Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 54 Tidak Tahu Malu


__ADS_3

[Urus saja hidupmu sendiri, kita putus!.] pungkas Bagas sembari langsung memblokir kontak Adel di handphone nya karena tak ingin ambil pusing lagi dengan segala macam tuntutan nya yang nggak masuk akal dan egois.


"Dasar br*ngs*k! egois! dia nggak tahu apa kalau gue di di sini susah Hah! lagi pusing juga! okelah gue sekarang bisa aja ngirimin dia duit segitu karena masih ada uang tabungan gue dab beberapa kartu kredit gue, tapi buat apa gue ngirim duit segitu-gitu nya ke wanita br*ngs*k kayak dia, sebegi-bego nya gue, gue juga mikir gue harus berhemat. Sekarang gue cuman OB yang gajinya tidak seberapa. Kalau nekat ngirim dia duit mulu, lama-lama duit di rekening gue malah ludes gak bersisa. Belom lagi nanti kalau kartu gue di pake seenaknya. Mau dari mana gue bayar angsurannya." gerutu Bagas dalam hati yang begitu sangat kesal.


Bagas bahkan tidak habis pikir dengan Adel, karena Adel minta uang minimal 10 juta perbulan. Padahal nominal segitu dengan pekerjaan hanya seorang OB sangatlah besar, butuh bekerja keras berbulan-bulan sampai tidak makan, Bagas bisa dapet uang segitu.


Kring...


Kring...


"Iya, Bu ada apa?." tanya Bagas menjawab telepon dari Ibunya.


"Bagas kamu apa-apaan sih, kenapa kamu pake acara memblokir kontak Adel segala? Tadi Adel sampai menelpon Ibu menceritakan kelakuan mu ini karena sudah memblokir kontaknya." cerocos Lastri memarahi anaknya dengan enteng tanpa tau kronologis nya seperti apa.


Bagas pun akhirnya menjelaskan segala yang Adel katakan dan ia tuntut pada Bagas hingga membuat Bagas marah, pusing dan akhirnya memblokirnya.


"Oalah, gitu ceritanya nya. Baguslah! Ibu setuju dengan langkah mu Gas. Oke kalau gitu mulai sekarang Ibu akan memblokir kontaknya. Ya udah sekarang Ibu matikan telepon nya yah dah!." pungkas Lastri.


Bagas tahu jika Ibu nya pasti setuju dengannya, karena ia tahu betul jika Ibunya itu wanita matrealistis yang ngga mau rugi. Lastri sadar jika dia terus menyimpan kontaknya Adel atau berhubungan baik dengan Adel, Lastri pasti di repotkan oleh Adel. Meski awalnya Lastri lebih menyukai Adel karena lebih cantik dari Sarifah, bahkan Lastri setuju dan mensupport perselingkuhan Bagas dengan Adel. Karena ia tidak menyukai Zainal yang notabene anak tirinya, padahal kecantikan Adel adalah berkat uang dari Zainal dan Bagas yang royal memenuhi kebutuhan Adel baik lahir dan batin. Bahkan Bagas lebih royal pada Adel di bandingkan kepada istri dan anak-anaknya.


***


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Sinta dan Zainal sampai di rumah.


"Assalamualaikum," Sapa Sinta ketika baru tiba di rumah kakeknya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, eh kamu sudah pulang Nak. Gimana tadi perjalanan kamu lancar? kamu sudah makan belum? makan dulu gih! kamu pasti lapar." sahut Sarifah yang tiba-tiba datang menghampiri anaknya di pintu masuk rumah.


Sinta tersenyum dan menganguk.


Sebenarnya dalam perjalanan tadi Sinta dan Zainal sudah makan, tapi mungkin karena perjalanan panjang. Mendadak perut Sinta jadi lapar lagi. Apalagi mendengar tawaran Ibunya. Sehari tidak makan masakan Ibunya rasanya sangat rindu. Karena masakan Ibunya yang sangat enak.


"Maaf yah Mbak, Sinta jadi repot harus perjalanan jauh karena harus mengantar Zainal ke tempat Adel. Soalnya kalau Sinta nggak ikut entah bagaimana nasib Zainal di sana." ujar Zainal yang mungkin masih kepikiran dengan kelakuan keluarga istrinya.


"Nggak papa Om, Sinta nggak merasa di repotkan kok sama Om. Sinta ikhlas membantu Om. Apalagi kita kan keluarga, sebagai keluarga kita harus saling membantu." pungkas Sinta.


"Tu-tunggu memang nya apa yang terjadi di sana Sinta? bukannya kalian hanya mengantar Adel pulang ke orang tuanya? Kalian duduk lah! pasti capek kan. Ibu bawakan minum dulu." ucap Lastri meninggalkan Sinta dan Zainal pergi ke dapur.


Sinta dan Zainal pun duduk, Bayu pun ikut duduk bersama mereka.


"Apa yang terjadi di sana Sinta?." tanya Sarifah pada anaknya.


"Om Zainal hampir mendapat perlakuan jahat dari keluarga Tante Adel jika Sinta tidak memergoki rencana mereka, Bu."


"APA?." ucap Sarifah kaget.


"Memangnya apa rencana mereka?." tanya Sarifah penasaran.


"Mereka ingin memberikan minuman agar Om Zainal nurut sama apa yang di katakan Tante Adel." jelas Sinta.


Sarifah dan Bayu Syok,

__ADS_1


"Tapi syukur Sinta bisa tahu rencana mereka. Dan Zainal selamat dari niat busuk mereka. Makanya izinkan Zainal untuk mengucapkan terima kasih kepada Sinta dengan membayar biaya sekolah sampai kuliah nanti. Dan untuk Bayu juga. Zainal ingin kalian sekolah yang tinggi yah!. Bukan hanya itu apapun kebutuhan kalian bilang sama Om yah!." tutur Zainal.


Sarifah dan Bayu terkejut dengan niat baik Zainal. Sedangkan Sinta sudah tahu.


"Ya Allah Zainal, tidak perlu sampai seperti itu. Kalau Sinta menolong mu itu karena kita ini masih keluarga. Nggak perlu lah bayar sekolahnya segala. Insyaallah mbak masih mampu." jawab Sarifah menolak niat baik Zainal, dan Sinta sudah memprediksi itu Ibunya pasti menolak.


"Tidak apa-apa Mbak, ini juga untuk kebaikan mbak dan anak-anak, biar mereka bisa fokus sekolah juga. Lagian sudah sepatutnya Zainal sebagai paman, Zainal membantu mereka Mbak. Maka dari itu mulai sekarang Zainal mohon supaya Mbak dan anak-anak Mbak jangan berjualan-berjualan seperti itu lagi yah Mbak. Kasihan mereka!."


Brak.


"Apa kamu bilang Nal? kamu mau membiayai kebutuhan Sarifah dan anak-anaknya kamu bilang? Udah nggak waras ya kamu Zainal!." sahut Lastri tiba-tiba datang mencak-mencak sembari menggebrak meja. Bahkan mereka tidak menyadari jika Lastri sudah berada di sana bersama mereka.


"Gak waras Ibu bilang? Yang nggak waras itu siapa Bu? Zainal atau anak kesayangan Ibu itu si Bagas? Ayah macam apa coba yang tega tidak menafkahi anak dan istrinya lalu membiarkan anak dan istrinya kesusahan sedangkan dia mampu dan sangat berkecukupan, bahkan dia lebih menafkahi istri orang dan wanita-wanita simpanannya yang lain di bandingkan ke anak dan istrinya sendiri. Siapa yang nggak waras?." sanggah Zainal membentak balik Lastri sembari berdiri dari duduk nya.


"Kamu yang sopan kalau ngomong sama orang tua Zainal! pake otakmu kalau ngomong. Jangan asal Jepang aja kamu! lagian memang sudah sepantasnya wanita kampung seperti ini di perlakukan seperti itu oleh anak tampan Ibu." ucap Lastri tak tahu malu. membuat Zainal semakin meradang.


"Hah sopan? orang tua macam apa dulu yang mesti Zainal sopankan, Bu. Orang tua macam Ibu? jangan mimpi Bu! Sudah sepantasnya Ibu bilang? yang gak ada otak di sini sebenarnya siapa sih Bu? masa ada orang tua yang mewajarkan hal seperti itu dan membenarkan tindakan anaknya yang sudah jelas-jelas salah, jangan ngaco bu!." sanggah Zainal membela Sarifah penuh emosi.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2