Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 59 Pov Adel


__ADS_3

Pov Adel


"Adel, Ibu perhatikan semenjak 1 minggu yang lalu kamu di sini. Setiap hari kerjaannya cuma melongo aja. Coba kamu cari kerja kek atau cari om-om kayak gitu, besok Ibu akan ada arisan di rumah teman dan uangnya belum ada sama sekali sebaiknya daripada kamu kayak gini lebih baik kamu cari kerja apa aja lah terserah mau jual diri kek atau apa," saat sedang terdiam di ruang tamu memikirkan nasib ke depannya Ibu tiba-tiba saja datang memarahiku dan menyuruhku untuk bekerja menghalalkan segala cara.


Aku pun menghela nafas panjang dan beralih menatap ibu yang sedang berdecak pinggang.


"Bu aku mohon pengertian Ibu sedikit saja. Aku sedang dalam masalah besar, Aku baru saja dicerai oleh Mas Zainal kali ini aku sedang berada dalam kondisi tidak baik-baik saja. Aku mohon pengertiannya pada ibu jika Ibu tidak bisa menenangkanku minimal Ibu jangan merecokiku dengan permintaan ibu yang sangat banyak itu." ucapku, kali ini aku mencoba untuk bernegosiasi dengan ibu dengan wajah yang memelas aku memohon pada ibu agar bisa mengerti dengan kondisiku.


"Wah sekarang kamu sudah bisa menolak permintaan ibumu Yah. Kamu itu harus ingat bahwa sedari kamu lahir kamu itu diurus menggunakan keringat Ibu dan Bapak dan di saat kamu sudah besar sekarang kamu harus membayar hutang budi kamu dong! Tahu diri dikit jadi anak." dan sekarang datang bapak ikut menghakimiku aku merasa diserang oleh kedua orang tuaku tanpa perlindungan dari siapapun.


"Bu, Pak! bukannya Toni juga anak ibu dan bapak kenapa ibu dan bapak tidak pernah mengungkit-ngungkit soal biaya apapun pada Toni aku kurang baik apa pada ibu dan juga bapak. Kenapa di saat aku terpuruk seperti ini kalian malah menghakimiku?." aku sudah tidak tahan lagi dengan desakan kedua orang tuaku. Aku keluarkan semua keluah kesah ku selama ini berharap ibu bapa memiliki sedikit saja empati padaku.


"Karena Tony itu laki-laki dia harus fokus menimba ilmu, kamu sebagai kakaknya harus ekstra mencari uang untuk membiayai kami bertiga. Karena jika nanti Toni sudah lulus kuliah Bapak yakin dia akan bekerja di perusahaan bonafit dan kami sudah tidak akan membutuhkan kamu lagi." pungkasnya.


Aku sontak kaget dengan jawaban yang Bapak lontarkan bagaimana bisa seorang bapak berbicara seperti itu kepada anak perempuannya.


"Aku benar-benar kecewa pada bapak dan ibu untuk masalah keuangan, Aku benar-benar akan angkat tangan aku kira kalian akan menjadi rumah untukku ketika aku bersedih dan terpuruk ternyata salah aku malah pulang ke lubang buaya." jawabku seraya menangis karena merasa sakit hati oleh ucapan kedua orang tuaku.


"Kamu tidak bisa lepas tanggung jawab seperti itu, apa kamu ingin Ibu sumpahin menjadi manusia yang tidak pernah beruntung seumur hidupmu. Jangan sampai mulut Ibu berbicara seperti itu ya!." ujarnya.


Ibu mulai mengeluarkan kalimat saktinya, ketika aku sedikit memberontak Ibu pasti akan mengeluarkan kalimat sumpah serapah agar hidup ku tidak pernah bahagia.


"Silakan aku sekarang berpikir bahwa mungkin sumpah serapah Ibu tidak akan pernah didengar oleh Tuhan karena Tuhan juga pasti melihat Ibu seperti apa yang akan diijabah doanya. Kalau ibu macam Ibu sepertinya tidak akan dikabulkan." timpalku.


Sekarang aku sudah berani melawan pada ibu karena mau melawan atau tidak aku selalu salah di mata Ibu.


Plak.


"Aku doakan agar hidupmu berantakan! Aku tidak akan pernah ikhlas mengijinkanmu untuk berbahagia. Dasar anak durhaka tidak pernah nurut sama orang tua!." putusnya sembari melayangkan tangannya hingga lolos menampar pipiku dengan sangat kencang.


Mendapat sebuah tamparan dari Ibu, aku langsung masuk ke dalam kamar dan berniat untuk berkemas meninggalkan rumah ini aku tidak akan pernah peduli lagi kepada kedua orang tuaku beserta adikku yang tidak berguna itu biar mereka tahu dan berpikir bahwa tanpa aku mereka tidak bisa apa-apa.


Brak.

__ADS_1


Brak.


"Adel kami belum selesai bicara denganmu buka pintunya! Hei Adel. Jangan semakin kurang ajar kamu pada orang tua!." ibu dan bapak terus menggedor-gedor pintu kamarku. Aku tidak menghiraukannya sama sekali dan aku terus mengemasi pakaianku.


Untungnya aku masih menyimpan uang dan juga perhiasan yang sepertinya akan cukup untuk hidupku sendiri di luar sana. Aku harus pergi dari rumah yang menurutku sudah tidak sehat.


Setelah aku pastikan semua barangku telah terbawa aku langsung membuka pintu kamar dan berjalan tanpa pamit kepada kedua orang tuaku.


"Teteh mau ke mana? teteh nggak punya sopan santunnya ibu dan bapak manggil teteh loh itu! kenapa Teteh tidak dihiraukan mereka?." aku berpapasan dengan Toni adikku dia sepertinya baru pulang dari kuliahnya.


"Toni tolong cegah Teteh mu agar dia tidak pergi dari sini. Kamu Adel jangan sembarangan pergi dari sini jika kamu pergi dari sini siapa yang akan menanggung hidup kami bertiga?." ibu terus menahanku agar tidak pergi.


Dengan tatapannya nyalang aku menatap mereka semua dengan tajam. Emosiku benar-benar berada di puncak kali ini.


"Bukannya ibu dan bapak selalu bilang padaku bahwa aku adalah anak yang tidak berguna jika memang benar demikian aku sebaiknya pergi saja dari rumah ini. Aku ingin tahu bagaimana kehidupan kalian tanpa ada anak yang tidak berguna seperti ku di rumah ini!." sanggahku dengan penuh emosi, aku tak tahan dan aku pun akhirnya mengeluarkan air mata.


"Jika memang kamu mau pergi dari sini. Serahkan semua barang-barang berhargamu dan juga perhiasanmu! Setelah itu kamu boleh pergi kemanapun kamu mau!." dengan entengnya ibu berbicara seperti itu, dan tidak ada pembelaan sama sekali untukku dari bapak dan juga Tony.


"Teh semua ini bisa dibicarakan baik-baik jika Teteh pergi dari sini. Bagaimana dengan kuliahku? masa aku harus berhenti di tengah jalan, kan nggak lucu teh!." Sekarang giliran Toni si anak tidak berguna menahanku agar tidak pergi dari rumah ini.


"Hai Tony kamu itu punya badan dan anggota tubuh yang masih lengkap kan kamu bisa kuliah sambil bekerja. Jangan manja kamu jadi laki-laki! lihat tuh di perempatan mereka nggak punya tangan aja masih pada bisa cari duit. Apalagi kamu mikir Makanya mikir!." teriakku, kini Toni yang jadi bahan amarahku.


"Kemari kan!." Tanpa kuduga tiba-tiba saja Ibu menarik tas yang aku bawa, sontak karena aku kaget aku langsung menarik balik tas itu dan membuat Ibu terpental ke belakang hingga membentur lemari.


"IBU....Teteh! kamu sudah benar-benar keterlaluan, wanita yang kamu dorong barusan itu adalah ibumu. Eling kamu Eling teh Eling!." Toni berteriak seraya menolong Ibu yang kesakitan.


"Entahlah sekarang aku berdoa pada Tuhan bahwa Sebenarnya aku bukan anak kandung dari kalian karena aku sangat tidak bersyukur jika benar-benar lahir dari rahim perempuan seperti Ibu. Kurang apa selama ini aku pada kalian semua. Apa yang kalian inginkan selalu aku turuti namun apa balasan dari kalian di saat aku sedang terjatuh seperti ini kalian malah terus-terusan merongrong dan memaksaku untuk memenuhi gaya sosialita kalian. Sekarang kamu harus bertanggung jawab atas hidup ibu dan bapakmu itu Ton. Rasanya aku sangat najis jika harus menginjak rumah ini lagi!." tuturku seraya terus berjalan keluar rumah aku tak peduli dengan teriak-teriakkan sumbang yang keluar dari mulut mulut sampah keluarga pengecutku.


Setelah menunggu beberapa saat di dekat Jalan Raya akhirnya taksi online yang aku pesan sudah datang. Aku sudah mensetting alamat tujuan ke alamat kost temanku.


Oh ya aku lupa aku harus mengirim pesan pada Farhan agar menyuruhnya untuk meminta uang pada mas Zainal lalu uang itu akan aku suruh Farhan untuk mentransfernya padaku.


[Farhan, Sayang. Bisakah Bunda minta tolong padamu. Kamu minta uang pada ayah bilang saja, kalau kamu ada tugas yang harus memakan uang cukup banyak. Setelah itu kamu bisa mentransfernya kan ke rekening Bunda kan, yah Nak!.]

__ADS_1


Setelah mengirim pesan seperti itu, aku pun tersenyum. Sekarang Farhan akan aku jadikan alat untuk pundi-pundi rupiah.


Dan setelah 10 menit menanti akhirnya handphone ku berbunyi dan ternyata Farhan membalas pesanku.


[Maaf Bun, Ayah Farhan yang mana yah? Bukannya Farhan punya dua Ayah?.] balasnya.


Degh,


Aku benar-benar kaget ketika membaca pesan balasan dari Farhan. Apa maksudnya membalas pesanku seperti ini tidak mungkin kan dia tahu bahwa sebenarnya Mas Zainal bukan Ayah kandungnya.


[Maksud kamu apa Farhan, sayang? Ya ayahmu cuma satu lah Ayah Zainal kok kamu ngomongnya kayak gitu sih?] Ku kirimkan pesan selanjutnya pada Farhan.


[Bunda pikirkan saja sendiri apa maksud ucapanku!.] balasnya singkat.


Aku benar-benar takut dan sangat kaget dengan pesan yang Farhan kirimkan bahkan keringat sebesar biji jagung pun bercucuran aku harus memastikan pada Farhan sekarang.


Pak Bisakah Ganti rute sekarang juga nanti uangnya akan saya lebihkan. Tolong antar saya ke alamat ini pada sopir taksi online itu.


"Hah ke sini Bu? Ibu nggak salah ini kan keluar kota loh Bu." sahut sopir taksi online itu dengan sedikit kaget dengan permintaanku.


"Iya Pak sudah offline kan saja, pak. Biar gampang atur-atur saja argonya sesuai kehendak Bapak, nanti biar aku bayar dan lebihkan kok." ujarku.


"Oke Baik bu dengan senang hati kebetulan memang penumpang saya akhir-akhir ini lagi sepi Bu. Alhamdulillah akhirnya hari ini saya mendapatkan orderan long trip kayak gini jadi saya bisa membawa cukup uang untuk anak dan istri di rumah hehe," pungkas supir taksi online itu dengan sumringah dan terlihat gembira mendengar permintaanku.


Aku harus kembali ke rumah Mas Zainal. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana selama aku tidak ada satu minggu ini. Pokoknya aku harus bisa mengendalikan Farhan agar mau menuruti segala perintahku. gumamku dalam hati.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2