
Setelah itu Adel pergi sana dan pulang ke kostan miliknya. Dia benar-benar merutuki kejadian hari ini. Adel masih tidak menyangka jika Pak Jaya adalah laki -laki miskin yang nebeng kaya pada istrinya. Ini tidak seperti yang di harapkan Adel selama ini.
"Adel, aku mohon. Aku tinggal di kostan kamu dulu yah. Istriku sudah mengusirku, entah dimana lagi aku harus tinggal." saat sedang menunggu ojek online, Adel di kejutkan dengan Jaya yang ternyata masih berada di sana.
"Enak aja! kamu itu udah bikin aku malu. Ku kita Mas itu orang kaya tapi ternyata cuman nebeng doang dengan istrinya, udah lah males aku. Mana dengan kurang ajar nya Mas menamparku sampai dua kali lagi. Minggir!." Ojek online pun datang lalu Adel pergi meninggalkan Jaya begitu saja.
'Sial! kalau begini caranya bagaimana bisa aku membeli barang-barang mahal. Aku harus bisa cari peluang lagi.' Batin Adel selama di perjalanan.
Setelah sampai di kost an, Adel langsung mengutak-ngatik handphone nya. Lalu mendaftarkan dirinya untuk menjadi wanita panggilan aplikasi.
"Kadung basah, sekalian nyebur aja. Toh vidio penggerebekkan tadi juga pasti akan viral di media sosial, kenapa aku harus malu? sekalian aja aku jualan diri di online. Pasti tarif nya akan aku mahal kan. Siapa sih yang tidak tahu Adel mantan influencer cantik!." gumam Adel buntu tidak tahu cara lain untuk mencari uang halal.
Lalu dengan semangat Adel merias wajahnya dan menutupi luka memar di wajahnya menggunakan make up yang cukup tebal. Tak lupa Adel menggunakan pakaian seksi untuk menarik pelanggannya nanti.
"Ini udah cantik dan seksi." Setelah berselfi setengah bug*l lalu Adel mengupload fotonya ke media sosial.
__ADS_1
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan hujatan orang-orang. Karena di negara ini semakin banyak hujatan maka job dan juga uang akan semakin banyak. Jadi untuk apa mendengar hujatan orang lain yang tidak bermutu, yang penting aku kaya raya dan banyak uang."
***
Di kediaman Sarifah.
"Sinta, kamu cantik banget Nak, kamu benar-benar sangat mirip ibu ketika ibu muda," saat Sinta keluar kamar dan menggunakan pakaian rapi, Sarifah langsung memuji nya.
"Hehe ini kan memang baju milik ibu," Sahut Sinta. Lalu setelah berbasa-basi dan juga memakan sarapan yang sudah Ibu nya siapkan, Sinta lekas pamit pada Ibunya untuk pergi ke kantornya Ibu Sasmita.
"Yang sopan ya kamu Sinta, ingat attitude nomer 1," Pesan Sarifah dan Sinta pun mengangguk dan naik ke atas motor.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Sinta pun sampai di kantor Ibu Sasmita 30 menit lebih awal, setelah menanyakan pada resepsionis, Sinfa pun langsung di izinkan untuk naik ke ruangan Ibu Sasmita.
Tok.
__ADS_1
Tok.
"Permisi," ucap Sinta, ada rasa deg-deg an karena Sinta akan bertemu dengan petinggi perusahaan itu.
"Masuk!."
Setelah mendapatkan perintah untuk masuk, lalu Sinta pun masuk ke ruangan Ibu Sasmita dan duduk. Jika di lihat dari raut wajah Bu Sasmita secara sekilas, Bu Sasmita terlihat seseorang yang sangat tegas dan juga jutek.
"Silahkan perkenalkan dirimu!." Sinta pun memperkenalkan diri, semakin lama Sinta berbicara dengan Bu Sasmita, Sinta semakin nyaman, ternyata Bu Sasmita tidak seperti yang Sinta pikirkan di awal tadi, ternyata beliau orang yang sangat baik.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...