Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Ketemu


__ADS_3

“Aku tidak bisa menemukannya disekitar sini,” Gumamku di depan stand aksesoris, “apa aku biarkan saja ya?” Lanjutku sambil berjalan kearah stand penjual permen kapas.


“Tidak bisa, aku harus mencarinya sebentar lagi. Pasti jatuh disekitar sini.” Ucapku lagi berusaha menyemangati diriku sendiri.


Setelah lama mencari kesana-kemari, akhirnya aku menemukanya tergeletak didekat stand penjual permen apel.


“Ternyata disini,” gumamku merasa lega setelah menemukannya, “kenapa bisa jatuh disini?” Lanjutku sambil berjongkok untuk mengambilnya. Boneka yang diberikan oleh Yuda, boneka yang kini sudah berlumuran lumpur.


Pakaianku juga kotor karena sempat terjatuh saat berlarian kesana-kemari untuk mencari boneka yang sekarang sudah ada digenggamanku.


“Cika!” Teriak seseorang mengejutkanku, dan saat aku melihat kearah sumber suara itu. Mataku tak bisa berpaling darinya, dan kini pria itu berlari kearahku dengan ekspresi khawatirnya.


“Yuda ....” Gumamku saat tiba-tiba dia memeluk ku dengan erat.


“Apa yang kau lakukan? kenapa tiba-tiba menghilang?” Bisiknya.


“Aku ....” Gumamku tak bisa mengatakan apapun padanya.


“Akhirnya kami menemukanmu, seharusnya kau memberitau kami ....” Ucap Raka terhenti dan mataku melihat matanya yang terus memperhatikan boneka kecil ditanganku, lalu pria itu tersenyum lega.


“Sebaiknya kita bergegas sebelum ketinggalan kereta terakhir.” Tutur Raka menyadarkan Yuda, dan kini dia melepaskan pelukannya lalu meraih tanganku dan menggandengnya.


“Pakaianmu benar-benar kotor ya.” Ucap Raka.


“Hhaha, aku sempat terjatuh tadi, jadi wajar saja kalau kotor.” Jelasku sambil memperhatikan sepatuku yang kotor, bersamaan dengan itu aku mendengar suara dering ponsel seseorang, ku lihat Raka sudah mengeluarkan heandphonenha dan mengangkat panggilan masuk yang diterimanya.


“Ya, kami sudah menemukannya.” Ucapnya sambil melihat kearahku.


‘Jadi mereka semua mengkhawatirkanku ....’ Batinku mengingat Anya, Hana dan yang lainnya.


“Kenapa Cika kembali lagi ke tempat festival?” Tanya Yuda mengalihkan perhatianku.


“A-aku menjatuhkan sesuatu, jadi aku kembali untuk mencarinya.” Jawabku sambil tersenyum dan menyembunyikan boneka itu didalam saku jaketku.


“Kenapa tidak bilang padaku? kan aku bisa menemanimu dan mencarinya bersama-sama.” Jelasnya masih dengan ekspresi khawatirnya.


“Maafkan aku, aku benar-benar panik tadi. Jadi tidak sempat memberitaumu, Hhehe...” Tuturku sambil tertawa, berusaha untuk menghilangkan kekhawatiran Yuda.


***


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit.


“CIKA!” Teriak Anya diloker sepatu segera memeluk tubuhku dengan erat, “bodoh!” Lanjutnya masih memeluk tubuhku.


“Kau membuat kami semua khawatir kemarin.” Jelas Dinda.

__ADS_1


“Maafkan aku.” Ucapku merasa bersalah pada mereka.


“Aku kira kamu tidak masuk sekolah karena demam.” Ucap Hana yang melihatku diloker bersama Anya.


“Ha?” Tanyaku merasa bingung dengan ucapan gadis itu.


“Ituloh... yang dikatakan Mira dan Disty kemarin malam.” Jelas Dinda membuatku mengucapkan kata ‘Oh’ tanpa ku sadari.


“Ja-jadi kalian memikirkan kebenaran dari perkataan Mira dan Disty?” Lanjutku merasa kesal pada mereka, dan mereka hanya tertawa lalu meminta maaf. Dan Anyapun sudah melepaskan pelukannya.


“Cika.” Ucap Nanami dari arah lainnya, datang bersama Yuda dan kedua sahabat pria itu.


“Jadi kau juga datang siang?” Tanya Raka dengan ekspresi datarnya.


“Seperti yang kalian lihat.” Jawabku sambil memaksakan tersenyum pada mereka.


“Ayo! Kita harus bergegas, ada kuis dadakan dijam pertama. Jangan sampai pak.Handoko mengeluarkan kita karena terlambat masuk kelas.” Tutur Yuda kepada Raka.


“Kau benar!” Ucap Raka dan Nanami bersamaan.


“Kami duluan ya.” Ucap Raka kepadaku, Anya, dan Dinda.


“Sampai nanti.” Lanjut Yuda setelah menepuk kepalaku dengan lembut.


Dan kamipun pergi ke kelas yang berbeda, Yuda pergi bersama Raka dan Nanami lebih dulu. Dan sekarang aku harus mengantar Anya dan Hana kekantin sebelum masuk kedalam kelas dan berpisah dengan Dinda. Mereka benar-benar membuatku repot. Tapi aku senang karena bisa memiliki teman seperti mereka, yang selalu membuat hari-hariku berwarna.


***


“Kau tidak jajan Cika?” Tanya Hana sambil memilih Roti yang akan dibeli olehnya.


“Tidak, aku masih kenyang.” Jawabku bersamaan dengan bel masuk sekolah yang berdering, membuat Hana dan Anya terburu-buru.


“Ayo cepat kita kekelas.” Teriak Anya yang sudah berlari duluan meninggalkanku dan Hana. Mau tak mau kami juga harus berlari menyusul gadis itu.


Sesampainya dikelas...


“Hee...” Gumam Hana saat melihat tulisan dipapan tulis.


‘Kerjakan latihan soal hal 30 dibuku paket dan kumpulkan dimeja Pak.Budi’ Batinku saat membaca tulisan itu.


“Pelajaran sejarah ya.” Gumamku sambil berjalan kearah tempat duduk ku.


Semua orang mulai sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak.Budi sampai jam pergantian pelajaran berdering. Dan untuk tugas pak.Handoko juga, kami harus mengerjakannya tanpa bimbingan darinya, karena hari ini beliau tidak masuk sekolah. Jadi kami hanya diberikan tugas mengerjakan soal matematika. Mungkin suatu keberuntungan bagi kelas Yuda dan yang lainnya, karena tidak jadi mengikuti ujian dadakan yang sudah dijanjikan oleh pak.Handoko.


Aku yang bosan dengan kegaduhan didalam kelas, mencoba untuk mencari suasana baru dengan pergi kepinggir lapangan olahraga. Menikmati hembusan angin dan pemandangan siswa/i yang sedang melakukan pemanasan.

__ADS_1


“Siang Cika.” Sapa Ali di pinggir lapangan olahraga, kebetulan siang ini kelas Ali ada jadwal olahraga.


“Ali? gak olahraga?” Tanyaku padanya yang lari dari tugas pemanasannya.


“Olahraga ko. Abis ini tapi, lagi apa nih?” Jawabnya sambil duduk disampingku.


“Lagi ngerjain tugas matematika dari pak.Handoko.” Jawabku sambil melihat semua soal yang sedang ku coba selesaikan.


“He...” Gumamnya.


“Ada apa? kenapa melihatku seperti itu?” Tanyaku saat melihatnya menatapku dengan mata berbinar-binar.


“Tidak ada.” Jawabnya sambil tersenyum.


‘Apa yang dia pikirkan?’ Batinku merasa ada yang aneh dengan dirinya.


“Ali!” Teriak Yuda dan Raka ditengah lapang.


“Sepertinya mereka memanggilmu” Lanjutku sambil melihat kearah Yuda dan Raka yang berteriak ditengah lapangan memanggil pria disampingku, ‘Syukurlah mereka memanggilnya, kalian sudah menyelamatkanku darinya ....’ Lanjutku dalam hati sambil berterima kasih pada mereka.


“Merepotkan, kalau begitu sampai nanti ya.” Tuturnya sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati teman-temannya.


“Aneh.” Gumamku yang menyadari kelakuannya, Ali jadi sering mengajak ku mengobrol padahal awalnya Cuma saling berpapasan dikoridor. Dan tanpa sengaja aku melakukan kesalahan dengan menabraknya dua kali berturut-turut dalam satu minggu. Lalu dia masuk kedalam grup line yang sama, dan kami berlibur bersama saat liburan sekolah tiga hari yang lalu.


Satu jam sudah aku mengerjakan tugas matematika yang diberikan pak.Handoko padaku, akhirnya aku bisa mengerjakannya lebih cepat.


‘Apa orang-orang dikelas sudah selesai mengerjakan tugasnya ya?’ Batinku bertanya-tanya. Kemudian mataku melihat sketchbook yang ku bawa dan langsung meraihnya lalu melihat semua gambaran tanganku, ku lihat setiap halamannya ada gambar ekspresi Yuda dari yang suka tersenyum seperti biasanya sampai ekspresi kesalnya saat digoda oleh teman-temannya. Dan baru-baru ini aku menggambar dirinya yang berfoto denganku kemarin.


“Sejak kapan aku suka menggambar wajahnya.” Gumamku merasa tak percaya dengan apa yang aku lakukan, dan tanpa sadar aku sudah tersenyum lebar melihat lukisan wajahnya didalam sketchbook ku. Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi, dengan cepat aku pergi dari tempat itu, mengingat tugas matematika ku belum di kumpulkan.


“Masih sempat,” ucapku saat bertemu dengan Bayu dan Hana yang bertugas mengantarkan tugas matematika keruang guru, “titip ya.” Lanjutku pada mereka sambil memberikan buku matematika ku pada Bayu, dan pria itu hanya mengangguk pelan. Kemudian berlalu dari hadapanku, dan aku langsung masuk kedalam kelas untuk mengambil headphoneku.


“Kau mau kemana Cika?” Tanya Anya menghentikan langkahku yang hendak pergi keluar lagi setelah menyimpan semua bukuku di dalam loker mejaku.


“Pergi keruang kesenian,” jawabku sambil melepaskan headphone yang baru ku kenakan dan menggantungnya dileherku, “kalau begitu aku duluan ya.” Lanjutku bergegas.


Ku langkahkan kaki ku lumayan cepat menuju ruang kesenian, dan saat melewati ruang klub musik. aku berpapasan dengan Nanami yang baru selesai berolahraga.


“Hai Cika,” sapanya, “kau mau kemana?” Lanjutnya bertanya.


“Aku mau keruang kesenian, sampai nanti.” Jawabku sambil bergegas.


“Dah.” Ucapnya terdengar ketelingaku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2