamar mandi sebentar, karena sudah di ingatkan. Sebaiknya aku kembali ke kelas sekarang.” Jelasnya sambil terkekeh.
“Terima kasih sudah menanyakan kabarku.” Ucapku sebelum ku matikan sambungan telponnya. Dan melihat jam digital di handphoneku yang masih menunjukan pukul dua siang.
Ku langkahkan kakiku menuju dapur dan memasak makanan untuk ku makan. Lalu meminum obat penurun demam, setelah itu aku kembali ke kamarku dan beristirahat sampai pagi harinya.
“Sepertinya demamku sudah turun sedikit ... aku bisa menyiapkan bekalku.” Ucapku sambil pergi kedapur dan memasak bekal untuk ku hari ini, tapi sepertinya aku membuat lebih, jadi sekalian aku membuatkannya untuk Hana juga. Karena aku teringat dengan janjiku yang akan membuatkannya bekal juga. Setelah itu, aku pergi ke kamar dan bersiap.
Bersambung...
__ADS_1