![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
“Bagaimana bisa Yuda meminta waktu dua bulan lamanya untuk menjawab pertanyaan Nanami mengenai perasaannya, aku benar-benar tidak mengerti. Mungkin kalau aku memberitaukan perasaanku juga ... dia akan memberikan waktu yang lebih lama ....” Ocehku sepanjang perjalanan menuju sekolah.
“Kemarin itu benar-benar membuatku terkejut, dan lagi ciuman itu? apa maksudnya?” Lanjutku saat memasuki gerbang sekolah dan tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria yang sedang menunggu seseorang didepan gerbang sekolah.
“Ma–maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.” Tuturku meminta maaf padanya.
“Tidak apa-apa, aku juga minta maaf karena berdiri menghalangi jalan ....” Lanjutnya ikut meminta maaf.
“Tidak, akunya saja yang tidak memperhatikan jalan.” Sangkalku saat menyadari aku berjalan terlalu pinggir dan pria itu sudah benar berdiri dipinggir gerbang. Mungkin jika tidak ada dia disana, kepalaku sudah berbenturan dengan pintu gerbang disamping pria itu.
“Ma–maafkan aku.” Ucapku sekali lagi, dan dia hanya tersenyum padaku.
“Lex!” Teriak pria dihadapanku memanggil seseorang dari arah belakangku, membuatku segera pergi dari sana.
“Siapa dia?” Tanya seorang pria dibelakangku.
“Bukan siapa-siapa, tadi ada sedikit kecelakaan.” Jawab yang lainnya, dan saat aku lihat melalui sudut mataku ternyata pria yang ku tabrak tadi, dan sekarang mereka berdua sudah berjalan mendahuluiku.
Sesampainya di dalam kelas...
“Baiklah kita vote sekarang untuk menentukan konsep untuk acara festival nanti. Pokoknya kelas kita harus menjadi kelas terbaik yang ikut berpartisipasi dalam festival kali ini!” Tutur Hana didepan kelas sambil menuliskan beberapa tema yang akan dipilih oleh anak-anak didalam kelas.
“He ? semua orang sudah datang? jadi ... apa aku kesiangan?” Gumamku di depan pintu kelas, “CIKA ... Baguslah semua orang sudah datang. Mari kita mulai vote-nya.” Teriak Hana mengejutkanku, membuatku segera berjalan kemejaku.
“Pagi Cika ” Sapa Yuda sambil tersenyum.
“Pa–pagi...” Balasku tergugup, entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi lebih gugup dari biasanya.
Dan kamipun memulai memvoting untuk setiap pilihan yang tertulis dipapan tulis, dan akhirnya pilihan kelas jatuh pada ‘Rumah Hantu’
“Yang benar saja...” Gumam beberapa anak pria tampak kecewa.
“Jadi kita mau buat konsep rumah hantu seperti apa?” Tanya beberapa anak perempuan.
"Akan lebih baik jika diambil dari sejarah, seperti masa penjajahan yang memiliki beberapa tragedi yang ....” Gumam Hana sambil memegangi dagunya dan berpikir keras.
“Untuk parade kostum dihari berikutnya, kita mau buat kostum apa?” Tanya Adam mengalihkan perhatian Hana.
“Benar juga. Kita belum memutuskannya.” Ucap gadis itu saat menyadarinya.
“Tak ada ketentuannya kan? kalau begitu kita ambil dalam film yang memiliki banyak tokoh yang memakai beberapa kostum unik dan ....” Lanjut Hana.
“Kalau begitu kita vote lagi, aku sarankan beberapa film fiksi dan action.” Tutur Raka membuat anak laki-laki ribut menyebutkan beberapa judul film yang mereka anggap memiliki kostum yang bagus.
“Baiklah-baik cukup, diam kalian semua!” Teriak Hana saat tak bisa mengendalikan keberisikan para anak laki-laki, “untuk parade kostum nanti kita buat free aja. Kalian bebas bercosplay karakter yang kalian idolakan. Cukup adil bukan?” Lanjut Hana langsung mendapat sorakan setuju.
__ADS_1
“Padahal aku ingin parade yang memiliki cerita ....” Gumamnya terlihat dari gerak mulutnya.
“Kenapa tidak kita buat cerita dari karakter yang mereka pilih dan disesuaikan dengan peran mereka, sepertinya akan sangat menarik menggabungkan karakter lain dari dunia yang memiliki cerita berbeda dan membuat cerita yang baru, seperti mengumpulkan tokoh-tokoh penting untuk mengisi peran penting dalam dunia yang baru.” Saran Adam dengan gaya bicara santainya.
“Hebat tuh.” Ucap teman-teman prianya, dan mata Hana pun terlihat berbinar.
“Baiklah kau yang mengatur ceritanya ok!” Ucap Hana sambil menunjuk wajah Adam dan tersenyum lebar pada pria itu.
***
Setelah mengikuti pelajaran olahraga semua siswa/i pergi ke kelas untuk beristirahat dan mengganti seragam olahraga mereka dengan seragam sekolah.
“Selamat datang kembali.” Sapa Hana yang sudah duduk dibangku depanku.
“Ya” Ucapku menanggapi sapaannya.
“Ini kotak bekal makan siangmu yang baru sempat aku kembaliin.” Tuturnya sambil memberikan kotak makan siangku, dan ku terima setelah memasukan seragam olahragaku kedalam tas sekolahku.
“Terima kasih.” Ucapku.
“Ayolah, seharusnya aku yang mengatakan itu.” Tuturnya sambil tersenyum, “ngomong-ngomong aku sudah mengisinya dengan bekal makan siang, aku belajar membuatnya bersama ibuku pagi tadi. Mungkin rasanya tak seenak buatanmu, tapi ....” Lanjutnya terlihat malu-malu.
Dengan cepat aku membuka kotak bekal yang diberikan Hana dan memakan bekal buatannya, dan aku bisa melihat matanya yang mulai berbinar-binar karena aku mencoba masakannya.
“Sudah ganti baju?” Gumam Yuda membuatku refleks melihat kearahnya yang baru duduk disampingku, dan matanya memperhatikan sesuatu dibawah laci mejaku, lalu beralih ke kotak bekal dihadapaku. Dengan perlahan ku telan makanan didalam mulutku.
“Jadi apa kau akan memakan semuanya sendirian?” Tanya Yuda kembali mencuri perhatianku.
“Ha?” Tanyaku.
“Bekal itu ....” Jawabnya sambil menunjuk kotak bekal dilaci mejaku.
"Ah ya aku lupa kalau aku membawa bekal.” Gumamku sambil mengeluarkan kotak bekalku.
“Kalau begitu boleh ku habiskan?” Tanya Yuda membuatku kembali melihat matanya dan senyumanya.
“Um.” Angguk ku sambil memberikan kotak bekalku padanya.
“Asik” Ucapnya terlihat senang, “wah... ini benar-benar enak. Kau membuatnya sendiri?” Lanjutnya bertanya setelah menelan makanan didalam mulutnya.
“Ya–ya meski tak seenak buatan ....” Jawabku terpotong.
“Tidak, ini benar-benar enak. Aku baru merasakan makanan seenak ini.” Jelasnya membuatku memalingkan wajahku darinya.
“Kau terlalu memuji.” Gumamku menahan senyum, dan setelah aku melihatnya kembali fokus pada makananya. Akupun tersenyum dan melanjutkan makananku, “ah ya ngomong-ngomong apa yang ingin kamu bicarakan denganku saat itu?” Lanjutku bertanya pada Yuda.
__ADS_1
“Soal itu ... yah sebenarnya.” Tuturnya sambil menundukan kepalanya dan melihat sisa makanan di dalam kotak bekal yang tersimpan dihadapannya.
“Ma–maafkan aku, sepertinya aku tidak seharusnya menanyakan hal itu.” Tuturku membuatnya segera melihat kearahku, dan mata kami saling bertemu.
“Tidak sebenarnya aku, kau tau saat aku bilang seseorang menembak ku melalui pesan? sebenarnya aku tidak bisa memberitau jawabanku padanya, jadi aku menundanya sampai hari festival berakhir ....” Tuturnya menjelaskan apa yang ada didalam pikirannya, “dan saat itu, dia sempat ingin... me ....” Lanjutnya terhenti.
“Me?” Tanyaku sambil memakan potongan buah apel yang sengaja disimpan didalam kotak makan siangku sebagai makanan pencuci mulut.
“Menciumku, tapi aku menutup mulutnya dengan telapak tangan kiriku sebelum hal itu terjadi.” Tuturnya melanjutkan pernyataannya dan membuatku terbatuk karena tersendak apel didalam mulutku.
“A–apa yang terjadi? duh... kau ini ceroboh sekali. Tenang sedikit jika sedang makan. Jangan terburu-buru, inilah akibatnya.” Lanjutnya mengoceh sambil mengusap-ngusap punggungku dan memberikan air minum yang dia bekal dari rumahnya, terlihat dari merk botol minumnya yang sedang populer dikalangan pelajar akhir-akhir ini.
Setelah ku minum dan mengatur nafasku, aku tertawa untuk menutupi rasa terkejutku akan ucapan Yuda, ‘Jadi saat itu, mereka tidak benar-benar ci-ciuman?’ Tanyaku dalam hati, dan entah kenapa, hatiku terasa lega setelah mendengar penjelasan darinya.
“Kenapa harus menundanya sampai akhir festival? bukankah itu terlalu jahat karena sudah menggantungnya? dan lagi Yuda juga sudah menyukainya sejak lama kan?” Tanyaku mengalihkan perhatiannya yang terus menatapku dengan tatapan khawatir.
“Ya–ya... soal itu, aku merasa perasaanku kepadanya perlahan berubah ... jadi aku ingin memastikannya dengan melakukan pendekatan denganya. Mungkin akan ada hal menarik saat persiapan festival nanti yang akan membuatku kembali jatuh cinta padanya, jadi aku bisa mengatakannya saat hari terakhir festival. Kalau-kalau perasaan itu kembali lagi ....” Jelasnya membuatku merasa iri dengan Nanami.
“Jadi apa sebaiknya aku menerimanya lebih cepat dan berpacaran dengannya? atau aku harus menolaknya?” Lanjutnya bertanya dengan tatapan seriusnya.
‘Ke–kenapa dia tanya padaku?’ Batinku tergugup dengan keringat dingin yang kurasakan dipunggungku, “kenapa menanyakannya padaku?” Lanjutku memastikannya namun tak ada jawaban darinya, hanya tatapan seriusnya yang masih sama, tatapan yang selalu membuat jantungku berdegup kencang saat melihatnya.
“Semuanya terserah padamu kan? kau yang memutuskannya. Dan nantinya dirimu juga yang akan menjalaninya. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, mungkin sebaiknya kau tanyakan sendiri pada hatimu ....” Lanjutku sambil membereskan kotak bekal makan siangku dan memasukannya kedalam tas sekolahku.
“Sudah ku duga, kau lebih dewasa dari yang terlihat.” Gumamnya membuatku refleks melihat kearahnya yang baru saja memasukan suapan terakhir kedalam mulutnya.
"A–apa?" Tanyaku tak mendapat respon darinya.
“Aku jadi penasaran, apa kau sudah memiliki pacar?” Tanya Yuda membuatku terkejut setengah mati.
“Kenapa menanyakan hal itu?” Jawabku menahan malu.
“Jadi sudah ya?” Ucapnya memutuskan jawabanku.
“Bu–bukan begitu ... mana mungkin orang sepetiku bisa mendapatkan pacar dengan mudah. La–lagipula aku tidak tau caranya, karena aku belum pernah berpacaran sebelumnya.” Sangkalku menahan malu dengan menutupi mulutku dengan kedua telapak tanganku.
“Bohong.” Ucapnya kembali membuatku menengok kearahnya dan menyusuri bola matanya yang tajam.
“bagaimana bisa kau bersikap sedewasa itu jika belum pernah pacaran sebelumnya.” Lanjutnya membuatku segera mencubit pipinya dengan kedua tanganku.
“Memangnya menjadi dewasa harus berpacaran dulu?” Tuturku bertanya padanya dengan nada gemas dan kesal.
“Hhaha... Cika ini menyakitkan tau.” Ucapnya membuatku bergegas melepasakan tanganku dari wajahnya.
“Terserahlah... aku tidak akan memintamu untuk mempercayai pengakuanku barusan. Lagipula tak akan ada pengaruhnya untuk ku, mau percaya atau tidak semuanya sama saja. Tak akan ada yang berubah dari kehidupanku, dunia juga belum tentu kiamat besok kan?” Lanjutku sambil berdiri dan berjalan keloker dibelakang tempat duduk ku.
__ADS_1
‘Ini pertama kalinya aku bicara dengannya dengan lepas dan tak memperdulikan rasa gugup yang ku rasakan. Tapi rasanya wajahku seperti terbakar.’ Lanjutku dalam hati sambil tersenyum dan memegangi kedua pipiku dengan telapak tanganku.
Bersambung...