Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 36 Curiga


__ADS_3

Setelah makan malam bersama, Sarifah dan Bagas masuk ke dalam kamar.


Mereka duduk di ranjang bersiap untuk tidur.


"Kenapa Mas?." tanya Sarifah melihat suaminya meregangkan otot badannya.


"Hhmm cuman pegel aja, bukan apa-apa. Mungkin karena keseringan lembur. Ayo kita tidur saja. Kamu pasti juga capek kan, seharian bekerja." ucap Bagas dengan suara lembut.


"Kamu yakin Mas? Sini mau aku balurkan minyak urut mau ngga? Mas buka kaos nya! Sekalian aku pijitin badan kamu, Mas. Biar nggak pegel," sahut Sarifah seraya memegang tangan kanan Bagas.


Namun Bagas melepaskan pegangan Sarifah.


"Nggak usah, udah yah aku mau lanjut tidur aja. Di tidurin besok juga pegelnya ilang kok," sahut Bagas tetap menolak di pijit oleh Sarifah.


'Bisa gawat kalau Sarifah melihat seluruh badan ku penuh dengan bekas kecupan Indah, bisa terbongkar semuanya.' Batin Bagas.


"Kamu yakin, Mas? nggak akan aku pijitin aja di sini!." ucap Sarifah sedikit memaksa dan kembali memegang pergelangan tangan kanan Bagas.


"Iyah aku yakin kok, yuk kita tidur sekarang!. Aku udah ngantuk!." pungkas Bagas.


"Kamu nggak lepas kaos, Mas. Biasa nya Kamu kalau tidur nggak pakai kaos?."


"Apaan sih, ribet bener mau tidur. Yah terserah aku dong, mau pakai kaos atau tidak. Itu terserah aku!."


"Iyah, Maaf. Soal nya nggak biasa nya aja. Kamu kayak yang lagi nyembuntuin sesuatu tau nggak sih kamu, Mas!." Sahut Sarifah.


"Nyembunyiin sesuatu apa sih Ipah, Sayang. Udah yuk kita tidur aja yuk!." balas Bagas dengan nada lembut.


"Nah kan! aneh. Pasti kamu nyembuntiin sesuatu dari aku. Kamu nggak biasanya baik kayak gini!, bahkan beberapa jam yang lalu kamu habis marah-marah sama aku! aku jadi curiga. Di tambah kamu manggil aku dengan kata 'Sayang' sekarang? tambah curiga aku. Apa yang kamu sembunyiin dari aku sih, Mas?."


"Nggak ada yang aku sembunyiin dari kamu, Ipah. Sudah lupakan saja! kita tidur aja yuk, aku lagi pusing, aku malas menyebarkan apapun pada kamu sekarang. Aku malas membicarakan kecurigaan dari kamu yang tidak mendasar itu, jadi tolong kamu berhenti membahas hal itu sekarang, aku capek!." pungkas Bagas.

__ADS_1


Sarifah pun hanya melengos dan tidur memunggungi Bagas tanpa berkata apapun lagi, tanpa ada niat sama sekali untuk membujuknya Bagas lantas tidur dan berusaha memejamkan mata nya tanpa memperdulikan kemarahan istrinya itu.


***


Praaaanggg!.


"Hah suara apa itu." ucap Bagas uang seketika terbangun di pagi buta karena mendengar suara piring pecah begitu menggelegar.


Bagas menengok jam masih menunjukkan pukul 05.07 dini hari. Akhirnya Bagas menghampiri arah suara tersebut, di dapur.


"Aaarrghh kalian ngapain sih berisik banget ganggu orang lagi tidur aja! subuh-subuh pake acara mecahin piring segala ganggu banget!." teriak Bagas.


"Itu aku, Mas. Aku nggak sengaja menyenggol piring barusan, kenapa memangnya?." Sahut Sarifah dengan nada menantang.


"Maksud kamu apa hah? kamu udah mulai berani sama aku?." ucap Bagas geram.


"Nah kelihatan kan sekarang aslinya, seperti apa? aku sudah tahu semuanya, Mas. Aku sudah tahu sikap kamu yang aneh, sedikit -dikit marah, emosi lalu kemudian lembut. Kamu memang menyembunyikan sesuatu dari ku, kan Mas? Aku sudah tahu! Apa alasan kamu kenapa kamu berusaha menutup-nutupi ini dari aku, Mas? Aku masih istrimu di sini!." cerca Sarifah pada suaminya.


Degh,


Kemudian Bagas kembali mengalihkan pandangan ke arah istrinya itu.


"Maksud kamu apa, Ipah?. Apa yang telah kamu tahu?." tanya Bagas seketika menurunkan nada bicaranya yang tadinya meninggi karena emosi.


"Aku udah tahu semuanya, Mas. Masalah kamu kemarin yang berkaitan dengan Adel kan. Iya kan, Mas." sahut Sarifah.


Seketika Bagas menoleh kembali arah anak nya, Sinta yang tengah membantu Sarifah di dapur. Namun Sinta hanya tersenyum melihat ibunya yang mulai berani memarahi ayahnya.


"Apa maksud kamu,Ipah? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?." tanya Bagas pura-pura tidak tahu.


"Nggak perlu kamu tutup-tutupi lagi, Mas. Aku sudah tahu semuanya masalah di kantor kamu itu pun juga aku sudah tahu semuanya, Mas." pungkas Sinta.

__ADS_1


"Ya Apa maksud kamu? terus kamu tahu dari siapa?." balas Bagas penasaran.


"Tadi setelah salat subuh tiba-tiba ada nomor tak dikenal mengirimkan video ini padaku Mas. Ini kamu kan kamu saat itu tengah dimarahi oleh Pak David terkait foto-foto mesramu dengan Adel yang diduga editan itu?." ucap Sarifah menjelaskan.


'Ternyata nomor itu lagi nomornya sama persis dengan nomor orang misterius yang selalu menerorku, sebenarnya siapa dia? kenapa dia bisa merekam video kejadian itu? apa mungkin orang misterius itu ternyata adalah salah satu karyawan di perusahaanku? kalau memang iya, kenapa dia bisa ada di mana-mana. Sebenarnya siapa dia. Masa iya dia selalu membututtiku kemana-mana?.'Gumam Bagas dalam hati dengan penuh tanda tanya.


"Mas kenapa kok malah bengong? Mas!." Teriak Sarifah yang melihat Bagas tengah melamun.


"Hah. Kenapa Pah? eh itu nomor siapa Pah? Kok bisa dia merekam ku kemarin di kantor?." tanya Bagas yang tidak sadar jika ada yang merekam, sehingga dia sedikit bingung dan melamunkan hal itu.


"Aku pun nggak tahu Mas nomor itu milik siapa, soalnya tadi juga ketika aku telepon balik, nomor itu sama sekali tidak merespon apa-apa, tapi yang jelas sekarang aku tahu permasalahan kamu di kantor. Kenapa kamu nggak cerita ke aku sih, kalau kamu di fitnah karena foto-foto itu?." ujar Sarifah.


"Ya, Aku nggak mau kepikiran perihal masalahku di kantor. Mana mungkin aku melakukan hal itu. Jelas-jelas itu hanya fitnah saja yang sengaja ingin aku jatuh. Mungkin orang yang syirik dan nggak suka sama aku tapi aku nggak tahu dia, lagian kan nggak ada saksi mata juga kan yang menyatakan bahwa itu semua benar?."sahut Bagas.


"Iyah sih, memang gak ada saksi mata dan yang namanya foto itu kan memang terkadang bisa di edit dengan mudah apalagi zaman sekarang udah serba canggih." Balas Sarifah.


"Tapi..." Sarifah menatap intens Bagas yang membuat Bagas mundur. "Jujur kamu tidak ada hubungan apapun dengan adik Ipar mu itu kan, Mas."


"Tidak, Ipah. Mana mungkin aku melakukan itu dengan istri adik ku sendiri. Lagian nggak ada saksi juga yang lihat." Ucap terus menyakinkan Sarifah untuk percaya dengan omongannya.


"Ada kok, Bu saksinya!." ucap Sinta ikut berbicara.


Degh,


'Jangan bilang anak si*lan ini mau membicarakan apa yang dia lihat tempo hari pada Sarifah, awas aja kalau sampai anak si*lan itu ngomong! akan ku bun*h sekalian anak itu!.' gumam Bagas dalam hati dengan sorot mata tajam ke arah Sinta. Tapi Sinta tidak takut.


"Hah, siapa Sinta? emang iya ada saksinya?." tanya Sarifah penasaran.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2