![Melt [BELUM REVISI]](https://asset.asean.biz.id/melt--belum-revisi-.webp)
‘Pada akhirnya aku berpasangan dengan Nanami lagi ....’ Ocehku dalam hati merasa kecewa.
“Apa kau sudah selesai?” Tanya Nanami sambil tersenyum.
“Sedikit lagi.” Jawabku sambil menggerakan tangan kananku untuk menyelesaikan sketsa wajahnya. Dan sudut mataku sempat melihat ekspresi Yuda yang terlihat kecewa juga.
“Baiklah yang sudah selesai bisa dikumpulkan didepan, dan masih ada waktu setengah jam lagi untuk melanjutkan materi berikutnya.” Tutur bu.Mita membuat kami semua bertanya-tanya dengan materi yang akan dijelaskan olehnya.
Kemudian kami bergerak cepat untuk merapikan kembali meja ruang kesenian, dan duduk ditempat yang kami sukai setelah mengumpulkan sketsa itu diatas meja guru.
“Boleh aku duduk disebelahmu?” Tanya Yuda membuatku mengangguk, dan diapun duduk disebelah kananku, sedangkan Nanami duduk disebelah kiriku. Lalu aku mendapatkan surat baru dari Yuda, surat pertama dihari ini. dan kertasnya lebih besar dari sebelum-sebelumnya, belum sempat aku membuka suratnya, tangan Nanami juga memberikan secarik kertas kecil padaku.
‘Kenapa mereka memberiku surat? ada apa dengan aura ini?’ Batinku bertanya-tanya dan merasa tidak nyaman dengan tekanannya.
Lalu ku buka surat dari Nanami terlebih dulu, dan betapa terkejutnya aku saat melihat isi suratnya, ‘Aku sudah ditolaknya’ begitulah isi suratnya.
“Ha?” Ucapku refleks melihat kearah Nanami yang tersenyum padaku saat aku meremas kertas darinya.
Setelah mengikuti pelajaran kesenian, akhirnya bel istirahatpun berbunyi dan kami semua segera pergi dari ruang kesenian menuju kelas kami, dan beberapa ada yang langsung pergi ke kantin.
__ADS_1
“Cika.” Ucap Yuda menghentikan langkahku yang akan melewati pintu keluar ruang kesenian.
‘Nanami...’ Batinku terus kepikiran soal isi surat yang diberikannya padaku.
“Ada yang mau aku bicarakan.” Lanjut Yuda menyadarkanku.
“Se–sebentar Yuda, ada yang ingin aku bicarakan dengan Nanami.” Ucapku sambil bergegas dari hadapan pria itu.
“Tapi Cika ....” Ucapnya tak ku perdulikan.
Dengan cepat aku berlari mengejar Nanami yang hampir sampai di kelas, “Nanami” Teriak ku sambil memegangi bahunya, “Apa maksudnya dengan aku sudah ditolaknya?” Lanjutku bertanya.
“Temui aku di atap ya.” Lanjutnya sambil pergi kedalam kelas dan menyimpan buku catatannya, lalu pergi dari dalam kelas. Tanpa membuang-buang waktu aku juga bergegas menyimpan buku catatanku dan pergi menyusul Nanami ke atap sekolah.
Sesampainya diatap sekolah...
“Apa yang terjadi?” Tanyaku pada Nanami dengan mata yang menahan air mata.
“Hari itu aku mencoba untuk menyatakan perasaanku, tapi dia meminta waktu untuk memikirkannya ... padahal aku menemuinya keatap untuk memastikan jawabannya. Tapi Yuda meminta perpanjangan waktu sampai festival sekolah berakhir.” Jawabnya dengan wajah murungnya.
__ADS_1
“I–itu masih sangat lama ....” Gumamku.
“Sepertinya dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah. Makanya dia menggantungku seperti ini ... bagaimana ini Cika?” Lanjutnya sambil menatapku dengan mata berkaca-kacanya.
“Aku takut penantianku selama ini sia-sia. Perasaanku yang tertanam selama hampir 4 tahun lamanya ... hiks ....” Lanjutnya lagi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai menangis.
“Aku tidak percaya, bagaimana bisa kamu berpikiran dia menolakmu ....” Tuturku merasa dibodohi setelah melihatnya mencium Yuda sore itu.
Dengan perasaan ragu akhirnya aku memutuskan untuk memeluk Nanami dan menenangkan dirinya sampai dia berhenti menangis.
“Kenapa kau baik padaku? rivalmu?” Tanyanya.
“Kamu memang rivalku, tapi kamu juga temanku sebelum kita menjadi rival. Dan aku selalu menceritakan semua perasaan anehku padamu mengenai perlakuan Yuda, dan kamu juga menanggapinya dengan baik. Tak terlihat benci denganku ....” Jelasku sambil tersenyum padanya.
“Meski begitu aku merasa iri padamu Cika.” Tuturnya sambil membalas senyumanku.
“Mungkin sakit mengetahui teman kita menyukai orang yang sama dengan orang yang disukai olehnya, tapi rasanya menyenangkan karena bisa belajar memahami perasaan orang lain dengan membicarakan orang yang disukainya, dan kita bisa saling mengerti dengan rasa sakit dan bahagianya saat dia tidak merespon perasaan kita.” Jelasku sambil melihat kelangit luas.
“Aku beruntung sainganku itu kamu. Jika orang lain ... mungkin aku tidak akan pernah menerimanya.” Tuturnya sambil tersenyum kepadaku.
__ADS_1
Bersambung...