Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Prepare


__ADS_3

Pada akhirnya aku bertengkar hebat dengan Yuda kemarin pagi, mungkin daripada dibilang bertengkar, akan lebih tepat jika aku yang marah padanya dan memutuskan hubungan kami.


“Cika!” Teriak Ibu dari arah dapur membuatku bergegas, “hari ini Ibu akan pergi ke sekolahanmu, jadi kita pergi bersama ya.” Lanjutnya mengejutkanku.


“Apa maksud ibu?” Tanyaku.


“Kau ingat soal rencana kepindahan kita ke London? ibu sudah mengurus semua surat kepindahanmu, jadi hari ini ibu mau menemui kepala sekolahmu dan mengucapkan banyak terima kasih karena sudah mendidikmu dengan baik disekolahannya.” Jelas Ibu membuatku tak nafsu makan.


“Kenapa? lagi-lagi ibu mengambil keputusan tanpa persetujuan dariku, padahal aku sudah menolaknya. Kenapa ibu selalu seperti ini?” Tuturku menahan kesal.


“Karena kamu putri ibu, jadi kamu harus menuruti semua perkataan ibu.” Jelasnya membuatku menggebrak meja makan dengan spontan.


“Aku bukan anak kecil lagi! keputusanku juga harus bisa ibu hargai.” Ucapku sedikit menaikan nada bicaraku.


“Dimata ibu, Cika masih terlihat sama, putri kecil ibu. Karena Cika masih tanggung jawab ibu, dan kamu belum bisa mencari uang sendiri. Jadi kamu belum dewasa, keputusanmu saat ini tidak akan mempengaruhi kepergian kita ke London.” Jelas ibu membuatku semakin kesal.


“Kalau begitu ibu pergi saja sendiri, aku tidak usah pergi ke sekolah!” Ucapku bergegas menuju pintu dapur.


“Kau juga harus pergi. Bukan hanya ibu yang harus mengucapkan perpisahan dan berterima kasih pada kepala sekolah disana. Kau juga harus melakukannya, mungkin saja kau ingin mengucapkan kata perpisahan kepada Anya dan Yuda.” Tutur Ibu mendahuluiku, dan dia berjalan kearah pintu keluar.


“Ibu ....” Gumamku sambil meremas tali tas sekolahku.


***


“Cika!” Teriak Anya berlari kearahku yang baru keluar dari ruang kepala sekolah bersama dengan ibu, “selamat pagi tante.” Lanjutnya sambil tersenyum hangat menyapa ibuku.


“Pagi Anya ....” Sapa Ibu membalas senyuman gadis itu, “Cika ibu tunggu dimobil ya!” Lanjutnya sambil berjalan meninggalkan kami.


“He? Mobil?” Tanya Anya terlihat bingung.


“Ibu pulang duluan saja, nanti aku menyusul.” Jelasku sambil berjalan kearah ruang kesenian.


“Jangan membuang-buang waktu, kita masih punya pekerjaan di rumah.” Ucap Ibu menghentikan langakahku barang sesaat.


“Cika?” Tanya Anya mengikutiku.


“Aku harus menyelesaikan lukisanku supaya Dinda bisa segera mengerjakan bagianya.” Jelasku sambil tersenyum kearah Anya.


“Hee... jadi bukan dihari pertama festival olahraga?” Tanyanya sambil menghela nafas.

__ADS_1


“Aku tidak memiliki waktu selama itu ....” Gumamku membuat gadis itu menepuk bahuku.


“Apa maksudmu?” Tanyanya dengan tatapan seriusnya.


“Hha–haha... bukan apa-apa, sepertinya aku masih kelelahan jadi bicaraku melantur.” Jelasku berusaha untuk tetap tertawa seperti biasanya.


“Oh iya, untuk acara ulang tahun Yuda? apa kau akan tetap merayakannya? kalian kan sudah pu–putus...” Tanya Anya terdengar ragu.


“Ya, aku ingin tetap memberikan kejutan untuknya, tapi aku tidak yakin yang lain mau membantuku.” Jelasku sambil tersenyum dan masuk kedalam ruang kesenian, dan segera berjalan kearah loker untuk menyiapkan kanvas dan peralatan lukis lainnya.


“Hee...” Gumam Anya kembali menghela nafas.


“Selamat pagi kalian.” Ucap Dinda mengejutkanku dan Anya.


“Kau membuatku terkejut!” Tutur Anya sambil berteriak kearah Dinda yang sedang mentertawakan ekspresi terkejutnya Anya.


“Cika sedang apa?” Tanya Ayumi yang berdiri disebelah Dinda.


“Ah ini, aku sedang mengerjakan bagianku agar Dinda bisa segera menyelesaikannya.” Jelasku kembali menggerakan tanganku.


“Hee! kau bilang akan mengerjakannya dihari festival olahraga nanti.” Ucap Dinda terdengar terkejut.


“Be–berubah pikiran? seperti bukan dirimu saja ....” Tutur Anya sambil memeriksa isi handphonenya.


***


“Cika.” Ucap Dinda membuat gadis itu berhenti tersenyum saat melihat ekspresi serius Dinda, “Kau sedang menyembunyikan sesuatu kan?” Lanjutnya membuat Cika murung dan merubah posisi duduknya, membuang fokus melukisnya.


“Ternyata benar, apa yang kau sembunyikan?” Tanya Dinda sambil berjongkok dihadapan Cika.


“Apa kau masih memikirkan soal Yuda dan Nanami?” Lanjut Anya segera dihentikan oleh cubitan Ayumi diwajahnya dan membuatnya memekik kesakitan.


“Cika?” Tanya Dinda.


“Bukan apa-apa, aku hanya ingin segera menyelesaikan lukisannya supaya aku bisa fokus pada festival olahraga nanti.” Jelas Cika kembali tersenyum dan berbohong kepada teman-temannya.


“Apapun alasamu sebaiknya kau selesaikan masalahmu, lalu jangan berbohong lagi pada kami.” Tutur Anya sambil meraih tas sekolahnya yang tersimpan didekat kursi yang didudukinya.


“Eh?” Gumam Cika.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan?” Lanjut Ayumi bertanya.


“Aku sudah lama mengenalmu Cika, aku tau saat kau berkata bohong dan jujur. Jika kau tidak ingin menceritakannya maka aku tidak akan memaksa, itulah kenapa aku diam saja sejak tadi. Jika dilihat dari situasinya, mungkin saja kau sedang bermasalah dengan ibumu ....” Jelas Anya meninggalkan ruang kesenian begitu saja.


“Ci–cika?” Gumam Dinda dan Ayumi bersamaan.


“Aku baik-baik saja.” Ucap gadis itu kembali melanjutkan lukisannya.


***


Setelah menyelesaikan lukisannya, Cika berpisah dengan Dinda dikoridor yang mengarah kearah kelasnya Dinda. Dan saat akan pergi kearah gerbang sekolah, gadis itu berpapasan dengan Hana yang terlambat datang ke sekolah.


“Cika?” Tanya Hana dengan nafasnya yang terengah-engah, “Kenapa tidak ke kelas?” Lanjutnya bertanya.


“Aku izin pulang cepat hari ini.” Jawab gadis itu sambil tersenyum.


“Hee...? kenapa? apa kau sakit?” Tanya Hana terlihat khawatir.


“Ah, I–iya sedikit ...,” Jawab Cika sambil meremas tali tas sekolahnya, “Hana sebaiknya bergegas, nanti pak.Handoko tidak akan mengizinkanmu masuk jika kau telat masuk kelas.” Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.


“Kau benar, kalau begitu aku duluan ya. Jangan memaksakan diri ya Cika.” Ucapnya sambil tersenyum hangat dan bergegas pergi ke kelasnya sambil berlari.


“Memaksakan diri ya ....” Gumam Cika kembali berjalan.


Satu jam kemudian, gadis itu sampai dirumahnya dan langsung pergi ke kamarnya saat melihat ibunya keluar dari dapur.


“Cika kenapa lama sekali?” Tanyanya tak mendapat jawaban, “cepat kemasi barang-barangmu, kita akan pergi lusa nanti.” Lanjutnya masih tak mendapatkan jawaban.


“Lusa ... ah ya sekarang aku sudah bukan siswi dari sekolah itu lagi. Hari ini aku sudah resmi keluar dari sekolah ....” Gumam Cika sambil menutup pintu kamarnya dan menjatuhkan tas sekolahnya kelantai selagi langkah beratnya masih berjalan kearah tempat tidurnya dan langsung menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur, membenamkan wajahnya pada bantal dihadapannya.


‘Kenapa semuanya jadi seperti ini? kenapa skenario kehidupanku sangat buruk?’ Batin Cika merasa kesal dan mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping, matanya menatap lurus kearah boneka yang digantungkan di tas sekolahnya, lalu tersenyum bersamaan dengan air mata yang menetes.


‘Ternyata rasanya sesakit ini ....’ Batin gadis itu langsung bangkit dari posisi tidurnya dan segera mengeluarkan kopernya untuk membereskan semua pakaiannya.


Setelah selesai memasukan pakaiannya kedalam koper, kini gadis itu sibuk membereskan barang-barang berharga yang akan dibawa olehnya, seperti peralatan lukis dan sketch book nya.


“Buku dan Sketch book yang ini ....” Gumam Cika saat memegang sebuah buku catatan dan salah satu sketch book ditangannya yang membuatnya langsung melihat-lihat isinya, “Sebaiknya aku memberikannya pada Yuda, aku sudah tidak membutuhkannya lagi.” Lanjutnya sambil memasukannya kedalam dus yang berbeda dan membungkusnya dengan sangat rapi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2