Melt [BELUM REVISI]

Melt [BELUM REVISI]
Kebingungan Anya


__ADS_3

Di dalam kamar...


‘Lelucon apa yang dia buat? itu hanya satu kata dan aku tak bisa menahan diri sampai tertawa seperti itu, Lemon?’ Batinku terus mengingat isi surat yang diberikan teman satu bangku ku itu.


 


Ku tutup buku pelajaranku dan segera meraih surat itu dari dalam tas ku, surat yang ku salipkan didalam buku matematika, tertulis "Lemon" disana. Dan aku kembali tertawa, “Apa-apaan dia ? Lemon? Hhaha...” Tuturku tak kuasa menahan tawa.


Aku tidak tau apa yang lucu dari tulisan Lemon itu, tapi aku tak bisa berhenti tertawa sekarang. Mungkin karena saat itu kami sedang belajar matematika, dan pak.Handoko adalah sosok guru yang tegas dan penuh wibawa, selain itu dia juga jarang berbicara hal-hal diluar pelajaran. dia juga sosok guru yang jarang tersenyum meski siswa/i lainnya memberikan salam dan tersenyum padanya.


Dan saat aku membaca kata Lemon disurat itu, entah kenapa bayangan wajah pak.Handoko merasuki kepalaku.


“Lemon itu asam kan? dari mananya pak.Handoko asam?” Tuturku berusaha menghentikan tawaku dengan mencoba mengatur nafasku sebaik mungkin.


“Cika! makananmu sudah siap, turun dan habiskan makan malam mu!” Teriak ibu membuatku bergegas pergi dari dalam kamarku dan menyimpan surat itu diatas meja belajarku.


Setelah sampai di ruang makan...


“Ayah belum pulang juga ?” Tanyaku pada ibu.


“Katanya bulan depan, pekerjaanya masih banyak.” Jawab ibu sambi memakan makanannya dan aku ikut memakan makananku.


“Hem...” Gumamku saat mengingat ayahku yang jarang pulang karena sibuk mengurusi pekerjaannya di luar kota.


“Besok ibu ada janji sama klien, mungkin ibu bakal pulang larut. Jadi bisakah kamu tinggal di rumah sendiri?” Tutur ibu setelah meminum air disampingnya.


“Um.” Angguk ku sambil menyelesaikan makan malamku, lalu pergi dari sana setelah selesai mencuci piring bekas makanku.

__ADS_1


“Ibu sudah menyiapkan camilanmu di dalam lemari es untuk besok.” Teriak ibu saat aku sudah pergi dari ruang makan.


Ku buka pintu kamarku dengan lesu, Yah belakangan ini aku sering ditinggal sendiri, ibuku bekerja sebagai seorang designer yang memiliki beberapa butik diluar kota dan ayahku seorang arsitek selain itu, dia juga aktif dalam berbisnis. Malam ini aku hanya bisa berbaring diatas tempat tidurku, dan tidak belajar sedikitpun. Lama-lama mataku terasa berat dan tak kuasa menahan kantuk.


***


Ku langkahkan kaki ku keluar rumah dan mengunci pintu rumahku, sepertinya ibu berangkat kerja pagi-pagi sekali.


 


“Pagi Cika,” sapa Nanami di depan rumahku, “He.., aku baru tau rumahmu disekitar sini. Rumahku diujung kompleks ini.” Lanjutnya sambil tersenyum.


“Mau berangkat bareng ?” Tanyanya saat aku berjalan keluar gerbang, dan kami pun berangkat bersama menuju sekolah.


“Hari ini ada pelajaran olahraga ya ... malesnya ....” Oceh Nanami sepanjang perjalanan menuju sekolah.


***


Dan aku juga sudah tau nama pria yang duduk disampingku, Yuda... namanya. Dia juga masih sama, masih bersikap ramah dan murah senyum. Akhir-akhir ini aku mendapatkan banyak surat darinya dan beberapa kali aku tertawa saat membaca dan melihat isi suratnya.


Dari keisengannya yang memberiku surat ditengah jam pelajaran, kini menjadi kebiasaannya dan aku juga mulai mengoleksi surat-surat darinya.


Satu bulan kemudian...


“CIKA!” Teriak Anya sambil memeluk ku dari belakang, entah darimana dia datang yang jelas dia sudah ada dibelakangku. Masuk kedalam kelasku tanpa tau rasa malu lalu membuat kegaduhan.


“Ada apa Anya?” Tanyaku padanya.

__ADS_1


“Raka menembak ku kemarin sore di atap sekolah.” Bisiknya membuatku sangat terkejut dan melihat ke arah Raka yang sedang berbincang bersama Yuda dan Adam dibangkunya yang bersebrangan jauh dengan tempat duduk ku.


“Apa yang harus aku lakukan?” Tanyanya terlihat bingung.


Dengan cepat aku menggeretnya keluar kelas, mencari tempat sepi untuk membicarakan hal pribadi seperti ini.


“Beritau aku Cika.” Rengeknya terlihat bingung.


“Apa kau yakin dia menembakmu?” Tanyaku memastikan ucapannya.


“Kau tidak percaya padaku hah?” Jawabnya dengan nada kesal.


“Bukan begitu, hanya saja. Selama ini kau menyukainya secara diam-diam bukan? lalu bagaimana bisa dia menyukaimu juga?” Jelasku padanya.


“Entahlah, aku juga tidak tau. Haruskah aku menolaknya? atau menerimanya?” Tuturnya terlihat bingung.


“Jika kau mencintainya kenapa tidak menerimanya saja? lagipula kamu sudah menyukainya sejak SMP bukan? dan sekarang cintamu sudah terbalaskan, dan kau layak untuk bahagia setelah lama menunggu.” Tuturku sambil tersenyum berusaha menghiburnya yang terlihat bingung dengan situasi yang dialaminya.


“Tapi aku tidak tau dia mencintaiku karena apa, dan ini terlalu mendadak. Aku sangat terkejut...” Ucapnya sambil membuang nafas panjang.


“Apa mencintai seseorang membutuhkan alasan tertentu? apa kau punya alasan kenapa kau bisa mencintainya selama ini?” Tanyaku membuat matanya berbinar dan angin pun bertiup dengan lembut menerapa rambut kami.


“Makasih Cika, kau memang sahabat terbaik ku,” ucapnya sambil memeluk tubuhku, “Aku akan menemuinya saat jam istirahat pertama.” Lanjutnya sambil melepaskan pelukannya lalu berlari menuju kelasnya sambil melambaikan tangannya kearahku.


“Dasar Anya.” Gumamku yang melihat aura kebahagiaannya menular padaku.


Bersambung...

__ADS_1




__ADS_2