
Sesuai rencana Sinta, Zainal, dan beberapa anggota kepolisian sedang berada tidak jauh dari tempat kediaman Edo.
Bagas menjadi buronan polisi sejak Zainal melaporkan tindakan kasus penganiayaan terhadap Mukhlis. Kenapa penganiayaan karena Mukhlis masih beruntung dan tak kehilangan nyawanya karena tindakan Bagas sempat digagalkan oleh Sarifah, jika sedikit saja terlambat akan menjadi kasus pembunuhan. [Maaf yah author kurang paham hukum, harap maklum. Pokok nya iya in aja deh gitu, hehehe]
Tidak hanya itu, Bagas juga terbukti melakukan tindakan korupsi di tempat ia bekerja. Semua itu terbongkar ketika Sasmita menyuruh seseorang untuk melakukan audit perusahaan. Dan nama Bagas masuk ke dalam jajaran yang melakukan tindakan korupsi dengan 5 orang lainnya.
Setelah cukup membuat strategi. Mereka diam di posisi mereka masing-masing. Rencana nya Edo akan menghampiri Bagas yang berada di kamar rahasia miliknya kemudian memastikan jika memang Bagas masih ada di sana. Lalu memberi tanda kepada polisi tempat kamar rahasia itu berada. Tidak lupa penjagaan di lakukan di tempat keluar masuk rumah, halaman depan dan belakang agar Bagas tidak bisa kabur kemana-mana lagi.
.
.
.
Tap...tap... tap...
Bagas yang sedang rebahan di kasur mendengar suara langkah kaki mendekat, itu pasti Edo pikirnya.
"Gas ini gue Edo." teriak Edo di luar pintu kamar.
Tak lama pintu kamar terbuka. Tampak sosok Bagas dengan rambut gondrok dan wajah penuh brewokan tak terurus.
"Gue bawain lo makanan nih!." ucap Edo menyerahkan sekotak makanan ke arah Bagas.
"Thanks lo memang sobat gue sejati." ucap Bagas tersenyum kemudian mengambil makanan itu langsung ia makan.
"Ya udah gue ambil minum dulu." ucap Edo.
Bagas tak menjawab hanya menganguk saja.
Tanpa meninggalkan kecurigaan Bagas, Edo keluar dari kamar rahasia lalu keluar rumah sudah ada polisi yang berjaga di sana, lalu memberi kode anggukan. Itu artinya Bagas masih berada di sana.
Polisi berjalan pelan tanpa menimbulkan suara, lalu menodongkan pistol ke depan berjalan menuruni tangga ke bawah, ke tempat kamar rahasia milik Edo.
"JANGAN BERGERAK!." Refleks Bagas yang sedang makan memgangkat tangan nya sembari mengumpat di dalam hati.
Salah satu polisi mendekat ke arah Bagas lalu memborgol nya. Karena merasa dirinya sudah terkepung, akhirnya Bagas hanya bisa pasrah dan menurut dengan instruksi yang di perintahkan polisi.
Bagas di bawa ke luar kamar itu dengan di dampingi 2 orang polisi samping kanan dan kiri nya.
__ADS_1
Di ruang tamu di sana sudah ada Sinta dan Zainal.
Bagas melotot melihat kedua orang itu, terutama putrinya.
"Kamu benar-benar anak durhaka Sinta! kamu tega sama Ayah kamu sendiri!." teriak Bagas tajam pada Sinta.
"Ayah harus mempertanggung jawaban semua perbuatan Ayah, termasuk uang korupsi Ayah yang di gunakan untuk membiayai selingkuhan-selingkuhan Ayah." jawab Sinta tak kalah sengit.
"A-apa? kamu tahu?." tanya Bagas.
"Sudah-sudah lebih baik bicara di kantor polisi saja. Ayo!." ujar salah satu petugas polisi lalu menyeret Bagas masuk ke dalam mobil.
***
Sementara di kediaman Sarifah.
"Bu kakak mana? belum pulang?." tanya Bayu pada Ibu nya sedang menonton televisi.
Setelah selesai belajar, Bayu keluar kamar dan bergabung bersama Ibu nya.
Sarifah menoleh mendengar suara Bayu.
"Kakakmu lembur katanya, pulang telat!." jawab Sarifah singkat.
Setelah itu Bayu bermain dengan ponselnya. Tak lama ia dikejutkan dengan foto-foto yang ada di layar handphone nya.
"Bu lihat ini, astaghfirulah," Bayu menyerahkan handphone nya pada Ibunya setengah di lempar.
"Kenapa Bay? Untung saja handphone nya tidak jatuh ke lantai, kamu itu ya biasa aja dong hati-hati!." lalu Sarifah mengambil handphone Bayu.
Sarifah kaget karena melihat foto dengan bikini, perempuan ini sepertinya Sarifah kenal, tapi siapa?.
"Kok kamu lihat foto-foto cewek kayak gini? kamu itu masih sekolah loh Bayu, nggak baik kamu lihat foto-foto cewek kayak gini." tegur Sarifah pada putranya.
"Aku nggak tau Bu, memang dari waktu itu kan aku berteman dengan Tante Adel di instagram. Aku juga kaget pas melihat foto itu ternyata itu adalah Tante Adel dengan full make up." Mendengar jawaban dari Bayu, Sarifah memastikan kembali apa benar foto itu adalah foto Adel?.
Ternyata pemilik foto itu benar Adel, mantan ipar nya. 'Apa orang itu sudah sakit jiwa memposting foto-foto seperti itu?.' Batin Sarifah.
"Kasihan Farhan pasti dia juga sudah tahu Bu!. Aku nggak bisa bayangin mungkin Farhan saat ini sedang di ejek teman-teman nya karena ibunya seperti itu." lirih Bayu sedih, bagaimana pun Farhan sudah menjadi adiknya walaupun berbeda Ibu.
__ADS_1
Sarifah pun turut sedih mendengar penuturan Bayu, mau bagaimana perlakuan Ibu nya kepada nya. Tapi Farhan tidak bersalah, dia hanya korban keegoisan orang tua nya. Sarifah hanya bisa berdoa semoga Farhan menjadi anak yang kuat dan tidak terpengaruh dengan ejekan teman-teman nya.
"Besok kamu hibur adik mu Farhan, ajak main. Nih Ibu kasih bekal buat besok. Tapi jangan lupa pulang dulu yah." ucap Sarifah.
"Oke Siap Bu." semangat Bayu sembari memberi hormat pada Ibu nya. Sarifah tertawa melihat tingkah putranya itu.
***
Hari berganti hari, Adel kini sedang menikmati hasil kerja keras sebagai model tel4njang dan memberi jasa servis r4njang. Bersama Assisten nya, rencana nya ia akan pulang kampung dengan niat untuk memamerkan hasil kerja keras nya, mobil baru dan perhiasan dan juga uang-uang yang Adel miliki kepada kedua orang tuanya dan adiknya yang tidak tahu malu.
'Aku akan membalas dendam kepada mereka semua yang telah membuangku termasuk kedua orang tuaku , Aku ingin membuktikan bahwa meski tanpa mereka , kehidupanku sekarang bisa menjadi lebih baik dibuktikan dengan semua harta yang telah aku Perlihatkan ini kepada mereka.' Batin Adel tersenyum.
Adel bersama dengan assisten nya memulai perjalanan menuju kampung halaman nya. Kota di mana Adel dilahirkan dan juga hidup dikelilingi oleh orang tua dan saudara yang kacau.
Selalu ada perjalanan berlaluit akhirnya mereka pun sampai di kampung halaman Adel tempat dimana orang tuanya Adel berada.
Kriet.
"Bu! Pa!." teriak Adel memanggil.
"Siapa sih? Eh kamu anak durhaka. Ingat pulang ternyata?." sahut sinis Astuti.
"Ya aku ke sini cuma pengen liat situasi rumah tanpa sokongan dana dariku, ternyata makin kumuh," ucap Adel seraya melihat ke kanan dan ke kiri melihat situasi rumah.
"Aku haus!." Adel berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum di dalam kulkas, sekalian aku juga ingin melihat bagaimana kondisi dapur ibuku."
"Heh! dasar anak kurang ajar main masuk nyelonong ke dapur aja, Adel!." Astuti mengikuti langkah Adel ke dapur.
Saat Adel membuka kulkas ternyata benar saja di dalam kulkas hanya berisikan air putih dan juga es batu dan beberapa telur bahkan saat ada perhatikan sekitar dapur ternyata minyak goreng dan juga bumbu-bumbu pun tak ada hanya menyisakan wadahnya saja.
"Hahaha, benarkan apa aku bilang, keluarga ini tanpa bantuan uang dariku bisa apa sih? Sepertinya beras pun tak punya!." Adel berjalan ke gentong tempat penyimpanan beras.
Dan benar dugaan Adel hanya ada beras sekitar 2 kg saja. Biasanya saat Adel memberikan ibunya uang, Astuti selalu membeli beras karungan.
"Jadi kamu datang ke sini hanya untuk mencela kami saja?. Sebaiknya kamu segera pergi dari sini atau kesabaran ku akan habis!." maki Astuti dengan suara kencang bahkan urat-urat di leher nya pun nampak terlihat jelas.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...