Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Bab 76 Drama Lastri


__ADS_3

"Maksud Tante apa bicara seperti itu?" Sinta mendesak agar Adel mau menjelaskan apa yang ia ucapkan, karena menurutnya semua itu rancangan.


"Sepertinya tidak usah aku jelaskan juga kamu paham Sinta, karena kamu sudah dewasa, jadi tinggal tunggu saja tanggal mainnya. Ya sudah Tante bilang persiapkan dirimu untuk mengurus ayahmu nanti yang juga akan sakit-sakitan," ujar Adel seraya pergi meninggalkan Sinta yang masih kebingungan.


"Tante tunggu! Jelaskan dulu baru Tante boleh pergi," Sinta mencoba mengejar Adel namun nihil, dia malah mengibaskan tangannya dan berjalan dengan sangat cepat.


Sinta langsung terduduk lemas di kursi, 'Apa jangan-jangan Ayah tertular penyakit menjijikan dari Tante Adel? Ahh kenapa juga harus memikirkan laki-laki itu, jika memang dia sakit kenapa aku yang harus repot-repot mengurusnya. Toh dia juga sudah memutuskan hubungan ayah dan anak, apalagi dia sedang di penjara. Mungkin ini maksud ucapan Om Zainal, bahwa Ayah sakit karena penyakit menjijikan itu.' Batin Sinta bermonolog sendiri.


Kemudian Sinta kembali ke UGD.


"Wali Bu Lastri?" baru saja aku duduk di samping neneknya yang masih memejamkan mata, Dokter pun langsung menghampiri Sinta.


"Iya Dok? bagaimana dengan keadaan Nenek saya?" tanya Sinta.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, asam lambungnya kumat, tapi tidak parah juga," jelas Dokter.


Lalu Sinta pun mengerutkan kening ke arah Lastri.

__ADS_1


"Tapi kenapa Nenek saya masih memejamkan matanya? Apa memang seperti itu ya Dokter?" tanya Sinta lagi yang masih kebingungan.


"Seharusnya sih Ibu Lastri sudah bangun, tapi mungkin Bu Lastri masih butuh waktu untuk beristirahat di sini. Kalau begitu saya pamit dulu ya, nanti jika beliau sudah bangun saya resepkan obat," akhirnya Dokter yang menangani Lastri pun pergi. Sinta harus memutar otak bagaimana caranya agar Neneknya bangun. Sinta tak ingin terjebak di sini dan membuang banyak waktunya di sini.


"Nek bangun! Sudahlah jangan banyak drama kayak gini," Sinta pun mengguncang-guncang tubuh Nenek pelan.


"Nek, astaga!" Sinta semakin kesal karena Nenek nya sama sekali tidak bisa di bangunkan. Padahal jika Sinta lihat matanya itu terlihat sedikit bergerak-gerak.


"Oke, kalau misalkan Nenek emang tidak mau bangun, Sinta mau pulang sekarang aja lah karena Sinta juga masih banyak kerjaan. Biaya rumah sakit Nenek biar Nenek saja yang tanggung!" Sinta pun langsung sigap berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan Neneknya.


"Makannya kalau nggak pengen di tinggalin jangan banyak drama, aku sibuk banyak kerjaan, pekerjaanku bukan cuman nungguin Nenek doang di rumah sakit yang pura-pura pingsan, masih banyak hal penting yang harus aku kerjakan." Sinta memarahi neneknya dengan suara pelan namun penuh penekanan.


"Tapi Nenek benar-benar sakit Sinta, kenapa kamu berbicara seperti itu seolah-olah penyakitku ini tidak penting? Nenek mau tinggal di sini lebih lama, tolong bayarkan biaya rumah sakitnya!" Balas Lastri tidak mau kalah.


"Malas! aku akan kehilangan administrasi sekarang dan membayar biaya Nenek, kalau misalkan Nenek pengen lebih lama di sini bayar saja sendiri biaya kamarnya," kali ini Sinta benar-benar melangkah keluar dari ruangan Lastri. Sinta tidak peduli jika Lastri meraung-raung memanggil namanya, jika memang mungkin orang-orang di sini terganggu pasti Lastri akan di tegur oleh security.


Sinta pun melangkahkan kaki ke bagian administrasi mengurus biaya rumah sakit sekaligus di lanjutkan ke bagian farmasi untuk menebus obat milik Neneknya.

__ADS_1


Setelah menebus obat, Sinta kembali berjalan ke ruangan Lastri. Terlihat Lastri yang sedang tidur-tiduran dengan santai di atas ranjang, bukannya bersiap-siap untuk pulang tapi Lastri justru tidak ada niatan akan pulang.


"Nek, pulang! Nenek yakin masih mau tinggal di sini? Udah ah aku nggak mau drama-drama lagi, aku mau pulang,"


"Silahkan saja, Nenek yakin kamu tidak akan tega meninggalkan Nenek sendirian di sini," oh jadi Lastri menyangka kalau ucapan Sinta tadi hanya gertakan saja.


Tanpa menjawab ucapan Lastri, Sinta pun berjalan ke arah luar dan tidak akan pernah kembali lagi ke ruangan Lastri.


Sinta kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan nya yang sempat terhambat karena ulah Nenek nya yang drama.


"Bu Sinta, bagaimana keadaan Nenek nya? Apakah dia baik-baik saja." tanya Resepsionis lobby yang melihat kerusuhan tadi.


"Baik, tapi entah bagaimana jalan pikiran nya, ia malah terlihat senang dan nampak ingin terus di rawat di sana, ah aku sudah benar-benar pusing dengan kelakuan aneh Nenek!" jawab Sinta.


"Yang sabar Bu, kalau orang tua semakin berumur biasanya tingkahnya akan semakin menyebalkan juga, balik lagi ke anak kecil hihihi," setelah sedikit berbasa basi, Sinta pun kembali ke ruangan dan melanjutkan mengerjakan pekerjaan nya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2