Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 38 Teleponan di Kamar Mandi


__ADS_3

Dia memilih untuk cari aman dan menghindari perdebatan karena nampak terlihat jelas jika dia akan kalah telak hatinya. Jika dia dipaksa untuk terus berdebat apalagi jika ada Mukhlis, kelama-lamaan pasti dia akan terpojok.


Mukhlis pun akhirnya kembali pulang ke rumahnya.


"Bapak udah pergi Ipah?." tanya Mas Bagas.


"Udah Mas, kenapa memang pasti takut di pojokan lagi kan?.hahaha!."jawab Sarifah sembari tertawa puas.


"Mentang-mentang ada Bapak di sini, sekarang kamu berani sama aku?." ucap Bagas dengan nada sedikit tinggi.


"Dari dulu aku bukannya takut dengan kamu, Mas. Tapi aku justru kasihan dengan anak-anak sekarang beda lagi ceritanya anak-anakku sekarang sudah pada dewasa. Di umur yang segini mereka udah bisa mencari uang jajan sendiri tanpa perlu menunggu diberi olehmu, makanya saat ini aku tidak terlalu peduli jika kamu diperlukan buruk oleh anak-anakmu karena perlakuanmu kepadaku dan kepada mereka pun buruk." ucap Sarifah.


"Kamu mau aku tampar, Hah!." Timpal Bagas mengancam.


"Tampar aja nih, Mas. Tampar, biar aku panggilin Bapak dan tunjukin bekas tamparanmu itu padanya." ujar Sarifah balik mengancam.


Bagas pun melengos masuk ke dalam kamar dan berbaring rebahan tanpa berani melakukan apa-apa pada Saripah saat ini.


"Mas kamu bukannya katanya mau pergi ke kantor?." tanya Sarifah menghampiri suami nya di kamar.


"Hah males, nanti aja jam makan siang aku setor muka doang ke kantor. Toh udah ada si Doni ini tadi aku udah nitip kok ke dia," sahut Bagas dengan enteng.


"Ya ampun, Mas. Benar-benar kamu ya kebiasaan banget nggak kasihan apa kamu sama si Doni?." ujar Sarifah geram dengan kelakuan suaminya yang tidak berperasaan.


"Hah kasihan? ngapain harus kasihan coba sama Doni, di itu punya hutang Budi banget sama aku. Biarin aja dia membalas budinya terus-menerus dengan cara ini." ujar Bagas pongah.


Kring kring kring.


"Hallo kenapa Don?."


"Hah? serius lu pak David bakal datang pagi-pagi banget ke kantor hari ini? Ya udah gue otw! thank you ya sob!."


Begitu menjawab panggilan telepon dari Doni yang mengabari bahwa David akan datang pagi-pagi sekali. Bagas bergegas terburu-buru bangun dari rebahan nya di kasur kemudian bersiap untuk segera berangkat ke kantor. Padahal tadinya dia ingin bersantai dan membiarkan pekerjaan di kantor dikerjakan oleh Doni saja.


Bagas ke luar dari kamar, dan mendapati Sarifah yang sedang menyapu lantai.


"Loh Bang, bukannya kamu bilang mau ke kantornya siang?." tanya Sarifah sedikit meledek Bagas.


"Nggak usah banyak bacot kamu.Aku pergi dulu, nanti siang juga aku udah balik lagi kok. Masakin aku sayur sop pakai ceker ayam dan perkedel kentangnya nih uangnya ambil di meja!." titah Bagas sembari langsung pergi dengan motornya ke kantor secara terburu-buru.

__ADS_1


"Tumbeb banget memberiku uang tanpa harus minta kamu terlebih dahulu."


Sarifah akan berangkat siang nanti ke rumah Vivi untuk menggosok pakaian, jadi saat ini dia bisa membereskan rumah terlebih dahulu.


***


"Bang kok udah pulang lagi ?." tanya Sarifah melirik jam dinding masih pukul jam 10.00.


"Udah dong, kan Pak davidnya juga udah pergi lagi barusan ke kantor yang ada di Jakarta. Jadi aku bisa bebas lagi deh hahaha!." sahut Bagas tanpa rasa bersalah.


"Benar-benar keterlaluan yang kamu, Mas! Memangnya kamu nggak takut jika salah satu anak buahmu itu ada yang melaporkan kebiasaanmu itu. Terus akhirnya kamu dipecat." Sarifah mengingatkan.


"Ya nggak akan lah mana ada yang berani kayak gitu padaku." Timpal Bagas enteng.


"Lah itu buktinya video itu juga pasti salah satu karyawanmu juga kan, Mas?." ucap Sarifah.


"Ya juga sih tapi udah males aku mikirin hal begituan. Mana tadi sayur sop ku udah matang kan aku laper!." balesnya.


"Di ingetin baik-baik juga malah kayak gitu jawabannya. Itu sudah Bang. Ada di meja makan!." jawab Sarifah.


Bagas memakan makanan yang telah Sarifah buat dengan sangat lahap. Sembari makan Sarifah melihat Bagas seperti tengah bermain handphone miliknya sambil senyum-senyum sendiri.


"Assalamualaikum, Bu Bayu pulang!." teriak putra bungsu mereka.


"Soalnya hari ini guru-guru nya sedang rapat, jadi semua murid di pulangkan saja. Eh iya kok di depan ada motor Ayah sih ibu?." tanya Bayu sembari melepaskan tali sepatu.


"Iya dia udah pulang dari kantor biasalah ayahmu kalau kerja emang suka gitu kan dari dulu. Kamu ganti baju terus makan gih! hari ini Ibu udah bikin sayur sop."


"Baik Bu." balas Bayu.


Bayu mengikuti perintah Ibu nya, setelah ganti baju seragam dengan kaos rumah kemudian makan di meja bersama Ayahnya.


Setelah selesai makan kemudian Bayu menghampiri ibunya yang sedang mencuci piring.


"Bu Ayah kok aneh ya?." tanya Bayu.


"Aneh gimana, Bay?."


"Ya aneh aja Bu masa tadi aku denger dia ketawa-ketawa gitu di toilet kayak lagi video call gitu ngobrol sama orang, belum lagi tadi pas di ruang makan juga aku perhatikan Ayah lagi chattingan sambil ketawa-ketawa gitu loh bu, mencurigakan." ujar Bayu menjelaskan.

__ADS_1


"Oh iya tadi ibu juga perhatiin sih. Emang benar sih Bay. Sekarang gimana Ayah masih video call di toilet?."


"Iya Bu masih, coba Ibu lihat deh!."


Sarifah membasuh tangannya lalu mengeringkan nya dengan lap. Berjalan pelan ke arah kamar mandi. Karena penasaran Sarifah menguping dibalik pintu toilet yang berada di dekat dapur. Ternyata apa yang dikatakan Bayu itu benar adanya.


[Aduh males banget harus main sama perempuan berpenampilan babu seperti Sarifah, kamu itu adalah canduku sedari dulu. Jadi lebih baik aku menahan hasrat rindu padamu daripada aku harus melampiaskan kepada Sarifah. Kamu perempuan di hatiku sekarang dan kamu perempuan satu-satunya yang bisa memuaskan aku.]


[Ya sudah tapi beneran mainnya sebentar ya. Jangan lama-lama, kalau aku keluar terlalu lama takutnya Mas Zainal mencariku, apalagi sekarang Farhan baru keluar dari rumah sakit. Ngomong-ngomong kita mainnya di mana Bang? Jangan main di tempat yang jauh-jauh.]


Lama terdiam sejenak di mereka berpikir tempat yang cocok untuk mereka bermain-main yang tidak jauh dari sini.


[Oh iya kita main di rumahnya Edo saja gimana? rumah Edo kan masih di sekitaran sini. Si Edo tadi bilang katanya mau ketemuan dulu sama perempuan di aplikasi jadi gampanglah, nanti aku tinggal tanyakan saja kuncinya, dia simpan di mana. Biasanya Si Edo memang tidak pernah membawa kunci rumah.] jawab Bagas memiliki ide.


Kebetulan Edo tinggal sendiri, dia sudah memiliki rumah sendiri dan orang tuanya tinggal di kampung .


[Ah ide bagus Bang Ya sudah ide bagus Bang...]


Sementara di tempat nya Adel.


Tok.


Tok.


Tok.


Adel buru-buru memasukkan handphonenya ke dalam saku


"Sayang kok kamu lama banget sih di kamar mandi? apa kamu pingsan di dalam?." terdengar suara Zainal mengetuk pintu kamar mandi oleh Adel.


Aduh menarik nafas sejenak mengontrol rasa gugup dan juga rasa takut yang ada dalam hatinya. Adel harus terlihat seperti biasa saja di hadapan Zainal .


Krieeet


"Eh Mas Aduh maaf ya, aku kelamaan deh kayaknya di dalam. Biasa kalau ibu-ibu ghibahkan suka lama, hehehe. Apa makanannya sudah datang? saking asiknya juga aku sampai lupa tidak mengecek aplikasinya hehehe." jawab Adel padahal berusaha mengalihkan, takut Zainal curiga tentang perselingkuhannya bersama Abangnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2